0

sma’ binti Kahariyah Fazari diriwayatkan telah berkata kepada puterinya dihari pernikahan anaknya itu:

"Hai anakku, kini engkau kan keluar dari sarang di mana engkau dibesarkan. Engkau akan berpindah ke sebuah rumah dan hamparan yang belum engkau kenal dan berkawan pula dengan orang yang belum engkau kenali. Itulah suamimu."

Jadilah engkau tanah bagai suamimu (taati perintahnya) dan ia akan menjadi langit bagimu (tempat bernaung). Jadilah engkau sebagai lantai supaya ia dapat menjadi tiangnya. Jangan engkau bebani dia dengan pelbagai kesukaran karena itu akan memungkinkan ia meninggalkanmu.

Janganlah engkau terlampau menjauhinya, agar ia tidak melupaimu. Sekiranya dia menjauhimu, maka jauhilah dia dengan baik. Peliharalah suamimu itu dengan baik. Jagalah mata, hidung dan anggotanya yang lain.

Janganlah kiranya suamimu itu akan mencium sesuatu darimu melainkan yang harum. Jangan pula ia mendengar sesuatu darimu melainkan yang enak dan janganlah ia melihatkan melainkan yang indah sahaja pada dirimu.

Kalau wanita ingin menjadi isteri yang baik, dipihak lelaki juga berhasrat memiliki wanita yang begitu. Mereka (para suami ) ingin benar punya isteri yang menyambut kepulangan dari tempat kerja dengan wajah yang manis dan ceria, senyum menawan, pakaian yang bersih dan wangi dan rumahtangga pula berada dalam keadaan bersih kemas dan terurus. Bila mata sedap memandang, tenang dan damailah hati suami.

Bukan itu saja suami juga bercita-cita memiliki seorang isteri yang boleh menjadi penghibur dirinya, boleh berkongsi masalah dengannya, faham apa yang disenangi, tahu mengambil hati suaminya disamping boleh memberi layanan-layanan yang menyenangkan dan mengembirakan suami. Itulah wanita idaman setiap lelaki. Pendek kata bagaimana lelaki akan dilayani oleh bidadari di syurga kelak begitu jugalah keinginan lelaki berhajatkan layanan dari seorang isteri seorang bidadari rumahtangga. Oleh sebab itu dikatakan rumahtangga yang bahagia itu ialah syurga tentulah ada bidadarinya. Siapa lagi kalau bukan isteri yang solehah yang layak menyandang gelaran bidadari dunia.

Isteri yang solehah akan berusaha memberi wajah jernih pada rumahtangga. Kasih sayang yang lahir adalah hasil dari masing-masing hendak mencari keridhaan Allah, bukannya dorongan nafsu semata- mata. Masing-masing suami isteri meletakkan Allah dan akhirat yang lebih besar dan utama.

Isteri yang solehah tidak terasa hina menjadi pelayan suami, malah sebaliknya rasa bangga dan bahagia kalau boleh melakukan tugas-tugas itu dengan baik dan sempurna. Gembira kerana yakin dengan janji Allah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w yang bermaksud:

"Apabila seorang perempuan mencuci pakaian suaminya, maka Allah mencatat baginya seribu kebaikan dan mengampuni dua ribu kesalahan dosanya, bahkan segala sesuatu yang disinari oleh matahari memohon ampun baginya serta Allah mengangkat seribu darjat baginya."

"Wahai Fatimah, setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, Allah akan membina tujuh parit antara dirinya dengan api neraka. Jarak antara parit itu ialah sejauh bumi dangan langit."

"Wahai Fatimah, setiap wanita yang berair matanya ketika memotong bawang untuk menyediakan makanan keluarganya, Allah akan mencatat untuknya pemberian sebanyak yang diberi kepada mereka yang menangis kerana takutkan Allah."

Siapa yang tidak mau kemuliaan ini hanya dengan melakukan tugas yang ringan? Seorang isteri yang solehah akan sentiasa mencari-cari jalan untuk menyenangkan hati suami dan menutupi ruang-ruang untuk menyusahkan dan mencurigakan suami terhadap dirinya. Dia tidak akan membimbangkan suaminya terhadap dirinya. Maruah dirinya sebagai seorang isteri senantiasa dipelihara dan dijaga kerana itu juga yang menjadi syarat untuk dia mendapat keredhaan Allah dan keselamatan di akhirat nanti.Setiap rumahtangga yang dihuni oleh isteri yang solehah bererti rumahtangga itu telah memiliki perbendaharaan yang termahal di dunia dan di sisi Allah rumahtangga itu mendapat perhatianNya.

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud : " Seorang wanita yang solehah itu lebih baik daripada seribu orang lelaki yang tidak soleh dan seorang perempuan yang berkhidmat melayani suaminya selama seminggu maka ditutuplah daripadanya tujuh pintu neraka dan dibukakan lapang pintu syurga dan dia bebas masuk dari pintu mana yang disukainya tanpa hisab."

Isteri solehah biasanya menjadi milik lelaki yang soleh. Tetapi ada juga ketikanya isteri solehah bersuamikan lelaki yang toleh (jahat). Bolehkan kedamaian dan keamanan wujud dalam rumahtangga bilamana suami kufur dengan Allah dan buruk akhlak terhadap isterinya?. Isteri yang menghadapi persoalan begini boleh tertekan jiwanya. Ada yang tidak sabar dengan kerenah suami hingga tidak terfikir cara lain untuk menyelamatkan jalan hidup yang dipilihnya melainkan berpisah saja dari suami.

Dalam hal sebegini, si isteri perlu banyak bersabar dan selalu bermunajat pada Allah. Ingatlah mungkin kesusahan yang kita hadapi adalah ujian dari Allah s.w.t. Ada dua maksud Allah mendatangkan ujian yaitu pertamanya ujian itu didatangkan sebagai penghapusan dosa dan keduanya untuk peningkatan drajat disisi Allah.

Jadi jika kita boleh bersabar maka terhapuslah dosa-dosa yang lalu. Sebaliknya tidak mustahil juga itu merupakan peningkatan darjat dari Allah. Kalau tidak diuji, mungkin hati kita akan terpaut benar dengan suami, menyayangi suami lebih dari Allah. Jadi untuk melihat sama ada kita membesarkan suami atau membesarkan Allah maka Allah timpakan ujian itu. Kalau benar hati sayang dan takut pada Allah tentu isteri tidak teragak-agak untuk bertindak membesarkan dan menyayangi Allah daripada suaminya sendiri.

Ingatlah, sejahat-jahat suami kita, tidaklah dia lebih jahat daripada Firaun, sedangkan isteri Firaun, Siti Asiah boleh bersabar menghadapi kesombongan dan keangkuhan Firaun sehinggakan Siti Asiah disenaraikan oleh Allah termasuk di dalam barisan antara wanita-wanita solehah yang dijamin syurga.

Oleh itu kalau suami kita masih belum diberi petunjuk janganlah kita jemu untuk memujuk dan mentarbiah, berlaku baik dan paling penting mohon dan bermunajatlah kepada Allah agar Allah mengubah hatinya untuk tunduk pada perintahNya.

Rasulullah s.a.w pernah bersabda : "Wanita yang taat akan suaminya semua burung-burung diudara, ikan- ikan di air, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana ia (isteri) masih taat pada suaminya dan diredhai (serta menjaga sembahyang dan puasanya)."

Dikirim pada 27 Februari 2010 di keluarga

Hari ini adalah hari pernikahanku
Aku harus bangun lebih awal
Melaksanakan shalat and berterimakasih kepada Allah
Atas semua nikmat yang telah Dia berikan kepadaku
Khususnya untuk hari yang bahagia ini

Hari ini adalah hari pernikahanku
Aku harus membuka jendela kamarku
Hingga bisa kurasakan udara segar di wajahku
Aku ingin melihat matahari terbit
Aku ingin mendengar nyanyian burung-burung

Hari ini adalah hari pernikahanku
Aku ingin melihat kamarku dalam nuansa biru
Alas tempat tidur biru dan karpet biru
Aku ingin mencium wangi bunga-bunga
Aku ingin menghiasi tempat tidurku dengan melati

Hari ini adalah hari pernikahanku
Aku ingin memakai gaun pengantin yang sederhana
Tetapi itu akan menjadi gaun putih yang tercantik
Aku ingin walimah yang sederhana
Tetapi semua orang yang datang akan berdoa dengan tulus

Hari ini adalah hari pernikahanku
Aku ingin melihat senyum diwajah setiap orang
Dan tidak ada satu orangpun yang merasa tersakiti hari ini
Jika ada air mata di mata mereka
Itu hanyalah air mata kebahagiaan

Hari ini adalah hari pernikahanku
Aku ingin duduk disamping pangeranku
Mengenggam jemarinya dalam jemariku
Kemudian akan kubisikkan kepadanya
Selamat datang dalam hidupku…CINTA

Aku terbangun dari mimpi
Semuanya masih terlihat sama
Hari ini bukanlah hari pernikahanku
Tetapi pernikahan seseorang

Ya Illahi Rabbi,
Itu tidak apa-apa…
Jika hari ini bukanlah hari pernikahanku
Karena aku yakin dan percaya
Engkau tidak ingin aku menyakiti wanita lain

Ya Illahi Rabbi,
Tidak masalah bagiku…
Jika hari ini bukanlah hari pernikahanku
Karena aku yakin dan percaya
Engkau mencintaiku lebih dari pada dia mencintaiku

Ya Illahi Rabbi,
Aku baik-baik saja…
Jika hari ini bukanlah hari pernikahanku
Karena aku yakin dan percaya
Engkau telah mengatur pernikahanku suatu hari nanti

Ya Illahi Rabbi,
Aku tidak keberatan…
Jika hari ini bukanlah hari pernikahanku
Karena aku yakin dan percaya
Engkau telah menyiapkan seseorang yang terbaik untukku

Ya Illahi Rabbi,
Jika hari ini bukanlah hari pernikahanku
Maka aku mohon kepada-Mu
Berikan aku hari yang terbaik
Bersama seorang laki-laki yang terbaik
Di tempat yang terbaik
Amin…

Sesungguhnya Allah telah menjadikan kampung akhirat sebagai tempat pembalasan hamba-hamba-Nya yang Mu’min, sebab kampung dunia ini tidak mampu menampung apa yang hendak diberikan-Nya kepada mereka. Juga karena Allah ingin memuliakan kedudukan mereka dengan tidak memberi balasan di negeri yang tidak kekal.”

(Ibnu Athaillah As Sakandari, dalam Al Hikam)

Dikirim pada 14 Februari 2010 di keluarga

Puisi karya Rabi’ah al-Adawiyah ini begitu indah sekali.. Subhanallah.. Sebenarnya udah pernah kubaca pas aku masih duduk di semester 2 (tahun 2005) di buku “Diary Pengantin” (buku yang tak sengaja terbeli karena mau dihadiahkan ke teman), tapi saat itu belum ngeh juga… :/ ? Ah, apa bisa sih? Bisakah mencintai orang yang belum kita ketahui siapa dia.. (misalnya dijodohin ato melalui proses ta’aruf), kemudian orang tersebut menjadi suami kita? Butuh waktu berapa lama untuk mencintainya? Weeew… Itu pikirku dulu.. Apalagi saat itu aku masih belum tertarbiyah dengan baik. Lambat laun aku pun mulai mengerti.. setelah belajar banyak hal tentunya.. bahwa cinta pada manusia itu sebenarnya tidak abadi.. kita bisa kok melupakan masa lalu kita (walaupun mungkin kita pernah setengah mati mencintai ”dia yang dimasa lalu” haha.. aduuuh.. Forget it!) dan Insya Allah bisa jatuh cinta lagi sama orang lain.. So kenapa takut untuk menerima orang yang menjadi suami/ istri kita.. Padahal cinta yang indah, pacaran yang indah serta membuat seluruh alam bertasbih n mendoain kita yah.. itu tadi cinta yang terjalin setelah pernikahan.. setelah diikat secara halal oleh Allah SWT…
By The Way.. mungkin semua orang pasti ingin bisa menikah dengan orang yang dicintainya.. Alhamdulillah bila itu terjadi, berarti dia rejeki kita tapi bila bukan.. tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan dong ah… Belum tentu apa yang menurut kita itu baik tetapi ternyata tidak menurut Allah.. Namun bisa juga kita membenci sesuatu padahal dalam pandangan Allah itu terbaik buat kita. Oleh sebab itu agar tidak zina hati, yuk ah.. jaga hati kita..
Let’s to pray and wish Allah gives the best for us..

Ya Allah.. aku rindu akan Mujahidku yang aku sendiri belum mengetahui siapa dan ada dimana dia… Jagalah dia untukku… dan begitu pula aku… Jagalah aku untuknya… ^_^ Dan pabila kau telah mempertemukan kami.. kekalkanlah ikatan yang telah kau jalinkan pada kami berdua.. untuk saling bergandengan tangan dan bersama-sama membuka pintu SurgaMu.. Sama-sama membangun Baiti Jannati

Wallahu’alam bisshawab…


Menanti Sang Revolusioner

Oleh: Rabia’ah Al-Adawiyah

November 2002


Mujahidku, apa kabar?
Semoga saat ini engkau baik-baik saja
Penatku, penatmu saat ini semoga tetap di jalan-Nya
Semoga mendung ini kau nikmati juga
Supaya kau merasa sejuk setelah seharian bercampur debu



Mujahidku…
Aku rindu dalam rindu-rindu tentang takdir kita
Semoga saat ini Penghulu kita menjagamu,
Melindungimu di jalanan yang terik atau di lautan yang berdebur…
atau… bahkan di musim yang berbeda?

Aku tak pernah tahu
Namun, tahukah kau? Aku selalu yakin akan skenario-Nya


Mujahidku…
Semoga saat ini Dia menjaga hatimu, mata, pendengaran
Jiwamu, semuamu…. (ehmmm!) untukku!
Pun aku, semoga Dia membantuku untuk menjaga kehormatanku, jiwaku… jasadku, semuaku… untukmu! Karena-Nya semata.


Mujahidku… tahukah kau?
Saat ini aku berdoa untuk keselamatanmu
Semoga saat ini engkau masih teguh dijalan yang Ia bentangkan untukmu


Mujahidku…
Saat penat-penat pikir dan jasad begitu menggila
Saat kumparan-kumparan dakwah ini mengajak kita berputar bersamanya…
Sungguh, aku hanya berharap DIA ridha atas apa yang aku dan engkau lakukan (meskipun kau entah dimana)

Mujahidku, entah kau di mana…
Aku tak hendak melukis jasadmu,
Aku tak hendak mereka-reka, menebak-nebak tentangmu!
Sebab mujahidku… tahukah kau?
Aku mencintaimu sebelum mata ini memandang, sebelum telinga ini mendengar
Sebelum hal-hal fisik merusak semua ketulusanku atas siapapun kau!
Dan aku… ingin menjaganya tetap begitu: SEDERHANA
Ah, Mujahidku… semoga kaulantunkan doa yang sama pada Pemilik kita
Sebab takdirku dan takdirmu ada di genggaman-Nya
Dan kita? Tak pernah tahu


Mujahidku…
Dalam sujud-sujud panjangku, aku merayu-Nya,
Menyelipkan doa semoga aku pantas mendampingimu
Entah… siapa kau, dimana saat ini adamu… namun…
Ada hormat, ada rindu, kepercayaan,
Yang memberiku selaksa energi tulus

Mujahidku, sungguh aku hanya ingin menjaga diriku, jiwaku
Mempersiapkannya… menempanya
Agar jika suatu saat DIA berkehendak, dan membuat skenario tentang kita,
Aku telah siap mendampingimu
Dan kita akan tapaki jalan dakwah yang kita pilih dan kita cintai
Hingga hanya Allah muara akhir semua cita




14 Ramadhan 1423
Untuk seseorang yang dijanjikan Allah, disaat yang hanya Allah mengetahuinya.


Sekilas tentang Rabiah al-Adawiyah:
Lahir sebagai sulung dari tiga bersaudara di Solo, 15 Mei 1981 dari pasangan M. Farzan Ali dan Aisyah. Ia menyelesaikan pendidikan formal dari SD hingga perguruan tinggi di Solo, dan baru saja menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Negeri Sebelas Maret tepat di penghujung tahun 2004.
Sejak duduk di bangku SMP sudah tertarik dengan aktivitas organisasi. Minatnya pada jurnalistik diawali di SMU dengan mengelola majalah sekolah GEMA SMU-MTA Surakarta. Sedangkan aktivitas organisasi eksternal mulai serius digelutinya sejak bergabung di Pelajar Islam Indonesia (PII) Daerah Solo pada tahun 1999. Ia sempat menjadi Ketua Umum PII_Wati Solo periode 1999-2000. Kini, ia masih tercatat sebagai anggota Korps Instruktur PII, untuk training-training bagi remaja.
Hobi membaca, menulis dan ”jalan-jalan” mulai terasah saat bergabung dengan media mahasiswa NOVUM Fakultas Hukum tahun 1999-2001. Ia pun sempat memegang amanah sebagai Kabid Jurnalistik Forum Silaturahmi Mahasiswa Islam (FOSMI) SKI FH UNS pada tahun 2000.
Thun 2001, Robi’ah mulai bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Solo. Sejak itulah pilihan untuk menjadi penulis terus diasahnya dengan menulis dan mengirimkan artikel-artikel nonfiksi ke media lokal, majalah-majalah Islam dan website. Hingga saat ini, ia menjadi salah satu trainer di ”sekolah menulis” FLP dengan spesialisasi karya nonfiksi. Diary pengantin adalah karya kolaborasinya dengan Izzatul Jannah, menyusul karya pertamanya Kenapa Harus Pacaran (DAR! Mizan, Maret 2004), Tak Hanya Sekedar Ngampus (MVM).
Cita-cita menikah di usia muda dan masih berstatus mahasiswa alhamdulillah dapat terwujud. Ia menikah pada 8 Februari 2004 lalu dalam usia menjelang 23 tahun dengan Hatta Syamsuddin, seorang mahasiswa Faculty of Shari’ah International University of Africa, Khortoum Sudan. Bagi keduanya, menikah muda bukan sekadar menghalalkan hubungan, tetapi keberanian untuk mengambil tanggung jawab lebih cepat, kesiapan untuk berjuang dari nol lebih cepat, sehingga lebih cepat pula menginvestasikan segala potensi untuk kemajuan dakwah. Termasuk, menginvestasikan generasi-generasi dakwah yang dilahirkan serta diasuh dalam pernikahan dengan visi yang mantap: Bukan sekedar bahagia, namun bersama menuju surga. Amin.

Sumber: Buku Diary Pengantin, 2005
(Izzatul Jannah dan Rabiah al-Adawiyah)

PS: Resensi tentang buku ini ntar menyusul yah.. masih proses membaca ulang nih..




Dikirim pada 30 Januari 2010 di keluarga

Hidup ini adalah pilihan. Kita akan menemui banyak pilihan, kita akan dihadapkan pada pengamilan keputusan-keputusan untuk menentukan pilihan. Tentunya hampir setiap orang mengharapkan pilihan yang dipilihnya adalah pilihan yang terbaik.

Untuk menentukan pilihan yang terbaik itu, selain diperlukan pertimbangan dari diri sendiri dan orang lain, yang terpenting adalah minta petunjuk kepada Allah agar ditunjukkan pilihan yang terbaik, salah satunya dengan sholat istikharah.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS.Al Baqarah:216)

Semakin dewasa diri kita semakin banyak kita menemui banyak pilihan karena salah satu tolak ukut kedewasaan adalah mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk, mampu mengambil keputusan dan berani bertanggung jawab.
Seorang anak yang akan lulus SMU dia akan dihadapkan pada pilihan kemana setelah lulus nanti dan jika dia ingin melanjutkan kuliah, PTS/PTN mana yang akan dia pilih. Selanjutnya seseorang yang mau lulus (ataupun belum lulus) kuliah dia akan berpikir pekerjaan apa yang cocok untuknya. Ada beberapa pertimbangan dalam memilih pekerjaan, masalah ini Insya Allah sudah pernah dibahas pada tulisan sebelumnya (lihat arisp).
Selanjutnya seorang ikhwan yang ingin menikah akan dihadapkan pada pilihan, siapa yang akan menjadi calon istrinya nanti. Bagi seorang akhwat akan dihadapkan pada pilihan untuk menerima atau menolak pinangan laki-laki yang datang meminangnya. Meskipun tetap boleh saja wanita yang ”meminang” laki-laki, tentu saja dengan cara yang syar’i. Dalam hal memilih calon istri/suami ini Rasulullah mengajarkan pada kita:
“Wanita dinikahi karena empat hal; karena harta, keturunan, kecantikan dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang punya agama, jangan berpaling kepada yang lainnya semoga dapat berkah” (HR Bukhari dan Muslim).

Sehingga yang menjadi pertimbangan utama adalah dalam hal dien/agamanya. Hal itu bukan berarti tidak boleh mempertimbangan ketiga hal yang lain; kecantikan/ketampanan, harta/kedudukan dan keturunan, karena hal itu manusiawi. Tetapi sebaiknya agama tetap menjadi pertimbangan yang utama karena sebaik-baik calon suami/istri adalah yang baik agamanya.

Ada curhat seorang akhwat dalam sebuah rubrik konsultasi yang menanyakan apakah sholeh saja cukup sebagai syarat calon suami? Apakah tidak boleh dia menolak seorang ikhwan yang sholeh tetapi dari segi fisik akhwat itu kurang sreg karena kurang cakep dan kurang cocok pula dengan sifatnya?
Pada rubrik itu konsultannya menjelaskan bahwa perasaan seperti sebenarnya manusiawi dan wajar. Tetapi sebelum memutuskan, sebaiknya dilakukan dulu proses untuk mengenal dari sisi lainnya. Mungkin memang tampangnya kurang menarik. Akan tetapi, tentu pertimbangannya kan bukan hanya tampang saja. Siapa tahu dia juga punya sisi yang lebih, yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dipikirkan dahulu baik-baik dan bias dikonsultasikan kepada ayah dan ibu.



Senada dengan jawaban di atas, memang tidak salah dan sah-sah saja jika akhwat itu menolak si ikhwan karena alasan fisik. Tetapi alangkah baiknya jika akhwat itu bisa berpikir objektif kemudian mempertimbangkan tentang kesholehan si ikhwan. Tidak ada orang yang sempurna, mungkin akan sangat jarang didapatkan ikhwan yang perfect udah sholeh, cakep, tajir, de el el atau akhwat yang sholehah, cantik dan anak orang kaya, dll. Kita perlu meluruskan niat, untuk apa dan karena siapa menikah. Apakah karena ibadah dan ikhlas karena Allah ataukah karena untuk nafsunya semata. Dan selanjutnya akhwat itu bisa minta pertimbangan kepada orang-orang sholeh di sekitarnya atau keluarganya. Dan yang tidak kalah penting, sholat istikharah minta pentujuk kepada Allah supaya ditunjukkan pilihan yang terbaik.
Tetapi kalau setelah dipertimbangkan masak-masak dan istikharah tetap meras tidak ”sreg” juga tidak bisa dipaksakan, karena bisa jadi itu yang terbaik dan akhwat itu bisa menolak dengan cara yang baik tanpa menyinggung perasaan si ikhwan.
Kita sering pula mendengar kisah para ikhwan yang pilih-pilih calon istri yang cantik. Ini juga sah-sah aja tetapi jangan sampai kecantikan menjadi pertimbangan yang utama, tetaplah agama yang menjadi prioritas utama. Salut juga mendengar ada ikhwan yang memilih calon istri akhwat yang lebih tua darinya karena merasa akhwat itu perlu didahulukan dan dia menikah karena ibadah bukan karena nafsunya.

Ada lagi kisah teladan dari Ummu Sulaim, sohabiyah yang termahal maharnya. Beliau mau menerima pinangan Abu Thalhah yang dengan syarat keislaman Abu Thalhah sebagai maharnya. Insya Allah Ummu Sulaim tidak begitu saja menerima begitu saja kalau tidak yakin dengan kesungguhan dan komitmen Abu Thalhah untuk berislam. Dan ternyata setelah masuk Islam, Abu Thalhah menjadi salah satu sahabat Rasulullah yang istimewa.
Memang tidak mudah untuk menjadi Ummu Sulaim karena suami yang akan menjadi kepala rumah tangga nantinya, yang akan lebih dominan. Ada beberapa kisah akhwat yang sebelum menikah dia sudah tertarbiyah dan aktif dalam dakwah kemudian menikah dengan seorang ikhwan hanif dengan harapan nantinya sang suami biasa diajak ikut tarbiyah dan dakwah, tetapi ternyata kenyataanya takseindah impiannya, sang suami ga mau ngaji apalagi dakwah dan sang istri pun akhirnya juga tak lagi berada dalam barisan dakwah. Tetapi jika memang calon suami punya komitmen dan sungguh-sungguh untuk perbaikan diri dan mau bergabung dalam barisan dakwah sebagaimana Abu Thalhah maka tidak ada salahnya juga menjadi seorang Ummu Sulaim.

Dengan pertimbangan-pertimbangan itu memang kita bisa menentukan pilihan. Tapi alangkah baiknya jika kita bertawakal kepada Allah, biarlah Allah yang memilihkan untuk kita, karena Dia-lah yang Maha Tahu yang terbaik untuk diri kita. Bisa jadi yang kita anggap baik adalah buruk menurut-Nya, begitu pula sebaliknya.
Wallahu a’lam bishowab
http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/06/menunggu/

Dikirim pada 29 Januari 2010 di keluarga
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Hamba Allah yg berusaha mengapai keridhoan Allah SWT dan bermanfaat tuk keluarga dan ummat ini... More About me

Page
BlogRoll
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 291.553 kali


connect with ABATASA