close -->
close
0

sma’ binti Kahariyah Fazari diriwayatkan telah berkata kepada puterinya dihari pernikahan anaknya itu:

"Hai anakku, kini engkau kan keluar dari sarang di mana engkau dibesarkan. Engkau akan berpindah ke sebuah rumah dan hamparan yang belum engkau kenal dan berkawan pula dengan orang yang belum engkau kenali. Itulah suamimu."

Jadilah engkau tanah bagai suamimu (taati perintahnya) dan ia akan menjadi langit bagimu (tempat bernaung). Jadilah engkau sebagai lantai supaya ia dapat menjadi tiangnya. Jangan engkau bebani dia dengan pelbagai kesukaran karena itu akan memungkinkan ia meninggalkanmu.

Janganlah engkau terlampau menjauhinya, agar ia tidak melupaimu. Sekiranya dia menjauhimu, maka jauhilah dia dengan baik. Peliharalah suamimu itu dengan baik. Jagalah mata, hidung dan anggotanya yang lain.

Janganlah kiranya suamimu itu akan mencium sesuatu darimu melainkan yang harum. Jangan pula ia mendengar sesuatu darimu melainkan yang enak dan janganlah ia melihatkan melainkan yang indah sahaja pada dirimu.

Kalau wanita ingin menjadi isteri yang baik, dipihak lelaki juga berhasrat memiliki wanita yang begitu. Mereka (para suami ) ingin benar punya isteri yang menyambut kepulangan dari tempat kerja dengan wajah yang manis dan ceria, senyum menawan, pakaian yang bersih dan wangi dan rumahtangga pula berada dalam keadaan bersih kemas dan terurus. Bila mata sedap memandang, tenang dan damailah hati suami.

Bukan itu saja suami juga bercita-cita memiliki seorang isteri yang boleh menjadi penghibur dirinya, boleh berkongsi masalah dengannya, faham apa yang disenangi, tahu mengambil hati suaminya disamping boleh memberi layanan-layanan yang menyenangkan dan mengembirakan suami. Itulah wanita idaman setiap lelaki. Pendek kata bagaimana lelaki akan dilayani oleh bidadari di syurga kelak begitu jugalah keinginan lelaki berhajatkan layanan dari seorang isteri seorang bidadari rumahtangga. Oleh sebab itu dikatakan rumahtangga yang bahagia itu ialah syurga tentulah ada bidadarinya. Siapa lagi kalau bukan isteri yang solehah yang layak menyandang gelaran bidadari dunia.

Isteri yang solehah akan berusaha memberi wajah jernih pada rumahtangga. Kasih sayang yang lahir adalah hasil dari masing-masing hendak mencari keridhaan Allah, bukannya dorongan nafsu semata- mata. Masing-masing suami isteri meletakkan Allah dan akhirat yang lebih besar dan utama.

Isteri yang solehah tidak terasa hina menjadi pelayan suami, malah sebaliknya rasa bangga dan bahagia kalau boleh melakukan tugas-tugas itu dengan baik dan sempurna. Gembira kerana yakin dengan janji Allah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w yang bermaksud:

"Apabila seorang perempuan mencuci pakaian suaminya, maka Allah mencatat baginya seribu kebaikan dan mengampuni dua ribu kesalahan dosanya, bahkan segala sesuatu yang disinari oleh matahari memohon ampun baginya serta Allah mengangkat seribu darjat baginya."

"Wahai Fatimah, setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, Allah akan membina tujuh parit antara dirinya dengan api neraka. Jarak antara parit itu ialah sejauh bumi dangan langit."

"Wahai Fatimah, setiap wanita yang berair matanya ketika memotong bawang untuk menyediakan makanan keluarganya, Allah akan mencatat untuknya pemberian sebanyak yang diberi kepada mereka yang menangis kerana takutkan Allah."

Siapa yang tidak mau kemuliaan ini hanya dengan melakukan tugas yang ringan? Seorang isteri yang solehah akan sentiasa mencari-cari jalan untuk menyenangkan hati suami dan menutupi ruang-ruang untuk menyusahkan dan mencurigakan suami terhadap dirinya. Dia tidak akan membimbangkan suaminya terhadap dirinya. Maruah dirinya sebagai seorang isteri senantiasa dipelihara dan dijaga kerana itu juga yang menjadi syarat untuk dia mendapat keredhaan Allah dan keselamatan di akhirat nanti.Setiap rumahtangga yang dihuni oleh isteri yang solehah bererti rumahtangga itu telah memiliki perbendaharaan yang termahal di dunia dan di sisi Allah rumahtangga itu mendapat perhatianNya.

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud : " Seorang wanita yang solehah itu lebih baik daripada seribu orang lelaki yang tidak soleh dan seorang perempuan yang berkhidmat melayani suaminya selama seminggu maka ditutuplah daripadanya tujuh pintu neraka dan dibukakan lapang pintu syurga dan dia bebas masuk dari pintu mana yang disukainya tanpa hisab."

Isteri solehah biasanya menjadi milik lelaki yang soleh. Tetapi ada juga ketikanya isteri solehah bersuamikan lelaki yang toleh (jahat). Bolehkan kedamaian dan keamanan wujud dalam rumahtangga bilamana suami kufur dengan Allah dan buruk akhlak terhadap isterinya?. Isteri yang menghadapi persoalan begini boleh tertekan jiwanya. Ada yang tidak sabar dengan kerenah suami hingga tidak terfikir cara lain untuk menyelamatkan jalan hidup yang dipilihnya melainkan berpisah saja dari suami.

Dalam hal sebegini, si isteri perlu banyak bersabar dan selalu bermunajat pada Allah. Ingatlah mungkin kesusahan yang kita hadapi adalah ujian dari Allah s.w.t. Ada dua maksud Allah mendatangkan ujian yaitu pertamanya ujian itu didatangkan sebagai penghapusan dosa dan keduanya untuk peningkatan drajat disisi Allah.

Jadi jika kita boleh bersabar maka terhapuslah dosa-dosa yang lalu. Sebaliknya tidak mustahil juga itu merupakan peningkatan darjat dari Allah. Kalau tidak diuji, mungkin hati kita akan terpaut benar dengan suami, menyayangi suami lebih dari Allah. Jadi untuk melihat sama ada kita membesarkan suami atau membesarkan Allah maka Allah timpakan ujian itu. Kalau benar hati sayang dan takut pada Allah tentu isteri tidak teragak-agak untuk bertindak membesarkan dan menyayangi Allah daripada suaminya sendiri.

Ingatlah, sejahat-jahat suami kita, tidaklah dia lebih jahat daripada Firaun, sedangkan isteri Firaun, Siti Asiah boleh bersabar menghadapi kesombongan dan keangkuhan Firaun sehinggakan Siti Asiah disenaraikan oleh Allah termasuk di dalam barisan antara wanita-wanita solehah yang dijamin syurga.

Oleh itu kalau suami kita masih belum diberi petunjuk janganlah kita jemu untuk memujuk dan mentarbiah, berlaku baik dan paling penting mohon dan bermunajatlah kepada Allah agar Allah mengubah hatinya untuk tunduk pada perintahNya.

Rasulullah s.a.w pernah bersabda : "Wanita yang taat akan suaminya semua burung-burung diudara, ikan- ikan di air, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana ia (isteri) masih taat pada suaminya dan diredhai (serta menjaga sembahyang dan puasanya)."

Dikirim pada 27 Februari 2010 di keluarga

Pengalaman Ummu Zayid

Ia menuturkan, “Alhamdulillah, sesuai dengan kemuliaan wajah-Nya dan keagungan kuasa-Nya, aku telah khatam menghafal Al Qur’an. Berikut pengalamanku, dan aku menghadiahkannya kepada kalian.
Bismillaahirrahmaanirrahii
m...
Segala puji bagi Allah, pujian yang sebanyak-banyaknya, sesuai dengan kemuliaan wajah-Nya dan keagungan kuasa-Nya. Wa Ba’d.
Ini adalah masa-masa indah yang berlalu dengan segala kisah yang ada di dalamnya. Dan, inilah mimpi yang menjadi kenyataan; dan kenangan yang selalu menghampiriku.
Perlu diketahui bahwa sesungguhnya tujuan terbesarku adalah hafal surat Al-Baqarah dan Ali Imran. Demi Allah, sekali-kali kalian tidak akan percaya bahwa sebenarnya aku adalah orang yang tidak memiliki kesabaran untuk menghafal Al-Qur’an secara keseluruhan. Hal itu disebabkan karena aku menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang mustahil dan sangat susah untuk diwujudkan. Dan saat itu, aku masih hidup dengan mempertahankan tujuan yang ingin aku wujudkan sebelumnya, yaitu hafal surat Al-Baqarah dan surat Ali Imran. Dan aku menganggap bahwa kedua surat itu adalah adalah surat Al-Qur’an yang paling sulit (untuk dihafal); dan aku juga beranggapan bahwa sepertinya sulit sekali untuk mempertahankan hafalan tersebut dalam waktu yang lama. Subhanallah, tak terasa sudah tujuh tahun aku mempertahankan hafalan kedua surat tersebut.
Ketika bulan Ramadhan datang, tiba-tiba suamiku mengejutkanku bahwa ia akan beri’tikaf selama 15 hari terakhir Ramadhan di masjidil Haram. Tentu kalian mengerti tentang kesulitan yang menimpaku, karena aku akan ditinggal sendirian bersama anak-anakku. Kami tinggal di daerah yang jauh dari keluarga, sedang para tetangga di sini semuanya menutup pintu rumahnya (tidak peduli dengan urusan tetangganya). Aku merasa gembira karena suamiku akan beri’tikaf. Akan tetapi, manfaat apa yang dapat kupetik dalam kesendirianku ini?
Ketika waktunya telah tiba dan suamiku pergi untuk beri’tikaf, maka aku merasakan pahitnya kesendirian yang sebenarnya. Kemudian, aku mengangkat tanganku kepada Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, lalu aku berdoa kepada-Nya dengan doa orang yang tertimpa kesulitan, sedang air mata pun mengalir deras membasahi pipiku, “wahai Rabbku, Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Curahkanlah kepadaku rezeki yang berupa teman-teman yang shalihah, yang lebih baik dari aku. Sehingga, aku bisa meneladani mereka. Ya Allah, berikanlah aku sebaik-baik teman.”
Sungguh, doaku segera dikabulkan oleh Rabb yang Maha Pengasih. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Dia telah berfirman dalam kitab-Nya :

...
"...Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu...” (Al Mu’min : 60)

Ketika aku duduk di depan komputer sambil mengakses internet guna mencari situs yang berisikan informasi tentang keajaiban Al Qur’an Karim, tiba-tiba mataku tertuju pada situs akademi para penghafal Al Qur’an. Sebelumnya, aku tidak tahu bahwa masuknya aku ke dalam komunitas situs ini adalah pertanda terkabulnya doaku. Aku pun masuk dalam komunitas situs ini dalam keadaan terharu. Demi Allah yang tiada ilah kecuali Dia, aku keluar dari situs ini dalam keadaan yang tidak seperti keadaan saat aku masuk, yaitu keadaan yang belum pernah aku impikan sebelumnya. Setelah itu, pikiranku pun tertuju untuk beri’tikaf dalam rangka menghafal Al-Qur’an dalam 10 hari terakhir Ramadhan.
Sungguh, merupakan karunia Allah dan taufik-Nya atasku adalah aku segera mendaftarkan diri untuk beri’tikaf di akademi para penghafal Al-Qur’an tsb tanpa keraguan.
Sejak pertama aku beri’tikaf, aku merasa kagum dengan para akhwat yang turut beri’tikaf denganku. Demi Allah, mereka adalah sebaik-baik saudari di jalan Allah. Mereka menceritakan pengalaman-pengalam mereka dalam mengahafal Al Qur’an. Setelah mendengar cerita mereka, aku membayangkan seakan-akan aku bagaikan makhluk yang berasal dari planet lain. Masuk akalkah bahwa di antara mereka ada yang hafal Al-Qur’an hanya dalam waktu tiga hari? Padahal, selama tujuh tahun aku tidak memiliki kecuali dua surat. Setelah itu, kerinduanku (untuk menghafal) pun brtambah, sementara kesedihan dan kesempitanku menghilang. Kemudian Allah mengganti kedua perasaan tersebut dengan ketenangan yang tiada tara.
Aku bertawakkal pada Dzat yang hidup terus-menerus mengurusi makhluk-Nya atas karunia-Nya yang melimpah. Aku mengambil keputusan untuk beri’tikaf dalam rangka menghafal Al-Qur’an. Karena sesungguhnya, inilah amalan yang terbaik di bulan Ramadhan. Aku pun berujar, ‘Sesungguhnya, Ramadhan kali ini akan berbeda (dengan Ramadhan sebelumnya), dengan izin Allah.’
Aku pun mengambil secarik kertas, lalu kutulis di dalamnya keuntungan-keuntungan yang akan aku dapatkan dari menghafal Al-Qur’an berupa nikmat dan kebaikan yang besar, baik di dunia maupun di akhirat. Begitu pula dengan nikmat yang lebih besar dari keduanya, yaitu keridhaan Allah terhadapku.
Dengan izin Allah, hanya dalam beberapa saat aku bergabung dengan mereka, sebaik-baik ummat ini, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam:
“Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya” (Muttafaq ‘Alaih)
Aku berkhayal, seakan-akan aku bersama para nabi, shidiqqin (orang-orang yang amat teguh kepercayaannya pada kebenaran rasul), syuhada, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang paling baik. Kemudian, aku berkhayal lagi seakan-akan aku menyematkan mahkota di atas kepala kedua orang tuaku dengan kedua tanganku ini. Aku berkhayal bahwa aku dapat membebaskan mereka (dari siksa), kemudian aku pun kembali kepada diriku (untuk membebaskan diri sendiri). Aku juga berkhayal mengenai berbagai kenikmatan yang Allah anugerahkan kepadaku.
Aku menulis semuanya, dan aku menggantungkan tulisan itu di tempat yang senantiasa kurawat. Aku pun membawa halaman-halaman (mushaf Al-Qur’an) yang telah aku puruskan bahwa sekali-kali tidak akan meninggalkannya; dan akan menjadikannya sebagai teman di dalam eksprimen ini.
Setelah itu, aku pun berwudhu, lalu duduk dan membuka Al-Qur’an. Aku berkata dengan suara yang hanya terdengar oleh diri sendiri, ‘Sekarang, aku akan menguji kemampuan akalku yang sebenarnya. Dan aku akan memulainya dengan bertawakkal pada Allah seraya mengulang-ulang firman Allah Ta’alaa:

“dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al Qamar:17)

Kemudian, aku memasang alat pengingat untuk mengingatkanku bahwa aku hafal satu lembar dalam 10 menit. Maka, aku mulai menghafal halaman demi halaman. Setiap halaman, aku menghafalnya seraya bedoa kepada Allah agar Dia berkenan memantapkannya pada diriku. Doa yang kupanjatkan adalah, “Ya Rabbku, aku titipkan pada-Mu apa-apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku. Maka, jagalah ia untukku.”
Aku mulai menghafal pada waktu dhuha sampai zhuhur, lalu menghafal lagi sampai jam setengah tiga siang. Setelah itu, aku tidur sebentar dengan memasang alarm. Ketika alarm berbunyi pada waktu pada jam 3 sore, aku segera bangun untuk shalat ashar. Kemudian, aku mulai menghafal sampai datang waktu magrib, lalu kulanjutkan hingga sebelum Isya’.
Dari mulai mengahafal selesai, aku tidak berpindah-pindah. Aku hanya duduk pada satu tempat, hingga tak terasa bahwa aku telah menghafal 3 juz. Ya Allah betapa mulianya Engkau dan betapa besarnya nikmat-Mu. Akan tetapi, mengapa kami tidak pernah mensyukuri nikmat ini. Aku pun melanjutkan hafalanku sampai aku selesai menghafal 16 juz Al-Qur’an dalam 6 hari. Alhamdulillah. Aku bingung, apakah aku akan menyempurnakan hafalanku menjadi 30 juz ataukah mengulang-ulang apa yang telah aku hafal.kawan-kawan baikku menasihatiku agar aku menyempurnakan hafalanku dan tak berhenti hanya pada juz ke-16. Maka, aku pun menyempurnakan hafalanku. Aku yakin bahwa hafalanku tidak hilang hingga suamiku datang dan kami kembali berkumpul dengan keluarga, karena aku telah menitipkannya pada Rabbku yang Mulia (agar Dia selalu menjaganya).
Subhanallah, tak terasa aku akan meninggalkan tempat dimana aku menghafal Al-Qur’an dan berkhalwat (mendekatkan diri) dengan Rabbku, menuju kehidupan yang melalaikan dan keduniaan yang fana, yang mana semuanya sedang memfokuskan perhatiannya pada beberapa pertanyaan, “Kue dan manisan apa yang akan kami persiapkan untuk hari Ied kali ini?”, serta berbagi hal lainnya, sedang aku masih mengasingkan diri untuk mengahafal Al-Qur’an.
Kemudian, aku pun kembali kepada mereka, sedang aku berharap bahwa aku dapat mengkhatamkan hafalanku pada hari terakhir di bulan Ramadhan, serta mendapatkan dua kebahagiaan. Akan tetapi, ketika yang kuharapkan belum terwujud, cobaan dan ujian dari Rabb semesta alam datang padaku. Apakah aku akan melanjutkan hafalanku ataukah aku menghentikannya? Akan tetapi, Alhamdulillah, aku tidak berhenti menghafal.
Mungkin kalian tidak akan percaya bahwa pada suatu hari, aku tidak dapat menghafal kecuali hanya dua halaman. Bukan karena aku tidak bisa, akan tapi hal itu karena aku sangat disibukkan dengan sesuatu yang menimpaku. Keempat anakku semuanya menderita demam tinggi, hingga mereka tidak bisa tidur sepanjang malam. Oleh karena itu, aku pun banyak begadang malam untuk menemani mereka. Dan ketika aku merasa kepayahan sedang anakku yang paling kecil menangis terus-menerus, dan tidak ada seorang pun yang membantu, akhirnya aku pun jatuh sakit.
Alhamdulillah, walaupun sakit, aku tidak berhenti melanjutkan hafalanku dan terus berusaha sampai Allah berkenan menyembuhkan mereka yang sudah lama terbaring sakit. Setelah mereka sembuh, aku bertawakkal kepada Allah dan aku katakan pada diriku sendiri, ‘akan aku khatamkan hafalanku yang tersisa 10 juz dalam waktu dekat.’ Alhamdulillah, sungguh Allah telah memberikan karunia-Nya kepadaku hingga aku dapat menghafalanya dengan cepat.
Sekarang, aku akan menceritakan kepada kalian moment-moment paling indah dalam hidupku, yaitu moment saat aku mengkhatamkan Al-Qur’an.
Pada pagi hari ini, aku bermimpi indah. Mimpi itu membawa kabar gembira bahwa pada hari ini aku akan mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an. Serta merta, aku pun amat bergembira, karena pada hari ini hafalanku yang tersisa hanya tinggal 3 juz.
Kemudian, aku mulai menghafal. Dan tanpa kusadari, aku menghafalnya dengan cepat. Satu halaman dapat aku hafal dalam waktu 8 menit, terkadang hanya 5 menit. Sehingga, ketika waktu menunjukkan jam 9 malam, aku tidak tahu bahwa waktu itu adalah waktu yang telah aku tunggu-tunggu, yaitu waktu pengkhataman Al-Qur’an.
Aku terus membaca, akan tetapi aku tidak memperhatikan bahwa yang tersisa hanya tinggal beberapa halaman. Apakah kalian tahu bagaimana aku menyadarinya? Sungguh, kalian tidak akan percaya. Aku merasakan perasaan yang aneh sekali. Perasaan ini tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Perasaan ini tidak bisa digambarkan karena ia begitu saja menyebar ke seluruh tubuhku. Perasaan yang berupa ketenangan dan ketentraman. Demi Allah, seakan-akan diriku akan terbang karena ringannya tubuh. Maka, aku pun menjadi selembar bulu karen ringannya. Aku merasa heran, hingga aku bertanya pada diriku sendiri, ‘perasaan apakah ini?’ jantungku mulai berdetak, seakan-akan ia berkata kepadaku, ‘Semoga keberkahan terlimpah atasmu. Engkau telah khatam menghafal Al-Qur’an. Al-Qur’an telah berada di dadamu.’
Tiba-tiba aku tersadar, aku sedang membaca akhir ayat yang mana dengannya aku mengkhatamkan Al-Qur’an. Maka, aku pun menyungkurkan diriku ini ke tanah, lalu aku bersujud syukur, sedang air mata kegembiraan jatuh menetes ke bumi. Kemudian, aku pun berlari menemui suamiku. Aku kabarkan berita gembira ini dengan penuh sukacita. Lalu, aku pun melihat mushaf yang telah menemaniku sepanjang perjalananku menghafal Al-Qur’an. Aku menangis sambil berkata, ‘Wahai mushafku yang tercinta, sungguh, aku telah mendapatkan moment-moment yang paling indah (dalam hidupku).’ Lalu, aku pun memeluk mushafku itu dengan erat. Berulang-ulang aku ucapkan, Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, sesuai dengan kemuliaan wajah-Nya dan keagungan kuasa-Nya. Alhamdulillah, aku telah khatam menghafal Al-Qur’an sebelum ajal menjemputku.’ Sebelumnya, aku takut jika aku mati, sedangkan aku belum sempat menghafal Al-Qur’an dengan sempurna.
Berikutnya, perasaan yang tak bisa aku gambarkan adalah tiba-tiba aku beranjak pergi ke depan komputer. Lalu, aku memutar CD yang berisi ucapan-ucapan takbir, yang aku impikan sepanjang masa hafalanku. Kemudian, aku dan suamiku mendengarkannya dan semuanya merasa gembira.
Ya Allah, segala puji bagi-Mu yang telah memuliakanku dengan menghafal kitab-Mu. Ya Rabbku, betapa mulia-Nya diri-Mu. Engkau telah menggantikan kesendirianku dengan sebaik-baik teman yang menemaniku dalam kehidupanku dan kuburku. Wahai Rabbku, aku berdoa pada-Mu saat hatiku terkoyak karena kesendirian. Kemudian, Engkau menggantinya dengan sesuatu yang lebih dari apa yang aku angan-angankan dan aku harapkan. Betapa mulianya Engkau wahai Rabb Yang Maha Pengasih, Yang telah memberikan karunia yang menilmpah.
Adapun kalimat terakhir untuk menutup halaman-halaman indah ini adalah, ‘Aku adalah wanita, sebagaimana wanita lain. Aku memiliki seorang suami dan anak-anak. Anak-anakku belajar di sekolah khusus dengan kurikulum yang sangat sulit. Aku hafal Al-Qur’an, akan tetapi, aku tidak melalaikan tanggung-jawabku sebagai seorang ibu. Aku mendidik anak-anakku dan berusaha mengajari mereka segala sesuatu. Dan tanggung-jawab yang paling utama adalah sebagai seorang istri yang berusaha untuk mendapatkan keridhaan suaminya; tidak mengurangi haknya; dan menunaikan kewajiban-kewajibannya secara sempurna.
Alhamdulillah, Allah tidak menjadikanku telat untuk menghafal Al-Qur’an selama-lamanya. Demi Allah, janganlah kalian memberikan alasan atas tidak hafalnya kalian terhadap Al-Qur’an selama-lamanya. Apalagi kalian, para gadis yang belum menikah dan belum memiliki tanggung-jawab.
Pertama dan terakhir kalinya adalah berprasangka baiklah pada Allah, maka Allah akan berprasangka baik sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Karena ketika aku mengira bahwa surat Al-Baqarah dan Ali Imran sulit sekali untuk dihafal; dan usaha itu akan memakan waktu yang lama, maka Allah pun memberikanku anugerah sesuai dengan apa yang aku kira, yaitu aku menghafalnya selama 7 tahun. Hal itu disebabkan karena aku tidak berprasangka baik pada Allah.
Akan tetapi, ketika aku memasrahkan diri kepada Allah dan berprasangka baik kepada-Nya, aku berujar pada diriku sendiri, ‘Aku akan menghafal Al-Qur’an secara sempurna dalam waktu singkat.’ Allah memuliakanku dengan menghafal kitab-Nya; dan memudahkanku. Allah menunjukiku jalan dan cara menghafal yang bermacam-macam, yang tidak pernah aku mengerti dan ketahui sebelumnya.
Wahai orang yang berkeinginan untuk menghafal Al-Qur’an, bertawakkallah kepada Allah! Bersungguh-sungguhlah dalam berusaha! Dan jujurlah pada dirimu bahwasanya engkau benar-benar ingin menghafal Al-Qur’an! Serta, berprasangka baiklah bahwa Allah akan memberikan taufik-Nya atas usahamu. Demi Allah, engkau akan mendapatkan apa yang kau inginkan dengan segera; dan engkau akan menjadi bagian dari penghafal kalam yang paling agung, yaitu kalam Rabb semesta alam. Dia telah berfirman :

“dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al Qamar:17)


Nb:
*to akhwat: jika mereka bisa, kita??? ^_^
*to ikhwah: jika seorang ummu/akhwat -notabene, punya libur shalat + pegang mushaf-, bisa. Kalian??? ^_^

Ayo.... Fastabiqulkhairaat... ^_^

Dikirim pada 25 Februari 2010 di Motivasi

Ada banyak hal yang tak kita sukai justru hadir menyapa hidup kita. Menjadi bagian takdir yang tak bisa kita hindari, ridha atau tidak ridha. Dan memang demikian adanya. Ia tak kan pernah menanyakan pada kita tentang kesediaan, kesiapan dan keikhlasan menjalaninya. Ia bisa hadir pada kehidupan kita kapan saja. Dan menjadi hal sulit dan menyulitkan ketika harus dijalani dengan ”ruh” keterpaksaaan.

Hidup, adalah rangkaian demi rangkaian episode yang telah diskenariokan. Diatur sedemikian rupa dengan komposisi perhitungan dan pertimbangan yang sangat teramat tepat. Dan kita manusia, yang menjadi komponen utama dari hidup, telah dipilih olehNYA dalam amanah yang luar biasa. Keluarbiasaan yang Allah sendiri, sang pemilik kehidupan, menggambarkannya pada gunung dalam ketidak-sanggupan menerima. Ya, amanah sebagai khalifah fil ard [1].

Sesungguhnya, tak ada yang begitu menginginkan kita menjadi baik, seperti keinginanNYA. Tak ada yang begitu detail memperhatikan dan mengurus kita, seperti yang dilakukanNYA. Begitu teramat kasihnya Allah SWT pada kita, lebih antusias dalam batas keantusianan kita mendekatiNYA dengan berjalan, IA menyambutnya dengan berlari [2].

Sekali lagi, tak pernah ada yang begitu menginginkan kita menjadi baik, seperti keinginanNYA. Dan pada bagian-bagian takdir yang tak pernah kita sukai, sejatinya adalah tetap menjadi takdir-takdir terbaik yang telah diciptaNYA, dalam mentarbiyah kita menjadi semakin baik. Hingga dengan energi-energi kebaikkan itu, kita berdaya menjalankan fungsi diri sebagai khalifah fil ard.

Maka menjadi alasan kuat yang harus diyakini, bahwa setiap hal yang hadir dalam hidup kita, yang mempergulirkan dua hal berbeda bahkan bertolak belakang, adalah pengondisian sebaik-baik keadaan. Beruntunglah setiap diri yang mampu belajar dan mengambil hikmah pada perguliran-perguliran episode itu. Hinngga mampu melahirkan sikap sejati seorang muslim, sikap yang pernah disabdakan Rasullullah SAW, bahwa sesungguhnya begitu mengagumkannya setiap keadaan seorang muslim. Bila ia ditimpa musibah dan ia bersabar, maka itu adalah kebaikkan baginya. Dan jika ia ditimpa keberuntungan dan ia bersyukur, pun menjadi kebaikkan baginya [3].

Suka atau tidak suka, terpaksa atau rela, adalah pilihan sikap dalam bentukan diri yang menjadi tolak ukur bagaimana sejatinya kita memandang setiap takdir yang datang menyapa. Gambaran jelas tentang bagaimana dan seberapa dalam keimanan menghujam di dalam dada, yang disuguhkan dari sketsa-sketsa rangkaian episode hidup dalam urutan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.

Masa lalu, yang telah terunut, itulah takdir. Dimana kita meletakkan banyak hal sebagai ibrah. Menjadi cermin siapa kita di masa sekarang.

Masa sekarang, yang sedang kita runut, itulah pilihan-pilihan di cipta, misi dilakukan, dan ruang ikhtiar dioptimalkan untuk pergerakan pencapaian keinginan. Prediksi seperti apa kita di masa depan.

Dan masa depan, hal gaib yang secara sunnatullah tercipta dari pilihan masa sekarang. Pada masa inilah visi diletakkan. Menjadi yang dituju dalam rentetan perjalanan dari masa ke masa.

Pilihan, itulah kata kuncinya. Kita diberi kebebasan untuk memilih, karena memang hidup pada kenyataannya adalah berbilah pilihan. Dengan tegas dua hal berbeda itu ada, kebaikkan bersaing dengan kebatilan, kebenaran bersaing dengan kejahatan dan keindahan bersaing dengan keburukan [4]. Mau memenangkan persaingan yang mana kita, itu adalah pilihan dengan segala komitmennya. Karena pada bagian itu kemudian kita berada dan menerima konsekuensi.

Sementara jelas adanya, bahwa hidup tak pernah menyediakan pilihan abu-abu. Hidup tidak abu-abu! Jika kita tak berada dalan kebenaran, maka sudah pasti kita pada bagian kebatilan, jika kita tidak baik, maka kita adalah jahat, pun jika kita tidak menyukai keindahan, maka sesungguhnya selera kita adalah keburukan.

Pada sisi yang lain, Allah swt telah menfasilitasi kita untuk memilih pada pilihan-pilihan itu dengan fasilitas akal, hati dan cita rasa (feel/insting).

Akal, yang akan mendeteksi tentang sebuah kebenaran atau kebatilan. Hati, yang akan merasakan sebuah kebaikkan atau kejahatan. Dan cita rasa, yang akan menyuguhkan selera indah atau buruk.

Pun demikain, Allah telah mengilhamkan pada kita dua jalan, yaitu jalan keselamatan dan jalan kesesatan [5]. Dan tinggal bagaimana kemudian kita merespon dari semua hal yang telah Allah rancang dan anugerahkan kepada kita.

Merespon, sejatinya ekspresi pertama hati yang telah diciptanya dalam kefitrahan cenderung kepada kebaikkan [6]. Itulah korelasinya mengapa kita harus bersegera kapada kebaikkan, bersegera mengerjakan urusan yang lain jika satu urusan telah diselesaikan [7]. Karena bersegera, minimal menutup kesempatan syetan menggoda dan membelokkan dari kecenderungan kebaikkan itu.

Dan pada akhirnya, hidup tetaplah akan menjadi rangkaian demi rangkaian episode yang menggilirkan kedukaan dan kesukaan, keberuntungan dan kerugian, kesuksesan dan kegagalan. Sebagai ujian pengukur kualitas diri dihadapan sang pemilik kehidupan, Illah semesta alam. Maka, salayaknya sikap terbaik kita sebagai seorang muslim adalah ridha terhadap setiap peristiwa yang sudah terjadi, bertawakal dalam ikhtiar luar biasa pada setiap tapak kehidupan agar tetap bernilai baik, dan tak mudah berputus asa pada setiap hal baik yang masih saja belum terwujud [8]. Dan di ujungnya, lahirkan pribadi luar biasa, pribadi yang tak pernah mengeluh pada setiap takdir yang menerpanya, dalam kesadaran penuh memahami hakikat kehidupan. Karena pada hakikatnya memang boleh jadi hal yang tak kita sukai justru itu baik bagi kita, dan sebaliknya [9].

~~~

Kota kembang, 24 Januari 2010_16.34 wib

RF_ To my sisters, PPM DT (Program Pesantren Mahasiswa Daarut Tauhiid). Be the best of generation. I will be your supporters, InsyaAllah...

Footnote :

”Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS 33 : 72)

’’Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ’’Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’’ Mereka berkata: ’’Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’’. Tuhan berfirman: ’’Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’’ (QS 2 : 30)

“Barangsiapa yang mendekati Allah sesiku, Dia akan mendekatinya sehasta. Barangsiapa mendekati Allah sambil berjalan, Allah akan menyambutnya sambil berlari.” (HR Ahmad dan Al-Thabrani)

Dari Suhaib r.a, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)
Bab “Induk Akhlak” pada Buku “Membentuk Karakter Muslim” karya Ust. Anis Matta.
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya“ (QS 91 : 8-10)
“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula” (QS 66 : 4)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda ; "Bersegeralah engkau sekalian untuk melakukan amalan - amalan ( yang baik - baik ) sebelum datangnya berbagai macam fitnah yang diumpamakan sebagai potongan - potongan malam yang gelap gulita. Pagi - pagi seseorang itu sebagai seorang Imu’min dan sore - sore menjadi seorang kafir atau yang sore - sore menjadi seorang mu’min, tetapi pagi - pagi telah menjadi seorang kafir. Orang itu menjual agamanya dengan harta dunia" (HR Muslim)

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS 94 : 7)

’’Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.’’ (QS 98 : 8).

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.’’ (QS 13 : 11).

"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS 39 : 53).

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui“ (QS 2 : 216)..sumber era muslim

Dikirim pada 17 Februari 2010 di muhasabah

Hari ini adalah hari pernikahanku

Aku harus bangun lebih awal
Melaksanakan shalat and berterimakasih kepada Allah
Atas semua nikmat yang telah Dia berikan kepadaku
Khususnya untuk hari yang bahagia ini

Hari ini adalah hari pernikahanku
Aku harus membuka jendela kamarku
Hingga bisa kurasakan udara segar di wajahku
Aku ingin melihat matahari terbit
Aku ingin mendengar nyanyian burung-burung

Hari ini adalah hari pernikahanku
Aku ingin melihat kamarku dalam nuansa biru
Alas tempat tidur biru dan karpet biru
Aku ingin mencium wangi bunga-bunga
Aku ingin menghiasi tempat tidurku dengan melati

Hari ini adalah hari pernikahanku
Aku ingin memakai gaun pengantin yang sederhana
Tetapi itu akan menjadi gaun putih yang tercantik
Aku ingin walimah yang sederhana
Tetapi semua orang yang datang akan berdoa dengan tulus

Hari ini adalah hari pernikahanku
Aku ingin melihat senyum diwajah setiap orang
Dan tidak ada satu orangpun yang merasa tersakiti hari ini
Jika ada air mata di mata mereka
Itu hanyalah air mata kebahagiaan

Hari ini adalah hari pernikahanku
Aku ingin duduk disamping pangeranku
Mengenggam jemarinya dalam jemariku
Kemudian akan kubisikkan kepadanya
Selamat datang dalam hidupku…CINTA

Aku terbangun dari mimpi
Semuanya masih terlihat sama
Hari ini bukanlah hari pernikahanku
Tetapi pernikahan seseorang

Ya Illahi Rabbi,
Itu tidak apa-apa…
Jika hari ini bukanlah hari pernikahanku
Karena aku yakin dan percaya
Engkau tidak ingin aku menyakiti wanita lain

Ya Illahi Rabbi,
Tidak masalah bagiku…
Jika hari ini bukanlah hari pernikahanku
Karena aku yakin dan percaya
Engkau mencintaiku lebih dari pada dia mencintaiku

Ya Illahi Rabbi,
Aku baik-baik saja…
Jika hari ini bukanlah hari pernikahanku
Karena aku yakin dan percaya
Engkau telah mengatur pernikahanku suatu hari nanti

Ya Illahi Rabbi,
Aku tidak keberatan…
Jika hari ini bukanlah hari pernikahanku
Karena aku yakin dan percaya
Engkau telah menyiapkan seseorang yang terbaik untukku

Ya Illahi Rabbi,
Jika hari ini bukanlah hari pernikahanku
Maka aku mohon kepada-Mu
Berikan aku hari yang terbaik
Bersama seorang laki-laki yang terbaik
Di tempat yang terbaik
Amin…

Sesungguhnya Allah telah menjadikan kampung akhirat sebagai tempat pembalasan hamba-hamba-Nya yang Mu’min, sebab kampung dunia ini tidak mampu menampung apa yang hendak diberikan-Nya kepada mereka. Juga karena Allah ingin memuliakan kedudukan mereka dengan tidak memberi balasan di negeri yang tidak kekal.”

(Ibnu Athaillah As Sakandari, dalam Al Hikam)

Dikirim pada 14 Februari 2010 di keluarga

Puisi karya Rabi’ah al-Adawiyah ini begitu indah sekali.. Subhanallah.. Sebenarnya udah pernah kubaca pas aku masih duduk di semester 2 (tahun 2005) di buku “Diary Pengantin” (buku yang tak sengaja terbeli karena mau dihadiahkan ke teman), tapi saat itu belum ngeh juga… :/ ? Ah, apa bisa sih? Bisakah mencintai orang yang belum kita ketahui siapa dia.. (misalnya dijodohin ato melalui proses ta’aruf), kemudian orang tersebut menjadi suami kita? Butuh waktu berapa lama untuk mencintainya? Weeew… Itu pikirku dulu.. Apalagi saat itu aku masih belum tertarbiyah dengan baik. Lambat laun aku pun mulai mengerti.. setelah belajar banyak hal tentunya.. bahwa cinta pada manusia itu sebenarnya tidak abadi.. kita bisa kok melupakan masa lalu kita (walaupun mungkin kita pernah setengah mati mencintai ”dia yang dimasa lalu” haha.. aduuuh.. Forget it!) dan Insya Allah bisa jatuh cinta lagi sama orang lain.. So kenapa takut untuk menerima orang yang menjadi suami/ istri kita.. Padahal cinta yang indah, pacaran yang indah serta membuat seluruh alam bertasbih n mendoain kita yah.. itu tadi cinta yang terjalin setelah pernikahan.. setelah diikat secara halal oleh Allah SWT…
By The Way.. mungkin semua orang pasti ingin bisa menikah dengan orang yang dicintainya.. Alhamdulillah bila itu terjadi, berarti dia rejeki kita tapi bila bukan.. tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan dong ah… Belum tentu apa yang menurut kita itu baik tetapi ternyata tidak menurut Allah.. Namun bisa juga kita membenci sesuatu padahal dalam pandangan Allah itu terbaik buat kita. Oleh sebab itu agar tidak zina hati, yuk ah.. jaga hati kita..

Let’s to pray and wish Allah gives the best for us..



Ya Allah.. aku rindu akan Mujahidku yang aku sendiri belum mengetahui siapa dan ada dimana dia… Jagalah dia untukku… dan begitu pula aku… Jagalah aku untuknya… ^_^ Dan pabila kau telah mempertemukan kami.. kekalkanlah ikatan yang telah kau jalinkan pada kami berdua.. untuk saling bergandengan tangan dan bersama-sama membuka pintu SurgaMu.. Sama-sama membangun Baiti Jannati



Wallahu’alam bisshawab…





Menanti Sang Revolusioner



Oleh: Rabia’ah Al-Adawiyah



November 2002





Mujahidku, apa kabar?

Semoga saat ini engkau baik-baik saja

Penatku, penatmu saat ini semoga tetap di jalan-Nya

Semoga mendung ini kau nikmati juga

Supaya kau merasa sejuk setelah seharian bercampur debu







Mujahidku…

Aku rindu dalam rindu-rindu tentang takdir kita

Semoga saat ini Penghulu kita menjagamu,

Melindungimu di jalanan yang terik atau di lautan yang berdebur…

atau… bahkan di musim yang berbeda?



Aku tak pernah tahu

Namun, tahukah kau? Aku selalu yakin akan skenario-Nya





Mujahidku…

Semoga saat ini Dia menjaga hatimu, mata, pendengaran

Jiwamu, semuamu…. (ehmmm!) untukku!

Pun aku, semoga Dia membantuku untuk menjaga kehormatanku, jiwaku… jasadku, semuaku… untukmu! Karena-Nya semata.





Mujahidku… tahukah kau?

Saat ini aku berdoa untuk keselamatanmu

Semoga saat ini engkau masih teguh dijalan yang Ia bentangkan untukmu





Mujahidku…

Saat penat-penat pikir dan jasad begitu menggila

Saat kumparan-kumparan dakwah ini mengajak kita berputar bersamanya…

Sungguh, aku hanya berharap DIA ridha atas apa yang aku dan engkau lakukan (meskipun kau entah dimana)



Mujahidku, entah kau di mana…

Aku tak hendak melukis jasadmu,

Aku tak hendak mereka-reka, menebak-nebak tentangmu!

Sebab mujahidku… tahukah kau?

Aku mencintaimu sebelum mata ini memandang, sebelum telinga ini mendengar

Sebelum hal-hal fisik merusak semua ketulusanku atas siapapun kau!

Dan aku… ingin menjaganya tetap begitu: SEDERHANA

Ah, Mujahidku… semoga kaulantunkan doa yang sama pada Pemilik kita

Sebab takdirku dan takdirmu ada di genggaman-Nya

Dan kita? Tak pernah tahu





Mujahidku…

Dalam sujud-sujud panjangku, aku merayu-Nya,

Menyelipkan doa semoga aku pantas mendampingimu

Entah… siapa kau, dimana saat ini adamu… namun…

Ada hormat, ada rindu, kepercayaan,

Yang memberiku selaksa energi tulus



Mujahidku, sungguh aku hanya ingin menjaga diriku, jiwaku

Mempersiapkannya… menempanya

Agar jika suatu saat DIA berkehendak, dan membuat skenario tentang kita,

Aku telah siap mendampingimu

Dan kita akan tapaki jalan dakwah yang kita pilih dan kita cintai

Hingga hanya Allah muara akhir semua cita









14 Ramadhan 1423

Untuk seseorang yang dijanjikan Allah, disaat yang hanya Allah mengetahuinya.





Sekilas tentang Rabiah al-Adawiyah:

Lahir sebagai sulung dari tiga bersaudara di Solo, 15 Mei 1981 dari pasangan M. Farzan Ali dan Aisyah. Ia menyelesaikan pendidikan formal dari SD hingga perguruan tinggi di Solo, dan baru saja menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Negeri Sebelas Maret tepat di penghujung tahun 2004.

Sejak duduk di bangku SMP sudah tertarik dengan aktivitas organisasi. Minatnya pada jurnalistik diawali di SMU dengan mengelola majalah sekolah GEMA SMU-MTA Surakarta. Sedangkan aktivitas organisasi eksternal mulai serius digelutinya sejak bergabung di Pelajar Islam Indonesia (PII) Daerah Solo pada tahun 1999. Ia sempat menjadi Ketua Umum PII_Wati Solo periode 1999-2000. Kini, ia masih tercatat sebagai anggota Korps Instruktur PII, untuk training-training bagi remaja.

Hobi membaca, menulis dan ”jalan-jalan” mulai terasah saat bergabung dengan media mahasiswa NOVUM Fakultas Hukum tahun 1999-2001. Ia pun sempat memegang amanah sebagai Kabid Jurnalistik Forum Silaturahmi Mahasiswa Islam (FOSMI) SKI FH UNS pada tahun 2000.

Thun 2001, Robi’ah mulai bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Solo. Sejak itulah pilihan untuk menjadi penulis terus diasahnya dengan menulis dan mengirimkan artikel-artikel nonfiksi ke media lokal, majalah-majalah Islam dan website. Hingga saat ini, ia menjadi salah satu trainer di ”sekolah menulis” FLP dengan spesialisasi karya nonfiksi. Diary pengantin adalah karya kolaborasinya dengan Izzatul Jannah, menyusul karya pertamanya Kenapa Harus Pacaran (DAR! Mizan, Maret 2004), Tak Hanya Sekedar Ngampus (MVM).

Cita-cita menikah di usia muda dan masih berstatus mahasiswa alhamdulillah dapat terwujud. Ia menikah pada 8 Februari 2004 lalu dalam usia menjelang 23 tahun dengan Hatta Syamsuddin, seorang mahasiswa Faculty of Shari’ah International University of Africa, Khortoum Sudan. Bagi keduanya, menikah muda bukan sekadar menghalalkan hubungan, tetapi keberanian untuk mengambil tanggung jawab lebih cepat, kesiapan untuk berjuang dari nol lebih cepat, sehingga lebih cepat pula menginvestasikan segala potensi untuk kemajuan dakwah. Termasuk, menginvestasikan generasi-generasi dakwah yang dilahirkan serta diasuh dalam pernikahan dengan visi yang mantap: Bukan sekedar bahagia, namun bersama menuju surga. Amin.



Sumber: Buku Diary Pengantin, 2005

(Izzatul Jannah dan Rabiah al-Adawiyah)



PS: Resensi tentang buku ini ntar menyusul yah.. masih proses membaca ulang nih..





Dikirim pada 30 Januari 2010 di keluarga

Hidup ini adalah pilihan. Kita akan menemui banyak pilihan, kita akan dihadapkan pada pengamilan keputusan-keputusan untuk menentukan pilihan. Tentunya hampir setiap orang mengharapkan pilihan yang dipilihnya adalah pilihan yang terbaik.



Untuk menentukan pilihan yang terbaik itu, selain diperlukan pertimbangan dari diri sendiri dan orang lain, yang terpenting adalah minta petunjuk kepada Allah agar ditunjukkan pilihan yang terbaik, salah satunya dengan sholat istikharah.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS.Al Baqarah:216)



Semakin dewasa diri kita semakin banyak kita menemui banyak pilihan karena salah satu tolak ukut kedewasaan adalah mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk, mampu mengambil keputusan dan berani bertanggung jawab.

Seorang anak yang akan lulus SMU dia akan dihadapkan pada pilihan kemana setelah lulus nanti dan jika dia ingin melanjutkan kuliah, PTS/PTN mana yang akan dia pilih. Selanjutnya seseorang yang mau lulus (ataupun belum lulus) kuliah dia akan berpikir pekerjaan apa yang cocok untuknya. Ada beberapa pertimbangan dalam memilih pekerjaan, masalah ini Insya Allah sudah pernah dibahas pada tulisan sebelumnya (lihat arisp).

Selanjutnya seorang ikhwan yang ingin menikah akan dihadapkan pada pilihan, siapa yang akan menjadi calon istrinya nanti. Bagi seorang akhwat akan dihadapkan pada pilihan untuk menerima atau menolak pinangan laki-laki yang datang meminangnya. Meskipun tetap boleh saja wanita yang ”meminang” laki-laki, tentu saja dengan cara yang syar’i. Dalam hal memilih calon istri/suami ini Rasulullah mengajarkan pada kita:

“Wanita dinikahi karena empat hal; karena harta, keturunan, kecantikan dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang punya agama, jangan berpaling kepada yang lainnya semoga dapat berkah” (HR Bukhari dan Muslim).



Sehingga yang menjadi pertimbangan utama adalah dalam hal dien/agamanya. Hal itu bukan berarti tidak boleh mempertimbangan ketiga hal yang lain; kecantikan/ketampanan, harta/kedudukan dan keturunan, karena hal itu manusiawi. Tetapi sebaiknya agama tetap menjadi pertimbangan yang utama karena sebaik-baik calon suami/istri adalah yang baik agamanya.



Ada curhat seorang akhwat dalam sebuah rubrik konsultasi yang menanyakan apakah sholeh saja cukup sebagai syarat calon suami? Apakah tidak boleh dia menolak seorang ikhwan yang sholeh tetapi dari segi fisik akhwat itu kurang sreg karena kurang cakep dan kurang cocok pula dengan sifatnya?

Pada rubrik itu konsultannya menjelaskan bahwa perasaan seperti sebenarnya manusiawi dan wajar. Tetapi sebelum memutuskan, sebaiknya dilakukan dulu proses untuk mengenal dari sisi lainnya. Mungkin memang tampangnya kurang menarik. Akan tetapi, tentu pertimbangannya kan bukan hanya tampang saja. Siapa tahu dia juga punya sisi yang lebih, yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dipikirkan dahulu baik-baik dan bias dikonsultasikan kepada ayah dan ibu.







Senada dengan jawaban di atas, memang tidak salah dan sah-sah saja jika akhwat itu menolak si ikhwan karena alasan fisik. Tetapi alangkah baiknya jika akhwat itu bisa berpikir objektif kemudian mempertimbangkan tentang kesholehan si ikhwan. Tidak ada orang yang sempurna, mungkin akan sangat jarang didapatkan ikhwan yang perfect udah sholeh, cakep, tajir, de el el atau akhwat yang sholehah, cantik dan anak orang kaya, dll. Kita perlu meluruskan niat, untuk apa dan karena siapa menikah. Apakah karena ibadah dan ikhlas karena Allah ataukah karena untuk nafsunya semata. Dan selanjutnya akhwat itu bisa minta pertimbangan kepada orang-orang sholeh di sekitarnya atau keluarganya. Dan yang tidak kalah penting, sholat istikharah minta pentujuk kepada Allah supaya ditunjukkan pilihan yang terbaik.

Tetapi kalau setelah dipertimbangkan masak-masak dan istikharah tetap meras tidak ”sreg” juga tidak bisa dipaksakan, karena bisa jadi itu yang terbaik dan akhwat itu bisa menolak dengan cara yang baik tanpa menyinggung perasaan si ikhwan.

Kita sering pula mendengar kisah para ikhwan yang pilih-pilih calon istri yang cantik. Ini juga sah-sah aja tetapi jangan sampai kecantikan menjadi pertimbangan yang utama, tetaplah agama yang menjadi prioritas utama. Salut juga mendengar ada ikhwan yang memilih calon istri akhwat yang lebih tua darinya karena merasa akhwat itu perlu didahulukan dan dia menikah karena ibadah bukan karena nafsunya.



Ada lagi kisah teladan dari Ummu Sulaim, sohabiyah yang termahal maharnya. Beliau mau menerima pinangan Abu Thalhah yang dengan syarat keislaman Abu Thalhah sebagai maharnya. Insya Allah Ummu Sulaim tidak begitu saja menerima begitu saja kalau tidak yakin dengan kesungguhan dan komitmen Abu Thalhah untuk berislam. Dan ternyata setelah masuk Islam, Abu Thalhah menjadi salah satu sahabat Rasulullah yang istimewa.

Memang tidak mudah untuk menjadi Ummu Sulaim karena suami yang akan menjadi kepala rumah tangga nantinya, yang akan lebih dominan. Ada beberapa kisah akhwat yang sebelum menikah dia sudah tertarbiyah dan aktif dalam dakwah kemudian menikah dengan seorang ikhwan hanif dengan harapan nantinya sang suami biasa diajak ikut tarbiyah dan dakwah, tetapi ternyata kenyataanya takseindah impiannya, sang suami ga mau ngaji apalagi dakwah dan sang istri pun akhirnya juga tak lagi berada dalam barisan dakwah. Tetapi jika memang calon suami punya komitmen dan sungguh-sungguh untuk perbaikan diri dan mau bergabung dalam barisan dakwah sebagaimana Abu Thalhah maka tidak ada salahnya juga menjadi seorang Ummu Sulaim.



Dengan pertimbangan-pertimbangan itu memang kita bisa menentukan pilihan. Tapi alangkah baiknya jika kita bertawakal kepada Allah, biarlah Allah yang memilihkan untuk kita, karena Dia-lah yang Maha Tahu yang terbaik untuk diri kita. Bisa jadi yang kita anggap baik adalah buruk menurut-Nya, begitu pula sebaliknya.

Wallahu a’lam bishowab

http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/08/06/menunggu/

Dikirim pada 29 Januari 2010 di keluarga
27 Jan

jika aku mencari ketampanan tentu aku tak memilihmu
jika aku mencari kekayaan tentu aq juga tak memilihmu
biarlah”tak sempurna”dan biarkan mereka trus bicara
TERSERAH..!!!krn aku tak akan mendengarkannya..

Aku tau kau punya seribu kekurangan tapi aku juga tahu kau punya berjuta kelebihan yang bersembunyi dibalik keimanan.
Tenanglah..aku tak akan minta hidup yg mewah,tak akan minta harta yg berlimpah dan tak akan minta sesuatu yang engkau tak bisa menyanggupinya.percayalah..aku menerimamu apa adanya.

Cintai aku tapi jangan sepenuhnya..

Marahi aku jika aku terselah tapi cukup dengan marah yang sewajarnya..

Sekali lagi ku katakan..biarkan mereka trus bicara…!!!

Tak apa..hatiku tak luka karena insya Allah aku yakin pilihanku adalah pilihanNYA juga.

Bantu aku untuk menjadi wanita sholeha sepenuhnya dengan menyempurnakan setengah dari agama,menjadi istri dari seorang hamba sepertimu yg begitu mencintaiNYA :)

Copas dari My lovly sista Syauqi Syahadah

Dikirim pada 27 Januari 2010 di keluarga

Gaza adalah The Biggest Health Center and NO.1 di dunia. Penduduknya menghabiskan hari-hari mereka dengan sangat bahagia setelah memutuskan untuk mengikuti nasehat para ahli kesehatan moderen agar tidak mengkonsumsi makanan yang menyebabkan kolesterol tinggi, tekanan darah naik, dan kegemukan. Demikian pula, mereka berhasil menghindari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan yang disebabkan bahan bakar minyak dan zat kimia lainnya. Untuk itu, mereka menerapkan olah raga berjalan kaki yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan akal, khususnya bagi para manula, orang cacat, orang sakit dan para wanita hamil.

Adapun rumah sakit dan tempat-tempat pelayanan kesehatan sudah ditutup, karena sudah terbukti dan tidak perlu diragukan bahwa obat-obat tradisional alias moderen adalah penyebab munculnya berbagai penyakit dan membunuh daya imunitas tubuh. Sebab itu, para penduduk Gaza kembali mengkonsumsi obat-obatan yang terbuat dari daun kayu dan rumput-rumputan atau apa yang disebut dengan alami atau herbal karena mengikuti petuah atau metode pengobatan kuno, atau konsep, back to nature.

Sebab itu, penduduk Gaza menjadi orang-orang yang kuat dan sehat sehingga mampu menggali terowonngan sepanjang belasan kilometer, pemberani, dan seakan tidak mempan senjata canggih, kendati dihujani dengan white phosphor lebih dari 1.5 juta kg. Karena itu pulalah semua penduduk Gaza, laki-laki, wanita dan anak-anak banyak mengucapkan terima kasih pada pemerintah yang ikut memblokade mereka. Boikot dan blokade itu telah menyebabkan mereka menemukan jalan hidup (life style) yang sehat wal afiat dan jauh dari godaan peradaban yang merusak kesehatan, baik fisik maupun akal.

Yang lebih utama, mereka meminta pada Allah agar Allah memberikan kesempatan pada para pemimpin negera yang ikut memblokade Gaza, isteri-isteri dan anak-anak mereka agar dapat kesempatan menerapkan pola hidup sehat seperti yang mereka lakukan sejak beberapa tahun belakangan.

Demikian juga, penduduk Gaza berterima kasih pada pemerintahan Israel yang dengan terpaksa menugaskan ribuan pasukannya untuk mengontrol dan meyakini tidak sampainya bantuan dan bahan-bahan yang berbahaya - seperti yang dijelaskan sebelumnya- ke Gaza. Semoga blokade itu mejadi faktor kebaikan yang banyak bagi Gaza dalam segala hal dan turunnya pertolongan dari Allah.

Sekarang mari kita cermatin sunnah2 tentang pengobatan perawaan kesehaan dari Rosulullah SAW :

Keajaiban Buah Zaitun dan Minyaknya

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, enam belas ahli dari ahli-ahli kedokteran ternama berkumpul di kota Roma. Dalam laporannya, mereka mengukuhkan bahwa mengkonsumsi minyak Zaitun dapat membantu mencegah penyakit pembuluh nadi, peningkatan kolesterol darah, peningkatan tekanan darah, penyakit gula, dan kegemukan, sebagaimana minyak zaitun juga dapat mencegah sebagian jenis kanker. Para ahli kedokteran menjelaskan manfaat apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits berikut ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ูƒูู„ููˆุง ุงู„ุฒูŽู‘ูŠู’ุชูŽ ูˆูŽุงุฏูŽู‘ู‡ูู†ููˆุง ุจูู‡ูุŒ ููŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู ู…ูู†ู’ ุดูŽุฌูŽุฑูŽุฉู ู…ูุจูŽุงุฑูŽูƒูŽุฉู

"Makanlah buah zaitun dan berminyak rambutlah dengannya. Karena sungguh buah zaitun keluar dari pohon yng berkah". (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dan at-Tirmidzi berkata, "hadits ini hadits hasan")

Urutan Madu Terbaik

Para ilmuwan telah berhasil melakukan penelitian tentang jenis-jenis madu yang terbaik. Mereka menyimpulkan bahwa jenis madu yang terbaik adalah jenis madu yang diambil dari gunung, kemudian pada urutan berikutnya yang adalah jenis madu yang diambil dari kayu, kemudian setelahnya adalah jenis madu yang diambil dari perumahan manusia. Hal ini selaras dengan urutan yang telah disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat an-Nahl ayat 68.

Keajaiban Habbatus Sauda’

Dalam sebuah hadits, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ’anha bertutur, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

( ุฅู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุญุจุฉ ุงู„ุณูˆุฏุงุก ุดูุงุก ู…ู† ูƒู„ ุฏุงุก ุฅู„ุง ู…ู† ุงู„ุณุงู… ) ู‚ู„ุช : ูˆู…ุง ุงู„ุณุงู… ุŸ ู‚ุงู„ : ( ุงู„ู…ูˆุช )

”Sesungguhnya habbah sauda` (jinten hitam) mengandung obat bagi semua jenis penyakit kecuali as-saam. Aisyah bertanya, "Apa itu as-saam?" Dijawab oleh beliau, "as-Saam adalah kematian". (Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Telah dilakukan penelitian di Balai Penelitian Florida - Amerika Serikat pada habbah sauda`, dan hasil penelitian itu menunjukkan bahwa habbah sauda` mampu meningkatkan kekuatan daya tahan tubuh. Habbah Sauda` juga terbukti memainkan peran penting dalam meningkatkan dan manambah kekuatan daya tahan tubuh manusia untuk melindungi dirinya melawan kuman serta bahan-bahan aktif yang berbahaya lainnya.

Allah ta’ala berfirman,

ูˆุฃูˆุญู‰ ุฑุจูƒ ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ุญู„ ุฃู† ุงุชุฎุฐูŠ ู…ู† ุงู„ุฌุจุงู„ ุจูŠูˆุชุงู‹ ูˆู…ู† ุงู„ุดุฌุฑ ูˆู…ู…ุง ูŠุนุฑุดูˆู†

"Dan Rabb-mu telah mewahyukan kepada lebah, ’buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia’." (An-Nahl: 68)

Rahasia Siwak

penemuan ini terdapat dua mukjizat bagi Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Mukjizat pertama, yaitu manfaat-manfaat yang tampak pada siwak. Dengan ini, berarti Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam adalah orang pertama yang memerintahkan melindungi mulut dari berbagai macam penyakit. Mukjizat kedua, yaitu bagaimana Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam bisa mengetahui dari sekian juta jenis pohon-pohonan, bahwa pohon siwak (saludora persica) mengandung banyak manfaat bagi manusia?

Inilah sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam yang menganjurkan kita untuk bersiwak,

ุงู„ุณูˆุงูƒ ู…ุทู‡ุฑุฉ ู„ู„ูู… ู…ุฑุถุงุฉ ู„ู„ุฑุจ

"Siwak adalah pembersih mulut dan sebab ridhanya Rabb". (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Keajaiban Susu

Ilmu pengetahuan modern merekomendasikan, bahwa dari sekian banyak jenis makanan, susu adalah satu-satunya jenis makanan yang terbukti mengandung semua unsur pokok yang dibutuhkan tubuh manusia. Penemuan ini telah diberitakan Rasulullah shallallahu ’alahi wasallam dalam hadits berikut ini, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad hasan dari Nabi shallallahu ’alahi wasallam beliau bersabda,

ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุณูŽู‚ูŽุงู‡ู ู„ูŽุจูŽู†ู‹ุง ููŽู„ู’ูŠูŽู‚ูู„ู’ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุจูŽุงุฑููƒู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูููŠู‡ู ูˆูŽุฒูุฏู’ู†ูŽุง ู…ูู†ู’ู‡ู ููŽุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุดูŽูŠู’ุกูŒ ูŠูุฌู’ุฒูุฆู ู…ูู†ู’ ุงู„ุทูŽู‘ุนูŽุงู…ู ูˆูŽุงู„ุดูŽู‘ุฑูŽุงุจู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุงู„ู„ูŽู‘ุจูŽู†ู
"Barang siapa diberikan minum susu hendaklah mengucapkan, ’allahumma barik lana fihi, wa zidna minhu’ (ya Allah, berikan kami berkah padanya dan berikan kami tambahan darinya), karena sesungguhnya tidak ada sesuatu yang mewakili makanan dan minuman selain susu".



Dikirim pada 22 Januari 2010 di Dunia Islam
22 Jan

Dikirim pada 22 Januari 2010 di muhasabah

assalamu๏ฟฝalaikum>>>tulisan

ini saya kutip dari surgaku.com bersumber dari buku"Petunjuk Sunnah dan adab sehari-hari lengkap" karya H.A.Abdurrahman Ahmad



Insya Allah kita dan pasangan akan lebih indah menjalani kehidupan

Hak Bersama Suami Istri
- Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-Rum: 21)
- Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya. (An-Nisa’: 19 – Al-Hujuraat: 10)
- Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa’: 19)
- Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)

Adab Suami Kepada Istri .
- Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama. (At-aubah: 24)
- Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah clan Rasul-Nya. (At-Taghabun: 14)
- Hendaknya senantiasa berdo’a kepada Allah meminta istri yang sholehah. (AI-Furqan: 74)
- Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar, Memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)
- Jika istri berbuat ‘Nusyuz’, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan. (An-Nisa’: 34) … ‘Nusyuz’ adalah: Kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan kepada Allah.
- Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)
- Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.(Ath-Thalaq: 7)
- Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
- Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)
- Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)
- Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa’: 19)
- Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).
- Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)
- Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)
- Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. (An-Nisa’: 3)
- Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa’i)
- Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AIGhazali)
- Jika suami hendak meninggal dunia, maka dianjurkan berwasiat terlebih dahulu kepada istrinya. (AI-Baqarah: ?40)

Adab Isteri Kepada Suami
- Hendaknya istri menyadari clan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-Iaki adalah pemimpin kaum wanita. (An-Nisa’: 34)
- Hendaknya istri menyadari bahwa hak (kedudukan) suami setingkat lebih tinggi daripada istri. (Al-Baqarah: 228)
- Istri wajib mentaati suaminya selama bukan kemaksiatan. (An-Nisa’: 39)
- Diantara kewajiban istri terhadap suaminya, ialah:
a. Menyerahkan dirinya,
b. Mentaati suami,
c. Tidak keluar rumah, kecuali dengan ijinnya,
d. Tinggal di tempat kediaman yang disediakan suami
e. Menggauli suami dengan baik. (Al-Ghazali)
- Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya, walaupun sedang dalam kesibukan. (Nasa’ i, Muttafaqun Alaih)
- Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk menggaulinya, lalu sang istri menolaknya, maka penduduk langit akan melaknatnya sehingga suami meridhainya. (Muslim)
- Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya. Allah swt. mengampuni dosa-dosa seorang Istri yang mendahulukan hak suaminya daripada hak orang tuanya. (Tirmidzi)
- Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang meninggal dunia dalam keridhaan suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah, TIrmidzi)
- Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi saw.: “Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya. .. (Timidzi)
- Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya. (Thabrani)
- Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan suami(Thabrani)
- Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di belakangnya (saat suami tidak di rumah). (An-Nisa’: 34)
- Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: (1) Banyak anak (2) Sedikit harta (3) Tetangga yang buruk (4) lstri yang berkhianat. (Hasan Al-Bashri)
- Wanita Mukmin hanya dibolehkan berkabung atas kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari. (Muttafaqun Alaih)
- Wanita dan laki-laki mukmin, wajib menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya. (An-Nur: 30-31)

Isteri Sholehah
- Apabila’ seorang istri, menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramddhan, memelihara kemaluannya, dan mentaati suaminya, niscaya Allah swt. akan memasukkannya ke dalam surga. (Ibnu Hibban)
- Istri sholehah itu lebih sering berada di dalam rumahnya, dan sangat jarang ke luar rumah. (Al-Ahzab : 33)
- Istri sebaiknya melaksanakan shalat lima waktu di dalam rumahnya. Sehingga terjaga dari fitnah. Shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih utama daripada shalat di masjid, dan shalatnya wanita di kamarnya lebih utama daripada shalat di dalam rumahnya. (lbnu Hibban)
- Hendaknya menjadikan istri-istri Rasulullah saw. sebagai tauladan utama.
sumber : Harrijou Harry


Dikirim pada 20 Januari 2010 di keluarga

Ukhti…

Inginkah kau menjadi bidadari ?

Bersanding dengan para wanita yang utama

Yang pernah tertulis dalam sejarah kehidupan manusia



Ukhti…

Inginkah kau menjadi bidadari ?

Layaknya Haula bin Jatsi

Yang tuntutan dan doanya tercatat dalam Al-Qur’an

Bukti cinta dan kedekatannya dengan Rabbnya



Ukhti…

Inginkah kau menjadi bidadari ?

Layaknya Aisyah r.a

Wanita mulia penghafal Al-Qur’an

Yang kecerdasan dan keilmuannya

Saksi perjuangan pengemban risalah



Ukhti…

Inginkah kau menjadi bidadari ?

Layaknya Ummu Sulaim

Yang kesabarannya menjadi saksi

sebaik-baik perhiasan dunia

Istri sholehah



Ukhti…

Inginkah kau menjadi bidadari ?

Kulihat anggukan tegas dari kepalamu

Kulihat binar mata di wajahmu

Kurasakan gelora hamasah di jiwamu



Kau pasti ingin menjadi bidadari…

Apakah ini hanya anganmu atau citamu

Apakah ini hanya mimpi atau orbit khayalmu



Karena bidadari

Tak kenal lelah berinteraksi dengan beratnya da’wah

Tak kenal menyerah dalam ketaatan pada RabbNya

Tak mau berpisah dengan surat cinta dari Nya



Ukhti…

Kuharap kita masih ingin menjadi bidadari

Sebesar apapun harga yang harus dibayar

Seberat apapun tadhiyah yang kita korbankan



Kita akan terus berjihad

Tak kenal henti

Berbekal semangat Al-Qur’an

Dustur penerang jiwa

Maju kehadapan

Mujahidah bidadari sejati



Ukhti

Mari menjadi bidadari cahaya

Yang lisannya adalah Al-quran

Yang kegemarannya adalah tilawah

Yang cintanya adalah hafalan

Yang hidupnya dibawah naungan Al-Qur’an

Meretas dalam iman

Menjadi bidadari cahaya

Baiti jannati



Karena seorang mujahid

Hanya akan lahir dari rahim-rahim mujahidah

Hanya akan tsabat dengan dukungan seorang istri mujahidah

Hanya akan teguh dengan patner da’wah seorang mujahidah

Yang bercita-cita punya jundi hafidz-hafidzhah

Yang hanya akan tercapai dengan pembinaan seorang ummi hafidzhah



Dikirim pada 19 Januari 2010 di keluarga

Dulu...ketika engkau menyapaku..
Ass,wr,wb...ya..Akhi....
antum dari mana...
Indonesia ya ustad...
engkau memelukku...erat...
memegang tangan ku..
dan mengajakku ikut dalam majelis mu
subhannallah..betapa Allah menganugrahkan ilmu yang begitu melimpah kepadamu...
bahasa mu sederhana..tapi maknanya menyetuh jiwa...
tak ku sia-siakan untuk bertanya, tentang buku-buku mu yang menggetarkan jagad gerakan da๏ฟฝwah di negeriku...
engkau tersenyum...ya akhi...betapa Allah menganugrahkan kepada Ikhwah di negeri antum..kebebasan berda๏ฟฝwah..yang tidak kami miliki disini..maka jangan sia-siakan lah..hapalkan al-qur๏ฟฝan, karena dia adalah energi yang tak pernah habis...dan jadilah antum bagian dari rijalul da๏ฟฝwah....yang kelak akan mengembalikan dunia ini pada aturan-aturan Nya...jangan sia-siakan akhi...jangan sia-siakan akhi...
katamu masih kudengar kini lembut di telingaku....

sumber : Hamzah Nasution..

Dikirim pada 16 Januari 2010 di Dakwah

Saudaraku..
Ketika kita sudah menyempurnakan Ikhtiar..
Dengan Niat menjaga kesucian diri dari dosa
Menjaga kesucian pandangan..
Bahkan sampai dengan proses Ta’aruf yang Terjaga..

Ketika kita juga sudah berdoa setiap hari..
Sholat Istikharah sampai meneteskan airmata bercucuran..
Dan sepertinya Dialah yang terbaik buat kita..
Dialah yang akan menjadi pendamping hidup kita..

Namun..
Ternyata dirinya tidak bersedia menerima kita..
Ternyata dirinya menolak cinta kita..
Oh My God.:(
Dunia sepertinya mau Kiamat..
Hati teriris-iris..diri jadi melankolis..^^

Saudaraku..
Memang Alangkah bahagianya jika cinta yang hendak kita bingkai
dalam nuansa indah PERNIKAHAN, mendapatkan Sapaan lembut..
Sambutan hangat serta Sunggingan senyum dari dia yg kita dambakan.
Namun betapa nestapanya ketika CINTA TULUS yang kita ungkapkan..
ternyata harus BERTEPUK SEBELAH TANGAN..
Cinta Memang Tak Harus Memiliki..
Mungkin kita sering mendengar ungkapan itu..
Mudah diucapkan..
Tapi kenyataannya..
Sulit dilaksanakan..

Saudaraku..
Janganlah bersedih
Yakinilah bahwasanya kegagalan cinta yang kita alami.
Tertolaknya cinta yang kita ajukan..
Sudah dirancang,dan ditulis sedemikian rupa oleh Allah..
Semuanya ada hikmahnya saudaraku..

Saudaraku..
Yakinlah bahwa Allah pasti akan memilihkan yang terbaik buat kita.
Jika kita ditolak saat ini..
Berarti Allah sudah menyiapkan buat kita yang lebih baik..
Dari yang Sekarang Menolak kita..

Saudaraku..
Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah..
Allah ingin menguji kita ,seberapa besar kita terhadap komitmen pernikahan..
Allah ingin lebih mendewasakan kita dan memantapkan kepribadian kita dalam menghadapi kegagalan..

Saudaraku..
Kita mungkin kecewa,frustasi,trauma,sedih serta kehilangan semangat..
Tapi jangan sampai Rasa SEDIHMU itu..memakan hari-harimu..
Ketika engkau terlalu larut dalam kesedihan.
Maka dirimu akan menjadi lemah..
Ya..lemah dalam beribadah..malas dalam bekerja..
Menggiringmu untuk berburuk sangka terhadap Allah..
Dan Syetan akan menggunakan perangkapnya untuk menipumu..
Sehingga gaya hidup kamu bisa menjadi bebas..tak ada aturan


Saudaraku..
Dijamin hari-harimu TIDAK AKAN BAHAGIA..selama engkau LARUT DALAM KESEDIHAN..
Dunia tak selebar daun kelor..(kata orang dulu^^)
Apa kamu tak tahu bahwa dunia ini begitu luas..
Bertebaranlah dibumi Allah yang Luas..
Jodohmu bisa saja ada diseberang Pulau..
Dilain Kota..dilain Provinsi..
tapi bisa juga dekat Rumahmu..
Carilah dengan Jalan yang diridhoi oleh-Nya

Seperti kata Imam Hasan Al Banna
“Mimpimu hari ini adalah kenyataan esok hari,Kenyataan hari ini adalah mimpimu hari kemarin”
Raihlah mimpimu ..Yakinlah Saudaraku Harapan itu Masih Ada
Carilah Gantinya dengan menjaga Niat Saudaraku..
Carilah seseorang yang bisa melabuhkan cintanya kepada Allah
Agar bertambah kekuatan cintamu kepada Allah..
Agar bertambah imanmu ,ketika engkau bersamanya..
Bukan hanya sekedar Melampiaskan Kekecewaan atau Nafsu belaka..
Karena dengan Niat yang Lurus mencari Ridho Allah.
insya Allah akan membawa keberkahan..

Saudaraku..
Sambil kita mencari..
Jangan lupa memperbaiki diri..
Perbaiki kekurangan kita dalam segala hal..
Siapkan dari sisi ruhiyah kita,sisi ekonomi kita,kematangan kita,keilmuan kita
Kalau kita ingin mendapat pasangan yang berkualitas bagus..
Tentunya kita harus berkualitas bagus juga.
“Wanita yang baik-baik..untuk Lelaki yang baik-baik..”
begitulah Allah berfirman dalam Surat An-Nuur:26

Saudaraku..
Cobalah hadapi dengan tersenyum..^^
Ya..Karena senyuman menghilangkan tegangnya pikiran..
Senyuman itu menggerakkan 17 otot wajah..
Sementara cemberut atau marah membutuhkan tarikan 32 otot wajah(kata seorang dokter)
Tersenyumlah Saudaraku..
Karena senyuman membuat peredaran darah menjadi lebih baik
Karena senyuman membuat hati menjadi lebih ceria..
Karena senyuman warisan Rasulullah.
Karena senyuman adalah sedekah..

Saudaraku..
Jika kita sudah menyikapi kegagalan dengan bijaksana.
Buatlah suatu prestasi indah yang dikenang sejarah
Buatlah dirimu bermanfaat juga buat orang lain..
Buktikanlah..
Bahwa kegagalanmu..malah membuatmu menjadi cambuk..
Cambuk yang akan melejitkan potensi dalam diri..
Membangunkan kita dari tidur lelap.
Membukakan mata hati kita..
Agar lebih arif dan bijak memandang kehidupan.


TETAPLAH SEMANGAT..YAKINLAH SAUDARAKU..HARAPAN ITU MASIH ADA^^ )I(

Ibnu AlJauzy:”Jika anda tidak mampu menangkap hikmah,bukan karena hikmah itu tidak ada,namun semua itu diakibatkan kelemahan daya ingat anda sendiri,Anda kemudian harus tahu bahwa para Rajapun memiliki rahasia yang tidak diketahui setiap orang,Bagaimana mungkin anda dengan segala kelemahan ada akan mengungkap seluruh hikmahnya?”

“Ya Allah,Berilah kami kekuatan dalam menjalani lika-liku kehidupan ini.Limpahkan belas kasih sayang-Mu kepada kami,sehingga kami bisa mengambil hikmah dalam setiap kejadian yang selalu membawa kebaikan buat kami..”Amiinnn..

Smoga kita bisa mengambil hikmah dalam setiap kejadian.
Mohon maaf bila ada kata tak berkenan..
insipired don’t cry,Ketika Mencintai,tak bisa Menikahi..

sumber : sonny mahendra

Dikirim pada 05 Januari 2010 di muhasabah

Alangkah Indahnya Pernikahan Da’wah, jika tidak dinanti ataupun disambut dengan Romantisme.. dipenuhi puisi cinta yang belum saatnya disampaikan. Habiskanlah waktu untuk membaca surat cinta dari Sang Khaliq. Al Qur’an...sehingga bila Allah Ar Rahman sudah mencintai kalian, maka kelak manusia terbaik akan bersanding mengiringi hari-hari perjuangan da’wahmu.

Alangkah Indahnya Pernikahan Da’wah dinantikan dengan mempersiapkan kekuatan Aqidah dan lurusnya niat untuk membentuk Bahtera Rumah Tangga yang kelak akan melahirkan mujahid - mujahidah sejati .........

Alangkah Indahnya Pernikahan Da’wah dinantikan dengan penuh keshabaran menantikan keputusan Allah yang terbaik ..... tanpa dilumuri harapan semu yang semata hanyalah bisikan Syaithan...

Alangkah Indahnya bila Pernikahan Da’wah hanya diketahui oleh Rabbul Izzati dan Sang Murabbi di dalam kesunyian do’a panjang di sela-sela sujud mengharap keridhoan Allah ..........

Alangkah Indahnya bila setiap Pernikahan Da’wah dijauhkan dari harapan-harapan Cinta sesaat yang akan melenakan dari tujuan pernikahan dua orang Da’i....memperkuat barisan Da’wah...

Alangkah indahnya bila Pernikahan Da’wah dijauhkan dari Penyakit Hati yang sering bersarang untuk melemahkan Dzatiyah setiap Singa di medan Da’wah....

Semoga Jarak antara Ta’aruf, Khitbah dan Aqad antum tidaklah lama, karena khawatir mengotori kesucian bahtera keluarga Da’wah yang akan dibangun ..... 24 jam penantian yang dipenuh syahwat, akan mengikis habis aqidah yang terbina...dan Syaithan-pun akan tertawa karena kebodohan-mu meng-ilah-kan rasa cinta kepada manusia....

Jangan sampai pernikahan dua orang aktivis da’wah hanya menjadi momentum purna tugasnya (futur) dua orang mujahid da’wah untuk kemudian tenggelam dalam romantisme syahwat yang melenakan dari tugas menegakkan Kalimat Allah (Insilakh) ...
Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Selamat berikhtiar dalam ketulusan niat dan tawakal bahwa Allah selalu mempersiapkan yang terbaik bagi setiap hamba-hamba-Nya yang terbaik....

Wallahua’lam.


notes : Abu Mubarak

Dikirim pada 31 Desember 2009 di keluarga

Siapakah jodoh kita? Seperti apakah jodoh kita? Bagaimana profilnya? Sesuai nggak dengan kita? Bagaimana kalau tidak? Pertanyaan-pertanyaan ini biasanya dikaitkan dengan konsepsi soal hidup, mati, lahir, jodoh, sebagai suatu takaran yang telah ditetapkan Allah dalam lauh mahfuz. Inilah konsep taqdir.

Dalam sejarah peradaban Islam, pandangan soal taqdir telah melahirkan dua mazhab yang saling bertentangan, yakni mazhab jabariyah dan qodariyah. Terdapat perbedaan pandangan ketika kita mulai berpikir apa peran ikhtiar, seberapa besar peran free will manusia, seberapa peran hak prerogatif Allah dalam menentukan taqdir, kenapa Allah memerintahkan untuk berdoa, berusaha, ikhtiar, berapa kontribusi peran Allah dan peran manusia dan lain-lain.

Beberapa pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu mengemuka. Mazhab jabariyah dikenal sebagai faham deterministik, sedangkan lawannya adalah mazhab qodariyah yang percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan 100 persen atau free will; “ setiap peristiwa berada pada kendali manusia sepenuhnya”.

Dalam paham Jabariyah, manusia digambarkan bagai kapas yang melayang di udara yang tidak memiliki sedikit pun daya untuk menentukan gerakannya yang ditentukan dan digerakkan oleh arus angin. Sedang yang berpaham Qadariyah akan menjawab, bahwa perbuatan manusia ditentukan dan dikerjakan oleh manusia, bukan Allah.

Dalam paham Qadariyah, sekaitan dengan perbuatannya, manusia digambarkan sebagai berkuasa penuh untuk menentukan dan mengerjakan perbuatannya. Pada perkembangan selanjutnya, paham Jabariyah disebut juga sebagai paham tradisional dan konservatif dalam Islam dan paham Qadariyah disebut juga sebagai paham rasional dan liberal dalam Islam. Kedua paham teologi Islam tersebut melandaskan diri di atas dalil-dalil naqli (agama) - sesuai pemahaman masing-masing atas nash-nash agama (Alquran dan hadits-hadits Nabi Muhammad) - dan aqli (argumen pikiran).

Lalu bagaimana dengan soal jodoh?

Soal ini selalu menjadi perbincangan menarik, seakan tidak ada habisnya membicarakan masalah ini. Berbagai penjelasan para ‘alim pun belum bisa memberikan kepuasan setiap insan. Apakah jodoh adalah murni taqdir Allah yang tidak ada hubungannya dengan ikhtiar manusia? Apakah murni ikhtiar manusia dan tidak ada hubungannya dengan Allah? Atau apakah kedua-duanya berperan, Allah dan ikhtiar manusia? Berapa persen masing-masing menentukannya?

Bahwa jodoh berkaitan dengan taqdir adalah benar. Bahwa kita pada dasarnya sudah ditaqdirkan oleh Allah memiliki jodoh masing-masing adalah juga benar. Namun apakah yang ditentukan oleh Allah itu adalah sesuatu hal yang definitif sebagaimana persepsi kita ketika kita telah menentukan untuk diri kita sendiri?

Mungkin saja berbeda, kita tidak tahu dan tidak pernah tahu kecuali telah terjadi. Mungkin saja Allah telah memberikan range tertentu, bukan sesuatu titik. Mungkin saja Allah telah menetapkan jodoh kita pada range, katakanlah antara 40-80. Berapa kemudian yang kita dapatkan di dunia tentunya tergantung dari ikhtiar dan doa kita, namun tidak akan keluar dari batasan range tersebut.

Kalau seseorang suka mengaji dan menghadiri majlis taklim mungkin probabilitas untuk ketemu jodoh juga lebih banyak dari kalangan yang suka mengaji. Sebaliknya yang suka dugem dan ke diskotik akan sangat besar kemungkinan ketemu jodoh dengan kalangan yang punya hobi sama. Sunnatullah.

Tugas kita sebagai makhluk adalah memikirkan dan mengikhtiarkan kehendak Allah yang kedua, yaitu apa yang dikehendaki Allah dari kita, biasa menyebutnya disebut takdir ikhtiari yaitu ketetapan Allah yang ada kaitannya dengan usaha manusia. Inilah tugas kita sebagai makhluk.

Allah menghendaki kita menuntut ilmu, silaturahim, sholat, dzikir, berdoa, berusaha dan lain-lain. Termasuk dalam hal jodoh, Allah menghendaki kita agar berusaha mencari dan menemukan jodoh terbaik kita masing-masing. Sebelum mendapatkannya, kita tidak tahu pasti siapa jodoh kita.

Jodoh adalah taqdir yang sekaligus berkaitan dengan peran Allah dan ikhtiar manusia. Jodoh bukan taqdir mutlak, tapi taqdir ikhtiari. Sehingga kaidah dalam menemukan jodoh adalah usaha/ ikhtiar secara syar’i dan tawakal. Artinya tawakal/ pasrah/ doa mengiringi usaha kita dalam menemukan jodoh tersebut akan menentukan seperti apakah jodoh yang kita dapatkan.

Dan ternyata inilah yang akan dinilai oleh Allah; proses usaha/ ikhtiar dan tawakal kita kepada Allah. Dengan demikian hasil dari proses tersebut akan kita pandang sebagai “yang terbaik”. Hati kita pun akan ikhlas menerima. Sehingga tidak ada istilah sakit hati, patah hati maupun duka hati.

Manusia diberi kebebasan sepenuhnya untuk berkehendak (free will) tetapi hasil akhirnya bukan hanya ditentukan oleh upaya manusia itu sendiri melainkan Allah jualah sangat berperan untuk menentukan hasilnya. Bukankah takkan ada daun kering yang jatuh ke bumi tanpa seijinNya?

Free will adalah berkaitan dengan konsekuensi sebab akibat. Kalau dalam hal ibadah maka akan ada pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Sedangkan dalam muamalah maka akibatnya sudah akan tampak di dunia. Inilah kenapa orang-orang barat yang tidak mengenal agama, atheis, agnostic malah tampak lebih memperoleh kualitas standar kenyamanan hidup yang lebih tinggi di dunia, lebih maju, lebih modern, lebih berkembang dibandingkan dengan negara-negara muslim yang notabene telah memiliki way of life. Karena mereka lebih mengoptimalkan rasio dan akalnya, lebih giat bekerja dan belajar sehingga sunnatullah juga kalau mereka mendapatkan hasil yang tampak lebih baik di dunia.

Manusia hanya berupaya, Allah jua yang mnentukan hasilnya. Dengan demikian, keputusan apakah kita akan pergi ke mesjid atau ke tempat maksiat semata-mata itu ditentukan oleh kehendak kita sendiri, Allah sama sekali tidak ikut campur. Allah hanya ikut campur dalam perkara yang menyangkut hasilnya. Sampai tidaknya kita ke tempat yang akan dituju sepenuhnya ditentukan oleh Allah.

Dari sini kita dapat mengerti mengapa Islam mengajarkan bahwa niat yang baik akan diberi ganjaran. Dan juga mengapa Al-Qur’an mengatakan bahwa kita terlarang merasa ‘pasti’ tetapi ucapkanlah ‘Insya Allah’. Juga mengapa Islam mengajarkan bersyukur apabila kita sampai dengan selamat di tempat yang menjadi tujuan kita.

Siapa jodoh saya?

Untuk mengetahui, tepatnya menebak siapa jodoh kita dalam bahasa ikhtiarnya, maka hal itu juga sangat ditentukan bagaimana kita mengetahui ”siapa diri kita”.

Sangat sulit menebak siapa jodohnya bagi orang yang belum mengenal dirinya. Oleh karena itu orang yang sudah faham siapa dirinya akan mudah untuk menemukan jodohnya. Jadi, ikhtiar yang harus kita lakukan pertama kali agar mendapatkan jodoh terbaik adalah memperbaiki diri. Karena Allah telah berjanji laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik pula.

Siapapun jodoh kita, tidak begitu masalah karena memang kita tidak pernah tahu siapa sosok yang telah dipilihkan oleh Allah untuk mendampingi kita. Yang jadi masalah adalah penerimaan kita kepada sosok yang menjadi jodoh kita tersebut. Apakah hati kita menerimanya dengan ikhlas kemudian mensyukurinya dengan prasangka baik kepada Allah atau justru hati kita menolak dan mengingkarinya dengan prasangka buruk kepada Nya?

Mungkin kelak jodoh kita bukanlah sosok yang selama ini menjadi dambaan dan pujaan hati. Mungkin jodoh kita bukanlah yang kita idam-idamkan. Mungkin jodoh kita bukanlah sosok yang mempunyai kesempurnaan fisik dan tidak sesuai dengan hati kita. Tapi pernahkan kita membayangkan bahwa ternyata dia adalah sosok manusia terbaik yang Allah anugerahkan kepada kita?

Boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu amat baik bagi kita. Juga boleh jadi kita mencintai sesuatu padahal itu amat buruk bagi kita. Point penting adalah bukan bagaimana kita mencari jodoh yang sempurna untuk kita, tetapi bagaimana kita bisa mencintai jodoh yang tidak sempurna secara sempurna

http://taufiqelrahman.multiply.com/journal/item/37

Dikirim pada 25 Desember 2009 di keluarga

Ya..Rabb..

Aku berdoa untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seseorang yang sangat mencintaiMu lebih dari segala sesuatu
Seorang yang akan meletakkanku pada posisi di hatinya setelah Engkau dan Muhammad
Seseorang yang hidup bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk-Mu dan orang lain

Wajah, fisik, status atau harta tidaklah penting
Yang terpenting adalah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau
Dan berusaha menjadikan sifat-sifat baikMu ada pada pribadinya
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup
Sehingga hidupnya tidak sia-sia

Seseorang yang memiliki hati yang bijak, tidak hanya otak yang cerdas
Seseorang yang tidak hanya mencintaiku, tapi juga menghormatiku
Seorang yang tidak hanya memujaku, tetapi juga dapat menasehatiku
Seseorang yang mencintaiku bukan karena fisikku, hartaku atau statusku tapi karena Engkau

Seorang yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi
Seseorang yang membuatku merasa sebagai wanita shalehah ketika aku berada di sisinya
Seseorang yang bisa menjadi sang nahkoda kapal
Seseorang yang bisa menjadi penuntun kenakalan balita yang nakal
Seseorang yang bisa menjadi penawar bisa
Seseorang yang sabar mengingatkan saat diriku lancang

Ya..Rabb.
Aku tak meminta seseorang yang sempurna
Hingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu
Seseorang yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya lebih hidup

Aku tidak mengharap dia semulia Muhammad SAW, tidak setaqwa Abu Bakar,
Pun tidak setampan Ali, ataupun segagah Umar, apalagi sekaya Utsman.
Aku hanya mengharap seorang pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita mengikuti jejak mereka,
Membangun keturunan yang sholeh,
Membangun peradaban,
dan membuat Rasulullah bangga di akhirat

Karena aku sadar aku bukanlah
orang yang semulia Ummu Sulaim,
Atau setaqwa Aisyah, pun setabah Fatimah,
Ataupun sekaya bunda Khadijah, setegar Asma
Juga segagah Nusaibah, apalagi secantik Zainab.
Aku hanyalah seorang wanita akhir zaman
yang punya cita - cinta

Ya..Rabb.
Aku juga meminta, Jadikanlah ia pelindung bagiku
Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sepenuh jiwaku

Berikanlah sifat yang lembut, sehingga auraku datang dariMu

Berikanlah aku tangan sehingga aku mampu berdoa untuknya
Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak dalam dirinya
Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana,
Mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat

Bunga mawar tak mekar dalam semalam, namun bisa layu dalam sedetik
Kota Baghdad tak dibangun dalam sehari, namun bisa hancur dalam sekejap

Perkawinan tak dirajut dalam pertimbangan sesaat, namun bisa saja terberai dalam sesaat
Pernikahan, bukanlah akhir dari sebuah perjalanan
Tapi awal sebuah langkah
Karenanya, jadikanlah pernikahan kami sebagai titian
Utk belajar kesabaran & ridho-Mu, ya Rabb

Dan bilamana akhirnya kami berdua bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan:
" Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang
dapat membuat hidupku menjadi sempurna".

Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat
Dan Engkau akan membuat segalanya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan.

Amin... Ya Rabb...

sumber : http://uswah99.multiply.com

Dikirim pada 24 Desember 2009 di keluarga



Kenabian itu ’mempersiapkan" Khilafah selama 22 tahun..
Maka, tanpa kenabian, berapa lama waktu yang kita perlukan untuk mempersiapkan Khilafah yang semisalnya...???

)I(

Pada mulanya....
halaqoh bermula dari Rumah Arqom, dengan Murobbi Rasulullah, saw...
dan Mutarobbi sahabat generasi awal, seperti Abu Bakr, Ali, Ja’far, Mush’ab, dan Hamzah......

Dalam halaqoh itu....
menyebarlah para sahabat ke berbagai tempat...
Seperti Ja’far ke Ethopia....pada hijrah pertama
dan Mush’ab...mentarbiyah penduduk Yastrib..yang kelak bernama Madinah, yang kita kenal dengan penduduk Anshar nya....

Sampai, masa tabiin.
Setelah itu terputuslah halaqoh...
yang ada hanya Mujaddid di setiap zaman
seperti Umar bin Abdul Aziz, Ibnu Tamiyah, Imam Syafi’i...dst

Hingga permulaan abad 20 Masehi....

Saat itu, cuaca peradaban sedang suram di seluruh dunia islam. Mentari benar-benar telah terbenam, setelah kabut yang menggulungnya..berabad lamanya
sempurna menjadi malam dengan senja yang bertanduk Syaithan.....

Tetapi empat tahun setelah tahun 1924, tahun yang dikenang Taqiyyudin An Nabhani dan pergerakan Hizbut Tahrir sebagai tahun runtuhnya Khilafah....

Di tempat lain...Mesir tempatnya
Purnama itu mulai ,mengintip malu dari balik awan...
Lelaki itu....
HASAN AL BANNA
lelaki berusia 22 tahun
membuat sebuah keputusan menyejarah....
Al Ikhwan Al Muslimun
di dirikan olehnya..dengan desain do’a Nabi Ibrahim, sesuai ijabah illahi dan langkah-langkah Nabawi yaitu...
TARBIYAH....!!

Ustad Umar At Tilmisani...pelanjut Hasan Albanna yang ketiga mengatakan ;
Sistem Tarbiyah dalam membangkitkan kejayaan Islam, akan menjadi jalan yang sangat panjang, tapi TERCEPAT...
butuh waktu lama....
TAPI TERJAMIN HASILNYA....
dan perlu banyak pengorbanan
NAMUN TERJAGA ASHALAHNYA...
Kata beliau...demikianlah, Karakteristik da’wah para Rasul.....

)I(

Sahabat....

Tarbiyah
adalah Ruh Kebangkitan Umat
Berbahagialah dirimu
yang mewakafkan dirimu
dalam Kafilah da’wah ini......
from :Hamzah Nasution

Dikirim pada 16 Desember 2009 di Dakwah

Bismillahirrahmanirrahim Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasihani Assolatuwassalam Rasulillah Selawat dan Salam buat Nabi Muhammad saw, Pembawa Rahmat Seluruh Alam… Salam sejahtera buat calon zaujahku yang dihijab pertemuan olehNya sehingga detik kita disatukan dengan lafaz ijab bersaksi qabul berwali. Semoga langkahmu tangkas dengan semangat juang Islam. Walau apapun yang kita lakukan, dasarilah ia dengan memohon keredhaanNya supaya setiap langkah itu beroleh keberkatan.

Ya Allah, gembirakanlah aku dengan redhaMu Kukira untaian doa srikandi iman, Nafisah binti Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abu Thalib ini mampu menyuburkan hatimu dengan Nur KasihNya. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang.(Ar-Rum: 21) Telah dikhabarkan bahawa engkau adalah calon yang sekufu untukku, bakal menjadi peneman solehah bersamaku merentas becaknya denai-denai perjuangan Islam ini. InsyaAllah. Kesesuaian ini telah kupohon dalam setiap doaku padaNya, dalam setiap sujudku, dalam setiap ibadah hajat dan istikharahku selama ini. Tanpa jemu walaupun pertemuan itu masih dirahsiakan.๏ปฟ

Besar kurniaanNya kepada kita. Hijab itu membolehkan aku dan kau melengkapkan diri masing-masing dengan bekalan agama agar baitul muslim kita nanti tidak suram dengan Nur keimanan yang malap. Calon zaujahku yang dirahmati, nikahi seorang wanita itu kerana empat perkara hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah hal keagamaannya, maka beruntunglah kedua-dua tanganmu.Bukan harta yang kuperlukan, bukan keturunan yang menjadi keutamaan, bukan kecantikan yang kuidamkan, tetapi kefasihan agamamu itu yang aku dambakan. Itulah hikmah sekufu yang menjadi asas usrah muslim antara aku, kau dan anak-anak pewaris ketauhidan Islam dalam mengESAkan Allah Yang Satu.

Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dan lelaki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi maha Mengenal.(Al-Hujarat: 13) Sirah telah membuktikan bahawa seorang Khalifah mulia menjodohkan puteranya dengan seorang gadis penjual susu lantaran iman yang kuat menjadi benteng gadis itu daripada menderhakai Allah. Akhlak indah yang menjadi pakaian gadis suci itu membuatkan hati Khalifah terpaut. Inilah kisah yang ingin aku kongsikan denganmu wahai calon zaujahku.

Pada suatu malam Khalifah Umar Ibnu Khattab sedang membuat tinjauan terhadap rakyat-rakyatnya. Sampailah Umar ra. di sebuah rumah penduduk, ketika itu mereka sedang berbincang tentang sesuatu. Umar mendengar semua perbincangan mereka. Seorang ibu berkata kepada anak perempuannya “Anakku bangunlah, serta campurkanlah susu itu dengan air. Puterinya menjawab: Apakah ibu belum mendengar larangan daripada Amirul Mukminin itu? Ibu itu bertanya lagi: “Apakah larangan Amirul Mukminin itu? Puterinya menjelaskan “Wahai ibu, sesungguhnya Amirul Mukminin melarang umat Islam menjual susu yang dicampurkan dengan. Ibu itu berkata lagi “Cepatlah engkau campurkan susu itu dengan air, tak usahlah kamu takut dengan Saidina Umar, kerana ia tidak melihatnya! Puterinya menjawab “Wahai ibuku, memang Umar ra. tidak melihat kita, tetapi Tuhan yang disembah Umar melihat kita. Maafkan saya wahai ibuku, kerana tidak dapat mematuhi permintaanmu. Saya tidak mahu menjadi orang yang munafik mematuhi perintah di hadapan orang ramai, tetapi melanggarnya apabila di belakang mereka.Khalifah Umar ra. yang terkenal tegas itu menjadi terharu hatinya. Umar ra. merasa bangga dengan ketaqwaan gadis miskin penjual susu tersebut. Setelah pagi, Saidina Umar memerintahkan puteranya Ashim supaya pergi ke rumah gadis tersebut.“Wahai anakku, pergilah engkau ke sebuah rumah penduduk, di dalamnya ada gadis penjual susu, jika ia masih sendiri, pinanglah ia. Mudah-mudahan Allah akan memberikan kurnia kepadamu anak yang soleh.Ternyata dugaan Saidina Umar ra. itu benar sekali. Ashim menikah dengan wanita yang mulia tersebut dan mendapat seorang anak perempuan yang bernama Ummu Ashim. Kemudian Ummu Ashim berkahwin dengan Abdul Aziz bin Marwan, dan mereka mendapat seorang anak lelaki yang bernama Umar bin Abdul Aziz, yang kemudian menjadi seorang khalifah yang terkenal dan bijaksana.

Jika asas baitul muslim itu kukuh, tidak mustahil ia mampu melahirkan pejuang-pejuang agamaNya yang berpedangkan taqwa dan berperisaikan iman. Di hati mereka bercahaya dengan kasih sayang Ilahi kerana mereka lahir daripada bait penyatuan dua jiwa yang hidup berbumbungkan sunnah berpelitakan al-Quran, berdindingkan wasatiah dan qanaah. Itulah hakikat sebuah baitul muslim. Calon zaujahku yang telah dijanjikanNya , ” Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh kerana Allah telah melebihkan sebahagian mereka (lelaki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan kerana mereka (lelaki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka”.(An-Nissa’:34) Surah yang diberikan kemuliaan buatmu dan insan yang bergelar wanita. Istimewanya dirimu sehinggakan Allah menukilkan pesananNya dalam surah khusus buatmu. Dan itulah janji-janji Allah bahawa seorang wanita yang solehah itulah mutiara syurga buat suaminya walaupun kekayaan duniawi tidak terhampar di kakimu.

Maafkan aku kiranya tiada harta yang mewah, mutiara atau kilauan permata kupersembahkan dalam hidupmu. Tetapi, aku hanya mampu menjanjikan hantaran yang paling berguna untuk kita berdua sepanjang zaman. Itulah panduanNya, Qalamullah. Islam menegaskan agar ku ajar dirimu mengenal Allah, zat yang agung. Itulah kunci kesempurnaan yang hakiki. Seringkali kau mengeluh, kau hanya insan lemah. Sedarilah bakal isteriku, kelemahanmu itu adalah kekuatan yang dikurniakan Allah buatmu. Dari kelemahan itu, terletaknya rahim yang telah melahirkan seorang Rasul, seorang Nabi, seorang abid dan juga pejuang jihad yang Allah janjikan syurga demi setitis darah mereka. Ia lahir daripada jerih doamu, penat sabarmu dan lelah tabahmu. Akal setipis rambut, tebalkan dengan ilmu.Hati serapuh kaca,kuatkan dengan iman. Perasaan selembut sutera,hiasilah dengan akhlak Bantulah aku dalam mentakrifkan pernikahan ini. Semoga ia menjadi wasilah sebuah pembangunan insaniyyah yang akan menjadi khemah dakwah dan tarbiyyah.

Bakal isteriku yang dirahmati, Titipan ini sudah sampai ke penghujungnya. Namun, doaku padamu tidak pernah berakhir. Seperti doaku padaNya, moga saf antara aku dan dirimu akan bersama-sama melalui siratulmustaqim yang lurus menuju jannahNya yang dirindui. InsyaAllah. Andai ada ingatan darimu, pohonkan dariNya moga aku terus tegak dalam memperjuangkan kalimahNya walau dijengah mehnah lantaran zaman ini adalah pengakhiran sebuah destinasi.. Dunia sudah terlalu tua, ia hanya menanti masa. Salam buat teman solehahku…

Buat calon istriku tersayang. Rasanya aneh sekali yah ketika aku menuliskan surat ini untukmu. Kita sama-sama belum pernah bertemu, tahu namamu apalagi melihat wajahmu. Aku pun tak tahu siapa, dimana dan bagaimana rupa dirimu itu. Tapi satu hal yang aku yakini bahwa kamu ada dan nyata dihadapanku.

Calon istriku, sudah lama aku merindukan kehadiranmu. Telah lama aku menantimu dan terus mencarimu. Tetapi selama ini yang aku temui adalah mereka yang hanya singgah sesaat lalu pergi, dan bukan kau yang akan abadi di sampingku seperti kehendak-Nya.

Calon istriku, engkau adalah belahan jiwaku, kekasihku, aku tak punya arti apa-apa tanpamu disisiku. Aku tak akan pernah bosan mencarimu. Saat ini, Dia masih saja menyembunyikanmu dariku.

Akupun tahu, jodoh adalah suatu misteri yang telah Allah tetapkan bagi hambanya. Namun, aku yakin suatu saat kita pasti dipertemukan dalam situsi yang dianggap tepat oleh-Nya.

Calon istriku, Jika saatnya Dia telah berkenan mempertemukan kita, aku akan menjagamu, di sampingmu selalu, sampai batas waktu yang tak ditentukan. Dan akan menjalani hidup yang abadi juga bersamamu. Aku selalu sayang padamu, merindukanmu, kini dan kelak.

Siapapun engkau, aku yakin kau adalah orang yang sangat istimewa seperti doa-doa yang aku panjatkan selama ini kepada-Nya. EngKau pasti jauh lebih cantik dari mereka yang hanya selintas dalam pandangan mataku.

Aku menantimu selalu, wahai calon istriku. Semoga calon istriku dilindungi Allah SWT selalu. Engkau akan selalu ada dalam hatiku. Siapapun engkau, masih dirahasiakan Tuhan dariku.

Aku jatuh cinta padamu. Jika saatnya tiba, aku akan tahu bahwa itu adalah engkau, orang yang aku cari selama ini dengan hatiku. Aku akan tahu bahwa itu kau, dengan mata hatiku.

sumber : rovanty

Dikirim pada 13 Desember 2009 di keluarga

Langit Madinah kala itu mendung. Bukan mendung biasa, tetapi mendung yang kental dengan kesuraman dan kesedihan. Seluruh manusia bersedih, burung-burung enggan berkicau, daun dan mayang kurma enggan melambai, angin enggan berhembus, bahkan matahari enggan nampak. Seakan-akan seluruh alam menangis, kehilangan sosok manusia yang diutus sebagai rahmat sekalian alam. Di salah satu sudut Masjid Nabawi, sesosok pria yang legam kulitnya menangis tanpa bisa menahan tangisnya.
-----
Waktu shalat telah tiba. Bilal bin Rabah, pria legam itu, beranjak menunaikan tugasnya yang biasa: mengumandangkan adzan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Suara beningnya yang indah nan lantang terdengar di seantero Madinah. Penduduk Madinah beranjak menuju masjid. Masih dalam kesedihan, sadar bahwa pria yang selama ini mengimami mereka tak akan pernah muncul lagi dari biliknya di sisi masjid.

Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha ilallah.

Suara bening itu kini bergetar. Penduduk Madinah bertanya-tanya, ada apa gerangan. Jamaah yang sudah berkumpul di masjid melihat tangan pria legam itu bergetar tak beraturan.

Asy...hadu.. an..na.. M..Mu..mu..hammmad. ..

Suara bening itu tak lagi terdengar jelas. Kini tak hanya tangan Bilal yang bergetar hebat, seluruh tubuhnya gemetar tak beraturan, seakan-akan ia tak sanggup berdiri dan bisa roboh kapanpun juga. Wajahnya sembab. Air matanya mengalir deras, tidak terkontrol. Air matanya membasahi seluruh kelopak, pipi, dagu, hingga jenggot. Tanah tempat ia berdiri kini dipenuhi oleh bercak-bercak bekas air matanya yang jatuh ke bumi. Seperti tanah yang habis di siram rintik-rintik air hujan.

Ia mencoba mengulang kalimat adzannya yang terputus. Salah satu kalimat dari dua kalimat syahadat. Kalimat persaksian bahwa Muhammad bin Abdullah adalah Rasul ALLAH.

Asy...ha..du. .annna...

Kali ini ia tak bisa meneruskan lebih jauh. Tubuhnya mulai limbung. Sahabat yang tanggap menghampirinya, memeluknya dan meneruskan adzan yang terpotong.

Saat itu tak hanya Bilal yang menangis, tapi seluruh jamaah yang berkumpul di Masjid Nabawi, bahkan yang tidak berada di masjid ikut menangis. Mereka semua merasakan kepedihan ditinggal Kekasih ALLAH untuk selama-lamanya. Semua menangis, tapi tidak seperti Bilal. Tangis Bilal lebih deras dari semua penduduk Madinah. Tak ada yang tahu persis kenapa Bilal seperti itu, tapi Abu Bakar ash-Shiddiq ra. tahu. Ia pun membebastugaskan Bilal dari tugas mengumandangkan adzan.

Saat mengumandangkan adzan, tiba-tiba kenangannya bersama Rasulullah SAW berkelabat tanpa ia bisa membendungnya. Ia teringat bagaimana Rasulullah SAW memuliakannya di saat ia selalu terhina, hanya karena ia budak dari Afrika. Ia teringat bagaimana Rasulullah SAW menjodohkannya. Saat itu Rasulullah meyakinkan keluarga mempelai wanita dengan berkata, ”Bilal adalah pasangan dari surga, nikahkanlah saudari perempuanmu dengannya." Pria legam itu terenyuh mendengar sanjungan Sang Nabi akan dirinya, seorang pria berkulit hitam, tidak tampan, dan mantan budak.

Kenangan-kenangan akan sikap Rasul yang begitu lembut pada dirinya berkejar-kejaran saat ia mengumandangkan adzan. Ingatan akan sabda Rasul, ”Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat.” lalu ia pun beranjak adzan, muncul begitu saja tanpa ia bisa dibendung. Kini tak ada lagi suara lembut yang meminta istirahat dengan shalat.

Bilal pun teringat bahwa ia biasanya pergi menuju bilik Nabi yang berdampingan dengan Masjid Nabawi setiap mendekati waktu shalat. Di depan pintu bilik Rasul, Bilal berkata, ”Saatnya untuk shalat, saatnya untuk meraih kemenangan. Wahai Rasulullah, saatnya untuk shalat.” Kini tak ada lagi pria mulia di balik bilik itu yang akan keluar dengan wajah yang ramah dan penuh rasa terima kasih karena sudah diingatkan akan waktu shalat.

Bilal teringat, saat shalat ’Ied dan shalat Istisqa’ ia selalu berjalan di depan Rasulullah dengan tombak di tangan menuju tempat diselenggarakan shalat. Salah satu dari tiga tombak pemberian Raja Habasyah kepada Rasulullah SAW. Satu diberikan Rasul kepada Umar bin Khattab ra., satu untuk dirinya sendiri, dan satu ia berikan kepada Bilal. Kini hanya tombak itu saja yang masih ada, tanpa diiringi pria mulia yang memberikannya tombak tersebut. Hati Bilal makin perih.

Seluruh kenangan itu bertumpuk-tumpuk, membuncah bercampur dengan rasa rindu dan cinta yang sangat pada diri Bilal. Bilal sudah tidak tahan lagi. Ia tidak sanggup lagi untuk mengumandangkan adzan.
Abu Bakar tahu akan perasaan Bilal. Saat Bilal meminta izin untuk tidak mengumandankan adzan lagi, beliau mengizinkannya. Saat Bilal meminta izin untuk meninggalkan Madinah, Abu Bakar kembali mengizinkan. Bagi Bilal, setiap sudut kota Madinah akan selalu membangkitkan kenangan akan Rasul, dan itu akan semakin membuat dirinya merana karena rindu. Ia memutuskan meninggalkan kota itu. Ia pergi ke Damaskus bergabung dengan mujahidin di sana. Madinah semakin berduka. Setelah ditinggal al-Musthafa, kini mereka ditinggal pria legam mantan budak tetapi memiliki hati secemerlang cermin.
----
Jazirah Arab kembali berduka. Kini sahabat terdekat Muhammad SAW, khalifah pertama, menyusulnya ke pangkuan Ilahi. Pria yang bergelar Al-Furqan menjadi penggantinya. Umat Muslim menaruh harapan yang besar kepadanya.

Umar bin Khattab berangkat ke Damaskus, Syria. Tujuannya hanya satu, menemui Bilal dan membujuknya untuk mengumandangkan adzan kembali. Setelah dua tahun yang melelahkan; berperang melawan pembangkang zakat, berperang dengan mereka yang mengaku Nabi, dan berupaya menjaga keutuhan umat; Umar berupaya menyatukan umat dan menyemangati mereka yang mulai lelah akan pertikaian. Umar berupaya mengumpulkan semua muslim ke masjid untuk bersama-sama merengkuh kekuatan dari Yang Maha Kuat. Sekaligus kembali menguatkan cinta mereka kepada Rasul-Nya. Umar membujuk Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.

Bilal menolak, tetapi bukan Umar namanya jika khalifah kedua tersebut mudah menyerah. Ia kembali membujuk dan membujuk. ”Hanya sekali”, bujuk Umar. ”Ini semua untuk umat. Umat yang dicintai Muhammad, umat yang dipanggil Muhammad saat sakaratul mautnya. Begitu besar cintamu kepada Muhammad, maka tidakkah engkau cinta pada umat yang dicintai Muhammad?”
Bilal tersentuh. Ia menyetujui untuk kembali mengumandangkan adzan. Hanya sekali, saat waktu Subuh..

Hari saat Bilal akan mengumandangkan adzan pun tiba. Berita tersebut sudah tersiar ke seantero negeri. Ratusan hingga ribuan kaum muslimin memadati masjid demi mendengar kembali suara bening yang legendaris itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar
Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadarrasululla h

Sampai di sini Bilal berhasil menguatkan dirinya. Kumandang adzan kali itu beresonansi dengan kerinduan Bilal akan Sang Rasul, menghasilkan senandung yang indah lebih indah dari karya maestro komposer ternama masa modern mana pun jua. Kumandang adzan itu begitu menyentuh hati, merasuk ke dalam jiwa, dan membetot urat kerinduan akan Sang Rasul. Seluruh yang hadir dan mendengarnya menangis secara spontan.

Asyhadu anna Muhammadarrasululla h

Kini getaran resonansinya semakin kuat. Menghanyutkan Bilal dan para jamaah di kolam rindu yang tak berujung. Tangis rindu semakin menjadi-jadi. Bumi Arab kala itu kembali basah akan air mata.

Hayya ’alash-shalah, hayya ’alash-shalah

Tak ada yang tak mendengar seruan itu kecuali ia berangkat menuju masjid.

Hayya ‘alal-falah, hayya ‘alal-falah

Seruan akan kebangkitan dan harapan berkumandang. Optimisme dan harapan kaum muslimin meningkat dan membuncah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allah-lah yang Maha Besar, Maha Perkasa dan Maha Berkehendak. Masihkah kau takut kepada selain-Nya? Masihkah kau berani menenetang perintah-Nya?

La ilaha illallah

Tiada tuhan selain ALLAH. Jika engkau menuhankan Muhammad, ketahuilah bahwa ia telah wafat. ALLAH Maha Hidup dan tak akan pernah mati.
----
Tahun 20 Hijriah. Bilal terbaring lemah di tempat tidurnya. Usianya saat itu 70 tahun. Sang istri di sampingnya tak bisa menahan kesedihannya. Ia menangis, menangis dan menangis. Sadar bahwa sang suami tercinta akan segera menemui Rabbnya.
”Jangan menangis,” katanya kepada istri. ”Sebentar lagi aku akan menemui Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatku yang lain. Jika ALLAH mengizinkan, aku akan bertemu kembali dengan mereka esok hari.”

Esoknya ia benar-benar sudah dipanggil ke hadapan Rabbnya. Pria yang suara langkah terompahnya terdengar sampai surga saat ia masih hidup, berada dalam kebahagiaan yang sangat. Ia bisa kembali bertemu dengan sosok yang selama ini ia rindukan. Ia bisa kembali menemani Rasulullah, seperti sebelumnya saat masih di dunia.
----)(----

Moga selalu bisa diambil hikmahnya...

sumber :echo budi

Dikirim pada 11 Desember 2009 di muhasabah

Assalam mualaikum saudaraku !!!!
Alangkah Indahnya Bila Setiap Saat Kita Merasa Selalu Ditatap Oleh Yang maha Menatap, Allah SWT.


Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan
berharap engkau akan berbicara kepada-KU, walaupun
hanya sepatah kata meminta pendapat-KU atau bersyukur
kepada-KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi
dalam hidupmu hari ini atau kemarin .......

Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan
diri untuk pergi bekerja ........
AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU
tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti
dan menyapaKU, tetapi engkau terlalu sibuk .........

Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama
lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian AKU
Melihat engkau menggerakkan kakimu. AKU berfikir
engkau akan berbicara kepada-KU tetapi engkau berlari
ke telephone dan menghubungi seorang teman untuk
mendengarkan kabar terbaru.

AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan
AKU menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu
AKU berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepada-KU.
Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang sekeliling,
mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada-KU,
itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu.

Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut
nama-KU dengan lembut sebelum menyantap rizki yang AKU berikan,
tetapi engkau tidak melakukannya ........
masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan
berbicara kepada-KU, meskipun saat engkau pulang
kerumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang
harus kau kerjakan.

Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV,
engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya,
tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yg ditampilkan.

Kembali AKU menanti dengan sabar saat
engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi
kembali kau tidak berbicara kepada-KU ..........

Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ketempat tidur dan tertidur tanpa sepatahpun nama-KU, kau sebut.

Engkau menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.
AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain.
AKU sangat menyayangimu,
setiap hari AKU menantikan sepatah kata, do’a, pikiran atau syukur dari hatimu.

Keesokan harinya ...... engkau bangun kembali dan
kembali AKU menanti dengan penuh kasih bahwa hari
ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk menyapa-KU ........

Tapi yang KU tunggu ........
Tak kunjung tiba ......
Tak juga kau menyapa-KU.

Subuh ........ Dzuhur ....... Ashar ...........
Magrib ......... Isya dan Subuh kembali, kau masih
mengacuhkan AKU .....
tak ada sepatah kata, tak ada seucap do’a, dan tak ada rasa,

tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepada-KU ...........

Apa salah-KU padamu ...... wahai Hamba-KU?????
Rizki yang KU limpahkan, kesehatan yang KU berikan,
harta yang KU relakan, makanan yang KU hidangkan,
anak-anak yang KUrahmatkan,

apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepada-KU .............!!!!!!!

Percayalah AKU selalu mengasihimu, dan AKU tetap
berharap suatu saat engkau akan menyapa KU, memohon
perlindungan KU, bersujud menghadap KU .......

Yang selalu menyertaimu setiap saat .........
Rabb,jadikanlah kamu menjadi hamba yg merasa selalu ditatap oleh-MU.

semoga berguna saudaraku

sumber : echo budi

Dikirim pada 07 Desember 2009 di muhasabah

Allah telah menjanjikan kelebihan kepada mereka yang menghafal al Quran seperti yang digambarkan di bawah.



1.MEREKA ADALAH KELUARGA ALLAH SWT.

Sabda Rasulullah s.a.w:

"Dari Anas ra. Ia berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, "Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia." Kemudian Anas berkata lagi, lalu Rasulullah s.a.w bertanya: "Siapakah mereka itu wahai Rasulullah. Baginda menjawab: "Iaitu ahli Quran (orang yang membaca atau menghafal Al- Quran dan mengamalkan isinya).Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.



2.DI TEMPATKAN SYURGA YANG PALING TINGGI

Sabda rasulullah s.a.w:

"Dari Abdullah Bin Amr Bin Al Ash ra dari nabi s.a.w, baginda bersabda; Diakhirat nanti para ahli Al Quran di perintahkan, "Bacalah dan naiklah kesyurga. Dan bacalah Al Quran dengan tartil seperti engkau membacanya dengan tartil pada waktu di dunia. Tempat tinggal mu di syurga berdasarkan ayat paling akhir yang engkau baca."



3.AHLI AL QURAN ADALAH ORANG YANG ARIF DI SYURGA

Sabda rasulullah s.a.w "Dari Anas ra. Bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda; "Para pembaca Al Quran itu adalah orang-orang yang arif di antara penghuni syurga,"



4.MENGHORMATI ORANG YANG MENGHAFAL AL QURAN BERERTI MENGAGUNGKAN ALLAH SWT.

Sabda rasulullah s..a.w "Dari Abu Musa Al Asya’ari ra.ia berkata bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Diantara perbuatan mengagungkan Allah adalah menghormati Orang Islam yang sudah tua, menghormati orang yang menghafal Al-Quran yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya dan tidak membiarkan Al-Quran tidak di amalkan, serta menghormati kepada penguasa yang adil."



5.HATI PENGHAFAL AL-QURAN TIDAK DI SEKSA

Sabda rasulullah s.a.w.

" Dari Abdullah Bin Mas’ud ra. Dari nabi s.a.w. baginda bersabda: " bacalah Al Quran kerana Allah tidak akan menyeksa hati orang yang hafal al-quran.

Sesungguhanya Al -Quran ini adalah hidangan Allah, siapa yang memasukkunya ia akan aman. Dan barangsiapa yang mencintai Al Quran maka hendaklah ia bergembira."



6.MEREKA LEBIH BERHAK MENJADI IMAM DALAM SOLAT

Sabda rasulullah s.a.w. :

"Dari Ibnu Mas’ud ra. Dari Rasulullah s.a.w. beliau bersabda; "yang menjadi imam dalam solat suatu kaum hendaknya yang paling pandai membaca Al Quran."



7.DISAYANGI RASULULLAH S.A.W

Sabda rasulullah s.a.w.:

"Dari Jabir Bin Abdullah ra. Bahawa nabi s.a.w menyatukan dua orang dari orang-orang yang gugur dalam perang uhud dalam satu liang lahad.

Kemudian nabi s.a.w. bertanya, "dari mereka berdua siapakah paling banyak hafal Al Quran?" apabila ada orang yang dapat menunjukkan kepada salah satunya, maka nabi s.a.w memasukkan mayat itu terlebih dahulu ke liang lahad."



8.DAPAT MEMBERIKAN SYAFAAT KEPADA KELUARGA

Sabda rasulullah s.a.w.:

"Dari Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah ia berkata, "Barangsiapamembaca Al Quran dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya kedalam syurga dan memberikannya hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya di mana mereka semuanya telah di tetapkan untuk masuk neraka."



9.PENGHAFAL AL QURAN AKAN MEMAKAI MAHKOTA KEHORMATAN

Sabda rasulullah s.a.w.:

"Dari Abu Hurairah ra.dari nabi s.a.w. baginda bersabda: "orang yang hafal Al Quran nanti pada hari kiamatnanti akan datang dan Al Quran akan berkata; "Wahai Tuhan ,pakaikanlah dia dengan pakaian yang baik lagi baru." Maka orang tersebut di berikan mahkota kehormatan. Al Quran berkata lagi:

"Wahai Tuhan tambahlah pakaiannya." Maka orang itu di beri pakaian kehormatannya. Al Quran lalu berkata lagi, "Wahai Tuhan, redailah dia." Maka kepadanya di katakan; "Bacalah dan naiklah." Dan untuk setiap ayat, ia di beri tambahan satu kebajikan."



10.HAFAL AL QURAN MERUPAKAN BEKAL YANG PALING BAIK.

Sabda rasulullah s.a.w.:

"Dari jabir bin nufair, katanya rasulullah s.a.w. bersabda; "Sesungguhnya kamu tidak akan kembali menghadap Allah dengan membawa sesuatu yang paling baik daripada sesuatu yang berasal dari-Nya yaitu Al Quran.



11.ORANG TUA MEMPEROLEHI PAHALA KHUSUS JIKA ANAKNYA PENGHAFAL AL QURAN.

Sabda rasulullah s.a.w.:

"Dari Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahawasanya ia mendengar Rasulullah s..a.w bersabda: "Pada hari kiamat nanti, Al Quran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Quran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: "Apakah anda mengenalku?".

Penghafal tadi menjawab; "saya tidak mengenal kamu." Al Quran berkata; "saya adalah kawanmu, Al Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan. Maka penghafal Al Quran tadi di beri kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya: "kenapa kami di beri dengan pakaian begini?". Kemudian di jawab, "kerana anakmu hafal Al Quran."

Kemudian kepada penghafal Al Quran tadi di perintahkan, "bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat syurga dan kamar-kamarnya." Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil)



12.AKAN MENEMPATI TINGKATAN TERTINGGI DI DALAM SYURGA.

Sabda rasulullah s.a.w.:

"Dari Sisyah ra ia berkata, bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda; jumlah tingkatan-tingkatan syurga sama dengan jumlah ayat-ayat Al Quran. Maka tingkatan syurga yang di masuki oleh penghafal Al Quran adalah tingkatan yang paling atas, dimana tidak ada tingkatan lagi sesudah itu.



Semoga dengan memahami hal ini, kita semua bisa lebih terpacu untuk bisa menghafal Al Qur’an setiap harinya, semampu kita.

www.ahmadzainuddin.com

Dikirim pada 06 Desember 2009 di muhasabah
06 Des

Seekor anjing tampak menatapi tingkah seekor kuda yang berlari-lari tak jauh dari hadapannya. Sang kuda begitu ceria. Sesekali, kuda menggoyangkan kepalanya seperti sedang berdendang riang. Anjing pun mengubah wajah cemberutnya dengan bersuara ke arah kuda.

“Kamu begitu bahagia, kuda?” tanya sang anjing menampakkan wajah penasaran. Padahal, di masa kering seperti ini, sebagian besar penghuni padang rumput terjebak kehidupan yang begitu sulit.

“Ya, aku bahagia!” ucap kuda sambil terus berlari kecil seraya tetap mengungkapkan keceriaannya.

“Kamu tidak merasa susah di masa kering seperti ini?” tanya anjing dengan wajah masih muram.

“Tidak!” jawab kuda singkat. Gerakan larinya makin melambat. Dan, sang kuda pun menghentikan langkahnya di depan sang anjing.

“Apa kamu sudah kaya, temanku?” tanya si anjing serius. Yang ditanya tidak memberikan reaksi istimewa. Kuda cuma menjawab pelan, “Tidak!”

“Mungkin kamu sudah punya rumah baru seperti kura-kura, keong, atau yang lainnya?” tanya anjing tetap menunjukkan rasa penasaran. Kuda hanya menggeleng.

“Mungkin kamu sudah bisa menghasilkan mutiara seperti para kerang di laut?” tanya sang anjing lagi. Lagi-lagi, kuda menggeleng. “Lalu? Kenapa kamu begitu bahagia?” sergah anjing lebih serius.

“Entahlah,” jawab kuda sambil tetap menunjukkan wajah cerianya. “Aku bahagia bukan karena punya apa-apa. Aku bahagia karena bisa memberi apa yang kupunya: tenaga, kecerdasan, bahkan keceriaan,” jelas kuda begitu panjang.

“Itukah yang membuatmu bahagia dibanding aku?” tanya anjing mulai menemukan jawaban menarik.

“Aku merasa bahagia dan kaya karena selalu berpikir apa yang bisa kuberikan. Dan bukan, apa yang bisa kudapatkan,” tambah si kuda yang mulai beranjak untuk kembali berlari. **

Manis pahit kehidupan kadang bergantung pada bagaimana kita memandang. Dari situlah sikap diri akan menemukan cermin. Kalau hidup dipandang dengan wajah muram, maka cermin akan memantulkan sikap susah, suram, dan tidak mengenakkan.

Cobalah letakkan mata hati kita di tempat yang nyaman untuk memandang hidup ini secara positif. Maka, kita akan menemukan energi baru tentang bagaimana mengarungi hidup.

Dari situlah, sikap yang muncul persis seperti diungkapkan sang kuda, “Aku merasa bahagia karena selalu berpikir apa yang bisa kuberikan. Bukan, apa yang bisa kudapatkan.” (muhammadnuh@eramuslim.com)

**

ููŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ู…ูŽู† ุฃูŽุนู’ุทูŽู‰ ูˆูŽุงุชูŽู‘ู‚ูŽู‰ ๏ดฟูฅ๏ดพ ูˆูŽุตูŽุฏูŽู‘ู‚ูŽ ุจูุงู„ู’ุญูุณู’ู†ูŽู‰ ๏ดฟูฆ๏ดพ ููŽุณูŽู†ููŠูŽุณูู‘ุฑูู‡ู ู„ูู„ู’ูŠูุณู’ุฑูŽู‰ ๏ดฟูง๏ดพ ูˆูŽุฃูŽู…ูŽู‘ุง ู…ูŽู† ุจูŽุฎูู„ูŽ ูˆูŽุงุณู’ุชูŽุบู’ู†ูŽู‰ ๏ดฟูจ๏ดพ ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู‘ุจูŽ ุจูุงู„ู’ุญูุณู’ู†ูŽู‰ ๏ดฟูฉ๏ดพ ููŽุณูŽู†ููŠูŽุณูู‘ุฑูู‡ู ู„ูู„ู’ุนูุณู’ุฑูŽู‰ ๏ดฟูกู ๏ดพ

Dikirim pada 06 Desember 2009 di Motivasi

Sebuah sifat yang melahirkan keadaan jiwa yang tertekan dan emosi yang meluap, yang pengaruhnya bisa membunuh seseorang, yang akibatnya bisa membuat orang bercerai, yang bahayanya adalah keputusasaan, yang fenomenanya adalah berhentinya seseorang dari berdoa, dan hasil akhirnya adalah kefuturan. Sifat itu tidak lain adalah ketergesa-gesaan.

Sungguh, sifat ini adalah bagian dari fitrah penciptaan manusia. Akan tetapi kita diwanti-wanti dan diperintah untuk menjauhinya. Allah swt berfirman, “Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku.” (QS. Al Anbiya’: 37)
Tergesa-gesa adalah sifat manusia yang hendak mendahului takdir, kecuali jika ia menjaga hubungannya dengan Allah swt, maka Dia akan mengokohkan pendiriannya, memberinya ketenangan, dan membuatnya selalu menyandarkan segala urusan kepada-Nya, sehingga ia ridha, berserah diri dan tidak tergesa-gesa.

Di antara ketergesaan manusia, terkadang dia meminta kepada Allah untuk disegerakan siksaannya, seperti dia meminta disegerakan kebaikan untuknya. Padahal, jika Allah mengabulkan permintaannya pastilah dia akan binasa. Karena itu Allah berfirman, “Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan Pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka.” (QS.Yunus: 11). Sikap terburu-buru juga seringkali menghinggapi ibadah-ibadah kita; sarana kita meminta dan memohon.

Ibadah itu bukanlah senda gurau, permainan, atau hiburan. Tetapi ibadah adalah kekhusyuan dan konsentrasi di hadapan Allah swt. Dan karena itu setiap kita wajib melakukannya untuk mencari keridhaan-Nya di dalam setiap ibadah yang kita kerjakan.

Pasti kita semua sebagai seorang muslim, sangat menginginkan sekali agar bisa melaksanakan shalat secara khusyuk. Karena shalat khusyuk sesungguhnya adalah suatu kenikmatan. Tetapi ia hanya bisa diperoleh apabila kita melaksanakannya secara bersungguh-sungguh, meresapi setiap gerakannya, dan merenungi setiap bacaannya.

Hati adalah faktor yang sangat penting untuk kita bisa melaksanakan shalat secara khusyuk. Pasti akan sulit sekali untuk berkonsentrasi ketika shalat, apabila hati kita masih berpikir kemana-mana. Maka untuk mendalami makna shalat kita, konsetrasikanlah hati itu, rasakan bahwa Allah sedang melihat gerakan shalat kita, sehingga kita akan menjadi lebih berhati-hati dalam melaksanakannya. Inilah sisi yang terkadang terlupakan, sehingga permintaan kita melalui ibadah ini seringkali tampak tergesa-gesa.

Ingin cepat belajar agama dalam waktu singkat tentu tidak salah. Begitu juga memilih satu metode yang memang mampu memudahkan kita dalam belajar, pun tak salah.Apalagi jika kondisi seseorang yang ingin belajar memang tidak memungkinkannya untuk menghabiskan banyak waktu untuk fokus dalam persoalan itu. Akan tetapi belajar dengan waktu yang lama juga punya kenikmatannya sendiri, dan hanya dengan begitu seseorang dapat menemukan rahasia-rahasia pengetahuan, penghayatan yang dalam, dan perhargaan yang tinggi terhadap ilmu.

Sahabat Abdullah bin Mas’ud ra, adalah seorang yang cerdas. Bahkan mungkin kecerdasannya di atas rata-rata para sahabat yang lain. Untuk menghapal ayat atau surat dari Al Qur’an, dia cukup mendengar atau membaca tiga kali saja, maka ayat tersebut sudah melekat di kepalanya. Tapi tahukah kita, bahwa ia mempelajari surat Al Baqarah selama sepuluh tahun. Ini menunjukkan bahwa belajar agama itu tidak bisa instant. Tidak bisa tergesa-gesa. Dan setelah itu sudah merasa cukup. Tidak. Melainkan harus dengan kesungguhan.

Inilah yang membedakan kita dengan orang-orang dahulu. Mereka belajar dengan penuh kesungguhan, dengan alokasi waktu yang tak terbatas, meski mereka juga sibuk berbisnis. Sebagian mereka menyelesaikan kitab-kitabnya di atas punggung onta, ketika mereka sedang melakukan perjalanan bisnis dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Dan hebatnya, umumnya mereka tidak hanya menguasai satu disiplin ilmu saja, tetapi banyak dan beragam. Imam Ath Thabari, misalnya, meski mungkin kita lebih mengenalnya sebagai mufassir, tetapi ia juga seorang pakar sejarah, fiqih, dan sastra. Begitu juga dengan ulama yang lain.

Adapun kita, seringkali tergesa-gesa dalam belajar agama, ingin tahu banyak hal tetapi tak mau serius mengorbankan sedikit waktu kita untuk mendalaminya. Padahal belajar agama juga adalah ibadah, dan merupakan sarana kita meminta untuk mendapatkan kebaikan duniawi dan ukhrawi. Maka bagaimana mungkin kita meminta kesempurnaan agama dengan cara tergesa-gesa, seperti pilihan kita pada paket-paket yang instant.

Ada banyak di antara pelaku dakwah yang awalnya memiliki semangat dan motivasi meluap-luap; tidak kenal lelah menyampaikan kebenaran, siang malam mengajak orang berbuat kebaikan, berbagai rintangan dia lalui. Namun ketika dia merasa tidak ada respon dari masyarakat, atau karena kemungkaran tetap tak berkurang, mulailah mereka terlihat limbung, goyah, bahkan mungkin berhenti melanjutkan langkahnya, dan memilih melakukan tindakan-tindakan bodoh yang menunjukkan kalau dia sedang tertekan.

Dan dalam dakwah kita harus tahu, bahwa Allah swt telah menciptakan fase pertumbuhan dan perubahan dalam diri setiap makhluknya yang tak pernah berubah, dan bahwa setiap sesuatu memiliki ajal yang telah ditentukan, dan bahwa Allah tidak bisa dibuat tergesa-gesa seperti kita memutar roda sehendak kita, dan bahwa setiap buah memiliki jangka waktu untuk mencapai kematangannya sehingga kita merasa puas ketika memetiknya.

Dan setiap dai yang punya jiwa reformasi hendaknya mengetahui bahwa Allah tidak pernah menuntut dirinya untuk berhasil atau memenangkan Islam, sebab itu semua urusan Allah. Hak preoregatif Allah. Ketentuan Allah. Tetapi dai hanya diminta untuk bersungguh-sungguh, ikhlas, dan mengoptimalkan segala kemampuan yang dimilikinya. Allah swt berfirman, “Dan jika mereka berpaling, maka Kami tidaklah mengutusmu untuk menjaga mereka. Tidak ada kewajiban atasmu kecuali hanya menyampaikan.”
Maka janganlah kita tergesa-gesa untuk melihat hasilnya, sebab hal itu hanya akan membuat kita futur; meninggalkan medan dan berhenti dari amal mulia itu.

Berdoa adalah ibadah yang disyariatkan kepada kita, tetapi jawaban adalah hak Allah swt. Jika ternyata jawaban itu belum datang, atau kemudahan belum kita dapatkan hendaknya kita berprasangka baik kepada-Nya, mungkin kita belum bersungguh-sungguh, atau kurang ikhlas, atau barangkali masih ada dosa yang belum kita taubatkan kepada Allah.

Ibrahim bin Al Khawwash pernah bercerita, suatu saat dia keluar untuk menentang kemungkaran yang terjadi dalam satu kelompok masyarakat. Tetapi, langkahnya kemudian dihenatikan oleh sekawanan anjing yang menyalak ke arahnya, hingga dia tidak bisa melanjutkan perjalanannya. Dia kembali dan masuk ke masjid kemudian shalat. Setelah keluar dari masjid, kawanan anjing itu mengibas-ibaskan ekornya dan Ibrahim berjalan meninggalkannya, sehingga dia bisa meneruskan perjalanan dan melaksanakan niatnya.

Ibrahim ditanya tentang peristiwa itu, lalu dia menuturkan, “Dalam diriku sendiri saat itu masih ada kemungkaran, maka anjing-anjing itu pun menhadangku. Tatkala aku kembali dan bertaubat atas dosa-dosaku, maka yang terjadi adalah seperti yang kalian lihat.” Allah Mahatahu apa yang harus dilakukan-Nya kepada para hamba-Nya.

Yahya Al Bakka’ juga pernah menceritakan, bahwa dirinya merasa berjumpa dan berdialog dengan Tuhan dalam mimpinya. Dia berkata, “Wahai Rabb, mengapa aku berdoa kepada-Mu namun tak kunjung Engkau kabulkan doaku.” Tuhan berkata, “Wahai Yahya, Aku ingin mendengar suaramu.”
Jika kita merenungkan dua kisah ini, maka akan membawa kita pada kesadaran bahwa jawaban doa itu terkadang terhambat oleh satu hal. Karena itu, kita janganlah disibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat; menduga-duga, berprasangka buruk, apalagi bersikap tergesa-gesa. Kita harus bebaskan diri dari itu, lepas dari bayang-bayang kegagalan.

Maka, berdoalah kita dengan khusyu, disertai selalu bertaubat dari segala kesalahan dan berdirilah di depan pintu-Nya, Maharaja alam semesta ini. Mohonlah kepada-Nya dengan tenang. Jangan berhenti. Tidak tergesa-gesa. Mintalah dengan disertai keyakinan bahwa Dia akan menerima permintaan kita.

Ibadah adalah tempat kita meminta, sarana kita memohon, dan cara kita mengadukan persoalan kepada Sang Pencipta. Tapi ia seringkali dikalahkan oleh urusan duniawi kita, disisihkan oleh tugas kerja kita. Ia ditunaikan secara terburu-buru, tanpa disertai dengan perenungan yang dalam dan konsentrasi yang memadai, sehingga karena itu kita tidak merasakan ada pengaruh yang besar dalam hidup kita.

MAJALAH TARBAWI edisi 217 th.11 "Seringkali Kita Meminta Dengan Ibadah Yang Tergesa-gesa"

Dikirim pada 04 Desember 2009 di muhasabah

Apa Pantas Berharap Surga?
Dasar Tak tahu malu!!!

Assalam mualaikum sahabat ku yang di rahmati Allah SWT.

Sholat dhuha cuma dua rakaat,
qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat,
itu pun sambil terkantuk-kantuk.

Sholat lima waktu?
Sudah jarang di masjid,
milih ayatnya yang pendek-pendek pula...
Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah,
Dilipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu.
Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib.

Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk

catatan:

"Kalau tidak terlambat"
atau
"Asal nggak bangun kesiangan".
Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya....
dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah.
Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak
oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.

Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap ....
Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka.
Ketika adzan berkumandang,
segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas ....
menuju sumber panggilan,

kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh....
di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur’an sesempatnya,
tanpa memahami arti dan maknanya,
apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya.

Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini
tak sedikit pun membuat dada ini bergetar,

Padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah .....
ketika dibacakan ayat-ayat Allah
maka tergetarlah hatinya.

Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari,
itu pun tidak rutin.
Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas.

Padahal...
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka ...
untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah.
Sesekali mereka terhenti, .......
tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam ....
dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya.

Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata.
Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena....
lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi..

Bersedekah jarang,
begitu juga infak.
Kalau pun ada,
itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet.

Syukur-syukur kalau ada receh.
Berbuat baik terhadap sesama juga jarang,
paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial,
yah hitung-hitung ikut meramaikan.

Sudahlah jarang beramal,
amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum.

Apa sih susahnya senyum?
Kalau sudah seperti ini,
apa pantas berharap Kebaikan
dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui,
senyum indahnya,
tutur lembutnya,
belai kasih dan perhatiannya,
juga pembelaannya bukan semata miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain.
Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya.

Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, ...
bahkan kepada musuhnya sekali pun.
Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba
beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga.
Kalau bukan sebelah kanan, .... ya tetangga sebelah kiri.
Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh remeh,
tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari,
kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan.

Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri.
Detik demi detik dada ini terus jengkel...
setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka ...
atau mendapatkan bencana.
Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini?
Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya
kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak.
Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula.
Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu?

Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat.
Terhadap orang tua kurang ajar,
sering membantah,
sering membuat kesal hati mereka,
apalah lagi mendoakan mereka,
mungkin tidak pernah.

Padahal mereka tak butuh apa pun ...
selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan ......
dengan segenap cinta.
Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah.
Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih.
Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga.
Bukankah Rasulullah yang tak ber-ibu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu,
bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah?

Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat ......
masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup,
kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan?
Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu.

Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu...
hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka?

Jangan tunggu penyesalan. .....
Bagaimanakah sikap kita ketika bersimpuh di pangkuan orang tua ....
ketika iedul Fitri yang baru berlalu ....?

Apakah hari itu....
hanya hari biasa yang dibiarkan berlalu tanpa makna...?

Apakah siang harinya....
kita sudah mengantuk....
dan akhirnya tertidur lelap...?

Apakah kita merasa sulit tuk meneteskan air mata...?
atau bahkan kita menganggap cengeng......?
sampai sekeras itukah hati kita....?

Ya... Allah ..... ya Rabb-ku......
jangan Kau paling hati kami menjadi hati yg keras......,
sehingga meneteskan air matapun susah.......
merasa bersih......
merasa suci....
merasa tak bersalah......
merasa tak butuh orang lain......
merasa modernis.....
dan visionis.........

Padahal dibalik cermin masa depan yang kami banggakan.....
terlukis bayang hampa tanpa makna.....
dan kebahagiaan semu penuh ragu.....

Astaghfirullah ......

Yaa Allah...ampunilah segenap khilaf kami.


Amin

*Mari Hiasi hidup dengan ibadah, jalin ukhuwah tegakkan dakwah, semoga menjadi motifasi kita sahabat ku"
sumber :dari seorang sahabat

Dikirim pada 04 Desember 2009 di muhasabah

Pernahkah Anda mengalami suatu saat ketika Anda membuka mushaf dan Anda mulai membaca Al-Qur’an kemudian anak-anak Anda datang mendekati Anda sambil membawa buku Iqra’nya lalu mereka melakukan hal yang sama seperti apa yang tengah anda lakukan? Pernahkah Anda mendapatkan mutarabbi (objek dakwah/peserta didik/murid) Anda mengerjakan shaum (puasa) sunnah padahal Anda secara eksplisit tidah pernah menyuruhnya? Hal tersebut dilakukan oleh mutarabbi Anda hanya karena ia mendapatkan Anda juga melakukan shaum sunnah pada hari-hari sebelumnya. Pernahkah Anda mengalami khadimat Anda perlahan-lahan menyesuaikan diri dan penampilannya di tengah-tengah keluarga Anda, mulai terbiaasa mengenakan gaun panjang, memakai kerudung walau pada awalnya cuma nempel di atas kepala, tapi toh lama kelamaan ia menjadi terbiasa berjilbab baik ketika ia bekerja di dalam rumah apalagi di luar rumah? Padahal isteri Anda belum pernah berkata kepadanya bahwa memakai jilbab itu wajib, apalagi memperdengarkannya ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan kewajiban menutup aurat baik dalam surat An-Nur maupun Al-Ahzab.

Itulah buah dari keteladanan. Ketealadanan adalah cara berdakwah yang paling hemat karena tidak menguras enerji dengan mengobral kata-kata. Bahkan bahasa keteladanaan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan sebagaimaana pepatah mengatakan: “Lisaanul hal afshahu min lisaaanil maqaaal”, bahasa kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Dalam ungkapan lain keteladanan ibarat tonggak, dimana bayangan akan mengikuti secara alamiah sesuai dengan keaadaan tonggak tersebut, lurusnya, bengkoknya, miringnya, tegaknya. Benarlah pepatah ini: “Kaifa yastaqqimudzdzhillu wal ‘uudu a’waj”, bagaimana bayangan akan lurus bila tonggaknya bengkok.

Oleh karena itu, penting bagi para murabbi (dai/pendidik/guru/orang tua) untuk berusaha semaksimal mungkin menjadi figur murabbi teladan agar keteladanaannya memberi keberkahan bagi perkembangan dakwah dan peningkatan kualitas maupun kuantitas para mutarabbi yang mereka bina. Karena itu para murabbi pun perlu berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang tercatat sejarah sebagai murabbi teladan, setidaknya melalui suratunhayawiyyah (gambaran kehidupan mereka), khusunya dalam melakukan aktivitas pentarbiyahan (mendidik mutarabbi).

Perhatikanlah kehidupan Murabbi hadzihil ummah, Rasulullah saw. Telusuri keteladanan figur murabbi pada diri sahaabatnya, para tabi’in, dan ulama salaafussalih. Aina nahnu minhum? Kita sungguh tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Bahkan rasanya mustahil bisa sama dengan mereka. Itulah satu perasaan yang akan terlintas di benak kita ketika mengetahui keteladaanaan mereka sebagai murabbi. Tetapi kita dinasihati oleh satu pepatah: tasyabbahu in lam takuunuu mislahum, Innattasyabbuha bil kiraami falaahun,teladanilah meski tidak sama persis dengan mereka, sesungguhnya meneladanani orang-orang mulia adalah satu keberuntungan.

Keteladanan Rasulullah saw.

Sebagai murabbi Rasulullah saw. selalu melakukan pendekatan komunikasi sebagaimana yang direkomendasikan Al-Qur’anm yaitu qaulan layyinan (Thaha: 44), qaulan maysuran (Al-Isra’: 28), qaulan ma’rufan (As-Sajdah: 32), qaulan balighan (An-Nisa’: 63), qaulan sadidan (An-Nisa’: 9), dan qaulan kariman (Al-Ahzab: 31).

Sebagai murabbi, Rasulullah saw. tidak pernah memojokkan mutarabbi dengan kata-kata, apalagi hal itu dilakukan di hadapan orang lain. Diriwayatkan oleh Abi Humaid Abdirrahman bin Sa’ad As-Sa’idy r.a., ia berkata, “Nabi saw. telah mengutus seseorang yang bernama Ibnu Lutbiyyah sebagai amil zakat. Setelah selesai dari tugasnya lalu ia menghadap Raasulullah saw. seraya berkata, ‘Ini hasil dari tugas saya, saya serahkan kepadamu. Dan yang ini hadiah pemberian orang untuk saya.” Lalu Rasulullah saw. segera naik ke atas mimbar. Setelah menyampaikan puja dan puji kehadirat Allah swt., beliau berkhutbah seraya berkata,“Sesungguhnya aku megutus seseorang di antara kalian sebagai amil zakat sebagaimaana yang telah diperintahkan oleh Allah swt. kepadaku, lalu ia datang dan berkata: ‘Ini untuk engkau dan yang ini hadiah untukku. Jika orang itu benar, mengapa dia tidak duduk saja di rumah bapak atau Ibunya sehingga hadiah tersebut datang kepadanya. Demi Allah, tidaklah mengambil seseorang sesuatu yang bukan haknya melainkan kelak dia bertemu dengan Allah swt. membawa barang yang bukan menjadi haknya.” Lalu Rasulullah saw. mengangkat kedua belah tangannya hingga tampak ketiaknya seraya berkata, “Ya Allah, telah aku sampaikan. Ya Allah, telah aku sampaikan. Ya Allah, telah aku sampaikan. ” (Bukhari dan Muslim)

Rasulullah juga tidak pernah menjaga jarak dengan mutarabbinya. Sehingga tidak terjadi kesenjangan psikologis antara mutarabbi dengan murabbi. Hal ini dapat dilihat dari dialog lepas antara Jabir bin Abdillah dengan Rasulullah saw. “Aku pernah keluar bersama Rasulullah saw. pada peperangan Dzatirriqa’. Aku mengendarai seekor onta yang lamban jalannya sehingga aku tertinggal jauh dari Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. menemuiku seraya berkata, “Kenapa engkau, hai Jabir? “Ontaku, ya Rasulallah, jalannya lamban sekali,” balasku. Kemudian Rasulullah berkata lagi, “Berikan kepadaku tongkat yang ada di tanganmu atau berikan aku sepotong kayu.” Aku berikan kepadanya dan beliau pun memukulkan kayu tersebut secara perlahan ke onta saya. Lalu beliau menyuruhku menaiki onta itu. Demi Allah, tiba-tiba ontaku berjalan dengan sangat cepat.

Kemudian obrolan berlanjut. Rasulullah saw. bertanya kepadaku, “Hai Jabir, apakah engkau sudah kawin?”“Sudah, ya Rasulallah,” jawabku. “Dengan janda atau gadis?” tanya beliau lagi. “Dengan janda, ya Rasul,”tegasku. “Kenapa tidak dengan gadis saja sehingga engkau dapat bersenang-senang dengannya dan ia dapat bersenang-senang denganmu?” balas Rasulullah saw. dengan nada bertanya. Lalu aku menjelaskan, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku meninggal pada Perang Uhud dan meninggalkanku saudara perempuan sebanyak tujuh orang. Maka dari itu aku menikahi seorang wanita yang sekaligus dapat menjadi pengasuh dan pembimbing mereka.” Kemudian Rasulullah berkata, “Engkau benar, insya Allah.”

Keteladanaan Para Sahabat r.a.

Di antara para sahabat yang paling menonjol keteladanannya adalah Abu bakar As-Shiddiq r.a. Bukan hanya karena ia adalah satu-satunya sahabat yang mendapat gelar as-sihiddiq dan juga bukan hanya karena satu-satunya sahabat yang menemani Rasulullah saw. dalam perjalanaan hijrah ke Madinah. Tetapi lebih dari itu, karena Abu Bakar layak disebut sebagai murabbi hadzihil ummah sepeninggalnya Rasulullah saw. Beliaulah yang memandu akidah dan fikrah para sahabat yang lainnya ketika mereka masih belum legowo menerima berita wafatnya Rasulullah saw., bahkan termasuk Umar bin khattab r.a. Pada saat itulah Abu bakar memberikan taujih tarbawy dengan membacakan firman Allah swt. dalam surat Ali Imran ayat 144, seraya menambahkan penjalasan dengan kata-kata hikmahnya, Man kaana ya’budu muhammadan fainna muhammad qod maata, wa man kaana ya’budullaha fainnallaha hayyun laa yamuutu, barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah tiada; tetapi barangsiapa yang menyembah Allah swt., sesungguhnya Allah Hidup dan tidak akan mati.” Itulah keteladanan Abu Bakar dalan menyemai benih-benih tarbiyah, khusunya tarbiyah aqidiyah.

Ketika dua pertiga Jazirah Arab ditimpa gerakan pemurtadan (harakatul irtidad), dalam bentuk pembangkangan tidak mau membayar kewajiban zakat, lagi-lagi Abu bakar tampil sebagai pelopor. Dengan ketegasan sebagai murabbi, Abu Bakar menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dengan memerangi mereka. Banyak para sahabat, termasuk Umar bin Khattab, masih beranggapan bahwa bukan itu jalan keluar untuk menghentikan gelombang kemurtadan. Abu Bakar langsung memberikan pelajaran kepada para sahabat khususnya Umar dengan kalimat, “Hatta anta, ya Umar, ajabbaarun fil jahiliyah hhawwarun fil Islam? Wallaahi, laa yanqushuddinu wa anaa hayyun, lau mana’uuni ‘uqqaalu ba’iirin yuadduunahi ila Rasuulillah lahaarabtuhu hatta tansalifa saalifaty, sampai engaku juga, Ya Umar. Apakaah engkau hanya tampak perkasa pada masa jahiliyah kemudian jadi ragu pada masa Islam? Demi Allah, tidak akan berkurang agama ini (Islam) sedikitpun selama aku masih hidup, walaupun mereka tidak memberikan hanya seutas tali onta yang harus diberikan kepada Rasulullah, maka tetap akan ku perangi mereka sampaai urat leherku terputus.”

Bahkan keteladan Abu Bakar sebagai murabbi bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga langsung dibarengi dengan sikap dan tindakan kongkret agar menjadi contoh bagi para sahabat yang lain. Misalnya pada saat sebagian besar para sahabat (kibaarus shahabah) keberataan dengan diangkatnya Usamah Bin Zaid, padahal hal itu telah menjadi ketetapan komando Rasulullah saw. sebelum wafatnya. Abu Bakar berazam untuk tidak membatalkan apa yang telah ditetapkan Rasulullah saw. seraya mengiringi pelepasan ekspedisi Usamah dengan menuntun kudanya sampai perbatasan. Sejak awal Usamah merasa tidak enak karena Abu Bakar berjalan kaki sementara ia berada di atas kudanya. Lalu Usamah menawarkaan agar ia turun, Abu Bakar saja yang naik kuda. Abu Bakar berkata, “Wallahi maa rakibtu wa maa nazalta, wa maa lialaa ughabbira qadami fi sabilillaah, Demi Allah, aku tidak mau naik dan engkau juga tidaak perlu turun. Biarkanlah kakiku bersimbah debu di jalan Allah.”

Keteladanan Ulama Salafusshalih

Salah satu di antara mereka adalah Atho bin Abi Rabaah rahimahullah. Beliau memimpin halaaqah (kelompok pengajian) besar di Masjidil Haram semasa Sulaiman bin Abdil Malik menjadi Khalifah. Khalifah sering menghadiri halaqah Atho bin Abi Rabah. Padahal Atho adalah seorang habsyi (negro asal Ethiopia) yang pernah menjadi budak seorang wanita penduduk Kota Mekkah. Atho dimerdekakan karena kepandaiannya dalam mendalami ajaran Islam.

Keteladanan Atho bin Abi Rabaah sebagai murabbi adalah kelembutannya dan ketajaaman nasihatnya serta pandangan dan perhatianya yang penuh kasih sayang. Itu seperti yang dikisahkan Muhammad bin Suqah, salah seorang ulama Kufah, bahwa suatu ketika Atho bin Abi Rabaah menasihatinya, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya orang-orang sebelum kita tidak menyukai pembicaraan yang berlebihan.” “Lalu apa batasannnya pembicaran yang berlebihan?” tanyaku. Beliau melanjutkan nasihatnya, “Mereka mengkategorikan pembicaraan berlebih bila dilakukan selain dari Al-Qur’an yang dibaca dan difahami; atau hadits Rasulullah yang diriwayatkan; atau berkenaan dengan amar ma’ruf nahi munkar; atau pembicaraan tentang satu hajat, kepentingan dan persoalan maisyah.” Kemudian beliau mengarahkan pandangannya kepadaku seraya berkata,“Atunkruuna (Inna ‘alaikum laahaafidzhiin, kiraaman kaatibiin) (Al-infithar: 10-11), wa anna ma’a kullin(‘minkum malakaini Anil yamiini wa ‘anisshimaali Qa’iid, maa yalfidzhu min qaulin illaa laadaaihi raqiibun ‘atiid) (Qaf: 17-18), Amaa yatahyii aahaduna lau nusyirat alaihi shahiifatuhullatii amlaa’aahaa shdra naahaarihi, faawaajada aktsara maa fiihaa laaisa min amri diinihi walaa amri dunyaahu.”

Kapabilitas takwiniyah (kemampuan membentuk pribadi mutarabbi) Atha bin Abi Rabaah dalam mentarbiyah bukan hanya kepada kalangan pembesar dan terpelajar, tapi sampai seorang tukang cukur. Ini sebagaimana dikisahkan oleh Imam Abu hanifah. “Aku melakukan kesalahan dalam lima hal tentang manasik haji, lalu aku diajarkan oleh seorang tukang cukur, yaitu ketika aku ingin selesai dari ihram. Aku mendatangi salah seorang tukang cukur, lalu aku berkata kepadaanya, berapa harganya? “Semoga Allah menunjukimu. Ibadah tidak mensyaratkan soal harga. Duduk sajalah dulu. Soal harga gampang,” jawab tukang cukur. Waktu itu aku duduk tidak menghadap kiblat, lantas ia mengarahkan dudukku hingga menghadap kiblat. Kemudian menunjukkan bagian kiri kepalaku, lalu ia memutarnya sehingga mulai mencukur kepalaku dari sebelah kanan.

Ketika aku dicukur, ia melihatku diam saja. Lalu ia menegurku, “Kenapa koq diam saja? Ayo perbanyaklah takbir.” Maka aku pun bertakbir. Setelah selesai, aku hendak langsung pergi. Lalu ia berkata, “Mau kemana kamu?” “Aku mau ke kendaraanku,” jawabku. Tukang cukur itu mencegahku seraya berkata, “Shalat dulu dua rakaat, baru kau boleh pergi kemana kau suka.” Aku berkata dalam hati, tidak mungkin tukang cukur bisa seperti ini kalau bukan dia orang alim. Lalu aku berkata kepadanya, “Dari mana engkau dapati mengenai beberapa manasik yang kau perintahkan kepadaku?” “Demi Allah, aku melihat Atho bin Abi Rabaah mempratekkan hal itu, lalu aku mengikutinya, dan aku arahkan orang banyak untuk belajar kepadanya,” jawab tukang cukur alim tersebut.

Di antara kebiasaan baik ulama salafusshalih dan keteladanan mereka dalam mentarbiyah adalah ketika memberikan materi mereka tidak terkesan bersikap santai atau memberikannya sambil duduk bersandar. Tetapi mereka menunjukan sikap yang sigap dan penuh semangat sebagaimana telah menjadi sikap umum di kalangan mereka ketika menyampaikan materi. Hal itu terungkap dari pernyataan salah seorang di antara mereka, “Laa yanbaghi lanaa idzaa dzukira fiinasshalihuna jalasnaa wa nahnu mustaniduuna, tidaklah pantas bagi kita ketika disebutkan di tengah-tengah kita orang-orang yang shaleh, lalu kita duduk sambil bersandar.”

Adalah Said Ibnul Musayyib rahimahullah (juga seoarang murabbi yang keteladanannya patut dicontoh oleh para murabbi). Ia memimpin halaqah yang cukup besar di Masjid Nabawi. Si samping beliau, juga terdapat halaqah ‘Urwah bin Zubair dan Abdullah bin ‘Utbah rahimahumallah. Said Ibnul Musayyib mempunyai seorang mutarabbi, namanya Abu Wada’ah. Suatu ketika Abu Wada’ah beberapa kali tidak hadir. Tentu saja Said bin Musayyib merasa kehilangan mutarabbinya itu. Beliau khawatir kalau-kalau ketidakhadirannya lantaran sakit atau ada masalah yang menimpanya. Lalu beliau bertanya kepada murid-muridnya yang lainnya. Namun tidak ada yang tahu. Beberapa hari kemudian tiba-tiba Abu Wada’ah datang kembali sebagaimana biasa. Maka sang murabbi teladan Said bin Musayyib segera menyambut kedatangannya dengan sapaan yang penuh perhatian. “Kemana saja engkau, ya Aba Wada’ah?” “Isteriku meninggal dunia sehingga aku sibuk mengurusinya,” jawab Abu wada’ah. “Mengapa tidak beritahu kami sehingga kami bisa menemanimu dan mengantarkan jenazah isterimu serta membantu segala keperluanmu?” tanya Said kembali. “Jazaakallahu khairan,” jawab Abu Wada’ah yang terkesan memang sengaja tidak memberi tahu karena khwatir merepotkan murabbinya.

Tidak lama kemudian Said bin Musayyib menghampiri Abu Wada’ah dan membisikinya, “Apakah engkau belum terpikir untuk mencari isteri yang baru, ya Aba Wada’ah?” “Yarhamukallah, siapa orangnya yang mau mengawini anak perempunnya dengan pemuda macamku yang sejak kecil yatim, fakir, dan hingga sekarang ini aku hanya memiliki dua sampai tiga dirham,” tandas Abu Wada’ah yang tampaknya ingin bersikap realistis terhadap keadaan dirinya. “Aku yang akan mengawinimu dengan anak perempuanku,” tegas Said. Dengan terbata-bata Abu Wada’ah berucap, ” Eng… engkau akan mengawiniku dengan anak perempuanmu padahal engkau tahu sendiri bagaimana keadaanku.” “Ya, kenapa tidak? Karena kami jika sudah kedataangan seseorang yang kami ridha terhadap agamanya dan akhlaknya, maka kami kawinkan orang itu. Dan engkau termasuk orang yang kami ridhai,” jawab Said meyakinkan mutarabbinya.

Lalu dipanggillah orang-orang yang ada di halaqah tersebut untuk menyaksikan akad nikah dengan mahar sebanyak dua dirham. Abu Wada’ah benar-benar terkejut tak tahu harus berkata apa. Antara kaget daan girang ia pulang menuju rumahnya. Sampai-sampai ia lupa kalau hari itu ia sedang shaum karena di tengah perjalanan ia terus berpikir dari mana ia akan menafkahkan isterinya, atau berhutang dengan siapa? Tak terasa ia sudah sampai di rumah dan adzan maghrib pun tiba. Lalu ia berbuka dengan sepotong roti. Baru saja menikmati rotinya, tiba-tiba ada suara yang mengetuk pintu. “Siapa yang mengetuk pintu,” tanyanya dari dalam rumah. “Said,” jawab suara di balik pintu yang sepertinya ia mengenalinya.

Setelah dibukanya tiba-tiba sang murabbi sudah ada di hadapannya. Abu Wada’ah mengira telah terjadi “sesuatu” dengan pernikahannya, lalu ia langsung menyapa sang murabbi seraya berkata, “Ya Aba Muhammad, mengapa tidak engkau utus seseorang memanggilku sehingga aku yang datang menemuimu.” “Tidak. Engkau lebih berhak aku datangi hari ini.” Setelah dipersilakan masuk, Said langsung mengutarakan maksud kedatangannya. “Sesungguhnya anak perempuanku telah sah menjadi isterimu sesuai dengan syari’at Allah swt. sejak tadi pagi. Dan aku tahu tidak ada seorang pun yang menemanimu, menghiburmu, dan melipur kesedihanmu, maka aku tidak ingin engaku bermalam pada hari ini di suatu tempat sedang isterimu masih berada di tempat lain. Sekarang aku datang dengan anak perempuanku ke rumahmu.”

Lalu Said menoleh ke arah puterinya seraya berkata, “Masuklah engkau ke rumah suamimu, wahai Puteriku, dengan menyebut asma Allah dan memohon barakah-Nya.” Masuklah anak perempuan Said dan ketika melangkahkan kakinya nyaris keserimpet (terinjak gaunnya) hingga hampir jatuh karena saking malunya. “Sedang aku juga cuma berdiri di hadapanya kaget campur bingung tak tahu harus berkata apa,” kata Abu Wada’ah mengenang kejadian itu. Tapi kemudian ia cepat-cepat mendahului isterinya ke dalam ruangan, lalu ia jauhkan cahaya lampu dari sepotong roti yang memang tinggal segitu-gitunya supaya tidak terlihat oleh isterinya. Baru setelah itu ia keluar rumah memanggil ibunya untuk menemui menantu barunya.

Itulah keteladanan Said bin Musayyib yang menolak pinangan Abdul Malik bin Marwan, Khalifah Bani Umayyah yang ingin meminang putrinya. Ia malah segera menikahkan puterinya dengan Abu Wada’ah, mutarabbinya yang sederhana dan tidak diragukan lagi kualitas tarbiyahnya.

Lain lagi dengan kisah Imam Abu Hanifah. Ia dikenal dengan nama Nu’man bin Tsabit rahimahullah. Beliau seorang murabbi yang wajahnya selalu enak dipandang. Wajahnya berseri-seri. Pengtahuannya dalam. Manis tutur katanya, rapih penampilannya, dan selalu memakai wangi-wangian. Jika beliau datang ke majelis taklimnya, semua orang yang ada di situ sudah mengetahuinya sebelum mereka melihatnya lantaran semerbak wewangian yang dipakainya.

Di samping cerdas, alim, faqih, beliau juga dikenal sebagai murabbi yang dermawan. Maklum, beliau seorang saudagar pakaian, kain, dan sutera. Beliau berdagang berkeliling dari kota satu ke kota lain di wilayah Irak.

Suatu ketika salah seorang muridnya datang ke tempat jualannya. Ia minta dicarikan baju, lalu beliau mencarinya sesuai dengan warna yang dimintanya. “Berapa harganya?” tanya sang murid. “Sedirham,” jawab Imam. “Satu dirham?” tanya sang murid heran. Itu sangat murah. “Ya, segitu.” “Yang benar nih….” kata muridnya lagi. “Aku tidak main-main. Aku beli baju ini dan yang serupa lagi dengannya seharga dua puluh dinar emas dan satu dirham perak. Yang satu aku sudah aku jual, sedang yang sisanya ini aku jual kepadamu dengan harga sedirham. Aku memang tidak mau mengambil untung terhadap murid-muridku.”

Suatu ketika Imam Abu Hanifah melihat salah seorang mutarabbinya berpakaian lusuh sehingga terkesan tidak enak dipandang. Setelah murid-murid yang lain keluar dari majelis, sehingga tidak ada seorangpun di dalam majelis itu selain Imam Abu Hanifah dengan mutarabbinya tersebut, beliau berkata kepadanya, “Angkatlah sajadah ini lalu ambil sesuatu yang ada di bawahnya.” Setelah diambilnya ternyata uang sebanyak seribu dirham. “Ambilah uang itu dan perbaikilah penampilanmu,” tegas Imam Abu Hanifah. Lalu kata orang itu, “Aku sudah cukup. Allah telah melimpahkan nikmatnya kepadaku. Aku tidak membutuhkan uang ini.” Dengan cerdasnya Imam Abu Hanifah menyanggah omongan mutarabbinya itu, “Jika memang benar-benar telah melimpahkan nikmatnya kepadamu, lalu mana bukti kenikmatan-Nya itu? Bukankah Rasulullah saw. bersabda, ‘Innallaha yuhibbu an yaraa aaatsara ni’matihi ‘ala ‘abdihi, sesungguhnya Allah swt. senang melihat bukti kenikmatan yang diberi-Nya terlihat pada hamba-Nya? Karena itu, sudah sepantasnya engkau memperbaiki keadaanmu agar engkau tidak membuat sedih saudaramu.”

Itulah beberapa keteladan ulama salafussalih dalam mentarbiyah para mutarabbinya. Wallahu ‘alamu bisshawaab.

sumber: www.dakwatuna.com

Dikirim pada 03 Desember 2009 di Dakwah

Ikhwah fillah,

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ketika muhajirin tiba di Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakan Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’. Sa’ad berkata kepada Abdurrahman, “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan Anshar. Ambillah separuh hartaku. Aku juga mempunyai dua istri. Maka lihatlah mana yang engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis, maka nikahilah ia.”


Abdurrahman berkata, “Semoga Allah memberkahi bagimu dalam keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukkan saja mana pasar kalian.”

Demikianlah sebagian potret ukhuwah dalam bangunan jama’ah dakwah yang ideal. Sa’ad benar-benar memahami keterbatasan Abdurrahman bin Auf. Meskipun di Makkah Abdurrahman bin Auf adalah sudagar yang kaya raya, toh ia datang ke Madinah tidak membawa apapun. Hijrah lebih ia cintai walaupun resikonya adalah meninggalkan seluruh harta kekayannya. Namun, Abdurrahman bin Auf juga seorang sahabat yang tahu betul bahwa ia sanggup melakukan hal yang lebih baik, tanpa bermaksud menolak kebaikan Sa’ad. Ia tetap memberi kesempatan Sa’ad untuk berbuat baik padanya sebagai konsekuensi sebuah ukhuwah; menunjukkan pasar Madinah.

Ukhuwah seperti itu tidak hanya terjadi antara Sa’ad bin Ar-Rabi’ dengan Abdurrahman bin Auf. Ukhuwah seperti itu terjadi pada semua sahabat muhajirin dan ansar. Gambaran mereka seperti firman Allah SWT:

ูˆูŽูŠูุคู’ุซูุฑููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ููุณูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุจูู‡ูู…ู’ ุฎูŽุตูŽุงุตูŽุฉูŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠููˆู‚ูŽ ุดูุญูŽู‘ ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ููŽุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ [ุงู„ุญุดุฑ/9]
Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr : 9)

Dan bangunan kemasyarakatan mereka seperti penjelasan Sayyid Qutb saat mengomentari QS. Al-Hujurat ayat 11: “Implikasi dari ukhuwah ini adalah hendaknya rasa cinta, perdamaian, kerja sama, dan persatuan menjadi landasan utama masyarakat muslim."

Begitulah. jamaah dakwah yang telah bermetamorfosis menjadi negara di atas tanah Madinah itu menjadi solid dan kuat. Kekuatan utamanya bertumpu pada keimanan. Lalu kekuatan ukhuwah. Ukhuwah yang senantiasa terjaga inilah yang menjamin berlangsungnya fase konsolidasi negara. Bersama-sama, mereka siap mempertahankan Madinah dari segala ancaman yang datang. Ukhuwah yang selalu terpelihara inilah yang menjamin kokohnya eksistensi Madinah. Bersama-sama, mereka siap melindungi dakwah dengan apapun yang mereka miliki.

Ikhwah fillah,
Ukhuwah merupakan hal yang sangat penting setelah akidah, bagi jamaah dakwah. Karenanya Hasan Al-Banna menempatkan ukhuwah sebagai salah satu dari rukun baiat. Beliau mengatakan :
ูˆุฃุฑูŠุฏ ุจุงู„ุฃุฎูˆุฉ ุฃู† ุชุฑุชุจุท ุงู„ู‚ู„ูˆุจ ูˆุงู„ุฃุฑูˆุงุญ ุจุฑุจุงุท ุงู„ุนู‚ูŠุฏุฉ ุŒ ูˆุงู„ุนู‚ูŠุฏุฉ ุฃูˆุซู‚ ุงู„ุฑูˆุงุจุท ูˆุฃุบู„ุงู‡ุง ุŒ ูˆุงู„ุฃุฎูˆุฉ ุฃุฎุช ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุŒ ูˆุงู„ุชูุฑู‚ ุฃุฎูˆ ุงู„ูƒูุฑ ุŒ ูˆุฃูˆู„ ุงู„ู‚ูˆุฉ : ู‚ูˆุฉ ุงู„ูˆุญุฏุฉ ุŒ ูˆู„ุง ูˆุญุฏุฉ ุจุบูŠุฑ ุญุจ , ูˆุฃู‚ู„ ุงู„ุญุจ: ุณู„ุงู…ุฉ ุงู„ุตุฏุฑ , ูˆุฃุนู„ุงู‡ : ู…ุฑุชุจุฉ ุงู„ุฅูŠุซุงุฑ

Yang saya maksud dengan al-ukhuwah adalah hendaknya berbagai hati dan ruh berpadu dengan ikatan akidah. Akidah adalah ikatan yang paling kokoh dan mahal. Ukhuwah merupakan saudara keimanan, sedang perpecahan adalah saudara kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah persatuan. Tidak ada persatuan tanpa cinta kasih, sedangkan cinta kasih yang paling lemah adalah lapang dada dan puncaknya adalah itsar (mengutamakan orang lain dari pada dirinya sendiri).

Ukhuwah yang tulus, yang mendekati itsar atau bahkan mencapainya, akan menjadi faktor penyebab keteguhan serta kekokohan jamaah dakwah dalam menghadapi segala medan amal dan mihwar apapun. Sebaliknya, saat ukhuwah itu mulai pudar, bahkan salaamatush shadri pun tidak, akan membuat jamaah segera hancur, betapapun hebat slogannya dan betapapun tinggi cita-citanya.

Saat berada di mihwar tandzimi dan mihwar sya’bi, di mana jumlah kader dakwah tidak sebanyak sekarang, ukhuwah itu begitu terasa. Saat ada satu ikhwah sakit, semua ikhwah dalam satu daerah menjenguknya. Saat ada ikhwah yang tidak hadir sekali saja dalam halaqah, semua ikhwah dalam grup yang sama segera silaturahim padanya. Khawatir ada apa-apa dengannya atau keluarganya. Saat seorang ikhwah mendapatkan kebahagiaan, semuanya pun memberi selamat. Alat komunikasi masih sangat terbatas, tapi seakan-akan setiap kabar bisa begitu cepat sampai ke ikhwah yang lain. Apalagi saat ada yang menikah, subhaanallah. Luar biasa rasa ukhuwah itu.

Kini mihwar kita berbeda. Kita melangkah lebih jauh dalam perjalanan dakwah kita. Kita mengembangkan pengaruh dakwah yang lebih luas. Jumlah kader dakwah semakin banyak. Setiap waktu bertambah. Mihwar muassasi ini ditandai juga dengan penetrasi dakwah ke parlemen dan pemerintahan. Sebagian kader dakwah tersedot ke sana, dengan berbagai konsekuensinya.

Ukhuwah justru menjadi lebih penting pada mihwar ini. Ia sekaligus akan menjadi barometer kesiapan jamaah untuk memasuki fase berikutnya; mihwar daulah. Banyaknya kader dakwah dengan berbagai kesibukannya, seharusnya tidak menggerus nilai-nilai ukhuwah.

Ukhuwah dibangun di atas cinta dan kasih sayang

Ikhwah fillah,
Ukhuwah dalam berjamaah ini harus dibangun di atas cinta, di atas kasih sayang. Dalam bahasa Al-Qur’an disebut “ruhamaa’u bainahum” saling berkasih sayang dengan sesama mereka. Dengan ukhuwah yang dilandasi cinta inilah, orang mukmin dicemburui oleh nabi dan syuhada’; meskipun mereka bukan nabi dan buka syuhada’.

ุฅู† ู…ู† ุนุจุงุฏ ุงู„ู„ู‡ ุนุจุงุฏุง ู„ูŠุณูˆุง ุจุฃู†ุจูŠุงุก ูŠุบุจุทู‡ู… ุงู„ุฃู†ุจูŠุงุก ูˆุงู„ุดู‡ุฏุงุก ู‚ูŠู„ : ู…ู† ู‡ู… ู„ุนู„ู†ุง ู†ุญุจู‡ู… ุŸ ู‚ุงู„ : ู‡ู… ู‚ูˆู… ุชุญุงุจูˆุง ุจู†ูˆุฑ ุงู„ู„ู‡ ู…ู† ุบูŠุฑ ุฃุฑุญุงู… ูˆู„ุง ุงู†ุชุณุงุจ ูˆุฌูˆู‡ู‡ู… ู†ูˆุฑ ุนู„ู‰ ู…ู†ุงุจุฑ ู…ู† ู†ูˆุฑ ู„ุง ูŠุฎุงููˆู† ุฅุฐุง ุฎุงู ุงู„ู†ุงุณ ูˆู„ุง ูŠุญุฒู†ูˆู† ุฅุฐุง ุญุฒู† ุงู„ู†ุงุณ ุซู… ู‚ุฑุฃ : { ุฃู„ุง ุฅู† ุฃูˆู„ูŠุงุก ุงู„ู„ู‡ ู„ุง ุฎูˆู ุนู„ูŠู‡ู… ูˆู„ุง ู‡ู… ูŠุญุฒู†ูˆู†
“Sesungguhnya, di kalangan hamba-hamba Allah ada beberapa orang yang bukan para nabi dan bukan syuhada, tetapi para nabi dan syuhada menginginkan kedudukan yang diberikan oleh Allah kepada mereka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepada kami, siapakah mereka itu?” Rasulullah SAW bersabda, “Mereka adalah orang yang saling mencintai karena Allah, bukan karena hubungan kekerabatan diantara mereka. Juga bukan karena harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, wajah-wajah mereka adalah (seperti) cahaya dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak merasa takut tatkala manusia ketakutan dan tidak bersedih hati tatkala manusia bersedih hati.” Kemudian Rasulullah SAW membaca (ayat), “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus : 62) (HR. Ahmad)

Ukhuwah yang dibangun di atas cinta kepada Allah ini juga mendatangkan cinta-Nya. Imam Malik dalam Al-Muwatha’ meriwayatkan sebuah hadits qudsi:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุจูŽุงุฑูŽูƒูŽ ูˆูŽุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูˆูŽุฌูŽุจูŽุชู’ ู…ูŽุญูŽุจูŽู‘ุชููŠ ู„ูู„ู’ู…ูุชูŽุญูŽุงุจูู‘ูŠู†ูŽ ูููŠูŽู‘ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุชูŽุฌูŽุงู„ูุณููŠู†ูŽ ูููŠูŽู‘ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุชูŽุฒูŽุงูˆูุฑููŠู†ูŽ ูููŠูŽู‘ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุชูŽุจูŽุงุฐูู„ููŠู†ูŽ ูููŠูŽู‘
Allah SWT berfirman, “Kecintaan-Ku akan didapat oleh orang-orang yang saling mencintai dan saling (menemani) duduk karena Aku, saling berkunjung karena Aku, serta saling memberi karena Aku.” (Al-Muwatha’)

Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุฑูŽุฌูู„ุงู‹ ุฒูŽุงุฑูŽ ุฃูŽุฎู‹ุง ู„ูŽู‡ู ููู‰ ู‚ูŽุฑู’ูŠูŽุฉู ุฃูุฎู’ุฑูŽู‰ ููŽุฃูŽุฑู’ุตูŽุฏูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุฏู’ุฑูŽุฌูŽุชูู‡ู ู…ูŽู„ูŽูƒู‹ุง ููŽู„ูŽู…ูŽู‘ุง ุฃูŽุชูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽูŠู’ู†ูŽ ุชูุฑููŠุฏู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูุฑููŠุฏู ุฃูŽุฎู‹ุง ู„ูู‰ ููู‰ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ู‚ูŽุฑู’ูŠูŽุฉู. ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‡ูŽู„ู’ ู„ูŽูƒูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ู…ูู†ู’ ู†ูุนู’ู…ูŽุฉู ุชูŽุฑูุจูู‘ู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ุงูŽ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ุฃูŽู†ูู‘ู‰ ุฃูŽุญู’ุจูŽุจู’ุชูู‡ู ููู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽุฒูŽู‘ ูˆูŽุฌูŽู„ูŽู‘. ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุฅูู†ูู‘ู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฅูู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุจูุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุญูŽุจูŽู‘ูƒูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ุฃูŽุญู’ุจูŽุจู’ุชูŽู‡ู ูููŠู‡ู
Ada seseorang berkunjung kepada saudaranya di kampung lain, lalu Allah mengutus malaikat untuk menghadang perjalanannya. Malaikat bertanya saat bertemu dengan orang tersebut, “Hendak ke manakah kamu?” Orang itu menjawab, “Aku mau ke (tempat) seorang saudaraku di kampung ini.” Malaikat bertanya, “Apakah ada kenikmatan yang ingin kamu dapatkan darinya?” Ia menjawab, “Tidak, (aku berkunjung kepadanya karena) aku mencintainya karena Allah SWT.” Malaikat berkata, “Sesungguhnya, aku ini utusan Allah kepadamu (untuk mengabarkan), bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu karena kamu mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim)

Dengan dilandasi cinta, ukhuwah akan mendorong kaki kita melangkah silaturahim ke saudara kita. Terlebih ketika ia ada masalah atau terlihat mulai kendor tarbiyahnya. Dengan dilandasi cinta, ukhuwah akan menggerakkan lisan kita untuk mengingatkannya saat ia melakukan kekeliruan. Dengan dilandasi cinta, ukhuwah akan membawa diri kita untuk selalu mendoakan saudara-saudara kita; agar ikatan dakwah ini kekal dan agar segala problemnya mendapatkan solusi dari Allah.

Salaamatus shadr; tingkatan ukhuwah paling rendah

Tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah Salaamatus shadr; selamatnya hati dari berbagai prasangka buruk dan perasaan tidak enak terhadap sesama ikhwah. Ini adalah batas minimal ukhuwah, jika diterjang, maka ukhuwah itu terkoyak dan timbullah pertentangan dan perpecahan. “Kedua hal ini” kata Syaikh Muhammad Abdul Halim Hamid, “dapat mengantarkan jamaah pada kekalahan dan kehancuran.”

Banyak faktor dalam mihwar muassasi ini yang bisa menjadi stimulus munculnya su’udzan. Saat ada beberapa kader yang mulai berkantor di parlemen, misalnya. Lalu kelihatan ia pakai mobil baru, kader yang belum matang tarbiyahnya bisa kena penyakit ini. Namun bagi mereka yang tertarbiyah dengan baik, dengan mengedepankan ukhuwah ia akan melakukan tabayyun kepada qiyadahnya. “Oo.. itu dibelikan sama ayahnya karena kasihan kalo menantunya kepanasan. Menantunya kan sedang hamil, akhi” ternyata saat tabayyun, jawaban yang didapat benar-benar menenteramkan hati. Jadi jangan su’udzan dulu: “Baru ngantor beberapa hari sudah dapat mobil”. Astaghfirullah.

Ukhuwah itu juga perlu diterapkan saat saudara kita tidak datang liqa’ tanpa keterangan. Kalau ini bukan kebiasaannya, atau pertama kalinya, ikhwah yang lain perlu mencari 1000 alasan agar su’udzan-nya tidak muncul. Jangan buru-buru memvonis “HP-nya dimatikan, mungkin ia sengaja mengistirahatkan diri.” Tidak tahunya kalau ikhwah tadi kecelakaan, dan HP-nya terlindas truk. Na’udzubillah. Kita berlindung kepada Allah dari su’uzhan itu sebagaimana kita berlindung dari kecelakaan yang menimpa ikhwah kita.

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ุงุฌู’ุชูŽู†ูุจููˆุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุธูŽู‘ู†ูู‘ ุฅูู†ูŽู‘ ุจูŽุนู’ุถูŽ ุงู„ุธูŽู‘ู†ูู‘ ุฅูุซู’ู…ูŒ [ุงู„ุญุฌุฑุงุช/12]
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. (QS. Al-Hujurat : 12)

Berupaya mencapai itsar, tingkatan tertinggi ukhuwah

Sa’ad bin Ar-rabi’ telah mengajarkan kita tentang itsar. Demikian pula seluruh kaum Anshar telah mempraktikkan itsar ini kepada muhajirin. Maka semakin kokohlah ukhuwah mereka, semakin solid gerakan mereka, semakin gencar dakwah mereka.

Ada pula kisah mujahid yang menjadi contoh itsar. Dalam sebuah jihad, ada seorang mujahid yang terluka. Ia kesakitan, lapar, dan haus. Datanglah bantuan padanya, segelas air. Namun ia mendengar ada mujahid lain di sampingnya. Ia berpikir, ini lebih parah. “Berikan saja air itu padanya, ia kelihatan lebih parah dari pada saya.”

Saat air itu diberikan kepada orang kedua, orang itu melihat mujahid di sampingnya lagi tampak lebih membutuhkan air dari pada dirinya. “Berikan padanya.” Mujahid yang ketiga ini juga melihat sampingnya. Mengutamakan orang lain dari pada dirinya. Akhirnya, mereka semua syahid.

Dengan tercapainya itsar, tidak mungkin jamaah dakwah tergoyahkan hanya karena jabatan publik. Dengan itsar, tidak mungkin jamaah dakwah terganggu hanya karena persoalan siapa yang ditunjuk menjadi caleg, siapa yang ditunjuk menjadi calon kepala daerah, atau calon menteri seperti pada hari ini.

Sebagai penutup, marilah kita renungkan nasehat Hasan Al-Banna ini:
ุชุญุงุจูˆุง ููŠู…ุง ุจูŠู†ูƒู… ุŒ ูˆุงุญุฑุตูˆุง ูƒู„ ุงู„ุญุฑุต ุนู„ูŠ ุฑุงุจุทุชูƒู… ูู‡ูŠ ุณุฑ ู‚ูˆุชูƒู… ูˆุนู…ุงุฏ ู†ุฌุงุญูƒู… ุŒ ูˆุงุซุจุชูˆุง ุญุชู‰ ูŠูุชุญ ุงู„ู„ู‡ ุจูŠู†ูƒู… ูˆุจูŠู† ู‚ูˆู…ูƒู… ุจุงู„ุญู‚ ูˆู‡ูˆ ุฎูŠุฑ ุงู„ูุงุชุญูŠู†
Hendaklah kalian saling mencintai dengan sesama. Hendaklah kalian sangat peduli pada ikatan kalian, karena itulah rahasia kekuatan dan keberhasilanmu. Dan tetaplah tegar sehingga Allah memberikan keputusan dengan hak antara kalian dan kaummu. Dia adalah sebaik-baik Pemberi keputusan. (Risalah Bainal Amsi wal Yaum).

Wallahu a’alam bis shawab. [sumber: E-Book Taujih Pekanan Menuju Mihwar Dauli]

Dikirim pada 02 Desember 2009 di muhasabah

" Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi, dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (Qs Alfath:4)

Ini kisah nyata bagian dari rentetan sejarah orang-orang shaleh, yang dengan kesalehannya itu Allah menurunkan rahmatnya: Pertolongan yang menembus segala batas.

Pada malam hijrah kemadinah, Rasulullah SAW ditemani Abu Bakar raddhiyallahu anhu sempat bersembunyi di gua Tsur. Orang-orang quraisy berhasil mengejarnya hingga kemulut gua. Abu Bakar sempat khawatir. Tetapi Rasulullah menenangkannya. Maka turunlah pertolongan Allah, menembus logika militer pasukan Quraisy itu. didepan gua ada burung dan laba-laba, salah satu jenis mahluq yang paling lemah.

Sementara itu Musapun punya kisah sendiri saat firaun dan bala tentaranya mengejar Musa. Musa dan beberapa pingikutnya terus berlari dan berlari. hingga akhirnya mereka sampai kelaut merah. Pengikut Musa sudah pesimis Tetapi jiwa kerasulan Musa tidak terpengaruh "Sesungguhnya Tuhanku besertaku. Kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku"(QS Asyura:62). Maka Allah menyuruh Musa memukulkan tongkatnya dan lautpun terbelah Musa dan pengikutnya dapat menyebrang.

Pertolongan Allah juga menembus logika-logika rasional kehidupan lainnya. Seperti yang dialami oleh Malik Bin Dinar. Seorang Tabi๏ฟฝi itu dilindungi Allah dari binatang buas. Seperti ditulis oleh Syaikh ๏ฟฝAidhz Al-Qarni dalam Ihfadzillaha yahfadzuka, suatu hari Malik tertidur di kebun begitu bagun didapatinya seekor ular mengigit kembang, Ular itu mengibas-ngibaskan kembang itu mengusir nyamuk yang mengerubuti Malik bin Dinar.

Bebatuan dan benda-benda mati juga ditundukkan Allah untuk hamba-hambanya yang shalih seperti yang dialami oleh ketiga orang shaleh yang terjebak didalam gua. Albukhari dan Muslim mengisahkan bahwa dahulu kala ada tiga orang shalih terjebak didalam gua tiba-tiba pintu gua itu turtutup batu yang longsor ketiganya memohon pertolongan Allah dengan menyebutkan amal-amal terbaik mereka karena mereka tahu tidak mungkin mendorong batu itu dengan kekuatan fisik mereka.

Yang pertama mengisahkan bagaimana ia berbakti kepada orang tuanya dengan memerahkan susu. anaknya minta susu itu dengan mengis-nangis. tetapi lelaki itu tetap menunggu orangtuanya hingga bangun. yang kedua mengisahkan bahwa dirinya pernah jatuh cinta pada anak pamannya hingga satu hari anak pamannya itu kesulitan pangan. lelaki itu mamu membantu 120 dinar asal anak pamannya itu mau diajak berbuat serong. hingga ketika ia sudah berdua anak pamannya itu mengingatkannya agar takut kepada Allah seketika itu lelaki itu pergi dan mengikhlaskan uang itu. Ketiga bercerita apa yang dia perbuat kepada pegawainya yang pergi dan belum menerima gajinya. Uang itu lantas dikembangkan dengan membeli ternak waktu terus berlalu ternak itu bertambah besar Onta, lembu, domba sekaligus budak-budak pengembalanya. hingga suatu hari pegawainya itu datang dan diambil semuanya itu tanpa menyisakan sedikitpun. Batu gua itupun terbuka. sedikit demi sedikit setiap kali salah satu mereka bercerita , hingga akhirnya terbuka semua dan merekapun selamat.

Aidhz Al-Qarni juga mengisahkan bahwa dulu ada orang shalehdari Bani Israil yang berhutang kepada saudaranya diseberang pulau. Keduanya sepakat menjadikan Allah sebagai penjamin dan menjadi saksi. saat hendak membayar hutang pada hari yang ditentukan, orang itu tidak mendapat kapal Akhirnya diambil sebilah papan. dibelah lalu uang itu dibungkus dan dimasukkan didalmnya. tak lupa ia memberi catatan pesan. Perlu diingat dulu belum ada uang kertas. lalu ia berdoa kepada Allah "ya Allah dulu aku meminjam uang ini kepadanya, dan dia rela Engkau sebagai samsi dan penjaminnya, aku kini ingin mengembalikannya tapi tidak ada kapal. Maka inilah uangku sampaikan kepadanya papan itu kemudian ia lemparkan kelaut.

dihari yang lain istri kawannya yang dipinjami uang itu tak sengaja mengambil papan itu. Niatnya untuk kayu bakar. Tapi sampai dirumah, suaminya mendapati ada uang untuk dirinya. namun dihari yang lain saat ada kapal, kawannya yang meminjam itu tetap pergi untuk membayar hutang tersebut. Karena khawatir uang itu tidak sampai. Setibanya disana kawan yang diponjam darinya uang itu mengatakan bahwa uang kirimannya itu sudah ia terima.

Tetapi kisah-kisah diatas tidak untuk menghasung kita kepada kepasrahan yang salah. kepada penyandaran buta, tanpa ikhtiar kemanusiaan. ia menegaskan, bahwa bagi Allah sangat mudah menolong hamba-hambanya, dengan cara yang tidak masuk akal sekalipun. Karena kekuasan Allah tidak bisa dibandingkan dengan daya nalar akal manusia.

Kisah-kisah itu tidak untuk menyulap kita menjadi kaum pemalas, dengan ekspresi-ekspresi kumal. tetapi dengan tegar kita masuki zaman ini, peradaban ini,dengan kekuatan iman dan pertolongan Allah. Karena pertolongan Allah akan dengan mudah mampu menembus batas segala instrument kehidupan duniawi tersebut, lalu memberikannya kepada kita, tentu bila kita layak menerimanya.

sumber : saung hijau pawewet


Dikirim pada 30 November 2009 di Dakwah

ikhwan apa bakwan
wajah penuh jerawat seperti thokolan
katanya karena mikirin ummat yang jutaan
tidak tahunya mikirin akhwat idaman

ikhwan apa bakwan
dari jauh nampak sopan
berjalan gagah pengen jaga pandangan
ternyata mata juga jelalatan

ikhwan apa bakwan
kalo taklim serius tahan godaan
liat ustad penuh perhatian
tapi sama akhwat kelepek-kelepek belingsatan

ikhwan apa bakwan
wajah santun jenggotan
pengen nyunah rosul tauladan
apa daya cuman bergaya biar terlihat tampan...

PENGEN NGINGETIN AZA WAN!
ada apa dengan ikhwan
mau nikah malah kelamaan
akhwatnya sudah menanti ampe jamuran (ups)
tapi tuh ikhwan gak juga khitbah akhwat idaman

ada apa dengan ikhwan
mau nikah mikirnye kelamaan
mikir makan, anak dan kontrakan
tenang Wan ente kan punya Allah yang bisa kasih bantuan

ada apa dengan ikhwan
mau nikah banyak aturan
harus cantik, putih, kaya dan menawan
inget dong apa yang rosul telah katakan

ada apa dengan ikhwan
mau nikah banyak alasan
gaji, kuliah, sampe ortu jadi sasaran
kasihan kan akhwat yang cantik nunggu kelamaaan

ada apa dengan ikhwan
baca beginian sampe marah dan menaruh dendam
peace Wan, peace Wan
cuman mengingatkan Wan(nyok makan Bakwan)..hehe

IKHWAN : APA HANYA SEBUTAN
oh.. ikhwan
apa bedanya dengan si marwan
si ali, palijo, atau si iwan
oh ternyata cuma sebutan

oh.. ikhwan
walaupun tidak rupawan
alias modal tampang pas-pasan
tetep aja tebar senyuman

oh.. ikhwan
gayanya sih bisa ketebak dan keliatan
jenggot melambai, baju koko, dan sendal jepit usang
sesekali komat-kamit sambil jalan

oh.. ikhwan
nyarinya susah-susah gampang
kadang di mesjid, kampus or sekolahan
mungkin juga lagi nyari sampingan
ngga taunya buat biaya walimahan :)

oh.. ikhwan
ngomonginnya masalah aksi dan kepartaian
juga liqo’an dan hafalan
kata orang "ngga ada bahasan lain, Wan?"

oh.. ikhwan
anehnya kalo lagi jalan
ngukurin tanah apa ngitung lantai sih, Wan?
oh.... ternyata dia lagi jaga pandangan !!!

ikhwan.. ikhwan..lucunya kalo akhwat sedang berpapasan
langsung minggir!, acuh tak acuh kaya’ musuhan
(gubrak!!! apaan tuh Wan?)eh... dia jatuh,kagak ngeliat selokan :))

oh.. ikhwan, apa semuanya begitu, Wan?
ada ngga yang masih tebar pesona dan jelalatan?
berarti itu bukan ikhwan, (kan cuma sebutan?!!)
nah para akhwat,hati-hati mungkin dia nyari pasangan...
-the end-

semoga bisa menjadi bahan perenungan, bahwa ’ikhwan’ dan’aktivis’ bukan hanya sekedar sebutan saja, melainkan sesuatu yang memiliki konsekwensi besaryang harus dilaksanakan layaknya seorang ikhwan...

-by : Jeki Mujeki-

Dikirim pada 29 November 2009 di Dakwah

Lelaki tua itu berjalan tertatih. Hawa panas gurun membasuh seluruh tubuhnya. Di sampingnya berjalan seorang perempuan muda sambil menggendong bayinya yang masih merah. Mereka berjalan kaki menyusuri gurun pasir yang ganas dari Syam (Syria) hingga sampai di suatu daerah, Gunung Faran di Makkah. Lelaki tua itu menempatkan isteri dan anaknya di sebuah lembah gersang dan asing, lalu beliau pergi meninggalkan mereka berdua.

Sambil memegang baju suaminya, Si wanita muda memelas ingin pulang: “Ya Ibrahim, suamiku kemanakah gerangan engkau akan pergi meninggalkan kami, padahal kami tidak memiliki bekal apa-apa?”

Lelaki tua yang tidak lain adalah Sang Nabi diam tidak menjawab, karena sesungguhnya dia sendiri tidak tahu apa-apa kecuali hanya karena titah Allah semata, yang harus dia taati dan turuti selamanya. Siti Hajar semakin penasaran untuk mengetahui gerangan apa motivasi suaminya berbuat demikian, sampai akhirnya dia bertanya: “Allah-kah yang memberikan titah ini? Ya, jawab Ibrahim As singkat”. Sang isteri segera mengerti seraya berkata: “Pergilah wahai kanda, jika ini adalah perintah-Nya, pasti Dia tidak akan membiarkan kita.”

Subhanallah, sebuah nilai keimanan yang dalam, sebuah keyakinan yang sangat mengagumkan. Betapa tidak, seorang perempuan bersama anaknya yang masih disusuinya, berada di suatu tempat yang asing dan gersang, tanpa air dan makanan.. Namun demikian, mereka tunduk pada perintah Allah dan meyakini kebenaran janji-Nya akan datangnya jalan keluar. Betapa agung kedudukanya di sisi Allah Swt, betapa banyak kebaikan yang memancar dari kesalehannya.

Inilah sepenggal episode sesaat sebelum memancarnya air zam-zam dari balik bebatuan kering, sesaat sebelum sang bayi, Ismail As melepaskan dahaga.

Di sekelilingnya hanya terhampar padang pasir yang tandus. Wanita itu seperti tak berdaya. Tanpa putus asa dia pun berjalan mencari sebuah tempat yang lebih tinggi untuk melihat-lihat, adakah mata air untuk melepas dahaga sang anak dan juga dirinya. Dia pergi ke bukit Shafa, adakah orang yang melintas ke lembah tersebut ? lalu ia turun dari Shafa, ketika sampai di dataran paling rendah di antara dua bukit, dia semakin semangat untuk segera menuju bukit berikutnya, Marwah. Sesampainya di puncak Marwah, matanya yang awas segera bergerak melihat-lihat, adakah gerangan orang yang lewat? Lalu segera dia turun dari Marwah berlari menuju Shafa untuk melakukan hal yang sama. Lari menuruni bukit, ketika sampai di lembah, dia mempercepat larinya untuk naik menuju bukit yang lain, demikianlah Siti Hajar berulang-ulang melakukannya sebanyak tujuh kali. Diawali di bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah. “…karenanya orang-orang melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah”, sabda Rasulullah Saw.

Putus sudah, harapan Siti Hajar untuk bergantung kepada sesama makhluk dan tidak tersisa baginya kecuali berharap kepada sang Khaliq seraya memanjatkan doa. Tiba-tiba dia mendengar suara, “engkau telah panjatkan doa memohon pertolongan”. Seketika sesosok malaikat tepat berada dekat kaki sang bayi sambil memukul-mukullkan tumitnya ke tanah hingga air yang penuh berkah memancar. Siti Hajar mulai mengumpulkan air dan memagarinya dengan pasir hingga air menggenang setinggi betis. “Sesungguhnya ketika Jibril menggerakkan kedua tumitnya untuk memencarkan air zam-zam, Ibu Ismail (Siti Hajar) segera mengumpulkan kerikil (agar air menggenang). Semoga Allah merahmati Siti Hajar, kalau saja dia tidak menghimpunnya, hanya akan menjadi mata air biasa (yang tercecer)”, sabda Rasulullah Saw.

Nabi Ibrahim As memanjatkan sebuah doa yang diabadikan dalam Al-Quran Surat Ibrahim ayat 7:
“Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.

Maka dengan kehendak Allah Swt, datanglah satu kabilah dari Yaman, lalu mereka menempati lembah tersebut. Siti Hajar dan puteranya, Ismail As, merasa tenang dengan kehadiran mereka, keduanya menjadi pelopor yang tinggal di tanah penuh berkah tersebut. Inilah buah dari kesabaran dan keyakinan yang kokoh, yang semestinya tertanam di hati orang-orang beriman.

Lepas dari ujian bagi Ibrahim As dan Siti Hajr beserta puteranya yang berhasil mereka lewati dengan sukses dengan menggapai ridha Alah Swt, episode ujian berikutnya telah menanti bahkan lebih berat. Ketika Ismail As hampir mencapai usia remaja tibalah perintah Allah Swt kepada Ibarahim untuk menyembelih sang putera yang didamba-damba. Kita bisa membayangkan, betapa senangnya Ibrahim As memiliki putera satu-satunya, putera yang diidam-idamkannya, putera yang terlahir secara ajaib karena lahir dari rahim nenek yang sudah renta. Betapa senangnya Ibrahim As dianugerahi sesuatu yang sangat didambakannya, apalagi sang putera menjelang remaja, sebagai tunas yang kelak menggantikan misi kenabiannya, keinginnanya memiliki anak ia adukan kepada Allah agar kelak risalahnya tidak mati sepeninggalnya.

Al-Quran mengisahkan secara dramatis dalam Surat Ash-Shaaffaat ayat 102
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.

Subhanallah ! keimanan sedalam apakah yang diperlihatkan oleh sang Nabi As, sebuah ketundukkan yang mengagumkan, suatu kepasrahan yang elegan. Ibrahim As, manusia lanjut usia yang terpisah dari keluarga dan sanak saudara sekian lama karena misi yang beliau emban, sang pengembara yang selamanya berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Tatkala di usia senja dianugerahi putera yang diidamkannya, sang putera yang sering ditinggalkan menginjak remaja, tersirat harapan besar sang pelanjut misi suci, tiba-tiba Sang Khaliq memberi perintah untuk menyembelih sang putera tercinta.

Sang Nabi dihadapkan pada dua pilihan sulit, apakah taat pada perintah Allah atau mengikuti rasa cintanya kepada sang putera ? Bukan pilihan yang mudah bagi manusia pada umumnya. Namun, naluri iman yang fitri membimbingnya untuk tunduk kepada titah sang Khaliq. Tanpa ragu sedikitpun, tanpa bertanya, kenapa ya Allah, Engkau menyuruhku untuk menyembelih puteraku satu-satunya, kenapa Engkau tidak memerintahkan yang lain? Ibrahim As bergeming untuk memenuhi perintah Allah Swt.

Dengan penuh ketulusan, sikap pasrah yang total, dengan penuh ketenangan sang Bapak memanggil puteranya seraya berkata: “Hai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi, dan engkau tahu mimpi seorang Nabi adalah benar adanya. Aku diperintahkan oleh Allah untuk menyembelihmu, fikirkanlah oleh mu, bagaimana menurutmu?

Sang Nabi tidak ingin merasa dirinya saleh tanpa menyertakan sang putera tercinta untuk merasakan tingkat ketundukkan dan kepasrahan yang tinggi dihadapan Allah. Sang putera harus tahu arti ketundukkan dan kepasrahan yang sebenarnya, karena kelak dia akan mengemban misi yang sangat berat. Ibrahim As tidak mengatakan: “Hai Ismail, ini perintah Tuhan, suka atau tidak kamu harus menaatinya!” Dengan pendekatan persuasif yang penuh keakraban dan rasa kasih sayang, sang bapak memberikan kesempatan kepada puteranya untuk merenungkan sesuatu sebelum dia mengikuti perintah sang bapak, “Bagaimana pendapatmu nak?”

Seperti dalam pepatah “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, Ibrahim As adalah seorang pendidik yang agung, tidaklah heran jika sang anak memiliki karakter yang tidak jauh berbeda dengan bapak. Hanya melalui cerita mimpi sang Ayah, sang anak tahu ayahnya seorang Nabi dan dia tahu mimpi seorang Nabi adalah benar adanya. Tanpa ragu sedikitpun Isma’il As, putera Ibrahim As, bergeming seraya berkata: “Duhai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan, jika itu titah Allah, insya Allah aku siap untuk bersabar menjalankannya”. Subhanallah ! Tanpa diduga-duga oleh Ibrahim As, sang putera tercinta, Ismail As, dengan lantang, tegar, penuh kepasrahan dan keyakinan bersedia untuk disembelih oleh tangan bapaknya sendiri hanya karena ini adalah perintah Allah.

Ismail tunduk dan bersedia untuk disembelih bukan karena kepahlawanan, bukan karena ingin disebut pemberani, bukan pula sebuah aksi nekat yang tanpa pertimbangan. Yang dilakukannya adalah hanya mengikuti dan tunduk pada perintah Allah, karena dia yakin ini perintah Allah maka dia juga meyakini, Allah akan memberinya sesutu yang terbaik, dan yang terbaik bagi dirinya adalah bersikap sabar.

Tibalah saatnya eksekusi, Ibrahim As menuntun puteranya, Ismail As menuju Mina untuk melaksanakan perintah Allah Swt. Tenyata, ada yang tidak senang dengan apa yang dilakukan Ibrahim As beserta puteranya, dialah Syaitan. Makhluk terkutuk ini merasa geram jika ada diantara hamba-hamba yang tunduk dan pasrah kepada Allah. Dialah Syaitan yang membangkang perintah Allah untuk bersujud kepad Adam As, meskipun hanya satu kali sujud. Dengan berbagai tipu daya dan muslihat Syaitan berupaya menggagalkan rencana Ibrahim As dan puteranya Ismail.

Syaitan berupaya menggoda di tiga lokasi yang berbeda. Dengan sigap, Ibrahim As melemparinya dengan batu kerikil sebanyak tujuh kali. Syaitan lari, ke lokasi yang berada di tengah, Ibrahim As melemparinya lagi sebanyak tujuh kali, hingga akhirnya syaitan lari ke lokasi yang berikutnya, demikian pula Ibrahim As mengejar dan melemparinya dengan batu dan jumlah lemparan yang sama sampai akhirnya syetan lari tunggang langgang.

Dengan langkah pasti Ibrahim As bersegera melanjutkan rencana sucinya. Sesaat kemudian sang putera tercinta berbaring pasrah, sementara sang bapak dengan penuh kerelaan siap menghunuskan pedang menyembelihnya. Mereka bedua telah membuktikan kepada dunia tentang arti kepasarahan dan ketundukkan kepada Yang Maha Kuasa, sang ayah telah siap mengucurkan darah putranya, namun kehendak Allah di atas segalanya. Allah tidak akan membiarkan hambanya yang saleh ternoda jasadnya begitu saja, Allah tidak akan membiarkan hambanya yang taat lehernya bersimbah darah. Kesalehan, ketundukan dan kepasrahan mereka telah terbukti, mereka adalah hamba Allah yang sukses melewati ujian yang maha berat.

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha mengetahui.” QS Annisa: 147

Bunda Hajar dan putera semata wayang Ismail As dalam diri keduanya kita dapatkan sifat-sifat kesalehan yang hakiki. hasil didikan suami dan ayah tercinta abul anbiya Ibrahim as.

sumber: www.dakwatuna.com

Dikirim pada 25 November 2009 di keluarga

Aku tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak manusia berada disekelilingku, namun aku tetap merasa sendiri dan ketakutan aku masih bertanya dan terus bertanya, tempat apa ini dan buat apa semua manusia dikumpulkan mungkinkah, ah aku tidak mau mengira – ngira
Rasa takutku makin menjadi – jadi takkala seseorang yang tidak pernah kukenal sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku. “inilah yang disebut Padang Mahsyar” Suaranya begitu menggetarkan jiwaku. “bagaimana ia bisa tahu pertanyaanku” bathinku aku menggigil tubuhku terasa lemas mataku tegang mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal”
Kusaksikan langit menghitam sesaat kemudian bersinar kemilauan. Bersamaan dengan itu terdengar suara menggema. Aku baru sadar, inilah hari penentuan, hari dimana semua manusia akan menerima keputusan akan balasan dari amalnya selama hidup didunia. Hari ini pula akan ditentukan nasib manusia selanjutnya surgakah yang akan dinikmati atau adzab neraka yang siap menanti.
Aku semakin takut namun ada debar dalam dadaku mengingat amal-amal baikku didunia mungkinkah aku tergolong orang – orang yang mendapat kasih-Nya atau jangan – jangan………………..
Aku dan semua manusia lainnya masih menunggu keputusan dari yang menguasai hari pembalasan . tak lama kemudian terdengar lagi suara menggema tadi yang mengatakan bahwa sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia – manusia yang akan menemani Rasullah SAW di surga yang indah. Lagi – lagi dadaku berdebar, ada keyakinan bahwa namaku termasuk dalam daftar itu, mengingat banyaknya infaq yang aku sedekahkan. Terlebih lagi, sewaktu didunia aku dikenal sebagai juru dakwah “Kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga, apalagi aku “pikirku mantap. “
Akhirnya nama- nama itupun mulai disebutkan. Aku masih beranggapan bahwa namaku ada dalam deretan penghuni surga itu, mengingat ibadah – ibadah dan perbuatan – perbuatan baikku. Dalam daftar itu nama Rasullah Muhammad SAW sudah pasti tercantum pada urutan teratas sesuai janji Allah melalui jibril, bahwa tidak satupun jiwa yang masuk kedalam surga sebelum Muhammad masuk, setelah itu tersebutlah para Assabiquual Awwaluun, kulihat Fatimah Az-Zahra dengan senyum manisnya melangkah bahagia sebagai wanita pertama yang masuk surga diikuti para istri – istri dan keluarga Rasul lainnya.
Sementara itu, dadaku berdegup keras menunggu giliran aku terperanjat begitu melihat rombongan anak – anak yatim dengan riang berlari untuk segera menikmati kesegaran telaga Kautsar. Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tanggannya kepadaku sepertinya aku kenal mereka. Ya Allah mereka anak- anak yatim sebelah rumahku yang tidak pernah kuperhatikan anak-anak yang selalu menangis kelaparan dimalam hari sementara sering kubuang sebagian makanan yang tak habis kumakan.
Subhanawllah itu si Parmin tukang mie dekat kantorku aku terperangah melihatnya melenggang ke surga. Parmin pemuda yang tidak pernah lulus SD itu pernah bercerita, bahwa sebagian besar hasil dagangannya ia kirimkan untuk ibu dan biaya sekolah ke empat adiknya. Parmin yang rajin shalat itu rela berpuasa berhari-hari asal Ibu dan Adik2 nya dikampung tidak kelaparan. Tiba – tiba orang yang sejak tadi disampingku berkata lagi “Parmin yang tukang Mie itu lebih baik dimata Allah ia bekerja untuk kebahagian oranglain “Sementara aku,semua keringatku semata untuk keperluanmu.
Lalu berturut – turut didepan mataku, Mbok Darmi, penjual pecel yang kehadirannya selalu kutolak, pengemis yang setiap hari lewat depan rumah dan selalu mendapat kan kata “Maaf” dari bibirku dibalik pagar tinggi rumahku. Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab setiap pertanyaanku meski tidak kulontarkan “mereka ikhlas, tidak sakit hati serta tidak memendam kebencian meski kau tolak”
Masya Allah murid- murid pengajian yang aku bina, mereka mendahuluiku ke surga. Setelah itu berbondong – bondong jamaah masjid – masjid tempat biasa aku berceramah “mereka belajar kepadamu, lalu mereka amalkan. Sedangkan kau, terlalu banyak berbicara dan sedikit mendengarkan, padahal lebih banyak yang bisa dipelajari dengan mendengar daripada berbicara jelasnya lagi.

Aku semakin penasaran dan trus menerus menunggu giliranku dipanggil seiring dengan itu antrian manusia – manusia dan wajah ceria, makin panjang tapi sejauh ini belum juga namaku terpanggil aku mulai kesal aku ingin segera bertemu Allah dan berkata “Ya Allah didunia aku banyak melakukan ibadah, aku bershodaqoh banyak membantu oranglain, banyak berdakwah, izinkan aku ke surgamu.
Orang dengan wajah bersinar disampingku itu, hendak berbicara lagi, aku ingin menolaknya tetapi tanganku tak kuasa menahannya untuk berbicara “Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata untuk kepentingan mendapatkan surga Allah, shodaqohmu sebatas untuk memperjelas status sosial, dibalik bantuannmu tersimpan keinginan mendapatkan penghargaan dan dakwah yang kau lakukan hanya berbekas untuk oranglain, tidak untukmu. “ Bergetar tubuhku mendengarnya.
Anak-anak yatim, parmin, Mbok Darmi, Pengemis tua murid-murid pengajian jamaah masjid dan banyak lagi orang – orang yang sering kuanggap tidak lebih baik dariku mereka lebih dulu ke surga Allah. Padahal aku sering beranggapan surga adalah balasan yang pantas untukku atas dakwah yang kulakukan, infaq yang kuberikan , ilmu yang kuajarkan dan perbuatan baik lainnya. Ternyata aku tidak lebih tunduk daripada mereka, tidak lebih ikhlas dalam beramal daripada mereka tidak lebih bersih hati daripada mereka, sehingga aku tidak lebih dulu ke surga dari mereka.

sumber : yuliardi B

Dikirim pada 24 November 2009 di muhasabah

Hendaklah anda memiliki wirid harian membaca Al Qur`an minimal satu juz dan berusahalah sungguh-sungguh agar jangan sampai mengkhatamkannya melewati waktu satu bulan
(Hasan Al-Banna)

Al Qur`an adalah sungguh sebuah kitab yang benar-benar luar biasa. Di dalamnya terdapat lautan hikmah dan pelajaran serta kebaikan untuk seluruh umat manusia tak terkecuali. Jika seseorang sedang melakukan perjalanan jauh, tentu saja ia akan membawa bekal yang cukup untuk perjalanannya. Begitu pula halnya dengan Al Qur`an, Allah menurunkan Al Qur`an sebagai bekal (tazwid) dalam perjalanan hidup manusia. Bekal adalah suatu persiapan, tanpa persiapan maka seseorang tentu akan kesulitan mengharungi perjalanan panjang yang cukup melelahkan ini.

Al Qur`an diturunkan bukan hanya untuk disia-siakan, atau sekedar menjadi pajangan yang berdebu di dalam rumah kita. Justru Al Qur`an diturunkan agar manusia mengambil pelajaran dari dalamnya dengan cara membaca, memaknai, bahkan menghafalnya, dan tentu saja yang terpenting setelah itu semua adalah mengamalkannya dalam kehidupan kita. Bagaimana mungkin kita mengaku sebagai seorang muslim sementara kitab sendiri saja tidak pernah dibaca atau disentuh. Bagaimana pula kehidupan seseorang yang jauh dengan Al Qur`an? Sesungguhnya menjauh dengan Al Qur`an akan membuat ruhani kita ringkih dan dapat melemahkan kita dalam menghadapi permasalahan hidup.

Allah di dalam Al Qur`an telah memberi jaminan dan anugerah bagi mereka yang selalu membaca Al Qur`an :

๏ฟฝSesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.๏ฟฝ (QS. Faathir : 29)

Keislaman kita hendaknya mampu membentuk komitmen dalam tilawah, lebih dari sekedar membaca, melainkan membentuk moralitas ta`abbud kepada Allah sehingga menjadi sebuah proses tazwid yang berkesinambungan. Bagaimana jika proses tazwid ini tertinggal selama sepekan, dua pekan, atau bahkan lebih? Ibarat seorang atlet olahraga yang akan menghadapi kejuaraan besar. Ketika ia tidak melakukan latihan secara berkesinambungan, maka otot-ototnya akan tegang dan ketika kejuaraan dimulai, bisa jadi ia harus melakukan pemanasan yang lebih dari biasanya dan kemudian ia akan kewalahan menghadapi kejuaraan itu, karena apa? Karena persiapan yang ia lakukan tidaklah matang dan terburu-buru.

Tarbiyah adalah proses perjalanan beribu-ribu mil jauhnya. Entah berapa langkah yang sudah kita lewati saat ini. Membina diri dengan Al Qur`an adalah suatu keniscayaan, karena sumber kebenaran itu ada pada Al Qur`an. Lalu mengapa harus satu juz perhari? Kita harus serius dengan tilawah satu juz perhari karena itu merupakan mentalitas `ubudiyah, disiplin, dan akan menambah tsaqofah (wawasan). Apalagi jika kita berkomitmen untuk menegakkan islam di bumi Allah ini, maka hendaknya kita menjadi batu-bata yang kokoh dalam bangunan islam. Sejarah mencatat bahwa para salafush shalih menyikapi apa yang disabdakan Rasulullah saw, ๏ฟฝBacalah Al Qur`an dalam satu bulan!๏ฟฝ sebagai sesuatu yang minimal. Subhanallah, bayangkan saja para salafush shalih, sahabat maupun sahabiyah yang kita tahu tingkat kualitas diri mereka yang sungguh luar biasa malah kemudian menjadikan satu juz itu sebagai target minimal dalam satu hari. Sementara kita saat ini, sebagian besar menganggap satu juz itu sebagai target maksimal dalam satu hari. Jika demikian, bagaimana mungkin kita dapat mengulangi kesuksesan para sahabat dalam membangun islam ini?

Jika tarbiyah qur`aniyah kita telah matang, kita pasti akan dapat merasakan bahwa sentuhan tarbawi surat Al-Baqarah berbeda dengan Ali-Imran. Begitu pula dengan surat-surat yang lainnya. Boleh jadi ketika seseorang sedang membaca surat An-Nisa, ia merindukan surat Al-Ma`idah. Itulah suasana tarbiyah yang belum kita rasakan dan harus dengan serius kita bangun dalam diri kita. Sungguh, Al Qur`an adalah sarana tarbiyah terbaik bagi diri dan kehidupan kita, sarana membina diri, karena di dalamnya ketika lembar demi lembar kita buka dan kita baca sekaligus kita maknai, maka kita akan merasakan suatu keunikan tersendiri dari Al Qur`an. Itulah mengapa dikatakan Al Qur`an adalah sebuah kitab yang luar biasa karena ia adalah perkataan Allah yang dipenuhi oleh berbagai hal yang luar biasa.

Kiat Bersungguh-Sungguh Dalam Tilawah Satu Juz Perhari

1. Berusaha melancarkan tilawah jika belum lancar. Ukuran normal membaca satu juz adalah 30-40 menit, jika lebih lama dari itu maka berusahalah untuk memperlancar bacaannya. Bayangkan saja 30-40 menit dari 24 jam bukanlah waktu yang lama, namun terkadang kita lebih sering ngobrol atau menonton TV berjam-jam ketimbang menyisihkan Al Qur`an selama setengah jam dalam satu hari.

2. Aturlah dalam diri kita kesepakatan untuk komitmen ibadah satu juz tilawah perhari, jika tidak tercapai, hendaknya kita iqab (semacam hukuman) diri kita dengan iqab yang mampu membangkitkan kesungguhan kita, misalnya jika hari ini tidak sampai satu juz, maka esok harinya kita akan menggandakannya menjadi dua juz. Sebagai contoh para sahabat yang sering meng-iqab diri dengan bersedekah atau menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah. Subhanallah.

3. Cari tempat-tempat yang kondusif untuk melakukan tilawah karena terkadang kita butuh waktu sejenak untuk menyendiri

4. Sering-sering mengadu kepada Allah dan memohon untuk dimudahkan kesungguhan dan komitmen dalam melaksanakan ibadah tilawah ini. Bahkan selipkan di antara doa-doa kita permohonan agar kita dijadikan orang-orang yang dekat dengan Al Qur`an. Amin.

5. Perbanyak amal saleh karena amal saleh dapat menghasilkan energi baru untuk amal saleh selanjutnya.

Kendala yang Harus Diwaspadai

1. Perasaan menganggap sepele saat sehari tidak membaca Al Qur`an
2. Lemahnya wawasan ber-Al Qur`an sehingga tidak termotivasi untuk bersungguh-sungguh dalam membaca Al Qur`an
3. Tidak memiliki waktu wajib membaca Al Qur`an, dan membaca Al Qur`an sesempatnya saja atau bahkan dengan waktu-waktu sisa kita
4. Lemahnya keinginan untuk memiliki kemampuan tilawah
5. Terbawa lingkungan sekeliling yang tidak memiliki perhatian terhadap tilawah Al Qur`an
6. Tidak tertarik dengan majelis yang menghidupkan Al Qur`an

๏ฟฝTidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah lalu di antara mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya kecuali turun kepada mereka ketenangan yang diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah swt menyebut nama-nama mereka di sisi makhluk yang ada di dekatNya.๏ฟฝ (HR. Imam Muslim)

Akibat Tidak Serius Melakukan Tilawah

1. Sedikitnya barakah dakwah atau `amal jihadi kita dan menjadi indikasi lemahnya hubungan sebagai jundi kepada Allah swt.
2. Kemungkinan lainnya, tertundanya pertolongan Allah swt dalam amal jihadi. Jika salafush shalih saja tertunda kemenangannya hanya karena meninggalkan sunah bersiwak, apalagi jika meninggalkan amal yang bobotnya jauh lebih besar dari itu.
3. Semakin jauhnya ashshalah (orisinilitas) dakwah. Dakwah kita adalah dakwah bil qur`an, bagaimana mungkin kita mengumandangkan dakwah sementara hubungan kita dengan Al Qur`an sendiri melemah
4. Semakin jauhnya dakwah dari nuansa ilmu, padahal hakikat dakwah adalah meningkatkan kualitas keilmuan umat

Maraji` : Tarbiyah Syakhsiyah Qur`aniyah, Abdul Azis Abdur Rouf, LC

Dikirim pada 23 November 2009 di muhasabah

Hai cewek, ups! Oh Assalamu’alaikum ukh, salam ukhuwah! Haha saya hanya niru apa yang biasa ikhwan yang ucapkan kepada ukhti, hmm untuk nyebutnya kadang saya ga bener maklumlah bahasa Arab saya kan ga pernah belajar, baca Iqro aja plentat-plentot, tapi yang penting keliatan kalo saya ikhwan deh.

Kenapa kalian bisa begitu mempesona dibalik pakaian besar kalian? Saya ga pernah bisa ngerti itu, padahal enakan kalo saya liat cewek baju ketat with short pant uhuuuyyy … apalagi bodi dan mukanya lumayan, yah paling enggak bisa dibanggain kalo diajak jalan. Tapi melihat kalian dengan pakaian besar kalian membuat saya tertarik

Sangat tertarik, apakah dibalik itu semua tubuhmu kudisan? Haha… saya rasa enggak, muka kalian begitu bersih dan kalian sepertinya ga mudah untuk ditaklukkan, dan bener juga kalian begitu susah ditaklukkan. Kenapa bisa sih?Gak mungkin gara-gara jubah guede yang kalian pake kan?

Kau tau, untuk mendapatkan wanita kebanyakan diluar sana begitu mudahnya, saya ajak makan bareng udah bisa cium pipi, saya ajak nonton minimal dapet kissing kalo udah beli coklat dan bunga berarti saya boleh petting dan haha.. ga perlu diceritakan kelanjutannya, yang pasti kalo udah bosen tinggal selingkuh aja, ketahuan juga bodo, tinggal cari lagi.

Hei manis, tahukah sealim apapun kalian , saya udah tau kelemahan wanita, karena kalo saya ga tau kelemahan kalian begitu susah mendekati kalian. Hmm… kenapa saya ajak kenalan langsung lu nolak? Minta nomor telepon apalagi? Hadoh susah juga nih, walaupun saya dapet nomor telepon lu, lu juga ga mau bales ataupun angkat telepon saya.

Tapi saya tau, seperti yang kalian bilang dimana ada niat pasti Allah kasih jalan, dan saya udah niat harus bisa menaklukkan kalian . Dan aha! Ternyata begini cara menaklukkan kalian, ternyata kalian disebut akhwat dan yang cowoknya disebut ikhwan, walaupun lidah saya ga biasa ngucapinnya.
Mulailah saya menelusuri apa itu ikhwan?. Hmm… orang yang kerjaannya ngaji, pake celana ngatung, yah kalo punya jenggot tipis juga gapapa, hoho.. itu mudah saya lakukan, lalu apalagi?hmm… cara ngomongnya lain, kalo ngobrol ama lawan jenis nunduk (apa cari duit jatoh?), entahlah yang penting saya ikut dulu

Dalam waktu dua minggu berubahlah saya seperti ikhwan, plus facebook dan blog saya terlihat islami, dan mulailah saya mencoba mendekati kalian. Ingatkah pertama kali kita kenalan? Saya ucapkan hadist sebagai ukhuwah kita, dengan manis saya bilang “Salam ukhuwah yaa ukhti” , dan kau balas gitu juga.

Mulailah jerat itu saya pasang, kau berani kasih nomor telepon ke saya, dengan itu saya bisa sms kau dini hari untuk sholat tahajud, padahal saya ga sholat dan kebetulan ada petandingan sepakbola haha… sambil nyelam nyari ikan, kan saya kucing air! Hmm… memang susah juga menaklukkan kau, saya harus berkorban banyak nih.

Mulailah saya menelpon buat berdiskusi dan tukar pikiran , tentu aja saya juga stanby di internet biar saya bisa cari jawabannya di internet. Oh saya baru tahu ada namanya kegiatan keagamaan dikampus, ya udah saya juga ikut deh dan duduk deket tirai pembatas, siapa tau kebetulan kau bisa liat saya ada .

Pulang ngaji saya coba ajak pulang bareng naik motor , dengan alesan udah malem gag baek kalo pulang sendiri, haha… kau mau, Yes ! Haha.. ternyata ga terlalu sulit untuk dekat dengan kau, hanya cukup memasang topeng yang kau suka dan kau akan luluh, tinggal saya serang kelemahan setiap wanita yaitu kupingnya.

Walaupun banyak kata-kata yang ga ngerti, tapi saya yakin ini bentuk rayuan maut buat kau, hehe… emang aneh sih sms padahal gag ada kata-kata yang ngerayu misal INU IMU ILU atau sebagainya tapi Cuma kutipan hadist ama Qur’an plus kata-kata bijak dan penyemangat, tapi kenapa bisa bikin kalian luluh? Dasar wanita!

Tahukah kau, saat kau memakai kaus kaki yang terlalu pendek atau bahkan ga sama sekali, terlihatlah betis mu yang indah itu disaat mengendarai motor dan berhenti, padahal saya sering lihat betis bahkan paha wanita tapi kenapa lihat yang ini berbeda? Mungkin gara-gara kau umpetin terus.

Saat kau memakai tas ransel , tanpa kau sadari talinya membuat bentuk tubuhmu terlihat, serrrr….slerp hajar bleh! Apalagi kalau ga pake gamis sadar atau enggak bagian pinggang dan pinggul itu ketat karena roknya…hmmm, Yummy! Kata Chio “kapan lagi liat barang mahal di obral” mantap deh hahaha…ga ngeh kan?

Ga itu aja kok, kalo saya liat lu pake baju yang gelap terus pasti saya tegor “Ukh, kok gelap terus? Kan ga cerah, memang lagi berkabung ya?” dan mulailah dengan instingmu yang pandai berdandan kau akan menggunakan warna cerah agar dilihat oleh saya, haha… lumayan pemandangan bagus buat orang lain bisa saya nikmatin.

Apalagi kalau kalian udah berani pajang muka di internet hahahai… biasanya lebih mudah dibujuk tuh hehehe, tapi gag seru dengan yang itu, saya mau incer yang bener-bener tertutup , pasti lebih tertantang, kapan lagi sih saya bisa menaklukan cewek eh akhwat kek gitu? Suatu prestasi tersendiri dan naikin derajat sayalah .

Sial, kenapa ga ada pacaran islami , pacarannya di masjid gitu kalo gag pacaran lagi demo di jalanan, tapi saya ga nyerah kok, kenapa saya ga coba ta’aruf aja dulu, yah khitbah juga jadi deh, dengan alasan ntar aja saya nikahin kalo udah lulus kuliah dan udah dapet kerja mapan plus kendaraan dan rumah sendiri.

Biarin lama, yang penting saya kek janji dulu , dengan gitu saya bisa tuker biodata, bisa smsan, teleponan, bahkan chatting pake webcam malem-malem haha… ternyata kau tetap wanita yang mempunyai hati yang lemah, sehingga mudah luluh dengan apapun, ahh… untung –untung saya bisa melakukan lebih dengan ini, dan saya yakin bisa!

Saya tau setebal apapun iman kau, hati kau tetap lemah, dan mudah luluh dan saya akan terus mengintai dari situ, mencari celah untuk masuk dan menaikkan pasaran saya sebagai orang yang pernah pacarin wanita yang terkenal alim, hahaha… siapin dirimu!

-- taken from www.mujahidcool. multiply. com --

..so, qita harus Menjaga diri kita ya ukhti,,,,,,, jangan Mau terGODA dengan cowok seperti itu,, apalagi percaya dengan ta’aruf yang MAIN2 saja!! bentengi diri kita.,,!!

Dikirim pada 22 November 2009 di muhasabah

Virus lesu da’wah menyerang para aktivis?... Pertanyaan ini, belakangan sering terdengar di antara para aktivis da’wah. Dalam acara formal semacam seminar, maupun tatkala obrolan santai digelar. Data yang dikemukakan sebagian besar kasar. Dulu, begitu biasanya awal pembicaraan, aktivitas perekrutan dan gairah melaksanakan da’wah terasa sangat menggebu.

Bahkan sebagian aktivis merelakan diri mangkir dari berbagai aktivitas utama sebelumnya, seperti belajar, tekun bekerja dan bersantai dengan keluarga. Namun kini aktivitas yang penuh dengan semangat heroisme itu tak lagi sering terlihat. Aktivitas perekrutan dan langkah-langkah pembinaan pun kerap berjalan tak lancar. Tapi itukah indikasi munculnya penyakit lesu da’wah?


PERUBAHAN DA’WAH


Dalam terminologi da’wah ada istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan fenomena lesu da’wah ini; yaitu futur. Dalam bahasa aslinya sendiri salah satu makna futur adalah as-sukut ba’da al-harakah (berhenti setelah sebelumnya bergerak). Bentuknya bisa banyak; malas atau lalai melaksanakan kewajiban atau tak lagi sensitif terhadap maksiat. Kewajiban yang dilalaikan bisa yang :
• fardiyah (shalat tepat waktu, dzikir, membaca hingga ibadah-ibadah sunnah lainnya) atau
• jama’iyah (meninggalkan da’wah, kurang beramal jama’i sampai menghindar dari kewajiban yang ditetapkan oleh syuro).



Tapi betulkah sinyalemen bahwa banyak da’i dilanda penyakit lesu da’wah yang merupakan bagian dari futur? Jawabnya mestilah melihat pada beragam faktor. Yang pasti adalah bahwa da’wah masa kini telah mengalami banyak perubahan ketimbang masa lalu. Jika dahulu aktivitas da’wah lebih dititik beratkan pada aspek takwinu junud (membina dan membentuk aktivis), titik tekan da’wah masa kini telah meluas menyentuh apa yang dikatakan sebagai wilayah sya’biyah (kemasyarakatan). Dan perluasan bidang garap ini otomatis mengubah tampilan wajah da’wah.


Aktivitas yang kini marak tak lagi seputar pembinaan dan perekrutan. Tablig akbar, santunan sosial, bazar amal, pelayanan kesehatan bagi masyarakat tak mampu hingga upaya mewujudkan lembaga pendidikan dan pers Islami menjadi bagian dari kerja da’wah. Dan aktivitas-aktivitas ini otomatis menyerap sebagian energi para da’i. Faktor lain yang mengubah wajah da’wah bisa jadi berasal dari internal sang da’i. Setelah berinteraksi selama beberapa saat, berbagai masukan manhaj (metode) dan fikrah (pemikiran) telah mengalami intenalisasi dan kritalisasi. Jika sebelumnya seluruh masukan tersebut di kunyah secara instan (langsung menghasilkan gelora semangat dan berujung pada amal), kini setelah mengalami proses kristalisasi keluaran yang terjadi telah membawa muatan pribadi. Artinya, kondisi yang melingkupi sang da’i turut membentuk keluaran yang ada. Meminjam istilah pemasaran, setelah masa pertumbuhan (yang ditandai dengan pesatnya angka kenaikan penjualan), fase berikutnya dari sebuah produk adalah fase kematangan (maturity) yang ditandai dengan stabil dan tidak melonjak-lonjak.


Faktor lain yang menarik untuk disimak berkaitan dengan fase kehidupan yang kini dijalani banyak da’i. Berbagai prestasi spektakuler dalam da’wah yang dulu pernah diukir bisa jadi muncul saat perhatian dan waktu tercurah sepenuhnya untuk da’walh khosoh. Thus status sebagai pelajar atau mahasiswa. Namun tatkala tuntutan keluarga dan peran sosial juga mulai meminta haknya, mau tak mau alokasi yang ada kini mesti dibagi. Dan ini bisa berakibat pada menurunnya hasil da’wah khosoh.


TAWAZUN


Lalu, setelah kita kaji faktor-faktor di atas, masih relevankah kita bertanya "Benarkah para da’i kini lesu berda’wah?" Jawabnya mungkin masih. Karena ada fenomena lain yang memperkuat sinyalemen ini. Misalnya,


Pertama sebuah lembaga penelitian pernah membuat angket tentang aktivitas amalul yaum sekitar 100 da’i di sebuah wilayah. Hasilnya cukup mengejutkan, nilai merah banyak didapat para da’i untuk poin qiyamul lail, shaum sunnah dan aktivitas tatsqif (penambahan wawasan keislaman). Termasuk kelaziman diam (i’tikaf) di masjid walaupun untuk sejenak (dari maghrib hingga isya).


Kedua, faktor kaderisasi juga menampakkan fenomena yang kurang cerah. Jika sebelumnya aktivitas kaderisasi gencar dilakukan, dari hasil sebuah survey didapat laju pertumbuhan yang cenderung stagnan (tidak berkembang). Alasan bahwa aktivitas sya’biyah (kemasyarakatan) menghabiskan energi hingga kaderisasi tak berjalan mulus bukanlah alasan sebenarnya. Kisah al-akh Mahmud salah seorang pembantu umum Imam Hasan Al Bana yang sering mendapat order kerjaan bertubi-tubi bisa dijadikan cermin lain. Tatkala ia mengusulkan agar sang Imam mendistribusikan tugas-tugas itu pada yang lain, Imam Hasan Al-Bana menjawab, "Pekerjaan itu hanya bisa dilaksanakan oleh orang yang terbiasa sibuk."


Ketiga, kasus-kasus tasyakut (orang-orang yang terlempar dari jalan da’wah) yang belakangan agak sering terdengar seolah juga menegaskan bahwa fenomena lesu da’wah memang ada. Apatah lagi tantangan dan serangan peradaban jahiliyah dengan segala bentuknya (melalui media elektronik, cetak, mode, gaya hidup hingga sistem sosial, ekonomi dan politik) membuat daya tahan para da’i yang dulu cukup ampuh, kini tak lagi kokoh. Benteng yang rapuh itu kini amat mudah terlena oleh bisikan hawa nafsu dan godaan syaitan (dari jin dan manusia). Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Kelesuan dalam da’wah bisa disebabkan faktor internal dan eksternal. Namun bobot sebab internal lebih besar. Karena disinilah pangkal berhasilnya sebab eksternal menguasai kondisi jiwa seorang da’i.


Imam Al-ghozali mengatakan bahwa ada tiga hal yang menjadikan seseorang itu lemah atau tidak memiliki kemauan (irodah) :


Pertama, Tidak memiliki kekuatan aqidah dan iman. Aqidah dan iman adalah pilar utama seorang da’i. Aqidah yang kuat mengikat sang da’i dengan sumber kebenaran; Allah Ta’ala. Hubungannya yang akrab dengan Allah membuatnya selalu terhindar dari berbagai bisikan dan godaan negatif. Sebaliknya ia akan mudah melangkah menuju berbagai jalan kebajikan.


Kedua, Tidak jelasnya tujuan suatu pekerjaan. Kejelasan tujuan tak ubahnya rambu-rambu yang memudahkan sang da’i sampai ditujuan dengan selamat dan tepat. Di tengah perjalanan, demikian banyak halangan, rintangan dan godaan yang dapat membelokkan niat awal sang da’i. Tuntutan ekonomi, tekanan keluarga dan masyarakat hingga keinginan untuk melepas diri dari beban da’wah (awalnya ingin cuti sekejap dari tugas da’wah) membuat beberapa da’i gagal menjaga komitmennya pada jalan da’wah.


Ketiga, Tidak adanya kecocokan antara pekerjaan dengan kemauannya. Kondisi ini kadang menimpa orang yang memiliki kelebihan khusus. Biasanya mereka memiliki kemauan yang dilandasi ilmu. Sayangnya, kemauan yang kadang baik itu tak disertai dengan ketundukan dan kesiapan hati menerima keputusan yang bertentangan dengan keinginannya.


Selain itu, apa yang dikatakan Abu Sulaiman Ad-Darani juga layak mendapat perhatian kita,


" Barangsiapa makan terlalu kenyang, ia akan ditimpa enam penyakit. Pertama hilang kelezatan munajat. Kedua, tak mampu memelihara hikmah. Ketiga, Tak memiliki rasa kasih sayang karena merasa tiap orang kenyang seperti dirinya. Keempat perasaan malas beribadah. Kelima bertambah dorongan syahwatnya. Dan Keenam, tatkala muslim yang lain ramai mengelilingi masjid ia sibuk mengelilingi ’sampah’."


Kita gagal menekuni jalan da’wah tatkala kita tak berhasil mendisiplinkan diri sesuai dengan adab-adab seorang da’i sejati. Seorang yang hanya mengharapkan balasan dari Allah, walau itu berarti tak ada kesempatan mengecap nikmat dunia secara berlebihan. Seperti kata Ad-Darani di atas. Siapkah kita untuk menerapkan disiplin jalan da’wah dalam setiap fase kehidupan kita ?


Wallahu a’lam bish-shawab

sumber http://underdakwah.blogspo
t.com/2009/08/virus-lesu-dakwah-menyerang-aktivis.ht

ml

Dikirim pada 21 November 2009 di Dakwah

Apa yang kita dengarkan ketika seorang diri mengendarai mobil, atau seorang diri di kamar? Kita mungkin memutar murattal, atau lagu-lagu cinta. Apa yang kita putar menunjukkan kondisi spiritual kita. Demikian juga, apa yang kita lakukan di waktu senggang menunjukkan kondisi maknawiyah keimanan diri kita saat itu.

Jika jiwa kita merasa senang dan tenteram mendengar murattal Al Quran, senang mendengar syeikh Sudais, Shuraim, Matrud, berarti kondisi spiritual kita sedang sangat prima. Bersyukurlah, dan pertahankan! Kita sedang merasakan nikmatnya ekstasi jiwa, tubuh kita banyak memproduksi hormon endorfin yang menenangkan.

Jika kita lebih senang mendengar nasyid atau lagu ruhani, bersyukurlah juga berarti kondisi spiritualbaik dan cukup prima. Apalagi jika senang mendengarkan lagu-lagu perjuangan, renungan tentang kehidupan, pujian kepada Allah, atau shalawat yang diiringi kerinduan berjumpa dengan Rasulullah SAW. Pada derajat yang lebih rendah, kita lebih senang mendengar lagu-lagu ruhani yang berkaitan tentang percintaan dan romantisme.

Pada kondisi maknawiyah yag kurang baik, jiwa ini senang mendengar instrumentalia, yang kita anggap sebagai refleksi suara alam. Sebagian dari kita berargumen bahwa, beberapa jenis instrumentalia bisa berfungsi sebagai hypno-therapy, karena dapat menyesuaikan gelombang otak mencapai gelombang alpha yang menenangkan. Namun ternyata, berdasarkan penelitian yang dilakukan di Malaysia, mendengarkan murottal dapat secara cepat mencapai gelombang alpha, bahkan membaca atau mendengar Al Quran dengan penghayatan yang kuat bisa mencapai kondisi trans (delta), seperti rasa haru, menangis dan khusyu’ yang dalam. Penelitian lain menunjukkan, dampak menenangkan dari mendengar murottal lebih kuat dan lebih lama daripada menggunakan musik instrumentalia

Pada kondisi spiritual terlemah, jiwa ini lebih suka mendengar lagu-lagu percintaan barat maupun Indonesia. Lagu-lagu dengan berbagai jenis musik kontemporer, seringkali menggunakan bit yang cepat dan baru bagus jika didengarkan dengan power yang kuat dan sound system yang berkualitas tinggi. Seringkali syairnya hanya berisi syahwat, mengumbar nafsu, dan terkadang melabrak rambu-rambu moral. Lagu-lagu seperti ini dalam jangka panjang akan membawa pikiran sadar maupun bawah sadar kepada gelombang beta yang memiliki karakteristik meningkatkan tingkat depresi, rasa resah, lelah.

Ketika kita memiliki waktu luang, untuk apa kita gunakan? Ketika banyak kita gunakan untuk nonton TV, banyak bengong dan tidur menunjukkan kondisi ruhiyah yang lemah. Seringkali muncul pikiran berkecamuk hebat, dengan tingkat depresi tinggi, namun tidak tahu harus berbuat apa, dan pada akhirnya tingkat produktifitas diri menjadi rendah.

Sebaliknya, jika kita memiliki kondisi ruhiyah yang prima, waktu demi waktu berjalan demikian berharga dan menyenangkan. Sebagian waktu malam kita gunakan untuk kontemplasi, dimana sejuknya embun iman terasa mengisi relung-relung jiwa. Shalat fajar sangat sayang untuk ditinggalkan karena lebih baik dari dunia dan seisinya. Perjalanan menuju mesjid untuk shalat shubuh berjama’ah menjadi saat-saat yang indah. Kaki melangkah dengan satu kebaikan di tiap langkahnya, sembari bergumam: “Allahummaj’al fii qolbii nuuro, wa fii lisaani nuuro…..“.

Keimanan pada sunnah Rasulullah menjadikan kita enggan untuk langsung tidur habis shalat shubuh. Tidur sehabis shubuh adalah menolak rizki, sebagaimana tidur antara ashar dan maghrib dapat menjadi pintu datangnya penyakit. Waktu yang Allah sediakan antara shubuh hingga dhuha, sangat nikmat kita gunakan membaca wirid Al Ma’tsurat Kubro disambung dengan tilawah Al Quran beberapa lembar. Betapa nikmatnya hari yang diawali dengan amalan ibadah seperti ini.

Melaksanakan hal di atas pasti berat jika belum terbiasa, namun jika sudah menjadi kebiasaan akan sangat luar biasa untuk kehidupan kita. Jika tidak ada keperluan penting, jangan tidur terlalu malam agar dapat bangun dini hari dalam keadaan segar. Serta hindari maksyiat, perbanyak istighfar, insya Allah kita akan dimudahkan untuk melaksanakan semua kebaikan di atas. Wallahu a’lam.Apa yang kita dengarkan ketika seorang diri mengendarai mobil, atau seorang diri di kamar? Kita mungkin memutar murattal, atau lagu-lagu cinta. Apa yang kita putar menunjukkan kondisi spiritual kita. Demikian juga, apa yang kita lakukan di waktu senggang menunjukkan kondisi maknawiyah keimanan diri kita saat itu.

Jika jiwa kita merasa senang dan tenteram mendengar murattal Al Quran, senang mendengar syeikh Sudais, Shuraim, Matrud, berarti kondisi spiritual kita sedang sangat prima. Bersyukurlah, dan pertahankan! Kita sedang merasakan nikmatnya ekstasi jiwa, tubuh kita banyak memproduksi hormon endorfin yang menenangkan.

Jika kita lebih senang mendengar nasyid atau lagu ruhani, bersyukurlah juga berarti kondisi spiritualbaik dan cukup prima. Apalagi jika senang mendengarkan lagu-lagu perjuangan, renungan tentang kehidupan, pujian kepada Allah, atau shalawat yang diiringi kerinduan berjumpa dengan Rasulullah SAW. Pada derajat yang lebih rendah, kita lebih senang mendengar lagu-lagu ruhani yang berkaitan tentang percintaan dan romantisme.

Pada kondisi maknawiyah yag kurang baik, jiwa ini senang mendengar instrumentalia, yang kita anggap sebagai refleksi suara alam. Sebagian dari kita berargumen bahwa, beberapa jenis instrumentalia bisa berfungsi sebagai hypno-therapy, karena dapat menyesuaikan gelombang otak mencapai gelombang alpha yang menenangkan. Namun ternyata, berdasarkan penelitian yang dilakukan di Malaysia, mendengarkan murottal dapat secara cepat mencapai gelombang alpha, bahkan membaca atau mendengar Al Quran dengan penghayatan yang kuat bisa mencapai kondisi trans (delta), seperti rasa haru, menangis dan khusyu’ yang dalam. Penelitian lain menunjukkan, dampak menenangkan dari mendengar murottal lebih kuat dan lebih lama daripada menggunakan musik instrumentalia

Pada kondisi spiritual terlemah, jiwa ini lebih suka mendengar lagu-lagu percintaan barat maupun Indonesia. Lagu-lagu dengan berbagai jenis musik kontemporer, seringkali menggunakan bit yang cepat dan baru bagus jika didengarkan dengan power yang kuat dan sound system yang berkualitas tinggi. Seringkali syairnya hanya berisi syahwat, mengumbar nafsu, dan terkadang melabrak rambu-rambu moral. Lagu-lagu seperti ini dalam jangka panjang akan membawa pikiran sadar maupun bawah sadar kepada gelombang beta yang memiliki karakteristik meningkatkan tingkat depresi, rasa resah, lelah.

Ketika kita memiliki waktu luang, untuk apa kita gunakan? Ketika banyak kita gunakan untuk nonton TV, banyak bengong dan tidur menunjukkan kondisi ruhiyah yang lemah. Seringkali muncul pikiran berkecamuk hebat, dengan tingkat depresi tinggi, namun tidak tahu harus berbuat apa, dan pada akhirnya tingkat produktifitas diri menjadi rendah.

Sebaliknya, jika kita memiliki kondisi ruhiyah yang prima, waktu demi waktu berjalan demikian berharga dan menyenangkan. Sebagian waktu malam kita gunakan untuk kontemplasi, dimana sejuknya embun iman terasa mengisi relung-relung jiwa. Shalat fajar sangat sayang untuk ditinggalkan karena lebih baik dari dunia dan seisinya. Perjalanan menuju mesjid untuk shalat shubuh berjama’ah menjadi saat-saat yang indah. Kaki melangkah dengan satu kebaikan di tiap langkahnya, sembari bergumam: “Allahummaj’al fii qolbii nuuro, wa fii lisaani nuuro…..“.

Keimanan pada sunnah Rasulullah menjadikan kita enggan untuk langsung tidur habis shalat shubuh. Tidur sehabis shubuh adalah menolak rizki, sebagaimana tidur antara ashar dan maghrib dapat menjadi pintu datangnya penyakit. Waktu yang Allah sediakan antara shubuh hingga dhuha, sangat nikmat kita gunakan membaca wirid Al Ma’tsurat Kubro disambung dengan tilawah Al Quran beberapa lembar. Betapa nikmatnya hari yang diawali dengan amalan ibadah seperti ini.

Melaksanakan hal di atas pasti berat jika belum terbiasa, namun jika sudah menjadi kebiasaan akan sangat luar biasa untuk kehidupan kita. Jika tidak ada keperluan penting, jangan tidur terlalu malam agar dapat bangun dini hari dalam keadaan segar. Serta hindari maksyiat, perbanyak istighfar, insya Allah kita akan dimudahkan untuk melaksanakan semua kebaikan di atas. Wallahu a’lam.

sumber : http://ow.ly/DRLD

Dikirim pada 21 November 2009 di muhasabah
20 Nov

“Ass, Kak. Aku baru nyampe rumah.” Tak sabar Yayah mengirimkan SMS itu begitu tiba kembali di Tanah Air. Empat tahun lamanya ia menuntut ilmu di Al-Azhar University, Cairo. Tiga tahun di antaranya dilaluinya dengan menyimpan kenangan dan rindu kepada Qodari. Ya, lelaki asli Madura itu telah merebut hatinya sejak saat pertama menyambut kedatangannya di pagi buta, di Bandara Internasional Cairo. Bersama sejumlah senior lainnya, Qodari menjemput rombongan mahasiswa baru Al-Azhar University asal Indonesia yang merupakan peserta program beasiswa kerja sama Indonesia-Mesir.



Yayah segera saja menjadi bintang mahasiswa Al-Azhar angkatan tahun tersebut. Posturnya tinggi, dengan hidung bangir, bibir merah delima asli tanpa pulasan lipstik, dan kulit seputih kapas. Busana apa pun yang dikenakan gadis berdarah Sunda itu hanya membuatnya makin kelihatan cantik dan mempesona. Banyak kakak kelasnya yang berupaya menampakkan perhatiannya. Terutama mahasiswa tahun keempat yang sudah hampir lulus S-1 maupun mereka yang sedang menempuh jenjang pendidikan Pasca Sarjana.

Hanya Qodari yang sama sekali tak pernah memberikan sinyal khusus kepadanya. Meskipun ia tak pernah menolak jika Yayah memerlukan bantuannya. Terkadang Yayah ingin bertanya kepada kakak kelasnya, apakah Qodari sudah mempunyai calon istri. Namun ia merasa malu sendiri. Baru datang ke Mesir kok udah bicara cinta? Setahun kemudian, Qodari lulus S-1. Ia akan pulang ke Indonesia sebentar, lalu melanjutkan pendidikan S-2 di Pakistan.

Yayah dan sejumlah teman mengantarnya ke bandara. Ada yang terasa hilang di jiwanya saat sosok lelaki yang selama ini kerap mengisi relung batinnya itu menghilang dari pandangan sesaat setelah melewati imigrasi. Negeri Mesir yang indah kini terasa begitu hampa. Ketika mobil yang ditumpanginya perlahan meninggalkan bandara, matanya menatap jauh ke landasan, ke deretan burung-burung besi yang dengan angkuhnya bertengger di sana. Kalau saja ia punya sayap, ingin rasanya ia terbang dan hinggap di pesawat yang akan mengantar Qodari pulang ke Indonesia.

Betapa kejamnya Kak Qodari. Ia pergi tanpa pernah memberikan tanda apa pun kepadanya. Apakah ia begitu keras hatinya, sehingga tak mampu menangkap sinyal perasaan yang dikirimkan oleh seorang gadis — meski itu hanya berupa wajah memerah dan sikap canggung manakala tanpa sengaja berpapasan di perpustakaan kampus, Masjid Al-Azhar, dan Wisma Nusantara yang merupakan pusat aktivitas mahasiswa Indonesia di Mesir. Padahal, lulusan terbaik Al-Azhar University dengan predikat Mumtaz itu dikenal selalu ramah dan simpatik kepada siapa pun.

Diam-diam ia pun menyesali dirinya. Kenapa ia tak berterus terang saja, atau setidaknya mengirimkan sinyal yang lebih jelas, misalnya berupa SMS yang berisi sindiran tentang cinta. Atau, mengapa ia tidak menitipkan salam lewat salah seorang kakak kelasnya yang sama-sama aktif di PPMI bersama Qodari?”

Yayah, kamu sakit?” tanya Aisyah, melihat wajah Yayah yang agak pucat. Buru-buru Yayah menggeleng. ”Ah, tidak. Hanya kurang tidur saja,” kilahnya. Sesaat sebelum pesawat Singapore Airlines yang akan membawanya dari Cairo ke Jakarta bersiap-siap untuk lepas landas, Qodari mengirimkan SMS:”Bila kamu mau menjadi istriku, aku akan menunggumu.” Membaca SMS tersebut Yayah rasanya ingin berteriak dan melompat dari mobil. Namun ia berusaha menahan perasaannya sewajar mungkin.

‘Welcome home. Jadi, kapan aku boleh datang melamarmu? Wss.” Balasan dari Qodari selalu pendek dan to the point. Namun itu sudah lebih dari cukup.”Aku akan bicara dulu dengan Abah. Nanti aku kabari Kakak.” Butuh waktu sebulan, baru KH Syamsuri, ulama terpandang di Bekasi, mengizinkan Qodari datang melamar putri kesayangannya. ”Saya tunggu Jumat pagi, pukul enam,” kata KH Syamsuri kepada Qodari, lewat telepon.

Dua tahun di Pakistan, Qodari kembali ke Tanah Air dengan menggondol gelar Master di bidang ekonomi syariah. Ia mengajar ekonomi syariah di salah satu universitas ternama di Jakarta. Ia rajin menulis di media massa, khususnya mengenai ekonomi Islam. Ia pun menjadi da’i dan sudah mulai sering tampil di acara keislaman di televisi. Tepat pukul enam kurang 10 menit, ia tiba di rumah Sang Kiai. Ulama kharismatis itu sedang duduk di beranda sambil memegang tasbih dan melantunkan zikir.

‘‘Assalaamu’alaikum.”
KH Syamsuri menoleh. ”Wa’alaikumsalaam. ”
Qodari segera mencium tangan Sang Kiai. ”Saya Qodari.”‘
‘Silakan duduk.” Suaranya terdengar berwibawa. Sorot matanya tajam.
”Terima kasih, Pak Kiai.’
‘Yayah menyaksikan dari dalam rumah. Hatinya berdegup kencang melihat wajah yang selalu dirindukannya itu.
”Sayang, mana tehnya?””Siap, Abah.”
Yayah segera mengantarkan minuman teh manis. Wajahnya terasa bersemu merah ketika Qodari menatapnya. Tanpa sengaja ia menunduk.
”Duduk di sini, sayang,” kata KH Syamsuri. Dengan kikuk, Yayah duduk di samping ayahnya, berhadapan dengan Qodari.
”Silakan jelaskan, apa tujuan kamu datang ke rumah saya,” suara KH Syamsuri terdengar sangat tegas.‘
‘Terima kasih, Pak Kiai. Saya berniat melamar Yayah untuk menjadi istri saya.”
KH Syamsuri tidak langsung menjawab. Ia menatap pemuda di hadapannya, seperti ingin mencari kepastian di matanya.
Tanpa sadar, Qodari mengangguk. Yayah merasa serba salah. Ia tidak berani mendonggakkan wajahnya.
”Tadi malam kamu shalat Tahajud?” tanya KH Syamsuri tiba-tiba.’
‘Ya, Pak Kiai.”
”Tadi pagi shalat Shubuh di mana?”
”Saya shalat Shubuh berjamaah di Masjid An-Nur, Perumahan Permata Timur, Kalimalang.”
”Ya, sudah. Tiga bulan lagi kamu balik ke sini. ”
Setelah itu, KH Syamsuri masuk ke dalam rumah. Qodari pun beranjak pulang. Yayah ingin protes kepada abahnya. Namun ia tidak berani. Abahnya sangat sayang kepadanya, apalagi semenjak ibunya meninggal enam tahun lalu. Namun ia sangat tegas memegang prinsip.

Tiga bulan kemudian, Qodari datang lagi. Namun hal yang sama berulang. Ia diminta datang lagi tiga bulan kemudian. Lagi-lagi, pertanyaannya sama, yakni di mana dia shalat Tahajud dan shalat Shubuh.

Hari ini, untuk yang kelima kalinya Qodari datang ke rumah KH Syamsuri. Berarti kurang lebih setahun lamanya ia melamar Yayah. Pertanyaan KH Syamsuri tetap tidak berubah.

”Saya Tahajud dilanjutkan Shubuh berjamaah di Islamic Centre Bekasi,” sahut Qodari mantap.
”Selama setahun ini, berapa kali kamu tidak shalat Tahajud, dan berapa kali kamu tidak shalat fardhu berjamaah.”
”Alhamdulillah, tidak satu kali pun, Pak Kiai.”
Tiba-tiba KH Syamsuri bangkit dari duduknya, dan memeluk Qodari. ”Aku izinkan engkau menikahi putriku. Bimbinglah ia ke jalan yang diredhai Allah, dunia dan akhirat,” bisiknya perlahan namun tegas di telinga Qodari.Yayah menarik napas lega. Wajahnya tiba-tiba tersenyum sumringah.

KH Syamsuri melirik putrinya. ”Sayangku, calon suamimu berkhidmat di bidang dakwah dan pendidikan. Bagaimana ia bisa menjadi seorang dai yangistiqamah, kalau ia tidak menegakkan shalat Tahajud dan shalat fardhuberjamaah? Ketahuilah, Tahajud merupakan pakaian para Nabi, Rasul dan orang-orang saleh. Sedangkan shalat fardhu jamaah merupakan ukuran kesungguhan iman seseorang. Kamu pasti pernah membaca hadits, cukuplah untuk mengetahui seseorang itu golongan munafik atau bukan dari shalat Shubuhnya, berjamaah atau tidak.”

Cerita Pendek Irwan Kelana (Republika 23 Maret 2008)

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=327663&kat_id=364

Dikirim pada 20 November 2009 di keluarga

Sesungguhnya kau tidak mengetahui akhir dan akibat dari setiap urusan. Mungkin kau bisa mengatur dan merancang sebuah urusan yang baik menurutmu. Tetapi ternyata urusan itu berakibat buruk bagimu. Mungkin saja ada keuntungan di balik kesulitan dan sebaliknya, banyak kesulitan di balik keuntungan. Bisa bahaya datang dari kemudahan dan kemudahan datang dari bahaya.

Mungkin saja anugerah tersimpan dalam ujian dan cobaan tersembunyi di balik anugerah. Dan bisa jadi kau mendapatkan manfaat lewat tangan musuh dan binasa lewat orang yang kau cintai. Orang yang berakal tidak akan ikut mengatur bersama Allah karena ia tidak mengetahui mana yang berguna dan mana yang berhahaya bagi dirinya.

Syekh Abu al-Hasan rahimahullah berkata, “Ya Allah, aku tidak berdaya menolak bahaya dari diri kami meskipun datang dari arah yang kami ketahui dan dengan cara yang kami ketahui. Lalu, bagaimana kami mampu menolak bahaya yang datang dari arah dan cara yang tidak kami ketahui?!”

Cukuplah untukmu firman Allah, “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik untuk kalian. Bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal ia buruk untuk kalian. Allah mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui.

Sering kali kau menginginkan sesuatu, namun Dia memalingkannya darimu. Akibatnya, kau merasa sedih dan terus menginginkannya. Namun, ketika akhir dan akibat dari apa yang kauhasratkan itu tersingkap, barulah kau menyadari bahwa Allah SWT melihatmu dengan pandangan yang baik dari arah yang tidak kauketahui dan memilihkan untukmu dari arah yang tidak kauketahui. Sungguh buruk seorang hamba yang tidak paham dan tidak pasrah kepada-Nya.

Diceritakan bahwa ada seorang arif, yang ketika ditimpa musibah, berkata, “Tak apa-apa, itu baik.” Pada suatu malam, seekor srigala datang dan memakan ayamnya. Ketika diberitahu, la menjawab, “Tidak apa-apa.” Di malam berikutnya anjingnya mati. Saat diberi tahu ia menjawab, “Semuanya baik-baik saja.” Lalu esok harinya keledainya juga mati. la tetap berkata, “Tak apa.” Keluarganya tidak menyukai jawaban itu.

Namun, pada malam berikutnya, sekelompok orang menyerang desa itu dan membunuh semua penduduknya. Tidak ada yang selamat kecuali si arif dan keluarganya. Ternyata, gerombolan itu mendatangi penduduk mengikuti suara ayam, gonggongan anjing, dan bunyi keledai. Sementara, si arif itu tak lagi memilikinya. Kematian hewan-hewan itu menjadi sebab keselamatannya. Mahasuci Allah Yang Maha Mengatur dan Maha Bijaksana.

Seorang hamba menyadari baiknya pengaturan Allah setelah suatu peristiwa berlalu. Itulah sifat manusia kebanyakan. Berbeda dengan kalangan khusus yang memahami Allah dan mengetahui baiknya pengaturan Allah sebelum peristiwa itu berlalu. Kalangan khusus ini pun terbagi ke dalam beberapa tingkatan:

Ada orang yang berbaik sangka kepada Allah Swt sehingga mereka berserah diri kepada-Nya karena Dia telah banyak memberikan anugerah dan karunia.

Ada yang berbaik sangka kepada Allah Swt karena mengetahui bahwa merisaukan nasib dan ikut mengatur tidak akan mampu menolak ketentuan yang telah ditetapkan atas dirinya dan tidak akan mendatangkan apa yang bukan bagiannya.

Ada pula orang yang berbaik sangka kepada Allah Swt karena memahami hadis qudsi, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”

la terus berbaik sangka kepada Allah Swt seraya bekerja dan berusaha dengan harapan Allah akan memperlakukannya sesuai dengan prasangkanya yang baik. Dan, Allah berbuat kepadanya sesuai dengan prasangkanya. Allah telah memudahkan karunia bagi orang beriman sesuai dengan prasangka mereka. Dia berfirman, “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan.”

Tingkatan paling tinggi adalah orang yang menyerah dan pasrah kepada Allah Swt karena menyadari bahwa sikap itulah yang layak ia jalani, bukan karena mengharapkan kebaikan bagi dirinya.
(Dikutip dari al-Tanwir fi isqath al-tadbir, karya Ibn ‘Athaillah al-Sakandari).

sumber :http://ow.ly/DRLD

Dikirim pada 20 November 2009 di muhasabah

Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta
mereka dengan memberikan sorga untuk mereka”



Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat
duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:”Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?” “Ya, benar, anak muda” kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:”Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga.”


Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.


Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:”Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . .” Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu.

Ia menjawab: “Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: “Pergilah kepada Ainul Mardiyah.” Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku, mereka bergembira seraya berkata: “Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . .”


“Assalamu’alaikum” kataku bersalam kepada mereka. “Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?” Mereka menjawab salamku dan berkata: “Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu” Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.


Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: “Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang . …”


Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata: “Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu.” Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: “Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama”.


Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia. ( Irsyadul Ibad ).


sumber : milis - myqur’an

Dikirim pada 19 November 2009 di Dakwah

Andai Rasulullah datang mengetuk pintu rumahku… terbayang olehku sorot matanya yang tajam dan teduh hingga bisa meluluhkan hati yang keras dan dapat menenangkan hti yang gusar. Ingin kusentuh dan kucium tangannya yang lembut bagaikan sutera. Dapat kucium harum tubuhnya yang lekat. Dapat kulihat tubuh tegap nan gagah yang Allah ciptakan dengan rupa terbaik.


Ingin aku berkata padanya, “Ya Rasulallah do’akan aku agar dapat terangkat segala kesulitan hidupku, semoga Allah melapangkan rizkiku. Do’akan aku ya Rasulallah agar baik urusanku di dunia dan akhirat dan jadikan aku kelak mendampingimu di surge, hidup abadi bersamamu.”

Belum sempat aku membuka pintu rumahku…..tiba-tiba aku teringat. Di ruang tamuku ada televise lengkap dengan DVD playernya, sebuah benda yang mungkin akan menjadi pertanyaan Nabiku terkasih. “Benda apa ini? Apa yang engkau skasikan dengannya?” Oh……..aku pasti akan malu, karena aku dan keluargaku sering menghabiskan waktu di depan televise hingga lalai shalatku.

Aku mulai melihat sekelilingku, ternyata buku-buku bacaanku lebih banyak berisi buku-buku umum yang kumiliki. Bahkan Al Qur’an yang ada nyaris hanya sebagai pajangan belaka karena covernyapun masih bagus dan halamannya tetap rapi meski telah bertahun-tahun menghiasi ruang bacaku. Pasti Rasulullah akan bertanya padaku, “Berapa banyak ayat ayat AlQur’an yang engkau baca setiap hari?” Ah…. Aku pasti akan terbata-bata menjawabnya karena aku jarang sekali membukanya karena memang aku tidak tahu bagaimana cara membacanya.

Aku mulai berjalan ke kamar tidurku, kalau-kalau Rasulullah ingin bermalam di rumahku. Ternyata di kamarku hanya ada sedikit ruang untuk shalat, sekedar untuk badanku saja. Aduuh…alangkah repotnya aku kalau Rasulullah mengajak kami untuk shalat berjamaah, karena di rumahku tidak ada mushalla keluarga. Justru kami member I ruang yang luas untuk koleksi beberapa kerajinan daerah, kenangan-kenangan ketika aku dan keluarga keliling daerah dank e luar negeri. Dan akupun membangun tempat yang lapang untuk dibuat taman air yang indah agar rumah yang kutempati tampak asri.

Aku melihat foto keluargaku terpampang di kamarku, ada wajah anak-anakku dengan ekspresinya yang lucu. Kalau Rasu melihat pasti akan kuceritakan tentang keceriaan mereka yang menggemaskan. Tapi….aku jadi agak khawatir kalau-kalau Rasulullah bertanya, Apakah mereka mengenal Nabinya dengan baik sebagaimana generasi di masaku?” Karena memang aku tidak pernah mengenalkan sosok Rasulullah kepada mereka kecuali sedikit saja. Tentang kelahirannya di tahun Gajah…Cuma itu yang aku ketaui tentang Nabiku. Buku bacaan anak-anakku pun hampir semuanya semu….Naruto, Sinchan, Doraemon, Spiderman, dll, sehingga anak-anakku hanya mengenal tokoh semu daripada Nabinya…..astaghfirullah.

Ooh… hatiku mulai teriris-iris oleh perasaan malu, khawatir dan cemas. Harapanku untuk berakrab-akrab dengan Rasulullah tercinta mulai pupus…. Maafkan aku ya Rasulallah, aku belum bisa membuka pintu rumahku untukmu, karena masih banyak pertanyaan dari lisanmu yang lembut sementara aku belum bisa menjawabnya. Mungkin engkau akan menyaksikan wajahku dengan sebuah senyuman saja….yah sebuah senyum kepedihan. Inilah generasi umatku di masa datang sepeninggalku…..

Sobat….mari hadirkan kembali teladan yang hilang dari buah hati kita. Kita berikan sosok teladan mulia yang telah disiapkan Allah untuk para pengikutnya beserta keturunannya
sumber : shidiq mahmudi

Dikirim pada 16 November 2009 di muhasabah

Sengaja kugoreskan tulisan ini, kado untuk teman-teman FB ku yang sedang ta’aruf, atau yang akan melakukan ta’aruf secara Islami. Juga bagi pasangan yang sudah pernah melakukan ta’aruf Islami,kado tulisan ini kupersembahkan sebagai kenang-kenangan yang terindah yang pernah dilalui dahulu. Kudoakan semoga Allah SWT selalu memudahkan dan melancarkan ta’aruf Islami yang sedang atau akan berlangsung. Bagi pasangan yang sudah melakukan ta’aruf Islami, semoga langgeng pernikahannya, hingga kematianlah yang memisahkan kita dari pasangan kita. Aamiin

Bagi setiap aktivis da’wah, yang sudah memilih da’wah sebagai jalan hidupnya, tentunya harus memiliki kepribadian Islamiyyah yang berbeda dengan orang-orang yang belum tarbiyah tentunya. Salah satu akhlak (kepribadian Islami) yang harus dimiliki setiap ikhwan atau akhwat adalah ketika memilih menikah tanpa pacaran. Karena memang dalam Islam tidak ada konsep pacaran, dengan dalih apapun. Misalnya, ditemani orang tualah, ditemani kakak atau adiklah sehingga tidak berdua-duan. Semua sudah sangat jelas dalam Alqur’an surat Al Isra ayat 32 yang artinya ”Dan janganlah kamu mendekati zina ; (zina) itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”. Apalagi sudah menjadi fihtrah bagi setiap pria pasti memiliki rasa ketertarikan pada wanita begitu pula sebaliknya. Namun Islam memberikan panduan yang sangat jelas demi kebaikan ummatnya. Mampukah tiap diri kita menata semua, ya perasaan cinta, kasih sayang benar-benar sesuai dengan syari’ah? Dalam buku Manajemen Cinta karya Abdullah Nasih Ulwan, juga disebutkan, cinta juga harus dimanage dengan baik, terutama cinta pada Allah SWT, Rasulullah SAW, cinta terhadap orang-orang shalih dan beriman. Jadi tidak mengumbar cinta secara murahan atau bahkan melanggar syariat Allah SWT.

Lalu bagaimanakah kiat-kita ta’aruf Islami yang benar agar nantinya tercipta rumah tangga sakinah mawaddah warohmah, berikut pengalaman penulis 14 tahun lalu yaitu :

1.Melakukan Istikharoh dengan sekhusyu-khusyunya
Setelah ikhwan mendapatkan data dan foto, lakukanlah istikharoh dengan sebaik-baiknya, agar Allah SWT memberikan jawaban yang terbaik. Dalam melakukan istikharoh ini, jangan ada kecenderungan dulu pada calon yang diberikan kepada kita. Tapi ikhlaskanlah semua hasilnya pada Allah SWT. Luruskan niat kita, bahwa kita menikah memang ingin benar-benar membentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Seseorang biasanya mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang diniatkannya.

2.Menentukan Jadwal Pertemuan (ta’aruf Islami)
Setelah Ikhwan melakukan istikharoh dan adanya kemantapan hati, maka segerlah melaporkan pada Ustadz, lalu Ustadz pun memberikan data dan foto kepada Ustadzah (guru akhwat), dan memberikan data dan foto ikhwan tersebut kepada Akhwat. Biasanya akhwat yang memang sudah siap, Insya Allah setelah istikharoh juga segera melaporkan kepada Ustadzahnya. Lalu segeralah atur jadwal pertemuan ta’aruf tersebut. Bisa dilakukan di rumah Ustadzah akhwatnya. Memang idealnya kedua pembimbing juga hadir, sebagai tanda kasih sayang dan perhatian terhadap mutarabbi (murid-murid). Hendaknya jadwal pertemuan disesuaikan waktunya, agar semua bisa hadir, pilihlah hari Ahad, karena hari libur.

3.Gali pertanyaan sedalam-dalamnya
Setelah bertemu, hendaknya didampingi Ustadz dan Ustadzah, lalu saling bertanyalah sedalam-dalamnya, ya bisa mulai dari data pribadi, keluarga, hobi, penyakit yang diderita, visi dan misi tentang rumah tangga. Biasanya pada tahap ini, baik ikhwan maupun akhwat agak malu-malu dan grogi, maklum tidak mengenal sebelumnya. Tapi dengan berjalannya waktu, semua akan menjadi cair. Peran pembimbing juga sangat dibutuhkan untuk mencairkan suasana. Jadi tidak terlihat kaku dan terlalu serius. Dibutuhkan jiwa humoris, santai namun tetap serius.
Silakan baik ikhwan maupun akhwat saling bertanya sedalam-dalamnya, jangan sungkan-sungkan, pada tahap ini. Biasanya pertanyaan-pertanyaan pun akan mengalir.

4.Menentukan waktu ta’aruf dengan keluarga akhwat
Setelah melakukan ta’aruf dan menggali pertanyaan-pertanyaan sedalam-dalamnya, dan pihak ikhwan merasakan adanya kecocokan visi dan misi dengan sang akhwat, maka ikhwan pun segera memutuskan untuk melakukan ta’aruf ke rumah akhwat, untuk berkenalan dengan keluarga besarnya. Ini pun sudah diketahui oleh Ustadz maupun Ustadzah dari kedua belah pihak. Jadi memang semua harus selalu dikomunikasikan, agar nantinya hasilnya juga baik. Jangan berjalan sendiri. Sebaiknya ketika datang bersilaturahim ke rumah akhwat, Ustadz pun mendampingi ikhwan sebagai rasa sayang seorang guru terhadap muridnya. Tetapi jika memang Ustadz sangat sibuk dan ada da’wah yang tidak bisa ditinggalkan, bisa saja ikhwan didampingi oleh teman pengajian lainnya. Namun ingat,ikhwan jangan datang seorang diri, untuk menghindarkan fitnah dan untuk membedakan dengan orang lain yang terkenal di masyarakat dengan istilah ’ngapel’ (pacaran).
Hendaknya waktu ideal untuk silaturahim ke rumah akhwat pada sore hari, biasanya lebih santai. Tapi bisa saja diatur oleh kedua pihak, kapan waktu yang paling tepat untuk silaturahim tersebut.

5.Keluarga Ikhwan pun boleh mengundang silaturahim akhwat ke rumahnya
Dalam hal menikah tanpa pacaran, adalah wajar jika orang tua ikhwan ingin mengenal calon menantunya (akhwat). Maka sah-sah saja, jika orang tua ikhwan ingin berkenalan dengan akhwat (calon menantunya). Sebaiknya ketika datang ke rumah ikhwan, akhwat pun tidak sendirian, untuk menghindari terjadinya fitnah. Dalam hal ini bisa saja akhwat ditemani Ustadzahnya ataupun teman pengajiannya sebagai tanda perhatian dan kasih sayang pada mutarabbi.

6.Menentukan Waktu Khitbah
Setelah terjadinya silaturahim kedua belah pihak, dan sudah ada kecocokan visi dan misi dari ikhwan dan akhwat juga dengan keluarga besanya, maka jangalah berlama-lama. Segeralah tentukan kapan waktu untuk mengkhitbah akhwat. Jarak waktu antara ta’aruf dengan khitbah, sebaiknya tidak terlalu lama, karena takut menimbulkan fitnah.

7.Tentukan waktu dan tempat pernikahan
Pada prinsipnya semua hari dan bulan dalam Islam adalah baik. Jadi hindarkanlah mencari tanggal dan bulan baik, karena takut jatuh ke arah syirik. Lakukan pernikahan sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW, yaitu sederhana, mengundang anak yatim, memisahkan antara tamu pria dan wanita, pengantin wanita tidak bertabarruj (berdandan),makanan dan minuman juga tidak berlebihan.

Semoga dengan menjalankan kiat-kiat ta’aruf secara Islami di atas, Insya Allah akan terbentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah...yang menjadi dambaan setiap keluarga muslim baik di dunia maupun di akhirat.

Teriring doaku yang tulus kepada ikhwah dan akhwat fillah yang akan melangsungkan pernikahan kuucapkan ”Baarokallahu laka wa baaroka ’alaika wajama’a bainakumaa fii khoirin..

Dan bagi sahabat-sahabatku yang belum menikah, teriring doa yang tulus dari hatiku, semoga Allah SWT memberikan jodoh yang terbaik untuk semua baik di dunia maupun di akhirat..Aamiin ya Robbal ’alamiin.

Sumber : Zahrina Nurbaiti Ketua Kewanitaan DPC PKS Pesanggrahan Jaksel.

Dikirim pada 15 November 2009 di keluarga

Teman-teman yang shalih dan shalihah, kugoreskan kembali sebuah kisah nyata dalam kehidupan kita sehari-hari, terutama untuk para aktivis da’wah yang telah memilih da’wah sebagai jalan hidupnya. Dengan memilih da’wah sebagai jalan hidup, tentu saja ada konsekuensi-konsekuensi yang harus kita ambil atau jalani manakala diri kita telah tersibghoh (tercelup) dengan nilai-nila Islam. Hal ini dapat kita lihat di dalam QS (2:208) yang artinya, “ Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh) dan janganlah ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu.

Salah satu konsekuensi yang harus kita ambil setelah memutuskan untuk berhijrah yaitu menikah tanpa melalui pacaran. Karena dalam Islam memang tidak ada konsep pacaran (lihat surat 17 : 32). Bagi seorang aktivis da’wah yang telah memutuskan untuk menikah tanpa melalui proses pacaran (dikenal dengan istilah ta’aruf secara Islami), kadang yang tergambar dibenak kita adalah seorang ikhwan yang akan menjadi pendamping hidup kita adalah seorang ikhwan yang benar-benar mengamalkan apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Ya keinginan yang wajar dan manusiawi jika kita ingin pasangan hidup kita shalih/shalihah, menjaga pandangan pada yang bukan muhrimnya, berusaha selalu membantu pekerjaan isteri, dan sebagainya.

Selama ini penulis sering mendapatkan pertanyaan seputar rumah tangga, suami dan keluarga. Kadang ada suami yang santai membaca koran, sedangkan isterinya sibuk memasak dan mengurus anak-anak, tanpa peduli untuk membantunya. Lalu bagaimanakah sikap kita terhadap pasangan hidup kita? Berikut adalah tips-tips bagaimana kita menyikapi pasangan hidup kita yaitu sebagai berikut :

1.Terimalah ia apa adanya

Pernikahan adalah menyatukan dua keluarga besar yang berbeda suku, kultur dan budaya serta pola asuh yang diterapkan pada masing-masing keluarga. Tentu saja tidak mudah merubah karakter yang telah melekat pada pasangan hidup kita. Namun Insya Allah dengan ikut tarbiyah, tentu saja perlahan-perlahan kita berusaha untuk menjadi pribadi yang kaffah.
Jangan pernah sekali-kali menbandingkan pasangan hidup kita dengan pasangan hidup teman kita. Yakinlah bahwa Allah pasti memberikan jodoh yang sekufu untuk kita. Bukankah Allah tidak pernah mengingkari janji-janji-NYA?

2.Pandai bersyukur atas anugerah suami yang shalih
Sebagai aktivis tentu saja, Alhamdulillah kita harus bersyukur pada Allah SWT, yang telah memberikan anugerah terindah dalam hidup kita yaitu seorang ikhwan yang sevisi dan semisi dalam mengarungi rumah tangga dan juga da’wah yang mulia ini. Coba kita bayangkan rumah tangga yang suaminya selingkuhlah, yang melakukan KDRT dalam rumah tanggalah, yang suami tidak shalatlah. Sementara Alhamdulillah, Allah anugerahkan pasangan hidup kita yang selalu tilawah, rajin datang liqo, aktif da’wah di masyarakat, mengerjakan yang sunnah-sunnah. Sementara rumah tangga lain, mungkin suaminya sering berkata-kata kasar? Sementara kita? Alhamdulillah, suami kita selalu berkata-kata lembut dan sangat menjaga perasaan kita, sebagai seorang isteri. Insya Allah karena suami kita memahami sebuah hadits yang mengatakan, “ Sebaik-baik pria adalah yang paling baik sikapnya terhadap keluarga.” Nikmat Allah mana lagi yang kita dustakan?

3.Saling menutup aib pasangan hidup kita
Sebagai aktivis, tentu saja kita juga manusia biasa yang tidak luput dari dosa dan kesalahan. Tetapi idealnya memang kesalahan para aktivis da’wah harus lebih sedikit dibandingkan yang lain. Bukankah kita selalu mengajak orang lain untuk menjadi lebih baik, kita harus lebih dahulu mengamalkan apa yang kita sampaikan/ceramahkan?
Sebaiknya dalam berumah tangga, aib pasangan hidup kita, harus kita tutupi, tidak perlu kita ceritakan pada orang lain, hatta pada adik dan kakak kita. Biarlah semua hanya suami dan isteri saja yang tahu akan aib pasangan hidup kita. Yakinlah di setiap kekurangan pasangan hidup kita, pasti Allah berikan banyak kelebihan pada dirinya..Bukankah setiap pasangan hidup merupakan pakaian bagi pasangan hidupnya?

4.Saling meningkatkan diri dan potensi pasangan hidup kita
Sebagaimana kita ketahui, ada beberapa gambaran rumah tangga, yaitu rumah tangga laba-laba, rumah tangga seperti rumah sakit, rumah tangga seperti rumah tangga pasar dan rumah tangga kuburan. Yang terbaik adalah rumah tangga seperti rumah tangga masjid. Di mana dalam rumah tangga tersebut tercipta suasana saling asih, asah dan asuh. Suami dan isteri pun harus meningkat dari sisi ketaqwaan, dari sisi pendidikan, dari sisi ekonomi, sehingga tercipta rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Suami tidak boleh membiarkan isteri untuk tidak berkembang, terutama dari sisi tsaqofah (pengetahuan). Jika memang ada rezeki, tidak salah jika isteri diizinkan untuk melanjutkan kuliah kembali, atau meneruskan kuliahnya kembali (karena keburu dikhitbah) ketika skripsinya misalnya. Insya Allah indah sekali manakala kita mampu memciptakan rumah tangga seperti rumah tangga masjid

Semoga dengan goresanku yang sederhana ini, Insya Allah mampu memberikan semangat dan motivasi untuk teman-teman FBku yang shalih dan shalihah untuk segera mewujudkan niat yang suci yaitu menggenapkan setengah diin, yakinlah menikah tidaklah serumit dan sekompleks apa yang dibayangkan sebagian orang. Justru dengan menikah Insya Allah kekuatan kontribusi da’wah akan semakin besar, karena di tengah lelahnya kita pulang berda’wah, sudah menanti pasangan hidup kita, yang siap kita berlabuh dan berbagi tentang suka duka kehidupan ini (tapi Insya Allah banyakan sukanya daripada dukanya).. Insya Allah untuk masalah rezeki, yakinlah apa yang kita berikan untuk pasangan hidup kita, akan menjadi tambahan amal shalih kita dan akan Allah cukupkan rezeki-NYA bagi yang ingin menggenapkan setengah diinnya.. Aamiin ya Robbal ‘Alamiin…Ana dan suami tunggu undangan berikutnya ya dari teman-teman FBku yang dirahmati dan dicintai Allah SWT..

sumber : zahrina Nurbaiti (www.baitijannati.wordpress.com)



Dikirim pada 15 November 2009 di keluarga

Ketika perpecahan keluarga menjadi tontonan yang ditunggu dalam sebuah episode infotainment setiap hari. Ketika aib seseorang ditunggu-tunggu ribuan mata bahkan jutaan dalam berita-berita media massa. Ketika seorang selebritis dengan bangga menjadikan kehamilannya di luar pernikahan yang sah sebagai ajang sensasi yang ditunggu-tunggu …’siapa calon bapak si jabang bayi?’ Ada khabar yang lebih menghebohkan, lagi-lagi seorang selebritis yang belum resmi berpisah dengan suaminya, tanpa rasa malu berlibur, berjalan bersama pria lain, dan dengan mudahnya mengolok-olok suaminya. Wuiih…mungkin kita bisa berkata, “ya wajarlah artis, kehidupannya ya seperti itu, penuh sensasi. Kalau perlu dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh publik.”

Wuiiih…ternyata sekarang bukan hanya artis yang bisa seperti itu, sadar atau tidak, ribuan orang sekarang sedang menikmati aktivitasnya apapun diketahui orang, dikomentarin orang bahkan mohon maaf …’dilecehkan’ orang, dan herannya perasaan yang didapat adalah kesenangan.

Fenomena itu bernama facebook…


Setiap saat para facebooker meng-update statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentarin lainnya. Lupa atau sengaja hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga, menjadi kebanggaan di statusnya. Lihat saja beberapa status facebook:

Seorang wanita menuliskan “Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya ngapain ya…?”–kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan perempuan, bahkan seorang lelaki temannya menuliskan “mau ditemanin? Dijamin puas deh…”

Seorang wanita lainnya menuliskan “Bangun tidur, badan sakit semua, biasa….habis malam jumat ya begini…” kemudian komen-komen nakal bermunculan…

Ada yang menulis “bete nih di rumah terus, mana misua jauh lagi…”, –kemudian komen-komen pelecehan bermunculan

Ada pula yang komen di wall temannya “ eeeh ini si anu ya …., yang dulu dekat dengan si itu khan? Aduuh dicariin tuh sama si itu…” –lupa kalau si anu sudah punya suami dan anak-anak yang manis

Yang laki-laki tidak kalah hebat menulis statusnya “habis minum jamu nih…, ada yang mau menerima tantangan?’ –langsung berpuluh-puluh komen datang

Ada yang hanya menuliskan, “lagi bokek, kagak punya duit…”

Ada juga yang nulis “ mau tidur nih, panas banget…bakal tidur pake dalaman lagi nih!”

Dan ribuan status-status yang numpang beken dan pengin ada komen-komen dari lainnya.

Hal itu, sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita, mata kita, telinga kita, bahkan pikiran kita.

Ada yang lebih kejam dari sekedar status facebook, dan herannya seakan hilang rasa empati dan sensitivitas dari tiap diri terhadap hal-hal yang semestinya ditutup dan tidak perlu ditampilkan.

Seorang wanita dengan nada guyon mengomentarin foto yang baru saja di-upload di albumnya, foto-foto saat SMA dulu setelah berolah raga memakai kaos dan celana pendek…padahal sebagian besar yang di dalam foto tersebut sudah berjilbab

Ada seorang karyawati meng-upload foto temannya yang sekarang sudah berubah dari kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan islami, foto saat dulu jahiliyah bersama teman-teman prianya bergandengan dengan ceria.

Ada pula seorang pria meng-upload foto seorang wanita mantan kekasihnya dulu yang sedang dalam kondisi sangat seronok padahal kini sang wanita telah berkeluarga dan hidup dengan tenang

Rasanya hilang apa yang diajarkan seseorang yang sangat dicintai Allah, yaitu Muhammad SAW, Rasulullah kepada umatnya. Seseorang yang sangat menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya. Ingatkah ketika Rasulullah bertanya pada Aisyah r.ha, “ Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi ini?” maka Istri tercinta, sang humairah, sang pipi merah Aisyah menjawab “ Rasul, kekasih hatiku, sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi ini”. Rasul dengan senyum teduhnya berkata “baiklah Aisyah, aku berpuasa hari ini”. Tidak perlu orang tahu bahwa tidak ada makanan di rumah rasulullah.

Ingatlah Abdurahman bin Auf r.a mengikuti Rasulullah berhijrah dari mekah ke madinah, ketika saudaranya menawarkannya sebagian hartanya, dan sebagian rumahnya, maka abdurahman bin auf mengatakan, tunjukan saja saya pasar. Kekurangannya tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan hidupnya. Bahwasanya kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan seseorang, sebagaimana Rasulullah, bersabda, “Malu itu sebahagian dari iman”. (Bukhari dan Muslim).

Dan fenomena di atas menjadi Tanda Besar buat kita umat Islam, hegemoni ‘kesenangan semu’ dan dibungkus dengan ‘persahabatan fatamorgana’ ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang melindas semua tata krama tentang Malu, tentang menjaga Kehormatan Diri dan keluarga. Dan Rasulullah SAW menegaskan dengan sindiran keras kepada kita, “Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu mau.” (Bukhari).

Arogansi kesenangan semakin menjadi-jadi dengan tanpa merasa bersalah mengungkit kembali aib-aib masa lalu melalui foto-foto yang tidak bermartabat yang semestinya dibuang saja atau disimpan rapat.

Bagi mereka para wanita yang menemukan jati dirinya, dibukakan cahayanya oleh Allah sehingga saat di masa lalu jauh dari Allah kemudian ter-inqilabiyah, ter-shibghoh, (tercelup dan terwarnai cahaya ilahiyah), hatinya teriris melihat masa lalunya dibuka dengan penuh senyuman, oleh orang yang mengaku sebagai teman, sebagai sahabat.

Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib masa lalu, mudah-mudahan Allah menjaga aib-aib kita.

Maka jagalah kehormatan diri kita, simpan rapat keluh kesah kita, simpan rapat aib-aib diri, jangan bebaskan ‘kesenangan’, ‘gurauan’ membuat Iffah kita luntur tak berbekas.

Sumber:
http://hikmah32.wordpress.com/2009/10/19/di-balik-fenomena-facebook/#more-85

Dikirim pada 14 November 2009 di muhasabah

Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anh, dia berkata : bahwa Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Alloh yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.

[Bukhari no. 3208, Muslim no. 2643]



Kalimat, “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya ” maksudnya yaitu Air mani yang memancar kedalam rahim, lalu Allah pertemukan dalam rahim tersebut selama 40 hari. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa dia menafsirkan kalimat diatas dengan menyatakan, “Nutfah yang memancar kedalam rahim bila Allah menghendaki untuk dijadikan seorang manusia, maka nutfah tersebut mengalir pada seluruh pembuluh darah perempuan sampai kepada kuku dan rambut kepalanya, kemudian tinggal selama 40 hari, lalu berubah menjadi darah yang tinggal didalam rahim. Itulah yang dimaksud dengan Allah mengumpulkannya” Setelah 40 hari Nutfah menjadi ‘Alaqah (segumpal darah)

Kalimat, “kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya” yaitu Malaikat yang mengurus rahim

Kalimat “Sesungguhnya ada seseorang diantara kamu melakukan amalan ahli surga……..” secara tersurat menunjukkan bahwa orang tersebut melakukan amalan yang benar dan amal itu mendekatkan pelakunya ke surga sehingga dia hampir dapat masuk ke surga kurang satu hasta. Ia ternyata terhalang untuk memasukinya karena taqdir yang telah ditetapkan bagi dirinya di akhir masa hayatnya dengan melakukan perbuatan ahli neraka. Dengan demikian, perhitungan semua amal baik itu tergantung pada apa yang telah dilakukannya. Akan tetapi, bila ternyata pada akhirnya tertutup dengan amal buruk, maka seperti yang dikatakan pada sebuah hadits: “Segala amal perbuatan itu perhitungannya tergantung pada amal terakhirnya.” Maksudnya, menurut kami hanya menyangkut orang-orang tertentu dan keadaan tertentu. Adapun hadits yang disebut oleh Imam Muslim dalam Kitabul Iman dari kitab shahihnya bahwa Rasulullah berkata: ” Seseorang melakukan amalan ahli surga dalam pandangan manusia, tetapi sebenarnya dia adalah ahli neraka.” Menunjukkan bahwa perbuatan yang dilakukannya semata-mata untuk mendapatkan pujian/popularitas. Yang perlu diperhatikan adalah niat pelakunya bukan perbuatan lahiriyahnya, orang yang selamat dari riya’ semata-mata karena karunia dan rahmat Allah Ta’ala.

Kalimat ” maka demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya ada seseorang diantara kamu melakukan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. ” Maksudnya bahwa, hal semacam ini bisa saja terjadi namun sangat jarang dan bukan merupakan hal yang umum. Karena kemurahan, keluasan dan rahmat Allah kepada manusia. Yang banyak terjadi manusia yang tidak baik berubah menjadi baik dan jarang orang baik menjadi tidak baik.

Firman Allah, “Rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku” menunjukkan adanya kepastian taqdir sebagaimana pendirian ahlussunnah bahwa segala kejadian berlangsung dengan ketetapan Allah dan taqdir-Nya, dalam hal keburukan dan kebaikan juga dalam hal bermanfaat dan berbahaya. Firman Allah, QS. Al-Anbiya’ : 23, “Dan Dia tidak dimintai tanggung jawab atas segala tindakan-Nya tetapi mereka akan dimintai tanggung jawab” menyatakan bahwa kekuasaan Allah tidak tertandingi dan Dia melakukan apa saja yang dikehendaki dengan kekuasaa-Nya itu.

Imam Sam’ani berkata : “Cara untuk dapat memahami pengertian semacam ini adalah dengan menggabungkan apa yang tersebut dalam Al Qur’an dan Sunnah, bukan semata-mata dengan qiyas dan akal. Barang siapa yang menyimpang dari cara ini dalam memahami pengertian di atas, maka dia akan sesat dan berada dalam kebingungan, dia tidak akan memperoleh kepuasan hati dan ketentraman. Hal ini karena taqdir merupakan salah satu rahasia Allah yang tertutup untuk diketahui oleh manusia dengan akal ataupun pengetahuannya. Kita wajib mengikuti saja apa yang telah dijelaskan kepada kita tanpa boleh mempersoalkannya. Allah telah menutup makhluk dari kemampuan mengetahui taqdir, karena itu para malaikat dan para nabi sekalipun tidak ada yang mengetahuinya”.

Ada pendapat yang mengatakan : “Rahasia taqdir akan diketahui oleh makhluk ketika mereka menjadi penghuni surga, tetapi sebelumnya tidak dapat diketahui”.

Beberapa Hadits telah menetapkan larangan kepada seseorang yang tdak mau melakukan sesuatu amal dengan alasan telah ditetapkan taqdirnya. Bahkan, semua amal dan perintah yang tersebut dalam syari’at harus dikerjakan. Setiap orang akan diberi jalan yang mudah menuju kepada taqdir yang telah ditetapkan untuk dirinya. Orang yang ditaqdirkan masuk golongan yang beruntung maka ia akan mudah melakukan perbuatan-perbuatan golongan yang beruntung sebaliknya orang-orang yang ditaqdirkan masuk golongan yang celaka maka ia akan mudah melakukan perbuatan-perbuatan golongan celaka sebagaimana tersebut dalam Firman Allah :
“Maka Kami akan mudahkan dia untuk memperoleh keberuntungan”.
(QS. Al Lail :7)

“Kemudian Kami akan mudahkan dia untuk memperoleh kesusahan”.
(QS.Al Lail :10)

Para ulama berkata : “Al Qur’an, lembaran, dan penanya, semuanya wajib diimani begitu saja, tanpa mempersoalkan corak dan sifat dari benda-benda tersebut, karena hanya Allah yang mengetahui”.

Allah berfirman : “Manusia tidak sedikit pun mengetahui ilmu Allah, kecuali yang Allah kehendaki”.(QS. Al Baqarah : 255)

sumber:murobbisukses.com

Dikirim pada 13 November 2009 di muhasabah




Latar belakang
1. Apabila kita gagal dalam persiapan maka kita telah mempersiapkan kegagalan.
2. Memilih belanjaan di warung tidak sama dengan memilih pasangan
3. Banyaknya keinginan
4. Idealis terbentur realis

Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Hal itu dikenal dalam Islam yang namanya ’kufu’ ( layak dan serasi ), dan seorang wali nikah berhak memilihkan jodoh untuk putrinya seseorang yang sekufu, meski makna kufu paling umum dikalangan para ulama adalah seagama.

Namun makna-makna yang lain seperti kecocokan, juga merupakan makna yang tidak bisa dinafikan, dengan demikian PROSES MEMILIH ITU TERJADI PADA PIHAK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN. Disisi lain bahwa memilih pasangan hidup dengan mempertimbangkan berbagai sisinya, asalkan pada pertimbangan-pertimbangan yang wajar serta Islami, merupakan keniscayaan hidup dan representasi kebebasan dari Allah yang Dia karuniakan kepada setiap manusia, termasuk dalam memilih suami atau istri. Aisyah Ra berkata, "Pernikahan hakikatnya adalah penghambaan, maka hendaknya dia melihat dimanakah kehormatannya akan diletakkan"

Rasulullah pun bersabda, "Barang siapa yang menjodohkan kehormatannya dengan orang yang fasik maka dia telah memutus rahimnya" (HR Ibnu Hibban). Nabi juga pernah memberikan pertimbangan kepada seorang sahabiyah yang datang kepadanya seraya minta pertimbangan atas dua orang yang akan melamarnya, lalu Nabi menjawab, "Adapun Muawiyah bin Abi sufyan dia sangat ringan tangan (alias gampang memukul), adapun yang lainnya adalah orang yang fakir tidak memiliki harta yang banyak." Lalu Nabi menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah.

Dan untuk memantapkan pilihan, terutama dari berbagai alternatif sebaiknya melakukan shalat istikhorah baik di tengah malam maupun di awalnya, dan lakukan secara berkali-kali. Jika telah dilakukan berkali-kali maka KEMANTAPAN YANG ADA ITULAH YANG INSYA ALLAH MERUPAKAN PETUNJUK-NYA, DAN ITULAH YANG LEBIH DIIKUTI. Tetapi perlu diingat, bahwa informasi yang dominan pada diri seseorang sering yang lebih berpengaruh terhadap istikhorah, oleh karena itu perlu dilakukan berkali-kali. Dan untuk membedakan apakah itu keputusan yang dominan adalah selera semata atau dominasi istikharah agak sulit, kecuali dengan berkali-kali, sekalipun salah satu tanda bahwa itu adalah petunjuk dari Allah adalah dimudahkannya urusan tersebut, tetapi hal tersebut bukan satu-satunya alamat yang mutlak.

Juga apabila persoalan apakah diri kita jual mahal atau tidak tergantung pada niat dan representasinya, karena itu Rasulullah menegaskan, "Sesungguhnya segala pekerjaan membutuhkan niat dan pekerjaan seseorang sangat dipengaruhi oleh niat. Barang siapa yang niatnya kepada Allah maka dia (dalam representasinya) akan sesuai dengan Allah dan Rasulnya, dan barang siapa yang niatnya kepada dunia atau wanita maka (representasinya) akan sesuai apa yang diniatkan" (Muttafaq alaih).

Untuk menghindarkan tuduhan itu maka buktikan dalam representasi kita sehari-hari, sebagai contoh bahwa tuduhan itu akan benar jika memang salah satu kebiasaan kita adalah chatting dengan teman-teman baru yang notabenenya lebih banyak para laki-laki untuk seorang perempuan, dan sebaliknya, berbeda misalnya kalau teman yang kita ajak chatting adalah para wanita atau dalam bahasa yang digunakan bersifat umum, tidak ada yang rahasia sehingga tidak khawatir kalau harus dibaca orang. Ini hanya sekelumit contoh yang barangkali kurang tepat untuk yang bingung memilih pasangannya. Tapi ada hal yang cukup penting untuk diketahui bahwa UNTUK MENGENAL SESEORANG TENTU TIDAK CUKUP DENGAN BERKOMUNIKASI SESAAT.

Pernah suatu hari Sahabat Umar bin al-Khattab mendengar seseorang memuji orang lain hingga Umar agak merasa keheranan lalu Umar bertanya, "Apakah kamu pernah bepergian dengannya?" Jawab orang tadi, "Belum." "Apakah kamu pernah bertransaksi dengannya?" Jawab orang tadi, "Belum." "Apakah kamu pernah bertetangga dengannya?" Jawab orang tadi, "Belum." "Apakah kamu pernah melihatnya dia melakukan shalat?" Jawab orang tersebut, "Ya, aku melihat dia rajin shalat, menunaikannya sesuai dengan waktunya." Lalu kata Umar, "Kalau begitu anda belum kenal dengan baik orang tersebut." Tetapi untuk mengenali tiga poin pertama dari empat poin tersebut bisa dilakukan dengan cara MENANYAKAN ORANG YANG PALING DEKAT DENGANNYA, DAN YANG DAPAT DIPERCAYA.

Adapun bila kita dihadapkan suatu pilihan lebih dari satu, tentu sewajarnya seorang akan memilih yang terbaik baginya, meskipun PILIHAN TERBAIK BAGINYA TIDAK SELALU IDENTIK DENGAN PILIHAN YANG TERBAIK BAGI UMUM, KARENA SESEORANG TENTU MEMILIKI PERTIMBANGAN YANG SANGAT KHUSUS YANG TIDAK DIMILIKI ORANG LAIN.

Dari uraian diatas, kebingungan untuk memilih pasangan hidup dapat diatasi dengan beberapa tips berikut ini,
pilihlah karena agamanya,
kenali dengan cara menanyakan kepada orang yang paling dekat dengannya dan dapat kita percaya,
letakkan niat pada tempat yang benar, karena segala perbuatan membutuhkan dan sangat dipengaruhi niat,
sholat istikhorah untuk mohon petunjuk kepada Allah juga patut dilakukan,
apabila semua ini telah dilakukan, maka pasrahkan diri kepada Allah SWT akan keputusan-Nya, jangan keluh kesah, karena itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah,
dan terakhir, jangan bosan untuk berbekal ilmu pernikahan :), karena berbekal ilmu adalah lebih baik daripada tidak membekali diri pada saat masuk ke dunia yang baru.

Masalah jodoh hanya Allah yang tahu, siapa pasangan kita sebenarnya, itulah rahasia Allah. Kita hanya diminta untuk berusaha, dan Allah-lah penentunya, terkadang Dia menentukan pilihan-Nya itu diluar dugaan dan rasio kita sebagai seorang manusia, tapi itulah ketentuan Allah. Jika memang harus menerima kenyataan di luar kehendak kita, maka ingatlah untuk tidak sembarangan memberikan cinta kepada siapapun, karena kadar cinta kita kepada Allah harus lebih tinggi dari itu semua. Yang terbaik menurut Allah, itulah yang paling utama.

Selamat berjuang akhi, selamat berjuang ukhti..., mulailah dengan bismillah dan niat yang benar, insya Allah, ridho-Nya akan selalu menghampiri, dan semoga Allah selalu memudahkan urusan antum.

Wallahu alam bi showab,

~Dikutip dgn pengubahan~



sumber : http://vyoansyah.multiply.com/

Dikirim pada 12 November 2009 di keluarga

Cinta itu indah. Karena ia bekerja dalam ruang kehidupan yang luas. Dan inti pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang kita cintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.

Para pencinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka : memberi. Terus menerus memberi. Dan selamanya begitu. Menerima? Mungkin, atau bisa juga jadi pasti! Tapi itu efek. Hanya efek. Efek dari apa yang mereka berikan. Seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebajikan yang sama. Sebab, adalah hakikat di alam kebajikan bahwa setiap satu kebajikan yang kita lakukan selalu mengajak saudara-saudara kebajikan yang lain untuk dilakukan juga.

Itu juga yang membedakan para pecinta sejati dengan para pencinta palsu. Kalau kamu mencinta seseorang dengan tulus, ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kamu berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Maka kamu adalah air. Maka kamu adalah matahari. la tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. la besar dan berbuah dari sinar cahayamu.

Para pencinta sejati tidak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan mencinta seseorang, mereka segera membuat rencana memberi. Setelah itu mereka bekerja dalam diam dan sunyi untuk mewujudkan rencana-rencana mereka. Setiap satu rencana memberi terealisasi, setiap itu satu bibit cinta muncul bersemi dalam hati orang yang dicintai. Janji menerbitkan harapan. Tapi pemberian melahirkan kepercayaan.

Bukan hanya itu. Rencana memberi yang terus terealisasi menciptakan ketergantungan. Seperti, pohon tergantung dari siraman air dan cahaya matahari. Itu ketergantungan produktif. Ketergantungan yang menghidupkan. Di garis hakikat ini, cinta adalah cerita tentang seni menghidupkan hidup. Mereka menciptakan kehidupan bagi orang-orang hidup. Karena itu kehidupan yang mereka bangun seringkali tidak disadari oleh orang-orang yang menikmatinya. Tapi begitu sang pemberi pergi, mereka segera merasakan kehilangan yang menyayat hati. Tiba-tiba ada ruang besar yang kosong tak berpenghuni. Tiba-tiba ada kehidupan yang hilang tak berpenghuni. Tiba-tiba ada kehidupan yang hilang.

Barangkali suatu saat kamu tergoda untuk menguji dirimu sendiri. Apakah kamu seorang pencinta sejati atau pencinta palsu. Caranya sederhana. Simak dulu pesan Umar bin Khattab ini: hanya ada satu dari dua perasaan yang mungkin dirasakan oleh setiap orang pada saat pasangan hidupnya wafat : merasa bebas dari beban hidup atau merasa kehilangan tempat bergantung.

Sekarang bertanyalah pada pasangan hidup Anda tanpa dia ketahui. Jika aku mati sekarang, apakah kamu akan merasa bebas dari sebuah beban atau akan merasa kehilangan tempat bergantung? Kalau dia merasa kehilangan, maka dilangit hatinya akan ada mendung pekat yang mungkin menurunkan hujan air mata yang amat deras. Jika tidak, mungkin senyumnya merekah sambil berharap bahwa kepergianmu akan memberinya kesempatan baru untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Oleh : Ust. Anis Matta

Dikirim pada 09 November 2009 di keluarga

”Bukan daging-daging unta dan darahnya itu yang dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…” (Al-Hajj: 37)
Maha Agung Allah yang Menciptakan kehidupan dengan segala kelengkapannya. Ada kelengkapan pokok, ada juga yang cuma hiasan. Sayangnya, tak sedikit manusia yang terkungkung pada jeratan kelengkapan aksesoris.

Berkurbanlah, Anda akan menjadi yang paling kaya

Logika sederhana manusia kerap mengatakan kalau memberi berarti terkurangi. Seseorang yang sebelumnya punya lima mangga misalnya, akan berkurang jika ia memberikan dua mangga ke orang lain. Logika inilah yang akhirnya menghalangi orang untuk berkurban.

Jika bukan karena iman yang dalam, logika ini akan terus bercokol dalam hati. Ia akan terus menenggelamkan manusia dalam kehidupan yang sempit, hingga ajal menjemput. Sulit menerjemahkan sebuah pemberian sebagai keuntungan. Sebaliknya, pemberian dan pengorbanan adalah sama dengan pengurangan.

Rasulullah saw. mengajarkan logika yang berbeda. Beliau saw. mengikis sifat-sifat kemanusiaan yang cinta kebendaan menjadi sifat mulia yang cinta pahala. Semakin banyak memberi, orang akan semakin kaya. Karena kaya bukan pada jumlah harta, tapi pada ketinggian mutu jiwa.

Rasulullah saw. mengatakan, “Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta benda. Tetapi, kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati).” (HR. Abu Ya’la)

Berkurbanlah, Anda akan menjadi orang sukses

Sukses dalam hidup adalah impian tiap orang. Tak seorang pun yang ingin hidup susah: rezeki menjadi sempit, kesehatan menjadi langka, dan ketenangan cuma dalam angan-angan. Hidup seperti siksaan yang tak kunjung usai. Semua langkah seperti selalu menuju kegagalan. Buntu.

Namun, tak sedikit yang cuma berputar-putar pada jalan yang salah. Padahal, rumus jalan bahagia sangat sederhana. Di antaranya, kikis segala sifat kikir, Anda akan menemukan jalan hidup yang serba mudah.

Allah swt. berfirman, “Ada pun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan ada pun yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (Al-Lail: 5-10)

Kalau jalan hidup menjadi begitu mudah, semua halangan akan terasa ringan. Inilah pertanda kesuksesan hidup seseorang. Semua yang dicita-citakan menjadi kenyataan. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “…dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang sukses.” (Al-Hasyr: 9)

Berkurbanlah, Anda akan sangat dekat dengan Yang Maha Sayang

Sebenarnya, Allah sangat dekat dengan hamba-hambaNya melebihi dekatnya sang hamba dengan urat lehernya. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (Qaaf: 16)

Namun, ketika ada hijab atau dinding, yang dekat menjadi terasa sangat jauh. Karena hijab, sesuatu menjadi tak terlihat, tak terdengar, bahkan tak terasa sama sekali. Dan salah satu hijab yang kerap menghalangi kedekatan seorang hamba dengan Penciptanya adalah kecintaan pada harta.

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk tidak berharta. Atau, menjadi miskin dulu agar bisa dekat dengan Allah swt. Tentu bukan itu. Tapi, bagaimana meletakkan harta atau fasilitas hidup lain cuma di tangan saja. Bukan tertanam dalam hati. Dengan kata lain, harta cuma sebagai sarana. Bukan tujuan.

Karena itu, perlu pembiasaan-pembiasaan agar jiwa tetap terdidik. Dan salah satu pembiasaan itu adalah dengan melakukan kurban. Karena dari segi bahasa saja, kurban berasal dari kata qoroba-yaqrobu-qurbanan artinya pendekatan. Berkurban adalah upaya seorang hamba Allah untuk mengikis hijab-hijab yang menghalangi kedekatannya dengan Yang Maha Sayang.

Berkurbanlah, Anda akan menjadi yang paling dicintai

Setiap cinta butuh pengorbanan. Kalau ada orang yang ingin dicintai orang lain tanpa memberikan pengorbanan, sebenarnya ia sedang memperlihatkan cinta palsu. Cinta ini tidak pernah abadi. Cuma bergantung pada sebuah kepentingan sementara.

Allah swt. Maha Tahu atas isi hati hamba-hambaNya. Mana yang benar-benar mencintai, dan mana yang cuma main-main. Dan salah satu bentuk keseriusan seorang hamba Allah dalam mencari cinta Yang Maha Pencinta adalah dengan melakukan pengorbanan. Bisa berkorban dengan tenaga, pikiran, dan harta di jalan Allah. Dan sebenarnya, pengorbanan itu bukan untuk kepentingan Allah. Allah Maha Kaya. Justru, pengorbanan akan menjadi energi baru bagi si pelaku itu sendiri.

sumber :www.dakwatuna.com



Dikirim pada 08 November 2009 di muhasabah



Komandan Lapangan Ahli Strategi, Yasir Galban

[ 13/11/2007 - 07:41 ]



Yasir Galban merupakan sosok pemuda yang yakin akan janji Allah, seorang yang mukhlis, mujahid dan reformer. Ia telah mencapai keberhasilan dengan gemilang menggapai derajat syahid. Derajat tertingi setelah para nabi. Ditempatkan oleh Allah dalam surgaNya kekal di dalamnya.



Kelahiran dan pertumbuhanya

Al-Syahid Galban lahir pada tanggal 8 Oktober 1979. Hidup dalam keluarga yang taat agama, namun terlunta-lunta di daerah penngungsian. Nenek moyangnya berasal dari wilayah Kfar Ana wilayah jajahan Israel. Sejak kecil ia paling aktif dalam kegiatan keagamaan. ia juga terkenal ikhlas dalam setiap kegiatan. Wajahnya selalu cerah mengembang senyuman. Semua orang tentu menyukainya, teman-temanya, saudaranya dan lain sebagaianya. Yasir adalah putra terbaik Khanyunis. Salah satu kota pintu gerbang masuk Palestina yang kaya akan para pahlawanya. Ia sangat berbakti pada kedua orang tuanya, mencintai saudara dan temanya.



Pendidikanya

As-Syahid Galban mengecap pendidikan ibtidaiyah pada tahun 1985 di Madrasah Muan, lalu ke sekolah persiapan (SMP) di sekolah khusus laki-laki di Bani Suhaila. Tingkat tsanawiyahnya ia lenjutkan di Sekolah Kamal Nasher. Seleseai di Kamal Nasher ia melanjutkan di Universitas Islam fak. Syari’ah. Kuliahnya terhenti karena ditangkap serdadu Israeldan dipenjarakan selama satu tahun. Ia juga diincar oleh pembunuh bayaran pasukan penjaga keamanan di Khnayunis.



Karakter dan aktifitas dakwahnya

Sejak kecil, Galban terkenal senang melakukan aktifitas ibadah. Tempat yang paling senang ia kunjungi adalah Masjid Muin bin Zaid. Maka tak heran bila ia tumbh sebagai pemuda yang zuhud, taat ibadah dan wara. Ia tidak berbicara terhadap sesuatu kecuali bila ada nashnya dari Allah ataupun NabiNya. Ia memulai kegiatannya dengan menghapalkan al-Qur’an, menghadiri majelis ta’lim dan ibadah-ibadah lainya. Hatinya selalu terkait dengan masjid. Ia selalu menunaikan salat fardu di Masjid. Bagaimana tidak, ia seorang pionir da’wah di masjid tersebut. Ia lah penggerak hamper semua kepanitiaan masjid dimulai penggalangan dana hingga aksi social. Ia tidak membatasi hanya mengunjungi saudara-saudara dan kerabatnya saja. Bahkan ia sering mengunjungi para pemuda yang jarang atau tidap pernah kelihatan shalat atau ibadah. Yasir Galban adalah pemuda yang tidak pernah terlambat datang dalam semua kegiatan yang diadakan Gerakan Hamas. Ia selalu datang sambil membawa sejumlah pemuda lainya. Yang menjadi prioritas da’wahnya adalah mendidik genarasi muda dan mengarahkan mereka kepada jalan yang benar. Agar mereka bisa sampai pada kesuksesan. Yasir menganggap dirinya bertanggung jawab tentang maju mundurnya pemuda di kampungnya. Ia dikaruniai sipat kepemimpinan dan keberanian juga kecintaanya terhadap Kitab Allah, Al-Qur’an sebagai rujukan utamanya dalam mengarahkan para pemuda, agar menjadi genarasi Qur’ani. Ia sennatiasa mennyapa dahulu teman-temanya sebelum ia beranjak ke peraduan. Menurut adiknya, Yasir adalah pemuda yang menggapai derajat syahid yang tidak kenal lelah maupun bosan. Ia selalu menasehati dan membimbing teman-temanya. Ia bersipat penyayang pada teman-temanya, namun sangat keras pada musuh-musuh Allah dan musuh ummat manusian.



Bergabung Dengan Brigade Al-Qossam

Yasir Galban bergabung dengan Barisan Izzuddin al-Qossam ketika terjadinya Intifadhah al-Aqsha. Ia telah memilih jalan yang penuh lubang dan berduri. Jalan yang ia tempuh dihiasi dengan kesulitan dan kepayahan. Ia termasuk sabiqunal awwalun Al-Qossam, karena sipat-sipatnya yang sitimewa, sepetri kebaranian dan keteguhanya serta kemampuanya dalam perenencanaan gerakan. Sering kali ia menempuh perjalanan untuk menanam ranjau darat bagi kendaraan-kendaraan tempur Israel. Ia adalah singa di padang pasir. Dirinya tidak takut pada siapa pun kecuali pada Allah. Yang menjadi menjadi prioritasnya adalah keikhlasan, kepiawaian dan kelincahan. Ia juga terkenal sebagai perancang perjuangan Al-Qossam dan aktif di dinas militer Brigade Al-Qossam.



ุจูŠุงู†ูƒุชุงุฆุจ ุงู„ู‚ุณุงู…







{ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุฑูุฌูŽุงู„ูŒ ุตูŽุฏูŽู‚ููˆุง ู…ูŽุง ุนูŽุงู‡ูŽุฏููˆุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ููŽู…ูู†ู’ู‡ูู… ู…ูŽู‘ู† ู‚ูŽุถูŽู‰ ู†ูŽุญู’ุจูŽู‡ู ูˆูŽู…ูู†ู’ู‡ูู… ู…ูŽู‘ู† ูŠูŽู†ุชูŽุธูุฑู ูˆูŽู…ูŽุง ุจูŽุฏูŽู‘ู„ููˆุง ุชูŽุจู’ุฏููŠู„ุงู‹ }

Surat Keterangan Militer dari

Brigade Izzuddin Al-Qossam

Tentang Syahidnya Komandan Al-Qossam, Yasir Galban





Wahai para mujahid Palestina, wahai bangsa Arab dan ummat islam.

Dengan melalui jalan yang penuh duri bersama para kafilah da’wah, telah berpulang ke Rahmat Allah mendahului kita menyusul para pendahulunya yang telah lebih dulu mempersembahkan jiwa dan raganya dalam menolong agama Allah dan mempertahankan tanah suci Alquds serta melawan kezaliman dan mengusir musuh-musuh Allah dari Palestina. Mereka mendabakan syuhada dalam memerangi yahudi yang terus maju pantang mundur. Tentu sedikitpun tidak ada masalah, walau berbagai fitnah, ataupun luka dari siapapun.

Hari ini, al-Syahid Yasir Galban telah menghadap Allah dengan luka-luka akibat pertempuranya dengan pasukan penjaga keamanan pimpinan Abbas. . Hari ini tanggal 04 Juni 2006 komandan Al-Qossam telah mengakhiri tugas mulianya di dunia dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil dan dua anaknya yang masih kecil. Dialah komandan lapangan :

Yasir Ibrahim Al-Galban (26 tahun)

Warga Khanyunis

Kami atas nama Brigade Al-Qossam dengan ini menegaskan tidak akan mengizinkan siapapun menyentuh para mujahid kami. Kami berjanji akan terus melanjutkan perjuangan mengikuti jejak para pendahulu kita hingga mendapatkan dua kebaikan, kemenangan atau mati syahid.

Hanya ada Jihad dan menang atau mati sayahid

Brigade Izzudin al-Qossam

Jum’at 20 Jumadil Ula 1927 H.

16 Juni 2006

sumber : www.infopalestina.com

Dikirim pada 06 November 2009 di Dunia Islam

Akar dari semua tindakan, perilaku, kebiasaan dam karakter kita adalah lintasan pikiran yang bertebaran dalam benak. Lintasan pikiran itu menyerbu benak kita, maka ia berkemabang menjadi memori, dan memori itu secara perlahan berkembang menjadi ide, atau gagasan, atau pikiran.

Pikiran itu selanjutnya menukik lebih jauh dalam diri kita, dalam wilayah emosi, dan membentuk keyakinan. Maka, keyakinan berkembang menjadi kemauan, dan secara perlahan, kemauan berkembang menjadi tekad. Begitu ia menjadi tekad, pikiran itu telah memperoleh energi atau tenaga agar ia terwujud dalam kenyataan.

Setelah itu tekad menjalar ke dalam tubuh dan menggerakannya. Maka, lahirlah tindakan. Bila tindakan itu dilakukan berulang-ulang, maka terbentuklah kebiasaan, dan bila kebiasaan itu berlangsung dalam waktu lama, terbentuklah karakter.

Jadi, tindakan adalah output, sedangkan input-nya adalah pikiran.

Dalam diri kita, pikiran-pikiran itu mengalami proses pengelolaan yang rumit. Kita mempunyai pusat penyimpanan informasi yang bernama otak, yang meyerap informasi melalui proses penginderaan dan penalaran, untuk kemudian (berbagai informasi yang masuk) dikelola oleh akal. Di mana di sana terjadi proses pembenaran dan penyalahan, penerimaan dan penolakan, serta keyakinan dan keraguan. Secara sikuensial, kita mengalami proses memahami, memilih, memutuskan dan melakukan.

Seperti mekanisme kerja komputer, otak adalah tempat penyimpanan informasi (hardisk), sedangkan akal adalah instrumen pengelola informasi (prosessor). Output internalnya adalah kesadaran dan output ekternalnya adalah tindakan. Akal menentukan pilihan atas tindakan-tindakan yang secara sadar kita lakukan. Demikianlah, kita menyaksikan bagaimana kepribadian kita dibentuk dari sana: dari pikiran-pikiran kita.

SEKALI LAGI TENTANG LINTASAN PIKIRAN

Kita harus mendeteksi lintasan pikiran kita, sebab itulah benih dari setiap gagasan yang berkembang dalam benak kita. Kebaikan dan keburukan selalu bermula dari sana. (Di titik ini pula) setan memasuki manusia (yakni) dari pintu lintasan pikirannya. Jika kita tidak dapat mencegah lintasan-lintasan pikiran yang buruk, maka kita juga tidak akan dapat mencegah munculnya tindakan-tindakan yang buruk. Maka, berhati-hatilah terhadap semua lintasan pikiran kita.

Lintasan pikiran tidak bisa dimatikan. Ia menyerbu manusia dengan ribuan lintasan pikiran setiap saat, dan serbuannya begitu dahsyat. Yang dapat kita lakukan adalah mengalihkannya dan menggantikannya dengan lintasan-lintasan yang baik. Maka, kita harus belajar untuk memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu kita pikirkan.

Kita harus dapat menjamin bahwa semua yang kita pikirkan adalah sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan, yaitu dengan cara mengontrol semua informasi yang terserap dalam benak kita melalui panca indera, khususnya penglihatan dan pendengaran. Sebab, Allah SWT telah berfirman, “...sesungguhnya semua pendengaran, penglihatan dan akal akan dimintai pertanggung jawaban (di hari akhirat),” (QS. Al Isra: 36). Karenanya seleksilah apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar.

Demikianlah, kualitas pikiran-pikiran kita akan membentuk kualitas kepribadian kita, dan kualitas kepribadian kita akan membentuk kualitas kehidupan kita.

Dari buku Anis Matta, “Delapan Mata Air Kecemerlangan”

Dikirim pada 01 November 2009 di Motivasi
30 Okt

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Dia duduk dan mengamati selama beberapa jam kupu-kupu dalam kepompong itu ketika dia berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian sang kupu-kupu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh yang gembung dan kecil, serta sayap-sayap yang mengerut. Orang tersebut terus mengamatinya, karena dia berharap bahwa pada suatu saat, sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya. Sayang, semuanya tak pernah terjadi.

Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil tersebut adalah cara Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya. Sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang, perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin malah melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.

Saya memohon kekuatan, dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.

Saya memohon kebijakan, dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.

Saya memohon kemakmuran, dan Tuhan memberi saya otak dan tenaga untuk bekerja.

Saya memohon keteguhan hati, dan Tuhan memberi saya bahaya untuk diatasi.

Saya memohon cinta, dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong.

Saya memohon kemurahan/kebaikan hati, dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan.

Saya tidak memperoleh yang saya inginkan, saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.



---------------
(diambil dari malajah ๏ฟฝParas’ No.20/Tahun II Mei 2005)

Dikirim pada 30 Oktober 2009 di Motivasi

hanya pengingat untuk diri ini...semoga bisa tetep istiqomah di jalan-Nya...(amiiin)


"Akh, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam da๏ฟฝwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh."Begitu keluh kesah seorang mad๏ฟฝu kepada seorang murobbinya di suatu malam. Sang murobbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad๏ฟฝunya.

"lalu apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu ? " sahut sang murobbi setelah sesaat termenung. " Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan prilaku beberapa ikhwah yang justru tidak Islami. Juga dengan organisasi dakwah yang Ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, Ana mendingan sendiri saja." Jawab mad๏ฟฝu itu.

Sang murobbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman di wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal. " Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah sangat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?". Tanya sang murobbi dengan kiasan bermakna dalam. Sang mad๏ฟฝu terdiam dan berfikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat. " Apakah antum memilih untuk terjun kelaut dan berenang sampai tujuan?". Sang murobi mencoba memberi opsi. "Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasa kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba . tapi itu hanya sesaat.
Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan?. Bagaimana bila ikan hiu datang. Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimanan antum mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan dihadapan sang mad๏ฟฝu. Tak ayal, sang mad๏ฟฝu menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murobbi yang dihormati justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.

"Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah? " Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak dijalan, atau mencoba memperbaikinya? . Tanya sang murobbi lagi.

Sang mad๏ฟฝu tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkattangannya :"Cukup akhi, cukup. Ana sadar.. maafkan Ana…. ana akan tetap Istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapatkan medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan… " .

Biarlah yang lain dengan urusan pribadinya masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan menjadi pelebur dosa-dosa ana". Sang mad๏ฟฝu berazzam dihadapan sang murobbi yang semakin dihormatinya.

Sang murobbi tersenyum "Akhi, jama๏ฟฝah ini adalah jamaah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki . Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah." "Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta๏ฟฝala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka dimata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."

"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu , maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar. "Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da๏ฟฝi. kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah.

"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil.tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!" "Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada isyu atau gosip tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya. "

Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraaan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang mad๏ฟฝu bergegas mengambil wudhu untuk berqiyamu lail. Malam itu. Sang mad๏ฟฝu sibuk membangunkan mad๏ฟฝu yang lain dari asyik tidurnya. Malam itu sang mad๏ฟฝu menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama๏ฟฝah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya. Demikian yang kami harapkan dari antum sekalian…

Sumber:
http://haroqi. multiply. com/journal/ item/607/ Lebih_baik_ Keluar_dari_ Jamaah?replies_ read=2

Dikirim pada 29 Oktober 2009 di Dakwah

Sholat shubuh tak sempat ia lakukan di mushola dekat rumahnya. Ketika adzan menggema, yang menandakan pangggilan waktu shalat. Laki-laki itu harus sudah bergegas dengan motornya menuju pusat kota. Pergi ketika anak-anaknya masih tidur. Terkadang tak sempat berpamitan dengan istrinya, karena istrinya masih terlelap. Ia biasanya masih menyempatkan shalat shubuh di tengah jalan. Tapi, lebih banyak meninggalkan kewajiban shalat.

Sudah beberapa tahun ia tinggal di pinggiran kota. Tak mungkin lagi hidup dan tinggal di pusat kota. Rumahnya di gusur. Kemudian, ia dan keluarga pergi meninggalkan pusat kota, dan pergi ke pinggiran, yang agak jauh dengan pusat kota. Setiap hari ia harus pergi menempuh jarak yang jauh, menuju tempat ia bekerja. Setiap hari ia harus menghabiskan waktu, tak kurang dua jam atau tiga jam, agar ia dapat mencapai pusat kota. Terkadang lebih. Jika dihitung ia harus menghabiskan waktu enam jam, hanya untuk perjalanan dari rumah ke tempat bekerja. Proses kehidupan yang berat itu, terus ia jalani, tanpa henti. Tapi, ia tak sendirian yang memiliki nasib seperti dirinya itu, dan mungkin jumlah mereka sangat banyak, tak terhitung lagi. Orang-orang pinggiran kota, realitasnya memang mereka adalah pinggiran, bukan kelompok menengah secara ekonomi.

Terkadang manusia menghabiskan waktunya hanya mengejar kebutuhan hidup. Karena, eksistensi mereka tak dapat dipisahkan dengan bekerja. Mereka tak sendirian. Mereka memiliki anak, istri dan keluarga, yang menjadi bagian hidup mereka. Betapa, kehidupan manusia yang sudah dalam sistem, yang baku, dan tak mungkin lagi dapat lepas dari sistem itu. Kehidupan mereka menjadi sebuah rutinitas, yang tak putus-putus. Inilah yang menyebabkan manusia harus berkompromi. Inilah yang menyebabkan seseorang, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehidupan yang jauh dari Rabbnya. Inilah yang menyebabkan manusia tak lagi memikirkan antara dosa dan pahala. Mereka menjadi pragmatis. Mereka harus menyesuaikan dengan keadaan hanya sekedar mempetahankan kehidupan mereka yang sangat diperlukan.

Meskipun, tak sedikit manusia yang kelihatannya ringkih dan tak berdaya, tapi mereka memiliki tekad yang kuat, dan tak pernah menyerah dengan kehidupan,yang menistakan itu. Mereka jalani kehidupan dengan penuh semangat. Tak mau melepaskan janjinya, dan komitmennya yang teguh, dan terus menghamba kepada Rabbnya. Betapapun himpitan hidup menderanya. Ia tak mau melepaskan dirinya dari komitmennya terhadap ‘ad-dinul Islam’, yang menjadi jangkar kehidupannya. Keteguhannya mengalahkan segala penderitaan yang ia terima. Tak pernah berkeluh. Apalagi, berburuk sangka (berkhusnudzan) terhadap Allah Azza Wa Jalla. Ia dengan penuh ketulusan, dan menyakini semua perintah Rabbnya, dan yakin akan janji-Nya.

Maka, betapapun kondisi lingkungan atau bi’ahnya yang sudah tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini, tapi ia bersikukuh dengan jaza’ yang pasti aka diterimanya, ketika saat menghadap Rabbnya, bahwa segala kebaikan pasti akan mendapat belasan. Tak pernah terbersit oleh pengaruh duniawi, yang kadang-kadang melalaikannya. Ia tak mau berbuat maksiat yang dapat merusak kehidupannya, yang sudah ia jalani, dan hampair mencapai lebih setengah abad. Jika ia menderita, penderitaan itu pasti tak akan selamanya. Penderitaan itu akan berakhir dengan kematian. Bila, dirinya menjadi shabar, tak meninggalkan perintahnya, dan tidak meninggalkan perintah-Nya, pasti ia akan mendapatkan kemuliaan di sisi Rabbnya.

Laki-laki itu selalu ingat kisah Abu Darda’ yang menangis sendirian, justru kala umat Islam dapat menaklukan Cyprus, yang menjadi pusat kerajaan Romawi. Betapa waktu itu, kekuasaan berada di tangan, dan segala harta benda, serta segala bentuk kenikmatan dunia, sudah ada di tangan kaum muslimin. Tapi, kisah tentang Abu Darda’ tak pernah ia lupakan, dan terus tersimpan dalam dirinya. Ia pateri dalam-dalam di dadanya.

Kisahnya ketika itu, Abdurrahman bin Jubair, bercerita apa yang ia dengar dari ayahnya, Tatkala Cyprus (Romawi) diktaklukkan kaum muslimin, tiba-tiba mereka banyak yang menangis. Aku melihat Abu Darda’ menangis sendirian, aku bertanya kepadanya, ‘Wahai Abud Darda’ apa yang membuat menangis di hari Allah Azza Wa Jalla memuliakan Islam dan pemeluknya?’. Ia berkata, ‘Celaka kamu wahai Jubair. Betapa hinanya makhluk disisi Allah Ta’ala, jika mereka mengabaikan perintah-Nya.Kamu tahu mereka sebelumnya adalah umat yang kuat dan pemenang, akan tetapi karena mereka meninggalkan perintah Allah, maka kamu lihat seperti apa mereka sekarang? ‘

Betapa, banyak umat yang lalai, ketika datang kenikmatan yang diberikan oleh Allah Ta’ala, mereka menjadi tidak shabar, lalai, dan meninggalkan ajaran-ajaran-Nya, serta berbuat maksiat dan durhaka. Kenikmatan, yang sangat sedikit dibandingkan dengan nikmat yang diberikan oleh Allah Azza Wa Jalla, kelak di surga, sebagai balasan atas keimanannya, justru diabaikan, dan memilih kenikmatan di dunia, yang sangat hina.

Kemudian, banyak manusia yang melampaui batas, dan lebih rela mengejar dunia. Bahkan, Abud Darda’ menegaskan : “Beribadalah kalian kepada Allah, seakan kalian melihat-Nya, dan anggaplah diri kalian termasuk orang-orang yang mati”.

Dari Ummu Salamah berkata, aku mendengar Rasulullah shallahu alaihi wa salam bersabda : “Jika kemaksiatan merebak diantara umatku, maka Allah akan menimpakan azab yang akan mengenai siapa saja”. Kemudian sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah bukankah diantara mereka ada orang shaleh?”. Lalu, jawab Rasulullah shallahu alaihi wa salam : “Betul”. Selanjutnya, sahabat bertanya : “Apa yang diperbuat mereka kepada mereka?”. Beliau menjawab : “Mereka juga merasakan apa yang dirasakan orang umumnya, mereka mendapatkan pengampunan dan ridha dari Allah”. (HR.Ahmad).

Laki-laki,yang tinggal dipinggiran kota itu, terus menelusuri jalan kehidupan, yang berliku, tapi ia tetap luruskan niatnya, dan ingin mendaptkan ridha-Nya. Betapa, beratnya beban kehidupan yang harus ia hadapi. Setiap hari.

Dengan berbekal do’a, ketika pagi buta, ia meninggalkan rumahnya menuju kota, di mana ia harus bekerja. Ia jauhkan dirinya dari semua yang menjadi penghalang untuk mendapat keridhaan Rabbnya. Termasuk tidak ingin melakukan perbuatan dosa. Wallahu ‘alam.

sumber: eramuslim.com

Dikirim pada 27 Oktober 2009 di muhasabah

Dari Abu ๏ฟฝAmroh Sufyan bin Abdillah ra berkata ; Ya Rasulallah,katakan kepadaku satu kata saja yang aku tidak akan bertanya kepada siapapun selain engkau ! Jawab Rasul SAW : Katakan , aku beriman kepada Allah,lalu istiqomahlah. ( HR.Muslim )

Istiqamah berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqamah dari kata ๏ฟฝqaama๏ฟฝ yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqamah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Menurut Al Qusairi: istiqamah adalah suatu peringkat yang menjadikan sempurna berbagai perkara. Menurut Al Wasithi: istiqamah adalah etika yang menjadikan sempurnanya berbagai kewajiban.
Muslim yang istiqamah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan akidahnya dalam situasi dan kondisi apapun. Ia bak batu karang yang tegar menghadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti. Ia tidak mudah loyo atau mengalami futur dan degradasi dalam perjalanan dakwah. Ia senantiasa sabar dalam menghadapi seluruh godaan dalam medan dakwah yang diembannya, meskipun tahapan dakwah mengalami perubahan.

Karena begitu pentingnya sifat istiqamah itu kita miliki, meka setiap kita harus berusaha untuk menumbuhkannya ke dalam jiwa kita masing-masing. Di dalam artikel singkat ini, diulas beberapa kiat-kiat praktus menuju istiqamah di jalan dakwah:

1. Memahami hakikat dan tabiat jalan dakwah

Dengan memahami hakikat dakwah, dan berbagai keutamaannya, seorang aktivis akan termotivasi untuk senantiasa berpartisipasi dan berkontribusi aktif di jalan dakwah. Dan berantusias untuk terus menjalankan amalan-amalan yang utama. Segala waktu, tenaga, dan potensi yang dimiliki semuanya dikerahkan untuk dakwah, dan segala peluang dan kesempatan dakwah segera disambutnya.

Tabiat jalan dakwah adalah jalan yang sukar, menanjak dan penuh duri. Penuh berbagai ujian dan cobaan. Tirmidzi dan Imam lainnya meriwayatkan dari hadits Sa’ad bin Abi Waqqash, aku bertanya "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ?" Nabi menjawab, "Para Nabi, kemudian orang-orang yang derajatnya di bawah mereka dan seterusnya." Ibtila’ merupakan salah satu sunnatullah yang harus dihadapi manusia, terutama para aktivis dakwah. Begit mereka membenarkan yang haq, dan menyatakan komitmen untuk menegakkan yang haq dan menyeru untuk itu, ALlah akan menuntut bukti atas kebenaran ucapan itu.

ูˆูŽู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ููŽุชูŽู†ูŽู‘ุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ู…ูู† ู‚ูŽุจู’ู„ูู‡ูู…ู’ ููŽู„ูŽูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุตูŽุฏูŽู‚ููˆุง ูˆูŽู„ูŽูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ูƒูŽุงุฐูุจููŠู†ูŽ ุงู„ู… ุฃูŽุญูŽุณูุจูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุฃูŽู† ูŠูุชู’ุฑูŽูƒููˆุง ุฃูŽู† ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆุง ุขู…ูŽู†ูŽู‘ุง ูˆูŽู‡ูู…ู’ ู„ูŽุง ูŠููู’ุชูŽู†ููˆู†ูŽ

29:1-3 Alif Laam Miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

2. Ikhlas

Diantara tanda-tanda ikhlas adalah: fokus untuk menggapai ridha Allah dan kesabaran dalam menempuh suatu proses yang panjang
Seorang aktivis dakwah harus tekun menempuh lamanya suatu proses, lika-liku menuju suatu hasil akhir, dan tibanya kesuksesan di menit-menit terakhir, dan kepenatan beraktivitas di tengah-tengah berbagai manusia yang memiliki berbagai perasaan dan kecenderungan - dengan mengalahkan sifat-sifat malas, menunda-nuda, lari dari tugas (tafallut), atau berhenti (tawaqquf) di tengah jalan. Seorang aktivis tidak sekedar bekerja untuk meraih kesuksesan atau mencapai kemenangan - lebih dari itu adalah untuk mencari keridhaan Allah.

Imam Ahmad pernah ditanya, "Kapan seorang hamba dapat istirahat ?" Beliau menjawab "Ketika awal kaki menginjak surga." Seorang ulama shalih berkata, "Selama diniatkan untuk Allah semuanya akan terus berlangsung dan berkelanjutan. Begitu juga apa saja yang diniatkan bukan untuk Allah akan terhenti dan terputus.

Faktor ikhlas inilah yang membuat amal seorang mukhlis bisa konsisten, sedangkan hasil akhirnya dia serahkan sepenuhnya kepada ALlah. Allah tidak bertanya kepada hamba-Nya di akhirat: "Mengapa engkau tidak berhasil ?" Akan tetapi beliau akan bertanya, "Mengapa engkau belum berupaya dengan sungguh-sungguh?". Allah tidak bertanya "Mengapa engkau tidak sukses?" Akan tetapi Alah akan mempertanyakan "Mengapa engkau tidak beramal ?"

3. Beramal dan mujahadah meraih istiqamah

ููŽุงุณู’ุชูŽู‚ูู…ู’ ูƒูŽู…ูŽุง ุฃูู…ูุฑู’ุชูŽ ูˆูŽู…ูŽู† ุชูŽุงุจูŽ ู…ูŽุนูŽูƒูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุทู’ุบูŽูˆู’ุงู’ ุฅูู†ูŽู‘ู‡ู ุจูู…ูŽุง ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ ุจูŽุตููŠุฑูŒ

11:112. Maka istiqamahlah, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Menurut Ibnu Abbas r.a: tidak ada suatu ayat pun dalam al Quran yang diturunkan kepada Rasulullah yang lebih berat baginya dari ayat ini. Dan diriwayatkan dari Al Hasan: ketika ayat ini turun, Rasululah menjadi sangat serius dan tidak pernah terlihat beliau tertawa.

Tidak dapat disangkal untuk mencapai istiqamah yang sempurna sangat sulit, dan pasti terdapat berbagi kekurangan, sebagaimana diisyaratkan dalam firman ALlah’

ููŽุงุณู’ุชูŽู‚ููŠู…ููˆุง ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุงุณู’ุชูŽุบู’ููุฑููˆู‡ู
41:6 "Maka istiqamah pada jalan lurus kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya."

Karena adanya kekurangan, maka ayat ini pun memerintahkan agar beristighfar. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki tekad, khususnya yang memang sejak awal memiliki niat yang sungguh-sungguh. Meski demikian, dengan kesungguhan (ijtihad), segenap kemampuan (muhawalah), konsistensi dan kesabaran, dan di sisi lain dengan pertolongan Allah, akan menjadi mudah untuk dilalui. Dan kalaupun tidak dicapai secara sempurna, yang penting adalah usaha yang sangat sungguh-sungguh untuk selalu mewujudkannya dan mendekati kondisi istiqamah tersebut, sebagaimana disebutkan dalam hadits

ุณุฏุฏูˆุงูˆู‚ุงุฑุจูˆุง
"Berusahalah untuk meraih istiqamah yang hakiki, dan dekatilah." (HR Bukhari-Muslim)

Sudah menjadi Sunnatullah bagi para makhluknya bahwa
ู…ุช ุฌุฏูˆุฌุฏ
"Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil"
ูˆู…ู† ุฒุฑุน ุญุตุฏ
"Siapa yang menanam, akan memanen"
ูˆู…ู† ุณุงุฑุนู„ู‰ุงู„ุฏุฑุจ ูˆุตู„
"Siapa yang berjalan pada jalan yang benar, akan sampai pada tujuan.

Allah sudah berjanji kepada orang-orang yang mujahadah dengan petunjuk yang Dia berikan dalam menemukan dan menyinari jalan dakwah, sebagai mana firmannya.

ูˆูŽุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุฌูŽุงู‡ูŽุฏููˆุง ูููŠู†ูŽุง ู„ูŽู†ูŽู‡ู’ุฏููŠูŽู†ูŽู‘ู‡ูู…ู’ ุณูุจูู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ู„ูŽู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ู…ูุญู’ุณูู†ููŠู†ูŽ
"Dan mereka yang berjihad di jalah Kami, sudah pasti Kami akan membimbing mereka Jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan."

4. Bergaul bersama orang-orang yang istiqamah

ูˆูŽุงุตู’ุจูุฑู’ ู†ูŽูู’ุณูŽูƒูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ูŽ ุฑูŽุจูŽู‘ู‡ูู… ุจูุงู„ู’ุบูŽุฏูŽุงุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุดููŠูู‘ ูŠูุฑููŠุฏููˆู†ูŽ ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุนู’ุฏู ุนูŽูŠู’ู†ูŽุงูƒูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ู’ ุชูุฑููŠุฏู ุฒููŠู†ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽู„ูŽุง ุชูุทูุนู’ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุบู’ููŽู„ู’ู†ูŽุง ู‚ูŽู„ู’ุจูŽู‡ู ุนูŽู† ุฐููƒู’ุฑูู†ูŽุง ูˆูŽุงุชูŽู‘ุจูŽุนูŽ ู‡ูŽูˆูŽุงู‡ู ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽู…ู’ุฑูู‡ู ููุฑูุทู‹ุง

18:28. Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Salah satu pesan dari Salman r.a:
"Perumpamaan dua orang mukmin yang bersahabat adalah seperti dua tangan yang saling membasuh satu sama lain. Tidak sekalipun mereka berdua bertemu, kecuali Allah akan menetapkan bahwa salah satu diantaranya akan memberikan kebaikan bagi kawannya."

Karenanya, seorang aktivis dakwah harus bersama jamaah. Jalinlah kebersamaan dengan sesama karena ALlah, ikatkan tangan anda dengan tangan mereka, belajarlah dari mereka,saling tolong menolong dengan mereka dalam kebaikan dan ketakwaan, saling menasihati dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang. Hadirilah halaqah-halaqah mereka, majlis-majlis ruhiah mereka, dan barisan-barisan dakwah mereka.

5. Menghayati sirah orang-orang yang istiqamah

Salah satu karunia ALlah kepada para aktivis dakwah Islam adalah, tersedianya berbagai peninggalan turats (warisan khasanah keilmuwan) yang menjadi contoh teladan.

ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ู‚ูŽุตูŽุตูู‡ูู…ู’ ุนูุจู’ุฑูŽุฉูŒ ู„ูู‘ุฃููˆู’ู„ููŠ ุงู„ุฃูŽู„ู’ุจูŽุงุจู ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุญูŽุฏููŠุซู‹ุง ูŠููู’ุชูŽุฑูŽู‰ ูˆูŽู„ูŽู€ูƒูู† ุชูŽุตู’ุฏููŠู‚ูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุชูŽูู’ุตููŠู„ูŽ ูƒูู„ูŽู‘ ุดูŽูŠู’ุกู ูˆูŽู‡ูุฏู‹ู‰ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ู„ูู‘ู‚ูŽูˆู’ู…ู ูŠูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ

12:111. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

6. Berdoa memohon pertolongan ALlah

Jalan yang juga paling penting dalam menwujudkan sikap istiqamah adalah memohon pertolongan Allah dalam segala urusan dan kondisi, karena hanya kepada Allah semua urusan kelak akan dikembalikan. Doa adalah senjata umat Islam.

Maraji’:
1. Silabus materi Ramadan 1426 H, DPP Partai Keadilan Sejahtera
2. Materi Kaderisasi, DPP Partai Keadilan Sejahtera
3. Dr. Yusuf Qardhawi, "Fii Ath Thariq ila-Llah, An Niyah wal Ikhlas" Niat dan Ikhlas di bawah naungan Quran dan Sunnah..
4. Hussan bin Muhamad bin Ali Jabir, "Menuju Jamaatul Muslimin"
5. Dr. Musthafa Al Bugha, "Al Wafi, Syarah Arbain An Nawawiyah"
6. Dr. Fathi Yakan, "Yang berguguran di Jalan Dakwah"

Sumber:Abu Fahmi

Dikirim pada 25 Oktober 2009 di Dakwah

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,

cintakanlah aku pada seseorang yang
melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak
melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang
yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak
berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang
merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku
merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat
di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang
menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engaku mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta
pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah
pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kukuhkanlah Ya Allah
ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah
hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada
kami dengna limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di
jalan-Mu.

(As-Syahid Sayyid Qutb)



Dikirim pada 24 Oktober 2009 di keluarga

kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,

maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
-M. Anis Matta-

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.
Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita..

sumber : Salim.A.Fillah

Dikirim pada 14 Oktober 2009 di keluarga

Suatu ketika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallammengajarkan sebuah doa sangat panjang kepada sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu ’anhu. Lalu Zaid radhiyallahu ’anhu diperintahkan oleh Nabi shollallahu ’alaih wa sallamuntuk membacanya setiap hari, bahkan diharuskan kepadanya untuk menyuruh keluarganya membaca pula. Doa ini sangat panjang, namun ada bagian sangat penting dari doa tersebut yang berkaitan dengan sikap seorang beriman menghadapi berbagai realitas dunia, baik yang menyenangkan maupun yang terasa pahit. Sebab hidup kita di dunia senantiasa diwarnai oleh dinamika yang berubah-ubah. Kadang kita diberi senang, kadang mengalami derita. Kadang sehat kadang sakit. Kadang menang kadang kalah. Kadang lapang, kadang sempit. Ada perjumpaan, ada perpisahan. Ada kelahiran, ada kematian. Itulah dunia. Semua serba fana, tidak ada yang lestari.



Seorang yang beriman dikagumi oleh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Beliau sedemikian kagum akan karakter mu’min sehingga pernah suatu ketika beliau mengutarakan takjub akan fenomena orang beriman.



ุนูŽุฌูŽุจู‹ุง ู„ูุฃูŽู…ู’ุฑู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ู ุฅูู†ูŽู‘ ุฃูŽู…ู’ุฑูŽู‡ู ูƒูู„ูŽู‘ู‡ู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุฐูŽุงูƒูŽ ู„ูุฃูŽุญูŽุฏู ุฅูู„ูŽู‘ุง ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ู ุฅูู†ู’ ุฃูŽุตูŽุงุจูŽุชู’ู‡ู ุณูŽุฑูŽู‘ุงุกู ุดูŽูƒูŽุฑูŽ ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุตูŽุงุจูŽุชู’ู‡ู ุถูŽุฑูŽู‘ุงุกู ุตูŽุจูŽุฑูŽ ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู„ูŽู‡ู



“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman! Sesungguhnya semua urusannya baik. Dan yang demikian tidak dapat dirasakan oleh siapapun selain orang beriman. Jika ia memperoleh kebahagiaan, maka ia bersyukur. Bersyukur itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa mudharat, maka ia bersabar. Dan bersabar itu baik baginya.” (HR Muslim 5318)



Saudaraku, berdasarkan hadits di atas berarti perjalanan hidup seorang mu’min adalah suatu rentetan penyesuaian sikap terhadap realitas yang Allah taqdirkan atas dirinya. Bila ia mengalami suatu hal yang menyenangkan, kemenangan, memperoleh karunia, nikmat, anugerah atau rezeki, maka pandai-pandailah ia mensyukurinya. Sebaliknya, bila ia ditimpa mudharat, kekalahan, duka, lara, nestapa atau kehilangan sesuatu atau seseorang, maka hendaklah ia kuat-kuat menyabarkan dirinya. Jadi inilah hakikat hidup seorang mu’min. Nah, agar kita memiliki kemampuan untuk senantiasa istiqomah dalam bersyukur kala senang dan bersabar kala sedih, doa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang diajarkan kepada sahabat Zaidradhiyallahu ’anhu mungkin dapat membantu kita. Doanya adalah sebabgai berikut:







“Ya Allah, aku mohon ridho (dalam hatiku) sesudah keputusanMu, kesejukan hidup setelah kematian, kelezatan memandang wajahMu dan kerinduan berjumpa denganMu.” (HR Ahmad 20678)



Pertama, kita memohon kepada Allah agar sikap ridho selalu menghiasi hati kita. Ridho di sini maksudnya menghadapi segala keputusan Allah yang telah ditaqdirkan atas diri kita. Biasanya manusia mudah untuk ridho terhadap taqdir Allah yang menyenangkan. Mana ada orang menyesal ketika Allah kasih dia rezeki? Tapi jangan salah, saudaraku. Maksud ridho di sini ialah agar keridhoan itu tampil dalam bentuk pandai bersyukur ketika nikmat menyapa kita. Sebab tidak sedikit manusia yang ketika memperoleh suatu karunia lalu lupa mengkaitkan dengan taqdir Allah. Ia lupa untuk selalu menyadari bahwa tidak ada satupun kenikmatan yang sampai kepada manusia kecuali atas izin Allah. Nikmat mampir bukan karena kehebatan seseorang. Betapapun hebatnya seseorang, namun nikmat tidak akan bisa ia peroleh jika Allah tidak izinkan nikmat itu sampai kepada dirinya. Ia bisa memperoleh nikmat semata-mata karena Allah akhirnya mengizinkan nikmat itu sampai kepada dirinya.



Orang biasanya sulit ridho bila menyangkut taqdir Allah yang sifatnya pahit atau tidak menyenangkan. Oleh karenanya doa di atas juga kita baca saat ditimpa kekalahan, duka, lara, nestapa, mudharat agar keridhoan itu tampil dalam bentuk kemampuan untuk bersikap sabar menghadapi apapun yang Allah taqdirkan. Dan jika itu menyangkut suatu hal yang menyedihkan alias musibah jangan kita jadikan Allah sebagai –maaf- ”kambing hitam”nya. Salah satu bentuk sabar ialah seseorang sanggup mengambil pelajaran dari setiap musibah yang menimpa dirinya. Ia mendahulukan untuk menyalahkan dirinya sendiri daripada mencari fihak lain sebagai sebab musibah tersebut. Lalu ia selanjutnya mengkoreksi diri agar tidak jatuh kepada kekeliruan langkah seperti yang ia telah lakukan sebelumnya.



ู…ูŽุง ุฃูŽุตูŽุงุจูŽูƒูŽ ู…ูู†ู’ ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู ููŽู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุตูŽุงุจูŽูƒูŽ ู…ูู†ู’ ุณูŽูŠูู‘ุฆูŽุฉู ููŽู…ูู†ู’ ู†ูŽูู’ุณููƒูŽ

Apa saja ni`mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS An-Nisa ayat 79)



Kedua, lalu sisa doanya menyangkut perkara di luar dunia. Coba perhatikan:



ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุงู„ุฑูู‘ุถูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุถูŽุงุกู ูˆูŽุจูŽุฑู’ุฏูŽ ุงู„ู’ุนูŽูŠู’ุดู ุจูŽุนู’ุฏูŽ

ุงู„ู’ู…ูŽู…ูŽุงุชู ูˆูŽู„ูŽุฐูŽู‘ุฉูŽ ู†ูŽุธูŽุฑู ุฅูู„ูŽู‰ ูˆูŽุฌู’ู‡ููƒูŽ ูˆูŽุดูŽูˆู’ู‚ู‹ุง ุฅูู„ูŽู‰ ู„ูู‚ูŽุงุฆููƒูŽ



“Ya Allah, aku mohon ridho (dalam hatiku) sesudah keputusanMu, kesejukan hidup setelah kematian, kelezatan memandang wajahMu dan kerinduan berjumpa denganMu.” (HR Ahmad 20678)



Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengarahkan Zaidradhiyallahu ’anhu untuk memohon kepada Allah”...kesejukan hidup setelah kematian, kelezatan memandang wajah Allah dan kerinduan berjumpa dengan Allah.” Mengapa demikian? Karena, saudaraku, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ingin mengingatkan Zaid radhiyallahu ’anhu dan kita semua untuk memandang bahwa apapun yang kita alami di dunia ini –senang maupun sedih- pada hakikatnya adalah perkara kecil dan tidak berarti jika dibandingkan dengan mengingat Allah Yang Maha Besar, mengingat kematian, mengingat perjumpaan dengan Allah. Dan tidak ada kenikmatan yang lebih utama bagi penghuni surga selain memperoleh kesempatan memandang wajah Allah...!



ุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉู ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุจูŽุงุฑูŽูƒูŽ ูˆูŽุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰

ุชูุฑููŠุฏููˆู†ูŽ ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุฃูŽุฒููŠุฏููƒูู…ู’ ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ุฃูŽู„ูŽู…ู’ ุชูุจูŽูŠูู‘ุถู’ ูˆูุฌููˆู‡ูŽู†ูŽุง ุฃูŽู„ูŽู…ู’ ุชูุฏู’ุฎูู„ู’ู†ูŽุง

ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽ ูˆูŽุชูู†ูŽุฌูู‘ู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽูŠูŽูƒู’ุดููู ุงู„ู’ุญูุฌูŽุงุจูŽ ููŽู…ูŽุง ุฃูุนู’ุทููˆุง

ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุฃูŽุญูŽุจูŽู‘ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุงู„ู†ูŽู‘ุธูŽุฑู ุฅูู„ูŽู‰ ุฑูŽุจูู‘ู‡ูู…ู’ ุนูŽุฒูŽู‘ ูˆูŽุฌูŽู„ูŽู‘



“Bila penghuni surga telah masuk surga, maka Allah berfirman (kepada mereka): ”Apakah kalian ingin sesuatu untuk Kutambahkan? ” Maka mereka menjawab: ”Bukankah Engkau telah putihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah masukkan kami ke dalam surga? Dan selamatkan kami dari api neraka?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Maka disingkaplah Al-Hijab (tabir). Sehingga ahli surga tidak memperoleh sesuatu yang lebih mereka sukai daripada memandang wajah Rabb mereka Allah’Azza wa Jalla.” (HR Muslim 266)



Subhanallah...! Penghuni surga memperoleh hak untuk memandang wajah Allah. Suatu kenikmatan yang mengalahkan segenap kenikmatan surga lainnya. Suatu kenikmatan yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai ”tambahan” alias bonus bagi ahli surga.



ู„ูู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ููˆุง ุงู„ู’ุญูุณู’ู†ูŽู‰ ูˆูŽุฒููŠูŽุงุฏูŽุฉูŒ



”Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS Yunus ayat 26)



Saudaraku, bagi seorang mu’min yang sibuk berjuang agar kelak di akhirat berhak memandang wajah Allah, tentulah segenap pengalaman hidup di dunia menjadi terasa kecil. Jika ia mendapat nikmat dia tidak akan lupa diri, karena tidak ada apa-apanya dibandingkan nikmat memandang wajah Allah yang ia idam-idamkan selalu. Jika tertimpa kesulitan ia akan bersabar dengan meyakini bahwa semoga kesabaran itu akan menyebabkan ia berhak memandang wajah Allah disamping diselamatkan dari api neraka. Dan tentulah di antara modal utama untuk berhak memandang wajah Allah ialah ia selalu sibuk memastikan bahwa apapun yang ia kerjakan di dunia ini adalah semata-mata demi memperoleh wajah Allah alias ikhlas dalam berbuat apapun.InsyaALlah.-



“Ya Allah, aku mohon ridho (dalam hatiku) sesudah keputusanMu, kesejukan hidup setelah kematian, kelezatan memandang wajahMu dan kerinduan berjumpa denganMu.”

sumber:eramuslim.com









Dikirim pada 12 Oktober 2009 di muhasabah

Waktu kamu berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu ... sebagai balasannya ... kau menangis sepanjang malam.

Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan ..
sebagai balasannya ... kamu kabur waktu dia memanggilmu

Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang ... sebagai balasannya ... kamu buang piring berisi makananmu ke lantai

Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna ... sebagai balasannya ... kamu corat coret tembok rumah dan meja makan

Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah..sebagai balasannya ... kamu memakainya bermain di kubangan lumpur

Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah ... sebagai balasannya ... kamu berteriak "NGGAK MAU ...!"

Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola ... sebagai balasannya ..kamu melemparkan bola ke jendela tetangga

Waktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim ... sebagai balasann ya ..kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu

Waktu kamu berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu ..sebagai balasannya ... kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar

Waktu kamu berumur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun ... sebagai balasannya ... kamu melompat keluar mobil tanpa memberi salam

Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan teman-teman kamu kebioskop ... sebagai balasannya ... kamu minta dia duduk di barisan lain

Waktu kamu berumur 12 tahun, dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa ... sebagai balasannya ... kamu tunggu sampai dia keluar rumah

Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya ..sebagai balasannya.. kamu bilang dia tidak tahu mode

Waktu kamu berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan ... sebagai balasannya ... kamu nggak pernah menelponnya.

Waktu kamu berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin memelukmu ...
sebagai balasannya ... kamu kunci pintu kamarmu

Waktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu mengemudi mobil ...sebagai balasannya ... kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa mempedulikan kepentingannya

Waktu kamu berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telpon yang penting .. sebagai balasannya ... kamu pakai telpon nonstop semalaman,

Waktu kamu berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. sebagai balasannya ... kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi

Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertana ... sebagai balasannya ... kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen.

Waktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya "Darimana saja seharian ini?".. sebagai balasannya ... kamu menjawab "Ah, cerewe t amat sih, pengen tahu urusan orang."

Waktu kamu berumur 21 tahun, dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu ... sebagai balasannya ... kamu bilang "Aku nggak mau seperti kamu."

Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus perguruan tinggi ... sebagai balasanmu ..... kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri

Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu ... sebagai balasannya ... kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu

Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencana di masa depan ..... sebagai balasannya ... kamu mengeluh "Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu."

Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu ..
sebagai balasannya ... kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Waktu kamu berumur 30 tahun, dia memberimu nasehat bagaimana merawat bayimu ... sebagai balasannya ... kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda."

Waktu kamu berumur 40 tahun, dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu ... sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali, nggak ada waktu."

Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu ... sebagai balasannya ... kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya

dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang ... dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, ... dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam

MAKA ..
JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA .... BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI

JIKA ORANG TUAMU SUDAH TIADA ... INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU.

Post by Gibran Bogel Galuh (catatan)
Fromi : collection inspiration

Dikirim pada 09 Oktober 2009 di keluarga

Jadikan aku seperti yang kau inginkan

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang
petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu
lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.

Dia berkata kepada batang bambu," Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk
menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?"

Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau,
Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa
saluran air itu."

Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau
dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat
melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau
sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di
dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah
selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air
untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur."

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam..... , kemudian dia berkata kepada
petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku.
Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih
sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak
tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang
sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu,
Tuan?"

Petani menjawab batang bambu itu, " Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui
semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari
semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."

Akhirnya batang bambu itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna
bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya
menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran
air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah
banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak
habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di
hadapan-NYA? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, ALLAH sedang
membuat kita sempurna untuk di pakai menjadi penyalur berkat. DIA sedang
membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-NYA. Tapi
jangan kuatir, kita pasti kuat karena ALLAH tak akan memberikan beban yang tak
mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak ALLAH, membiarkan DIA
bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna
bagi-NYA?

Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, " Ini aku ALLAH, perbuatlah sesuai
dengan yang KAU kehendaki."

"semoga Allah memberkahi setiap langkah kita"

sumber : echo budi

Dikirim pada 07 Oktober 2009 di muhasabah

Marilah kita tingkatkan taqwa kepada Allah swt, dengan sebenar-benarnya taqwa agar Allah berkenan memberikan keteguhan jiwa ini kedalam ketaatan dalam setiap kondisi. Shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad saw, keluarga, sahabat dan juga kepada para pengikutnya yang mudah-mudahan kita semua termasuk di dalamnya.

Tak terasa waktu sudah begitu cepat berlalu mengantarkan manusia dari satu kondisi menuju kondisi yang lain, dimana dari setiap kondisi itu menghasilkan sebuah karakter yang menunjukan satu perwujudan sikap dari seseorang. Sudah hampir sekitar 2 minggu yang lalu kita masih berada dalam sebuah kondisi yang mengajak kita menuju karakter orang bertaqwa yakni ibadah shaum Ramadhan, oleh karena itu maka selama satu bulan yang kita tempuh itu semangatnya harus tetap membara dalam kehidupan di sebelas bulan kemudian.

Kita semua adalah para Alumni Ramadhan, dimana jiwa-jiwanya adalah jiwa-jiwa yang akan terus bersemangat untuk meneruskan apa-apa yang kita lakukan selama bulan puasa. Para Alumni Ramadhan adalah manusia yang menjadikan hari-harinya di sebelas bulan kemudian kualitas ibadah dan bersikap yang sama dengan menjaga agar tetap stabil. Sebelas bulan kemudian pasca Ramadhan merupakan hari-hari yang berat, namun bagi para Alumni Ramadhan hal itu tetap tak membuatnya bergeming dan terus menerus berusaha tetap menstabilkan kualitas ketaqwaannya kepada Allah sampai kemudian Allah menakdirkan untuk bertemu kembali pada Ramadhan berikutnya. Ketika mendapatkan ujian para alumni ramadhan akan teringat dengan firman Allah :

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al-Ankabut:2)
Ujian itu bukan hanya berupa sesuatu yang menyedihkan namun bisa juga dalam bentuk kesenangan, dan sekali lagi para alumni Ramadhan yang sudah selama satu bulan ditempa ia akan menjadi sangat berhati-hati dalam melakukan segala kegiatan karena ia sadar tak ingin menjadi kaum munafik yakni orang yang tak mampu mengambil pelajaran, perhatikanlah firman Allah :
“Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertobat dan tidak (pula) mengambil pengajaran?”

Ujian yang datang berupa musibah menghampiri kepada para alumni Ramadhan disikapinya dengan mengucap kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah) dengan berucap; “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Al-Baqarah:156) .

Akhir-akhir ini kita mendengar banyak sekali ujian berupa musibah ditimpakan kepada bangsa Indonesia ini, Ramadhan tahun ini kita merasakan gempa yang bersumber di laut selatan pulau jawa. Kemudian beberapa hari yang lalu daerah sukabumi pun dilanda gempa yang memang tidak terlalu besar, belum selesai dengan hal tersebut dalam penglihatan kita Allah kembali menampakan kepada kita semua untuk diambil pelajarannya yakni gempa di Sumatera Barat tepatnya di Padang dan Pariaman yang berkekuatan 7,6 skala richter.

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?” (Al-Mulk :16).

Para Alumni Ramadhan yang menerapkan ihsan (yakni merasa diawasi oleh Allah) dalam kehidupannya sadar betul terhadap apa yang tertera dalam hadits bahwa bumi ini akan menjadi saksi atas semua perbuatan kita di muka bumi ini. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu Rasululullah saw. membaca ayat: “Pada hari itu, bumi menceritakan beritanya.” (Az-Zalzalah:4)
Para sahabat berkata ,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Rasulullah saw bersabda,” Di antara cerita bumi ialah bumi menjadi saksi bagi setiap orang laki-laki dan orang perempuan atas apa saja yang telah ia kerjakan di atas bumi. Bumi berkata,’engkau berbuat ini dan itu pada hari ini dan itu, itulah berita yang di beritakan bumi (diriwayatkan Imam Ahmad). Astagfirullah… marilah kita memperbanyak istigfar… bumi Indonesia banyak berguncang bisa jadi karena kita terlalu banyak kemaksiatan di muka bumi ini, atau dalam hadits lain dikatakan: “Tidaklah seseorang melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan ia berada di dalam satu kaum, namun kaum itu tidak mencegahnya walau mereka mampu, melainkan Allah akan menimpa bencana pedih ke atas kaum itu sebelum mereka meninggal.” ( HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al Asbhahani).

Kita lihatlah bersama wahai para Alumni Ramadhan yang bertaqwa, Bumi Indonesia ini negeri yang kaya namun begitu banyak permasalahan yang menimpa bangsa ini mulai dari krisis multidimensi kehidupan berbangsa, permasalahan korupsi yang sampai sekarang semakin runyam dengan pertarungan yang dikatakan buaya vis a vis cicak, bencana alam yang terus mengiringi kehidupan Indonesia. Bumi Indonesia ini telah Allah anugerahkan kepada kita semua dengan menakdirkan kita menjadi bangsa yang terbesar dalam jumlah pemeluk agama Islam ini, namun kenyataan yang kita lihat bersama adalah kenyataan yang menyedihkan yakni kualitas pemahaman terhadap agama Islam yang begitu lemah sehingga kita hanya seperti buih di lautan yang begitu banyak tapi gampang terhempas.
Jika kemudian negeri indah yang bernama Indonesia ini dihuni oleh warganya yang sholeh-sholehah maka hidup akan lebih tentram, karena orang mukmin itu memahami dengan baik fungsinya yakni nafi’an lighairihi (bermanfaat untuk orang lain). Sebenarnya pula “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs Ar Rum:41).

Jadi ketika kita membiarkan kemaksiatan terus mendera bangsa ini maka Allah akan terus memberikan pelajaran kepada kita semua untuk terus mengambil pelajaran. Lalu kemudian apakah kita akan terus membiarkan kemaksiatan itu menjadi karakter bangsa ini yang merupakan mayoritas Islam, tersiar kabar di tengah berbagai teguran dari Allah kepada kita akan datang pemeran penebar kemaksiatan untuk bermain film di Indonesia. Sekali lagi wahai para Alumni Ramadhan yang bertaqwa apakah kita akan rela jika bangsa ini mendapatkan murka dari Allah swt dengan membiarkan para penebar kemaksiatan berlenggok menghancurkan generasi yang daya hancurnya lebih dahsyat dari bom bali sekalipun karena mampu menghancurkan beberapa lapis generasi? Marilah kita memohon ampun kepada Allah atas segala kemaksiatan dan sebagai Alumni Ramadhan marilah kita terus stabilkan nilai-nilai ruhiyah dan berusaha semampu kita untuk mencegah kemaksiatan itu berada terus menggerus kehidupan pribadi dan masyarakat.

Tugas Alumni Ramadhan memang berat karena ia akan terus berjuang agar mempertahankan suhu yang sama seperti bulan Ramadhan dalam hal bersikap sholeh dan khusyu dalam beribadah, tapi itu semua tidaklah menjadi sesuatu yang berat jika memang kita ikhlas menjalaninya. Namun bgi para alumni Ramadhan yang sebenarnya hal itu tidaklah mudah karena ia akan terus mengingat-ingat keindahan dan kelezatan iman pada saat Ramadhan dengan kemudian ia tetap menghidupkan malam-malamnya dengan qiyamul lail, merasakan kembali kenikmatan berbuka dengan menghidupkan puasa-puasa sunnah yakni puasa yaumul baidh, puasa senin kamis atau bahkan puasa daud, meneguhkan sikap sholeh social dengan menerapkan sikap ihsan dalam menjalankan aktivitasnya.

Semoga kita semua diberikan oleh Allah kemudahan untuk terus membawa semangat Ramadhan dalam kehidupan selama sebelas bulan kedepan. Amin..selamat berjuang para Alumni Ramadhan… Allahu a’lam .

sumber :Dakwatuna.com

Dikirim pada 04 Oktober 2009 di muhasabah

PM Palestina Ismail Haniyah mengatakan wisuda penghafal al Qur’an kali ini merupakan perubahan besar yang dialami rakyat Palestina dalam membangun manusia yang mampu mengemban beban dan mengusung proyek pembebasan dari penjajah.

Hal tersebut disampaikan Haniyah dalam acara wisuda penghafal al Qur’an, Senin (14/09), di Gaza, yang diikuti oleh lebih dari 2740 peserta penghafal al Qur’an. Dia menegaskan peran mereka dalam perjalanan pembebasan Palestina.

Hal senada ditegaskan oleh Wakil Ketua Parlemen Palestina Dr.Ahmad Baher. “Wisuda lulusan penghafal al Qur’an adalah kemenangan baru bagi bangsa Palestina di samping campai-capaian yang telah direalisasikan. Penghafal al Qur’an adalah generasi kemenangan yang akan datang, mereka adalah jalan menuju pembebasan tanah Palestina,” tegasnya.

Baher menegaskan pentingnya penyediaan iklim yang baik dan kondusif yang bisa melindungi proyek perlawanan dan upaya ke arah penghentian penangkapan politik di Tepi Barat, guna menyukseskan dialog nasional Palestina. Dia menambahkan, “Semua pendapat yang merugikan hak Palestina, memberikan legalitas penjajah di atas tanah (Palestina), pencabutan al Quds dari kita dan pembangunan pemukiman-pemukiman di atas tanah Palestina adalah tertolak.”

Baher menegaskan bahwa bangsa Palestina di semua tempat bersatu. “Semua orang yang berupaya memecah belah persatuan bangsa Palestina dan berkonspirasi atas mereka, tidak akan bisa merebut tekad kami selama-selamanya.”

Tahun lalu, departemen wakaf Palestina di Jalur Gaza berhasil mewisuda 1400 lulusan penghagal al Qur’an. Menurut Menteri Wakaf dan Urusan Agama Dr. Thalib Abu Shaer, setelah berakhir bulan Ramadhan tahun ini departemen wakaf Palestina di Jalur Gaza diperkirakan akan mewisuda sekitar 6 ribu penghafal al Qur’an lainnya. sumber :www.dakwatuna.com

Dikirim pada 16 September 2009 di Dunia Islam



Sahabatku,

Ku berikan namamu "Teman Sejati"..
"Selama ini kumencari-cari teman yang sejati buat menemani perjuangan ini".
Oh, siapa sangka hadirmu membawa diri ini mengenali apa itu sebenarnya ukhuwah.Kita berjauhan, namun Allah dekatkan hati kita. Cerita mu adalah ceritaku dan begitu juga sebaliknya. Tatkala diriku bersedih, kau datang memberi semangat buatku. Nasihatmu selalu menemaniku. Ya, karena itu kau umpama cermin bagiku.. Sering kau katakan bahwa diriku lebih baik darimu.. namun, hakikatnya diriku banyak kekurangan malah sedikit kelebihannya wahai sahabat. Tapi, dalam kelebihan dan kekurangan itu kita tetap bersama karena bukankah persahabatan ini untuk saling melengkapkan?

Sahabatku,

Ku tahu hatimu resah, tatkala dirimu meminta nasihat dariku. Dalam hidup ini, akan hadir saat2 dimana kita perlu membuat pilihan. Namun kita sering khawatir, adakah pilihan itu yang terbaik buat diri kita. Sukarnya membuat sesuatu keputusan, terutamanya yang bakal menentu perjalanan kehidupan kita. FirmanNya yang bermaksud:

"..Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagi kamu. Allah Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah:ayat 216)

Ya, "Wallahu yaklam, wa antum taklam." Jadi kepada siapa lagi harus kita sandarkan, melainkan pada Dia yang menciptakan kita! Dia jua yang telah menetapkan takdir buat kita di Lauh Mahfuznya dan takdir Allah itu begitu sempurna buat hambaNya.
"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang di janjikan kepadamu." (Adz-Dzariyat:ayat 22)


Malah Allah telah menetapkan beberapa panduan untuk kita pilih.

"Dinikahi seseorang itu karena empat perkara, harta, kecantikan, keturunan dan agama. Maka pilihlah yang beragama, niscaya beruntung diri."

"Pesan Abu Hurairah r.a. kepada puterinya: ๏ฟฝPilihlah bakal suamimu orang yang bertaqwa karena jika dia suka kepadamu, dia mendoakan kebaikan untukmu. Jika dia tidak menyenangimu, dia tidak akan berlaku zalim terhadapmu๏ฟฝ

Teruskan doamu sahabat, memohon belas kasihan dariNya agar ditunjukkan jalan yang benar. Sahabatmu ini hanya boleh memberi nasihat sekadar mampu karena segalanya adalah terletak padamu.. hasil dari petunjuk Allah buatmu. Adakah yang hadir itu benar, adakah masa yang tiba itu sesuai, adakah diri bersedia memikul sebuah tanggungjawab ataupun semua ini sekadar ujian dariNya buat diri? Pasrahkan hatimu memohon padaNya kerana mereka yang berdoa dengan ikhlas akan dimakbulkan doanya. InsyaAllah. FirmanNya yang bermaksud:

"Dan Tuhanku berfirman, "Berdoalah kepadaku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.." (Al-Mukmin:ayat 60)

Sahabatku,

Saat ini, mari kita sama2 terus berusaha.. berusaha berdoa dan memperbaiki diri. Melengkapkan diri dengan ILMU, untuk menjadi amal kelak. Bukankah kita yakin pada janjiNya sebagaimana dalam firmanNya yang bermaksud:

"Perempuan-perempuan jahat untuk laki-laki jahat,laki-laki Jahat untuk perempuan-perempuan jahat pula,perempuan-perempuan baik untuk laki-laki baik,laki-laki baik untuk perempuan-perempuan baik pula. (An-Nur:ayat 26)


Sekiranya kita melakukan sesuatu karena Allah, pasti akan ada jalanNya. Jadi sandarkanlah jua urusan ini karena Allah pasti hatimu akan lebih tenang. Bukankah kita ingin menyahut tuntutan ini karena ALLAH dan RASULNYA? Ya, itu matlamat utama kita. Menyambung sebuah kesinambungan dakwah agar generasi kita menjadi rantai2 perjuangan. Menjadi sayap kiri perjuangan, dan menjadi ummi buat bakal rijaluddin. Maka, mari kita pelihara diri sebaik2nya dan kembali kepada syariat Islam. Usah terpedaya dengan hiasan2 dan bunga-bunga dari syaitan yang selalu berusaha menjatuhkan sebuah iman dalam hati.

"Perempuan tidak perlu mendekati lelaki untuk mengetahui siapakah yang Allah takdirkan untuk dia. Yang Allah takdirkan untuk kita akan tetap datang walaupun kita mengelaknya. Peliharalah maruah agar dengannya kita boleh menuntut janji bahawa lelaki yang baik adalah untuk perempuan yang baik. Begitu juga sebaliknya."

Sebuah doa, sebuah pengharapan.. diberikan HANYA padaNya.. Moga dirimu bertemu kebaikan.. InsyaAllah..

"Ya Allah, aku memohon akan Engkau memilihkan mana yang baik menurut Engkau Ya Allah. Aku memohon memberikan kepastian dengan ketentuanMu dan aku memohon dengan kemurahan Engkau yang Maha Agung, kerana sesungguhnya Engkau Tuhan yang Maha Berkuasa, sedang aku tidak tahu, dan Engkaulah Tuhan yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi.

Ya Allah, jika Engkau mengetahui perkara ini baik bagiku, bagi agamaku, bagi penghidupanku, dan baik pula akibatnya bagiku, mudahkanlah ia bagiku dan berikanlah keberkatan bagiku di dalamnya.

Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahawa perkara ini tidak baik bagiku, bagi agamaku dan penghidupanku, dan tidak baik akibatnya bagiku maka jauhkanlah hal ini daripadaku dan jauhkanlah aku daripadanya.

Berilah kebaikan di mana saja aku berada dan jadikanlah aku orang yang ridho atas anugerahMu. Amiin."



~Mengejar sebuah impian untuk mendapat Cinta dan RidhoNya dalam setiap urusan. Membina harapan untuk menjadi seorang mujahidah..
"Ya Allah, peliharalah kami sebagaimana Engkau memelihara wanita-wanita solehah. Amiin.. Allahumma amiin.."~
dikutip dr : Mira A





Dikirim pada 12 September 2009 di Motivasi

Kematian adalah kepastian yang menjadi misteri yang tidak ada satu orangpun mampu menebak kapan datangnya. Namun dia pasti. Dan sekali dia datang maka dia akan mengakhir semua angan dan cita yang kita bangun. Dia adalah penghancur kelezatan.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(Ali Imran 185).

Banyak orang tak menyadari bahwa hidupnya akan berujung di sebuah titik, tanpa koma. Titik kematian. Titik kepastian yang telah Allah gariskan. Ketidak sadaran ini berasal karena dia menyangka bahwa dunia akan toleran membiarkan hidup berlama-lama mengumbar keinginan nafsunya kemudian baru menyadarinya bahwa titik kematian itu sudah tiba. Kematian adalah kepastian yang menjadi misteri yang tidak ada satu orangpun mampu menebak kapan datangnya. Namun dia pasti. Dan sekali dia datang maka dia akan mengakhir semua angan dan cita yang kita bangun. Dia adalah penghancur kelezatan, dia adalah penakluk keinginan, dia adalah peremuk semua angan.

Lalai akan kepastian kematian bermula dari penghambaan kita pada dunia. Dia berawal karena kita senantiasa menghamba pada dunia. Dunia telah mengaburkan pandangan mata batin kita untuk melihat indahnya akhirat yang berkilau nikmat. Mata hati dan batin kitamenjadi gelap karena dia menghiasinya dengan pernih dunia. Mata batin kita menjadi gulita karena kita telah menutupnya dengan hiasan dunia.

Dunia yang seharusnya kita jadikan sebagai hamba, telah berbalik menjadi tuan. Dunia yang seharusnya berada di bawah telapak kaki kita jadikan di ubun-ubun kita. Dunia yang seharusnya kita dengan gampang menginjak-injaknya, telah dengan gampang menginjak-injak kepala kita. Dunia yang seharusnya tidak pernah menempel di dalam sanubari kita, malah menjadi raja yang mengatur semua organ tubuh kita.

Hari-hari kita berselimutkan dunia. Ada gumpalan kebanggaan dalam diri kita akan harta yang kita miliki. Jabatan yang kita duduki, posisi yang kita nikmati, kekuasaan yang kita kangkangi. Yang kemudian menjadikan kita larut, larut dan terus larut dalam kelalaian yang tiada bertepi. Yang sengaja Allah tidak hentikan kelalaian itu sehinga kita telah pula menjadikan kita lupa akan Allah yang Mahakuasa.

Kita lupa bahwa dunia ini Allah hamparkan untuk kita atur menuju Allah. Dan tidak menjadikan dunia mengalihkan perhatian batin kita dari Allah. Allah serahkan dunia ini agar kita mampu mengelolanya sebagai bekal untuk akhirat, namun kita sering kali lupa dan kita terjebak di jala-jalanya yang banyak menggoda dan melalaikan kita.

Sungguh celakalah jemari-jemari yang bergerak hanya menghitung dunia di setiap detiknya. Yang menghitung-hitungnya tiada henti dan ttitik, sampai kematian menghentikannya. Dia mengira bahwa harta benda yang berlimpah itu dapatk mengekalkan nafasnya, dapat membendung gelombang kematian mana kala dia telah tiba saatnya. Dia mengira bahwa hartanya tidak akan menggoyahkan posisinya, mengadikan hasratnya. Dunia telah melipui hatinya dan tidak memberikan pintu masuk pada akhirat sehingga dia berada dalam kealfaan yang total kepada Allah.

Para penghamba dunia akan senantiasa bersimpuh, ruku’ dan sujud di depan kemegahannya. Nafsu menjadi Tuhannya. Dia menjadi hamba setianya.

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al-Jatsiyah : 23).

Allah biarkan mereka sesat di tumpukan ilmunya yang tidak lagi memberi mamfaat. Ilmunya yang tidak lagi menjadi penerang karena dia telah memadamkannya dengan kecintaan yang over-dosis pada dunia. Kecintaan yang mematikan hatinya yang membunuh semangat cintanya kepada Yang Makak Pencinta.

Mereka lupa Allah, maka Allah jadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri. Lupa asal dan akhirnya. Lupa darimana dia bermula dan kemana dia akan berujung. Mereka lupa diri mereka sendiri.

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik (Al-Hasyr : 19).

Wahai para pencinta dunia. Dunia itu terbatas umurnya. Dunia itu sementara kenikmatannya. Kalian boleh menikmatinya namun sebatas yang dibutuhkan untuk kepentingan akhirat kalian. Jangan berlebihan dan melampaui batas. Sebab jika kalian menikmati dunia dengan penuh ketamakan maka tak ubahnya kalian laksana binatang bahkan lebih buruk dari mereka. Karena kalian memiliki akal dan hati yang bisa lebih jernih melihat hakikat sesuatu namun kalian tidak lagi mampu.

Jangan biarkan diri kalian menyediakan sarana-sarana yang menjadikkan kalian tersesat dengan sarana-sarana yang kalian bangun dan himpun dalam diri kalian. Jangan biarkan lentera cintampada akhirat suram dan semakin suram karena kalian berlapang dada untuk bersimpuh ria di hadapan dunia yang terus menggoda kalian. Jangan biarkan diri kalian terperangkap di jaring-jaring dunia yang ditebar syetan di berbagai sudut-sudut nafsumu.

Jangan biarkan syetan-syetan itu menjadi tuan atau yang memporak porandakan rancang bangun keimanan kalian. Kalian tahu bahwa syetan adalah musuh. Maka jadikanlah dia sebagai musuh abadimu. Namun jika nafsu telah berkuasa atas kalian maka kalian akan menjadi budaknya. Sebab nafsu ammarah kalian adalah tentara syetan yang di tanam dalam diri kalian.

Biarkan dunia itu kalian posisikan pada posisinya yang benar. Menjadi hamba-hamba kalian, menjadi abdi-abdi kalian, menjadi pelayan-pelayan kalian. Dengan demikian kalian akan mudah menjadi hamba Allah, Tuhan yang kalian. Tuhan semesta alam.

Budak dunia akan kehilangan akhirat dan pemburu akhirat akan membuat dunia terbirit-birit mengejarnya di segala kesempatan.

Berbahagialah mereka yang menguasa dunia dan celakalah mereka yang dikuasai dunia.

sumber:www.eramuslim.com

Dikirim pada 11 September 2009 di muhasabah

Alkisah ada seorang kontraktor yang bekerja pada sebuah perusahaan property ternama di Jakarta. Di usianya yang ke lima puluh tahun, telah terpikirkan olehnya untuk mengakhiri kariernya sebagai seorang kontraktor dan kembali kepada keluarga yang telah cukup lama ia tinggalkan. Materi yang selama ini ia cari sudah ia dapatkan. Harta dan kekayaan bukan lagi menjadi tujuannya, namun ia ingin mencari hakekat sebenarnya dari kehidupan ini. Dan tentunya mempersiapkan diri untuk kehidupan yang hakiki yaitu akherat kelak. Oleh karenanya pada pagi hari itu, sang kontraktor menghadap sang direktur dan mengajukan surat pengunduran dirinya.

Pada dasarnya sang direktur keberatan atas permohonan pengunduran diri bapak tersebut. Bagaimana tidak, selama ini bapak tersebut telah menjadi asset utama perusahaan. Keterampilannya tak perlu diragukan lagi. Perusahaan mencapai masa keemasan di masanya.

Setiap proyek yang ia tangani selalu berhasil. Beliau terkenal dengan kejujuran dan keprofesionalannya. Oleh karenanya, ketika sang kontraktor tadi mengajukan surat pengunduran diri, sang direktur mengajukan satu persyaratan. Yaitu untuk dibuatkan satu rumah lagi, rumah yang merupakan karya terbaik beliau sepanjang menjadi kontraktor dalam tempo satu tahun. Ketika mendengar syarat tadi, sang kontraktor sangat berkeberatan. Beliau ingin segera mengundurkan diri. Namun ternyata masih harus menjalankan tugas terakhir. Dengan sangat terpaksa, sang kontraktor menerima syarat yang diajukan sang direktur.

Ternyata hanya dalam tempo delapan bulan sang kontraktor mampu menyelesaikan tugasnya. Namun ternyata karyanya kali ini bukanlah karya terbaik, melainkan karya terburuk sepanjang kariernya. Bagaimana tidak, dengan perasaan terpaksa ia membangun rumah tersebut. Oleh karenanya kualitas bangunannya pun asal-asalan. Selesai membangun rumah tersebut beliau menghadap sang direktur.

“Ini kunci rumah baru yang menjadi syarat pengunduran diri saya,” kata sang kontraktor.

“Oh, tidak bapak. Sebenarnya rumah tersebut bukanlah untuk perusahaan. Melainkan itu merupakan hadiah untuk bapak atas pengabdian luar biasa bapak selama ini. Ambillah rumah tersebut.” jawab sang direktur.

Mendengar jawaban sang direktur, bapak tadi langsung lemas. Bagaimana tidak ternyata rumah yang ia bangun bukanlah untuk perusahaan, melainkan untuk dirinya. Mengapa ia tidak membangun rumah terbaik kalau ternyata itu untuk dirinya sendiri. Malahan rumah tersebut adalah rumah terburuk yang pernah ia bangun. Akhirnya bapak tadi menyesal atas apa yang ia lakukan. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur.

Na’udzubillah. Semoga kita tidak bernasib sama seperti bapak tadi. Apalagi di bulan Ramadhan kali ini. Inilah kesempatan kita untuk melakukan segala amalan terbaik di bulan penuh rahmat ini. Bahkan kita harus menjadikan Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terbaik sepanjang hidup kita. Mengapa kita harus melakukannya?

Jawabannya tidak lain dan tidak bukan karena kita tidak pernah tahu apakah kita masih punya kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan di tahun depan. Bisa jadi ini merupakan Ramadhan terakhir kita. Oleh karenanya kita harus menjadikannya sebagai Ramadhan terbaik. Hal ini perlu kita lakukan agar kita tidak bernasib sama dengan sang kontraktor tadi. Akhir yang menyedihkan karena di akhir kariernya sebagai kontraktor, ia malah menghasilkan karya terburuk bukan sebaliknya. Apalagi kita yang tidak pernah tahu masih bisa bertemu dengan bulan Ramadhan di tahun depan.

Sungguh sangat ruginya jikalau ini merupakan Ramadhan terakhir kita, namun ternyata kita malah melakukan amalan terburuk atau menjadikan Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terburuk dalam hidup kita. Oleh karenanya saat ini mulai harus kita azamkan dalam diri kita untuk melakukan segala aktivitas sebagai aktivitas terbaik dalam Ramadhan kali ini. Sholat-sholat kita merupakan sholat terbaik yang pernah kita lakukan. Tilawah Qur’an kita merupakan tilawah terbaik. Shodaqoh kita merupakan shodaqoh terbaik. Dakwah kita merupakan dakwah terbaik. Apapun itu yang kita lakukan adalah yang terbaik. Siapa tahu ini merupakan Ramadhan terakhir kita. Waallohu’alam bish showab.

Penulis : Adi Suharyanto, Menteri Agama Korps Mahasiswa Pemerintahan FISIPOL UGM

Dikirim pada 10 September 2009 di muhasabah

Ketika waktu berbuka, kebanyakan dari kita—jujur saja—jika lebih tertarik pada air minum yang dingin, berwarna, seperti air jeruk, sirup, kola, dan sebagainya. Padahal, di atas semua itu, air putihlah yang utama. Kenapa?

Air dalam tubuh diantaranya berfungsi menjaga kesegaran, membantu pencernaan dan mengeluarkan racun. Namun, tahukah Anda, ternyata banyak manfaat yang direguk dari air putih, selain nikmatnya kesegaran, apalagi setelah seharian berpuasa.

Banyak orang yang tidak mengetahui khasiat air selain untuk menghilangkan dahaga saja. Air dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan cara yang mudah dan murah. berikut 10 manfaat air putih yang mungkin dapat kita jadikan acuan saat akan mengkonsumsi minuman di luar dari air putih.

1. Memperlancar Sistem Pencernaan

Mengkonsumsi air dalam jumlah cukup setiap hari akan memperlancar sistem pencernaan sehingga kita akan terhindari dari masalah-masalah pencernaan seperti maag ataupun sembelit. Pembakaran kalori juga akan berjalan efisien.

2. Air Putih Membantu Memperlambat Tumbuhnya Zat-Zat Penyebab Kanker, plus mencegah penyakit batu ginjal dan hati.

Minum air putih akan membuat tubuh lebih berenergi.

3. Perawatan Kecantikan Bila kurang minum air putih, tubuh akan menyerap kandungan air dalam kulit sehingga kulit menjadi kering dan berkerut. Selain itu, air putih dapat melindungi kulit dari luar, sekaligus melembabkan dan menyehatkan kulit. Untuk menjaga kecantikan pun, kebersihan tubuh pun harus benar-benar diperhatikan, ditambah lagi minum air putih 8 – 10 gelas sehari.

4. Menyehatkan Jantung

Air juga diyakini dapat ikut menyembuhkan penyakit jantung, rematik, kerusakan kulit, penyakit saluran papas, usus, dan penyakit kewanitaan. Bahkan saat ini cukup banyak pengobatan altenatif yang memanfaatkan kemanjuran air putih.

5. Melangsingkan Badan

Air putih juga bersifat menghilangkan kotoran-kotoran dalam tubuh yang akan lebih cepat keluar lewat urine. Bagi yang ingin menguruskan badan pun, minum air hangat sebelum makan (sehingga merasa agak kenyang) merupakan satu cara untuk mengurangi jumlah makanan yang masuk. Apalagi air tidak mengandung kalori, gula, ataupun lemak. Namun yang terbaik adalah minum air putih pada suhu sedang, tidak terlalu panas, dan tidak terlalu dingin. Mau kurus?, minum air putih saja.

6. Tubuh Lebih Bugar

Khasiat air tak hanya untuk membersihkan tubuh saja tapi juga sebagai zat yang sangat diperlukan tubuh. Kita mungkin lebih dapat bertahan kekurangan makan beberapa hari ketimbang kurang air. Sebab, air merupakan bagian terbesar dalam komposisi tubuh manusia.

7. Penyeimbang tubuh .

Jumlah air yang menurun dalam tubuh, fungsi organ-organ tubuh juga akan menurun dan lebih mudah terganggu oleh bakteri, virus. Namun, tubuh manusia mempunyai mekanisme dalam mempertahankan keseimbangan asupan air yang masuk dan yang dikeluarkan. Rasa haus pada setiap orang merupakan mekanisme normal dalam mempertahankan asupan air dalam tubuh. Air yang dibutuhkan tubuh kira-kira 2-2,5 l (8 – 10 gelas) per hari. Jumlah kebutuhan air ini sudah termasuk asupan air dari makanan (seperti dari kuah sup, soto), minuman seperti susu, teh, kopi, sirup. Selain itu, asupan air juga diperoleh dari hasil metabolisme makanan yang dikonsumsi dan metabolisme jaringan di dalam tubuh. Jadi ketika malam hari, pastikan cukup air putih masuk ke dalam tubuh.

Air juga dikeluarkan tubuh melalui air seni dan keringat. Jumlah air yang dikeluarkan tubuh melalui air seni sekitar 1 liter per hari. Kalau jumlah tinja yang dikeluarkan pada orang sehat sekitar 50 – 400 g/hari, kandungan aimya sekitar 60 – 90 % bobot tinja atau sekitar 50 – 60 ml air sehari.

Sedangkan, air yang terbuang melalui keringat dan saluran napas dalam sehari maksimum 1 liter, tergantung suhu udara sekitar. Belum lagi faktor pengeluaran air melalui pernapasan. Seseorang yang mengalami demam, kandungan air dalam napasnya akan meningkat. Sebaliknya, jumlah air yang dihirup melalui napas berkurang akibat rendahnya kelembapan udara di sekitarnya.

Tubuh akan menurun kondisinya bila kadar air menurun dan kita tidak segera memenuhi kebutuhan air tubuh tersebut. Kardiolog dari AS, Dr James M. Rippe memberi saran untuk minum air paling sedikit seliter lebih banyak dari apa yang dibutuhkan rasa haus kita. Pasalnya, kehilangan 4% cairan saja akan mengakibatkan penurunan kinerja kita sebanyak 22 %! Bisa dimengerti bila kehilangan 7%, kita akan mulai merasa lemah dan lesu.

Asal tahu saja, aktivitas makin banyak maka makin banyak pula air yang terkuras dari tubuh. Untuk itu, pakar kesehatan mengingatkan agar jangan hanya minum bila terasa haus Kebiasaan banyak minum, apakah sedang haus atau tidak, merupakan kebiasaan sehat!

Jika berada di ruang ber-AC, dianjurkan untuk minum lebih banyak karena udara yang dingin dan tubuh cepat mengalami dehidrasi. Banyak minum juga akan membantu kulit tidak cepat kering. Di ruang yang suhunya tidak tetap pun dianjurkan untuk membiasakan minum meski tidak terasa haus untuk menyeimbangkan suhu. (sa/berbagaisumber)

www.eramuslim.com



Dikirim pada 09 September 2009 di Kesehatan


Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua. Waktu pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekatnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.

Suatu saat perempuan itu berkata padanya, " Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri." Tapi lelaki itu malah menjawab, " Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi."

Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka kemudian dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini kepadanya. Lelaki itu menjawab enteng, " Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik."

Begitulah cinta ketika ia terurai jadi laku. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati…terkembang dalam kata….terurai dalam laku… Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai kepalsuan dan tidak nyata… Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakn kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pencinta sejati disini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dihasilkan oleh perasaan cinta itu. Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. Cinta yang tidak terurai jadi laku adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita.

Tidak mudah memang menemukan cinta yang ini. Tapi harus begitulah cinta, seperti kata Imam Syafii,

Kalau sudah pasti ada cinta di sisimu
Semua kan jadi enteng
Dan semua yang ada di atas tanah
Hanyalah tanah jua.

Oleh : Ust. Anis Matta





Dikirim pada 07 September 2009 di keluarga

Sahabat, Mudah-mudahan kita selalu dalam ketenangan hati dalam mengarungi hidup ini. Semoga kisah ini menjadi bagian dari motivasi untuk kita berfikir bahwa hidup ini begitu indah untuk kita lewatkan dengan kesibukan masalah yg tak rudung usai.

Selamat Membaca....!!!

RODA YG GUNDAH

Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, ia tak bisa lagi Berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemana kah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu? Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah di tinggalkannya.

Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu di perhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu. Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalanan.Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam. Hei....semuanya tampak lain.

Ya, sewaktu sang roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini, semuanya tampak Lebih indah. Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka kini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya. Bunga-bunga pun tampak lebih indah. Harum dan semerbaknya, lebih terasa menyegarkan.

Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat. Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya. Kini, semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang di tabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam, dan doa pada sang Roda.

Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda Jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda. Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.

Sahabat…, begitulah hidup. Kita, seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan, ada saat-saat indah, yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil, yang sebetulnya menyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa. Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target-target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik, dan lupa, bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu di tekuni. Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu.

Teman, coba, susuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati. Runut kembali perjalanan kita. Adakah kebahagiaan yang terlupakan? Adakah keindahan yang tersembunyi dan alpa kita nikmati? Kenanglah ingatan-ingatan lalu. Susuri dengan perlahan. Temukan keindahan itu saat masih bersama Orang tua dan Keluarga tercinta !! ”Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita selalu menyesali apa yang belum kita capai”

" Tergesa-gesa itu adalah sifat Iblis " ..

dikutip dari :Dnay Al-Fikri

Dikirim pada 06 September 2009 di Motivasi


Pernikahan merupakan pengalaman hidup yang sangat penting sebagai media penyatuan fisik dan psikis antara dua insan dan penggabungan kedua keluarga besar dalam rangka ibadah melaksanakan perintah Allah SWT. Hal itu tentunya memerlukan berbagai persiapan terkait yang cukup matang termasuk persiapan fisik sebelum menikah adalah tidak kalah pentingnya dengan kesiapan materi, sosio-kultural, mental dan hukum. Tes kesehatan dan fertilitas yang disarankan kalangan medis serta para penganjur dan konsultan pernikahan sebenarnya merupakan salah satu bentuk persiapan pranikah yang secara eksplisit maupun implisit disunnahkan dalam Islam

Bahkan, sekalipun tidak ada riwayat dan indikasi penyakit ataupun kelainan keturunan di dalam keluarga, berdasarkan prinsip syariah tetap dianjurkan untuk dilakukan pemeriksaan standar termasuk meliputi tes darah dan urine. Hal itu karena prinsip sentral syariah Islam menurut Ibnul Qayyim dalam I’lam al-Muwaqqi’in (vol.III/14) adalah hikmah dan kemaslahatan umat manusia di dunia dan di akhirat. Kemaslahatan ini terletak pada keadilan, kerahmatan, kemudahan, keamanan, keselamatan, kesejahteraan dan kebijaksanaan yang merata. Apa saja yang bertentangan dengan prinsip tersebut maka hal otomatis dilarang syariah, namun sebaliknya segala hal yang dapat mewujudkan prinsip tersebut secara integral pasti dianjurkan syariah.

Tujuan utama ketentuan syariat (maqashid as-syariah) adalah tercermin dalam pemeliharaan pilar-pilar kesejahteraan umat manusia yang mencakup ‘panca maslahat’ dengan memberikan perlindungan terhadap aspek keimanan (hifz din), kehidupan (hifzd nafs), akal (hifz ‘aql), keturunan (hifz nasl) dan harta benda mereka (hifz mal). Apa saja yang menjamin terlindunginya lima perkara ini adalah maslahat bagi manusia dan dikehendaki syariah dan segala yang membahayakannya dikategorikan sebagai mudharat atau mafsadah yang harus disingkirkan sebisa mungkin sebagaimana kesimpulan Imam Al-Ghazali dalam Al-Mustashfa, (vol.I/139-140) yang dijabarkan oleh Imam Asy-ysathibi dalam kitab Al-Muwafaqat.

Bila ditinjau secara psikologis, sebenarnya pemeriksaan itu akan dapat membantu menyiapkan mental pasangan. Sedangkan secara medis, pemeriksaan itu sebagai ikhtiar (usaha) yang bisa membantu mencegah hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari sehingga dapat menjadi langkah antisipasi dan tindakan preventif yang dilakukan jauh-jauh hari untuk menghindarkan penyesalan dan penderitaan rumah tangga.

Para ahli abstetri (ilmu kebidanan) dan ginekologi (ilmu keturunan) menyatakan bahwa sebaiknya calon pengantin memeriksakan dirinya tiga bulan sebelum melakukan janji pernikahan. Rentang waktu itu diperlukan untuk melakukan pengobatan jika ternyata salah seorang atau keduanya menderita gangguan tertentu. Jenis pemeriksaan kesehatan pranikah dapat disesuaikan dengan gejala tertentu yang dialami calon pengantin secara jujur, berani dan objektif. Misalnya, pemeriksaan harus dilakukan lebih spesifik jika dalam keluarga didapati riwayat kesehatan yang kurang baik. Namun, jika semuanya lancar-lancar saja, maka hanya dilakukan pemeriksaan standar, yaitu cek darah dan urine.

Untuk cek darah, biasanya diperlukan khususnya untuk memastikan si calon ibu tidak mengalami talasemia, infeksi pada darah dan sebagainya. Dalam pengalaman medis, kadang kala ditemukan gejala anti phospholipid syndrome (APS), yaitu suatu kelainan pada darah yang bisa mengakibatkan sulitnya menjaga kehamilan atau menyebabkan keguguran berulang. Jika ada kasus seperti itu, biasanya para dokter akan melakukan tindakan tertentu sebagai langkah , sehingga pada saat pengantin perempuan hamil dia dapat mempertahankan bayinya.

Hasil analisa data medis mengungkapkan bahwa kasus yang paling banyak terjadi pada calon ibu khususnya di Indonesia adalah terjangkitnya virus toksoplasma. Virus yang bisa mengakibatkan kecacatan pada bayi ini biasanya disebabkan seringnya kaum perempuan mengkonsumsi daging yang kurang matang atau tersebar melalui kotoran atau bulu binatang piaraan. Oleh karena itu, untuk mengetahuinya, agar dapat ditangani Secara dini diperlukan pemeriksaan toksoplasma, rubella, virus cytomegalo, dan herpes yaitu yang sering disingkat dengan istilah pemeriksaan terhadap TORCH.

Demikian pula, pada calon pengantin pria biasanya diperlukan untuk dilakukan pemeriksaan sejumlah infeksi seperti sipilis dan gonorrhea. Selain itu banyak juga dari pengalaman klinis dilakukan pemeriksaan sperma untuk memastikan kesuburan untuk calon mempelai pria. Dalam kapasitas ini, pemeriksaan sperma dilakukan dalam tiga kategori yaitu jumlah sperma, gerakan sperma dan bentuk sperma.

Sperma yang baik menurut para ahli, jumlahnya harus lebih dari 20 juta setiap cc-nya dengan gerakan lebih dari 50% dan memiliki bentuk normal lebih dari 30% . Bila dalam pemeriksaan ditemukan kelainan pada sperma, maka waktu tiga bulan setelah pemeriksaan dianggap sudah cukup untuk melakukan penyembuhan. Demikian halnya bagi calon mempelai wanita, jangka waktu tiga bulan juga dianggap memadai untuk memperbaiki siklus menstruasi calon pengantin wanita yang memiliki masa menstruasi tidak lancar dengan disiplin mengikuti terapi khusus dan intens secara kontinyu.

Pemeriksaan standar menyangkut darah antara lain dilakukan untuk mengetahui jenis resus. Seperti bangsa Asia lainnya, perempuan Indonesia memiliki resus darah positif. Sedangkan bangsa Eropa dan Kaukasia biasanya memiliki resus negatif. Karena itu, pemeriksaan resus untuk pasangan campuran yang berasal dari dua bangsa berbeda sangatlah penting. Resus berfungsi sama dengan sidik jari yaitu sebagai penentu. Setelah mengetahui golongan dara seseorang seperti A, B, O biasanya resusnya juga ditentukan untuk mempermudah identifikasi. Hal itu karena perbedaan resus pada pasangan bisa berdampak fatal saat kehamilan.

Jika ibu memiliki resus positif dan embrio menunjukkan resus negatif, maka biasanya disarankan para ahli medis untuk melakukan pengguguran sejak dini karena tidak mungkin janin akan bertahan hidup secara normal di dalam rahim ibu. Meskipun pasangan ingin tetap mempertahankan janin, nantinya akan gugur juga. Pengalaman ini biasanya di kalangan medis disebut sebagai kasus incompabilitas resus.

Calon pengantin juga sering diminta untuk melakukan pemeriksaan darah anticardiolipin antibody (ACA). Penyakit yang berkaitan dengan hal itu bisa mengakibatkan aliran darah mengental sehingga darah si ibu sulit mengirimkan makanan kepada janin yang berada di dalam rahimnya. Selain itu, jika salah satu calon pengantin memiliki catatan down syndrome karena kromosom dalam keluarganya, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih intensif lagi. Sebab, riwayat itu bisa mengakibatkan bayi lahir idiot.

Adapun suntikan Tetanus Toxoid yang lebih dikenal dengan suntikan TT sebenarnya dimaksudkan untuk mencegah timbulnya tetanus pada luka yang dapat terjadi pada vagina mempelai wanita yang diakibatkan hubungan seksual pertama. Suntikan TT biasanya juga diperlukan dan dianjurkan oleh para medis bagi para ibu hamil di usia kehamilan 5-6 bulan untuk mencegah terjadinya tetanus pada luka ibu ataupun bayi saat proses kelahiran. Sedangkan kekhawatiran adanya manipulasi serum TT pada suntikan yang diganti dengan serum kontrasepsi oleh para medis sebaiknya dihilangkan dan jika terbukti adanya pengalaman sebelumnya atau indikasi kuat mal praktik yang disengaja tersebut, maka dapat dilaporkan para pihak terkait dan yang berwenang, dan hal itu di samping melanggar kode etik kedokteran, juga merupakan suatu tindak pidana.

Dalam proses pemilihan pasangan dan prosedur pernikahan, Islam di samping aspek keimanan dan keshalihan (hifdz din) juga sangat memperhatikan aspek keturunan serta aspek kesehatan fisik dan mental (hifdz nasl dan hifdz ‘aql). Hal itu dapat kita kaji dari hadits Rasulullah saw maupun ayat-ayat al-Qur’an seputar pernikahan.

Anjuran Nabi saw untuk melihat calon pasangan sebelum menikah merupakan ekspresi urgensi pemeriksaan dan observasi fisik oleh masing-masing calon mempelai dalam batas ketentuan syariah agar lebih dapat melestarikan hubungan dan kehidupan rumah tangga. (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan contoh alasan pemeriksaan dan observasi fisik tersebut adalah menurut catatan demografis terdapat kelainan mata pada sebagian mata kaum Anshar Madinah saat itu. (HR. Muslim)

Dalam sebuah riwayat tentang pelarangan Nabi terhadap pernikahan antar kerabat dekat apalagi yang diharamkan dalam surat an-Nisa:23 tentang mahram agar terhindar dari lahirnya keturunan yang lemah fisik dan akal di samping memelihara aspek psikologis dan pertimbangan hubungan sosial yang sehat, adalah merupakan salah satu bentuk perhatian terhadap aspek genetik calon pasangan.

Selain itu, anjuran Nabi saw untuk memilih pasangan yang penuh kasih sayang (wadud) dan subur (walud) sebagaimana riwayat Abu Dawud, An-Nasa’i dan al-Hakim merupakan bukti perhatian Islam terhadap aspek fertilitas, karena di antara hikmah pernikahan adalah melaksanakan ibadah dengan memperbanyak keturunan yang shalih.

Thariq Ismail Khahya dalam Az-Zawaj fil Islam, di samping menyatakan criteria kesehatan pada calon mempelai wanita, juga menekankan bahwa calon suami harus sehat jasmani dan rohani steril dari berbagai penyakit yang dapat menghalangi dan menganggu kebahagiaan pernikahan seperti gangguan kejiwaan, lepra, impotensi, dan penyakit lainnya yang dapat menular ataupun menurun. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa Umar bin Khathab pernah memutuskan bahwa seorang pengantin pria diberi kesempatan selam satu tahun untuk menyembuhkan impotensinya, dan jika setelah melewati setahun belum sembuh dan pengantin wanita menuntut cerai maka akan dikabulkan dan disetujui oleh pihak hakim. Hal ini merupakan indikasi pentingnya faktor keturunan dan kesuburan serta kesehatan seksual dalam pernikahan sehingga sangat diperlukan pemeriksaan.

Dengan demikian, berdasarkan data urgensi dan manfaat dari pemeriksaan kesehatan tersebut syariat Islam sangat menyambut anjuran agar calon pengantin melakukan pemeriksaan fertilitas dan tes kesehatan fisik maupun mental sekalipun serta tindakan imunisasi termasuk imunisasi TT pra menikah agar dapat diketahui lebih awal berbagai kendala dan kesulitan medis yang mungkin terjadi untuk diambil tindakan antisipasi yang semestinya sedini mungkin berdasarkan prinsip Sadd Adz-Dzari’ah (prinsip pengambilan langkah preventif) terhadap segala hal yang dapat membahayakan bagi panca maslahat tersebut di atas. Wallahu A’lam Wa Billahi at Taufiq wal Hidayah. []
sumber : Dr. Setiawan Budi Utomo





Dikirim pada 05 September 2009 di Kesehatan

Alhamdulillah...Subhanallah...Allahu Akbar...

Sesungguhnya Engkau Maha Segala-galanya....

Hari ini ku mendapatkan suatu pelajaran dan kenikmatan yg luar biasa.

Betapa banyak nikmat yg telah Engkau Berikan

Dan JanjiMu adalah pasti ..Innaka La tukhlifulmii๏ฟฝad

Betapa hambaMu ini sangat sedikit mensyukurinya....

Dan terkadang melupakanMu....

Ya Allah....

Hari ini aku ingin menangis....

Betapa hambaMu ini sangat lalai...

Padahal kasih sayangMu terus mengalir....

Ampunilah hambaMu ini...

Hari ini Kau buktikan janjiMu....

Ya Robb...

Janganlah Kau jadikan aku hamba yg melalaikanMu

Janganlah Kau jadikan aku hamba yg kufur nikmat

Ya...Rohman...

Engkau Maha Tahu yang terbaik tuk hambaMu ini...

Hasbunallah wa ni๏ฟฝmal wakiil ni๏ฟฝmal maula wa ni๏ฟฝmannashiir..

๏ฟฝabduka alfaqqiroh....

(at dukuh city ....tgl.4/9/09 jam 21.02 WIB)







"


Dikirim pada 04 September 2009 di Curahan hati

Suatu waktu beberapa orang sahabat menemui Rasul saw. Mereka hendak menyampaikan uneg-uneg tentang beberapa masalah. Sesampai di hadapan Rasul saw, mereka bertanya: "Wahai Baginda, kami mempunyai keinginan dan hajat yang hingga kini belum dikabulkan oleh Allah. Mohon sekiranya Baginda berkenan mendoakan kami agar keinginan dan hajat kami tersebut dikabulkan oleh Allah."

Sambil tersenyum Baginda Rasul saw menjawab:" Pergilah ke desa Qarn di daerah Yaman, temuilah si Fulan dan mintalah ia mendoakan kalian. Mudah-mudahan tercapai keinginan kalian tersebut".

"Baiklah ya Rasulullah, kami segera berangkat kesana".

Dan berangkatlah mereka menuju desa yang dituju yang ternyata lokasinya cukup jauh dari kota Madinah. Mereka pun bertanya kepada warga desa tentang dimana rumah si Fulan. Setelah diberi petunjuk, akhirnya mereka menemukan rumah yand dicari.

Betapa Terkejutnya mereka mengetahui bahwa si Fulan ternyata adalah seorang yang masih sangat muda dan belum berusia 20 tahun. Sebelumnya mereka berpikir bahwa si Fulan ini tentu seorang yang telah berumur dan istimewa dalam hal ibadah sehingga doanya selalu ijabah.

"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

"Walaikumsalam, warahmatullahi wabarakatuh, siapakah gerangan wahai saudara-saudara ini?"

"Kami datang dari kota madinah hendak bertamu."

"Baiklah, silakan masuk."

Para sahabat ini semakin heran melihat keadaan si Fulan dan keluarganya yang terlihat biasa-biasa saja. Diam- diam mereka pun bersepakat hendak menyelidiki apakah kelebihan yang dimiliki oleh si Fulan ini sehingga baginda Nabi saw bahkan menyuruh mereka menemui sang anak muda ini untuk minta didoakan.

Merekapun menginap beberapa waktu dan mengikuti proses kehidupan sehari-hari si Fulan yang tinggal hanya bersama ibunya itu, namun tidak menemukan sesuatu yang menurut pandangan mereka si Fulan ini mempunyai ibadah yang istimewa, baik sholatnya, puasa dan ibadah lainnya dibanding para sahabat di Madinah ataupun Mekkah.

Karena semakin heran, akhirnya mereka memutuskan untuk berterus-terang kepada tuan rumah perihal maksud sebenarnya kedatangan mereka.

Fulan hanya menunduk sambil menghela nafas. Ia lalu bercerita bahwa sekitar 1 atau 2 tahun yang lalu, ketika tersiar berita kedatangan rasul Allah yang telah dinanti sejak lama, ibunya berkeinginan untuk menemui orang mulia tersebut. Namun ibunya sejak lama menderita lumpuh dan ayahnya telah tiada. Sementara mereka sendiri tidak mampu untuk membeli unta atau kuda sebagai kendaraan.

"Lalu bagaimana akhirnya ibumu dapat bertemu Rasulullah?"

"Saya akhirnya menggendong ibu saya," tutur Fulan.

"Subhanallah, engkau menggendong ibumu dengan berjalan kaki dari sini menuju Madinah?" (dalam jarak sekitar 300an km)..

"Di hadapan Rasu sawl, ibuku meminta kepada Allah agar mengabulkan segala permohonan dan doaku, yang kemudian doa ibuku itu diaminkan oleh baginda Rasul...."

****
Sahabat, membawa beban berat di punggung bukanlah perkara ringan, apalagi ketika beban tersebut harus dibawa beratus-ratus kilometer dengan melewati gurun pasir. Seperti layaknya pendaki gunung, membawa perlengkapan dan perbekalan seberat 25-30 kilogram yang harus digendong di punggung sambil mendaki tanjakan yang terjal dan curam. Melewati hutan, Adalah semua itu untuk menguji kesabaran. Selalu harus dimunculkan dalam benak kita, bahwa saya melakukannya demi satu kata ajaib, CINTA.

Ya, ujian kesabaran dalam mengarungi kehidupan adalah makna lain dari jalan merengkuh cinta abadi. Semua beban itu tidak ada yang abadi, seperti halnya dunia ini. Sabar, bersabarlah!! Tahan, bertahanlah, beban itu cuma sementara. Sebentar lagi semua ini akan berakhir. Segala beban itupun akan terasa tak berarti. Segala cobaan, godaan itu hanyalah fana, terutama bila orang-orang terdekat tetap berada di-sisimu dan terus mendukungmu. Dan engkau akan mengecap manisnya cinta Ilahi.. (dikutip dari : Syamsi Kusyanti)

Dikirim pada 04 September 2009 di muhasabah




Bagaimanakah wujud keluarga Islami itu? Bayangan anda tentang suami isteri yang bertingkah laku bagai malaikat serta rahmat Allah yang senantiasa melimpahi kebutuhan hidup mereka tentu bukanlah gambaran yang benar. Ajaran Islam sendiri merupakan ajaran yang dirancang bagi manusia yang memiliki berbagai kelemahan dan kekurangan dan siap diterapkan dalam berbagai keadaan yang menyertai hidup manusia.

Jadi, jika anda menemui goncangan-goncangan yang menyangkut diri anda dalam masalah pribadi, hubungan dengan suami atau isteri dan anak-anak, atau dalam berbagai kondisi yang menyertai keluarga, janganlah anda panik dulu atau merasa dunia hampir kiamat. Sebab, justru dalam momen seperti itulah anda dapat memperlihatkan komitmen sebagai seseorang sebelum dibuktikannya melalui amal kehidupan.

Ada beberapa hal yang patut anda perhatikan dalam upaya menumbuhkan keluarga bahagia menurut ajaran Islam atau dalam menghadapi berbagai persoalan, diantaranya;

1. Fikrah yang jelas
Pemikiran Islami tentang tujuan-tujuan dakwah dan kehidupan keluarga merupakan unsur pentng dalam perkawinan. Ini adalah syarat utama.Keluarga islami bukanlah keluarga yang tenang tanpa gejolak. Bukan pula keluarga yang berjalan di atas ketidakjelasan tujuan sehingga melahirkan kebahagiaan semu. Kalaulah Umar bin Khattab menggebah para pedagang di pasar yang tidak memahami fiqih (perdagangan), maka layak dipandang sebagai sebuah kekeliruan besar seseorang yang menikah namun tak memahami dengan jelas apa hakekat pernikahan dalam Islam dan bagaimana kaitannya dengan kemajuan dakwah.

2. Penyatuan idealisme
Ketika ijab qobul dikumandangkan di depan wali, sebenarnya yang bersatu bukanlah sekedar jasad dua makhluk yang berlainan jenis. Pada detik itu sesungguhnya tengah terjadi pertemuan dua pemikiran, perjumpaan dua tujuan hidup dan perkawinan dua pribadi dengan tingkat keimanan masing-masing. Karena itu, penyatuan pemikiran dan idealisme akan menyempurnakan pertemuan fisik kedua insan.

3. Mengenal karakter pribadi
Kepribadian manusia ditentukan oleh berbagai unsur lingkungan: nilai yang diyakini dan pengaruh sosialisasi perilaku lingkungan terdekat serta lingkungan internal (sifat bawaan) itu sendiri. Mengenal secara jelas karakter pasangan hidup adalah bekal utama dalam upaya penyesuaian, penyeimbangan dan bahkan perbaikan. Satu catatan penting mengenai hal ini ialah anda harus menyediakan kesabaran selama proses pengenalan itu berlangsung, sebab hal itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

4. Pemeliharaan kasih sayang
Sikap rahmah (kasih sayang) kepada pasangan hidup dan anak-anak merupakan tulang punggung kelangsungan keharmonisan keluarga. Rasulullah SAW menyapa Aisyah dengan panggilan yang memanjakan, dengan gelar yang menyenangkan hati. Bahkan beliau membolehkan seseorang berdiplomasi kepada pasangan hidupnya dalam rangka membangun kasih sayang. Suami atau isteri harus mampu menampilkan sosok diri dan pribadi yang dapat menumbuhkan rasa tenteram, senang kerinduan. Ingat, di atas rasa kasih sayanglah pasangan hidup dapat membagi beban, meredam kemelut dan mengurangi rasa lapar.

5. Kontinuitas tarbiyah
Tarbiyah (pendidikan) merupakan kebutuhan asasi setiap manusia. Para suami yang telah aktif dalam medan dakwah biasanya akan mudah mendapatkan hal ini. Namun, isteri juga memiliki hak yang sama. Penyelenggaraannya merupakan tanggung jawab suami khususnya, kaum lelaki muslim umumnya. Itulah sebabnya Rasulullah SAW meluluskan permintaan ta’lim (pengajaran) para wanita muslimah yang datang kepada beliau. Beliau memberikan kesempatan khusus bagi pembinaan wanita dan kaum ibu (ummahaat). Perbedaan perlakuan tarbiyah antara suami dan isteri akan membuat timpang pasangan itu dan akibatnya tentu kegoncangan rumah tangga.

6 Penataan ekonomi
Turunnya Surat al Ahzab yang berkaitan dengan ultimatum Allah SWT kepada para isteri Nabi SAW, erat kaitannya dengan persoalan ekonomi. Islam dengan tegas telah melimpahkan tanggung jawab nafkah kepada suami, tanpa melarang isteri membantu beban ekonomi suami jika kesempatan dan peluang memang ada, dan tentu selama masih berada dalam batas-batas syari’ah. Ditengah-tengah tanggung jawab dakwahnya, suami harus bekerja keras agar dapat memberikan pelayanan fisik kepada keluarga. Sedangkan qanaah (bersyukur atas seberapa pun hasil yang diperoleh) adalah sikap yang patut ditampilkan isteri. Persoalan-persoalan teknis yang menyangkut pengelolaan ekonomi keluarga dapat dimusyawarahkan dan dibuat kesepakatan antara suami dan isteri. Kebahagiaan dan ketenangan akan lahir jika di atas kesepakatan tersebut dibangun sikap amanah (benar dan jujur).

7. Sikap kekeluargaan
Pernikahan antara dua anak manusia sebenarnya diiringi dengan pernikahan ”antara dua keluarga besar”, dari pihak isteri dan juga suami. Selayaknyalah, dalam batas-batas yang diizinkan syari’at, sebuah pernikahan tidak menghancurkan struktur serta suasana keluarga. Pernikahan janganlah membuat suami atau isteri kehilangan perhatian pada keluarganya (ayah, ibu, adik, kakak dan seterusnya). Menurunnya frekuensi interaksi fisik (dan ini wajar) tidak boleh berarti menurun pula perhatian dan kasih sayang. Sebaliknya, perlu ditegaskan juga bahwa pernikahan adalah sebuah lembaga legal (syar’i) yang harus dihormat keberadaannya. Sebuah kesalahan serius terjadi tatkala seorang isteri atau suami menghabiskan perhatiannya hanya untuk keluarganya msing-masing sehingga tanggung jawabnya sebagai pasangan keluarga di rumahnya sendiri terbengkalai.

8. Pembagian beban
Meski ajaran Islam membeberkan dengan jelas fungsi dan tugas elemen keluarga (suami, isteri, anak, pembantu) namun dalam pelaksanaannya tidaklah kaku. Jika Rasulullah SAW menyatakan bahwa seorang isteri adalah pemimpin bagi rumah dan anak-anak, bukan berarti seorang suami tidak perlu terlibat dalam pengurusan rumah dan anak-anak. Ajaran Islam tentang keluarga adalah sebuah pedoman umum baku yang merupakan titik pangkal segala pemikiran tentang keluarga. Dalam tindakan sehari-hari, nilai-nilai lain, misalnya tentang itsar (memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain), ta’awun (tolong menolong), rahim (kasih sayang) dan lainnya juga harus berperan. Itu dapat dijumpai dalam riwayat yang sahih betapa Nabi SAW bercengkrama dengan anak dan cucu, menyapu rumah, menjahit baju yang koyak dan lain-lain.

9. Penyegaran
Manusia bukanlah robot-robot logam yang mati. Manusia mempunyai hati dan otak yang dapat mengalami kelelahan dan kejenuhan. Nabi SAW mengeritik seseorang yang menamatkan Al Quran kurang dari tiga hari, yang menghabiskan waktu malamnya hanya dengan shalat, dan yang berpuasa setiap hari. Dalam ta’lim beliau SAW juga memberikan selang waktu (dalam beberapa riwayat per pekan), tidak setiap saat atau setiap hari. Variasi aktivitas dibutuhkan manusia agar jiwanya tetap segar. Dengan demikian, keluarga yang bahagia tdak akan tumbuh dari kemonotonan aktivitas keluarga. Di samping tarbiyah, keluarga membutuhkan rekreasi (perjalanan, diskusi-diskusi ringan, kemah, dll).

10. Menata diri
Allah SWT mengisyaratkan hubungan yang erat antara ketaqwaan dan yusran (kemudahan), makhrojan (jalan keluar). Faktor kefasikan atau rendahnya iman identik dengan kesukaran, kemelut dan jalan buntu. Patutlah pasangan muslim senantiasa menata dirinya masing-masing agar jalan panjang kehidupan rumah tangganya dapat diarungi tanpa hambatan dan rintangan yang menghancurkan.

11. Mengharapkan rahmat Allah
Ketenangan dan kasih sayang dalam keluarga merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-hambaNya yang Salih. Rintangan-rintangan menuju keadaan itu datang tidak saja dari faktor internal manusia, namun juga dapat muncul dari faktor eksternal termasuk gangguan syaitan dan jin. Karena itu, hubungan vertikal dengan al Khaliq harus dijaga sebaik mungkin melalui ibadah dan doa. Nabi SAW banyak mengajarkan doa-doa yang berkaitan dengan masalah keluarga.

Wallahu a’lamu.

Sumber : Islah, No.4/Th II



Dikirim pada 03 September 2009 di keluarga


Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.

Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, “Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya”.

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.” Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam”.

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka.”

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, “Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?” Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku !”

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?” Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh !”

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !”

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”. Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum…”

Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. “Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”, kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”. Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?” Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?” tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”.
Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, “Ketika kulihat wajahnya Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”.

Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.





Dikirim pada 02 September 2009 di keluarga

Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu...mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan
Seluruh badan kita terbuka....
Tak ada sehelai benangpun menutupinya..
Tak ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan Bahkan lubang - lubang
itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok kita....
Itulah jasad kita waktu itu

Setelah dimandikan...,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
Kain itu ...jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan Wewangian ditaburkan ke baju kita...
Bagian kepala..,badan..., dan kaki diikatkan Tataplah....tataplah...itulah wajah kita
Keranda pelaminan...
langsung disiapkan Pengantin bersanding sendirian...

Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga Menuju istana
keabadian sebagai simbol asal usul kita
Diiringi langkah gontai seluruh keluarga Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah kudus
Akad nikahnya bacaan talkin...
Berwalikan liang lahat..
Saksi - saksinya nisan-nisan..yang tlah tiba duluan
Siraman air mawar..pengantar akhir kerinduan

dan akhirnya.....
Tiba masa pengantin..
Menunggu dan ditinggal sendirian...
Tuk mempertanggungjawabkan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama bersama KEKASIH..
Ditemani rayap - rayap dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat...
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah kita kan memperoleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...dan tak seorangpun yang tahu....
Tapi anehnya kita tak pernah galau ketakutan....
Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata...
Seolah barang berharga yang sangat mahal...

Dan Dia Kekasih itu..
Menetapkanmu ke syurga..
Atau melemparkan dirimu ke neraka..
Tentunya kita berharap menjadi ahli syurga...
Tapi....tapi ....sudah pantaskah sikap kita selama ini...
Untuk disebut sebagai ahli syurga ?????????

Sahabat...mohon maaf...jika malam itu aku tak menemanimu
Bukan aku tak setia...
Bukan aku berkhianat....
Tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan
Tapi percayalah...aku pasti kan mendo’akanmu...
Karena ...aku sungguh menyayangimu...
Rasa sayangku padamu lebih dari apa yang kau duga Aku berdo’a...semoga kau jadi ahli suga.

dari ADF MEMBER

Dikirim pada 01 September 2009 di muhasabah



Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. DAN ORANG YANG DISEMPITKAN REZEKINYA, HENDAKLAH MEMBERI NAFKAH DARI HARTA YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADANYA. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan."
(Q.S. Ath Thalaaq [65] ayat 7)

Sempit rezeki yg disebut ayat itu macem2 seperti resah, kesehatan yg kurang, masalah yg menumpuk, dll Nah perhatiin ayat diatas buat kita yg merasa rezeki kita sempit, justru bukalah (luaskanlah), lapangkanlah rezeki kita dengan BERSEDEKAH. Jangan malah kita tahan harta kita. Ibarat menggenggam pasir lautan ditangan kita, semakin kita genggam, eee malah semakin habis dia dari genggaman kita lantaran tumpah dari sela-selaa jari tangan.

Insya Allah, dengan sedekah, Allah akan mengganti sedekah kita dengan 2x lipat, 10x lipat, 700x lipat atau mungkin bahkan lebih banyak dari itu.

Misalnya saja,
Kita sedekah 1000 maka balasannya dari Allah adalah kalau ga jadi 2.000 ya 10.000 atau malah 700.000 bahkan bisa jadi lebih dari itu. Balasan Allah pun tidak serta merta dalam wujud uang tunai, ada juga yang diberikan dalam wujud KESEHATAN, DAPET ANAK SHALEH/SHALEHAH, SELAMAT DARI BENCANA, AWET MUDA dan lain-lain....

Hitung2annya dari sini, juga Firman Allah SWT berikut ini....

"Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya DUA KALI LIPAT. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. “
(Q.S. Al Baqarah [2] ayat 265)

"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) SEPULUH KALI LIPAT AMALNYA dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan) “
(Q.S. Al An’aam [6] ayat 160)

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. “
(Q.S. Al Baqarah [2] ayat 261)
ayat ini (JIKA DITOTAL PAHALANYA 7x 100 = 700 KALI LIPAT)


Nah, tunggu apalagi ???!!
Ini real BISNIS, jika Anda mau berarti kita sedang melakukan bisnis dengan Dzat Yang Maha Benar Janji-Nya, Dzat Yang Tidak Akan Pernah Ingkar Dengan Janji2-Nya, Dzat Yang Maha Kaya Raya di alam semesta ini.

So... turunin rezeki kita dengan sedekah. Buruaannn... jangan pake nanti-nanti, ini berita dari al Quran, yang bisa juga ini berarti PERINTAH ALLAH kepada hamba2-Nya. Yang jelas ini ilmu bukan dari saya tapi dari Allah sendiri.

Bukankah untuk mendapatkan seekor ikan, terkadang kita harus mancing duluan? Ya sudah, pancing aja rezeki kita dengan SEDEKAH.

Dari : Catatan Yusuf Mansur Network




Dikirim pada 31 Agustus 2009 di muhasabah

Sahabat, Setiap Waktu yg kita lewati dengan segala kebaikan dan keburukan yg menghiasi hidup ini, dengan senyum dan air mata yg menetes dari semua permasalahan hidup, Yakinlah bahwa Allah sedang membentuk kita untuk menjadi hambanya yg indah Baik diDunia maupun diakhirat, Ikhlas dan Sabar dalam hidup, biarlah Allah membentuk kita Menjadi hambanya yg indah.

Sahabat, mudah-mudahan kisah ini bisa memberi sebuah pencerahan dalam diri kita dari semua cobaan yg kita hadapi, karena cobaan adalah proses yg Allah berikan untuk kita menjadi lebih indah dan bermakna dalam hidup ini.

Selamat Membaca...!!!

CANGKIR YANG CANTIK

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudianmata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik."Lihat cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya. "Kaubenar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,"ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah lia tyang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata"belum !" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang.Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas !Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapiorang ini berkata "belum !"

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkanaku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh… ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.
Wanita itu berkata "belum !" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin.

Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkat ku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapan ku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.


Sahabat, Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-NYA? Sama seperti Cangkir Cantik itu, kita sedang ditempa, ALLAH sedang membuat kita sempurna untuk di lihat menjadi cantik dipandang. DIA sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-NYA. Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena ALLAH tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul.

Sahabat, Seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Allah Swt membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi-NYA untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan-NYA.
Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kita jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan.
Apabila kita sedang menghadapi ujian hidup, jangan berkecil hati, karena Allah sedang membentuk Kit, Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai, Kita akan melihat betapa cantiknya Allah membentuk Kita.

Jadi maukah kita berserah pada kehendak ALLAH, membiarkan DIA bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-NYA? Seperti Cangkir Cantik itu, mari kita berkata, " Ini aku ALLAH, perbuatlah sesuai dengan yang KAU kehendaki.




Dikirim pada 30 Agustus 2009 di muhasabah
27 Agu

Sebuah renungan tuk para akhwat termasuk diri saya sendiri...

Akhwat sejati tidak dilihat dari jilbabnya yang
anggun, tetapi dilihat dari kedewasaannya dalam
bersikap.

Akhwat sejati tidak dilihat dari retorikanya ketika aksi, tetapi dilihat dari kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan.

Akhwat sejati tidak dilihat dari banyaknya ia berorganisasi, tetapi sebesar apa tanggungjawabnya dalam menjalankan amanah.

Akhwat sejati tidak dilihat dari kehadirannya dalam syuro๏ฟฝ, tetapi dilihat dari kontribusinya dalam mencari solusi dari suatu permasalahan.

Akhwat sejati tidak dilihat dari tasnya yang selalu membawa Al - Qur๏ฟฝan, tetapi dilihat dari hafalan dan pemahamannya akan kandungan Al - Qur๏ฟฝan tersebut.

Akhwat sejati tidak dilihat dari aktivitasnya yang seabrek, tetapi bagaimana ia mampu mengoptimalisasi waktu dengan baik.

Akhwat sejati tidak dilihat dari IP-nya yang cumlaude, tetapi bagaimana ia mengajarkan ilmunya pada umat.

Akhwat sejati tidak dilihat dari tundukan matanya ketika interaksi, tetapi bagaimana ia mampu membentengi hati

Akhwat sejati tidak dilihat dari partisipasinya dalam menjalankan kegiatan, tetapi dilihat dari keikhlasannya dalam bekerja.

Akhwat sejati tidak dilihat dari sholatnya yang lama, tetapi dilihat dari kedekatannya pada Robb di luar aktivitas sholatnya.

Akhwat sejati tidak dilihat kasih sayangnya pada orang tua dan teman - teman, tetapi dilihat dari besarnya kekuatan cinta pada Ar - Rahman Ar - Rahiim.

Akhwat sejati tidak dilihat dari rutinitas dhuha dan tahajjudnya, tetapi sebanyak apa tetesan air mata penyesalan yang jatuh ketika sujud

Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang memesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.

Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.

Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.

Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan tetapi dilihat dari Kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.

Dan ingatlah ... Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.



(source: http://senyumukhti.multiply.com/journal/item/18/menjadi_akhwat_sejati)



Dikirim pada 27 Agustus 2009 di muhasabah

BUNTUT SINGKONG BERBUAH UMRAH (Bagian Pertama)
Buku : an Introduction to The Miracle of Giving
Oleh Ust. Yusuf Mansur
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarah-pun niscaya Dia akan melihat balasanya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarah-pun, niscaya Dia akan melihat balasanya pula. (QS:Az-Zalzalah :7-8)
• Tahun 1980
Kejadaian ini berawal di tahun 1980. Seorang tukang gorengan berdagang. Ada kejadian aneh. Ketika ashar, ada anak kecil yang menghampiri dia punya gerobag, dan langsung aja dia berdiri disisi kanan gerobag tersebut. Anak kecil ini tidak berbuat apa-apa, kecuali dia mengangkat kaki kirinya, berdiri setengah kaki, dan menggigit telunjuk kanannya. Mata anak ini menatap lekat kepada gerobag bapak itu.
Melihat ini anak, ibarat melihat dia yang kepengen beli tapi tidak punya uang, tapi untuk meminta
Si tukang singkong melihat. Tapi dia pun tidak bereaksi. Tidak berkata sepatahpun apalagi memberi.
Kejadian ini berulang di keesokan harinya. Lagi-lagi dengan gaya yang sama. Kaki kiri diangkat, berdiri setengah kaki, dan telunjuk kanan digigit pelan. Si tukang singkong pun sama tidak bereaksi.
Hari berikutnya, hari ketiga masih sama.
Baru kemudian di hari ke empat, ada perubahan. Tukang singkong Allah kasih rasa. “Kayaknya nanti tuh anak bakal datang lagi dah”, begitu pikirnya . Maka dia menyiapkan buntut singkong. Buntut singkong ini yang biasanya dibuang, digoreng.
Enggak lama, itu anak datang lagi. Kali ini, “perjuangan” anak tersebut tidak sia-sia, berbuah buntut singkong.
“Ssssttt… sini kamu. Saya kasih nih” si tukang singkong memanggil anak itu sambil member buntut singkong yang sudah digoreng.
Betapa senangnya anak tersebut. Dia terima singkong tersebut dengan senyum lebar-lebarnya. Matanya berbinar, dan kemudian lari dengan senangnya.
Tukang singkong geleng-geleng kepala. Dia enggak nyangka itu anak demikian senangnya, padahal dia hanya diberi sebuntut singkong saja, tidak lebih.
Peristiwa kemudian berulang lagi hingga tiga hari berikutnya, alias sebanyak 4 hari si tukang singkong member buntut singkong sama anak tersebut.
Setelah itu, si tukang singkong tidak melihat anak itu lagi untuk waktu yang sangat lama.
• Tahun 2004
Di tahun 2004, atau 24 tahun setelahnya, cerita ini kembali tersambung. Tidak disangka dan tidak diduga.
Kira-kira ashar, ada anak muda umur 30-an mendatangi gerobag si bapak tukang singkong.
“Oh… rupanya si bapak masih jadi tukang singkong, gerobagnya pun sama”.
“Pak ada buntut singkong?” Tanya itu anak muda.
Si tukang singkong bengong. Dia tidak siap dengan pertanyaan itu.
“Enggak ada.”
“Gorngin dah pak!”
“Kenapa sih nyari yang enggak ada?Nyari buntut singkong lagi. Kan buntut singkong mah enggak enak….pait….”
Si anak muda hanya tersenyum mendengar ucapan si tukang singkong.
“Makanya saya buang…saya enggak jual. Cari yang laen aja ya, ada ubi goreng, pisang goreng, bala-bala goring………..”
Anak muda itu tetep menggelengkan kepala.
“Enggak……..saya cuma kepengen buntut singkong aja pak………….”
Setelah ditunggu reaksi si tukang singkong yang seperti tidak mengenali wajah anak muda itu, ia bertanya, “Pak, Bapak tidak kenal sama saya?”
Lama si tukang singkong memandangi anak muda yang ada di depan wajahnya. Berusaha mengenali. “Iya …..kayak kenal…..tapi siapa ya?”
“Nyerah dah”
Anak muda itu tersenyum…..”Sebentar ya Pak, saya akan peragakan satu hal, Insya Allah Pasti kenal deh sama saya.”
Anak muda itu bergeser ke kanan gerobag. Dia memlakukan apa yang 24 tahun lalu dia lakukan untuk menarik perhatian si tukang singkong, dia angkat kaki kiri berdiri setengah kaki dan menggigit telunjuk kanannya. Lalu dia ngomong dalam posisi seperti itu, “Gimana pak udah kenal belum?”
Wah terang aja si tukang singkong sekarang mengenali dia. “Subhanallah…rupanya situ anak kecil yang dulu saya kasih buntut singkong?!”
“Iya pak…….saya anak kecil yang dulu datang ke bapak”
“Maaf ya… saya dulu hanya ngasih buntut singkong”
“Oh enggak pak…..enggak. Bapak dulu ngasih kebahagiaan kok buat saya………..”
Bingung si tukang singkong. Kok bisa? Sekedar buntut singkong bikin dia bahagia?
“Pak, dulu saya datang ke gerobag Bapak, itu baru beberapa hari saya punya ayah meninggal dunia. Sehingga barangkali perhatian semuanya tertuju sama urusan ayah saya, pada lupa sama saya. Dan beberapa kawan saya tidak menemani saya main hanya gara-gara saya tidak punya uang jajan. Itulah, saya datangi beberapa warung, Alhamdulillah pak, saya di usir”
Anak muda itu terus bercerita, bahwa dia mendatangi terus warung-warung sekitar hingga sampai ke gerobag singkong si bapak.
“Tapi yang aneh. Saya tidak diusir, tapi tidak diberikan apa-apa, bahkan ditegor aja tidak. Saya pantang menyerah….iya kan? Saya datang terus, hingga kemudian Alhamdulillah akhirnya Bapak member sesuatu juga ke saya.”
Tukang singkong itu tersenyum malu. Iya malu. Cuma ngasih buntut singkong.
“Cuma memang kelewatan ya Pak, udah 3 hari nungguin, dapatnya hanya buntut singkong…….” Anak muda itu tertawa kecil, bercanda.
“Iya………maaf ya……..”
“Eh, engga Pak…….Engga! Saya bercanda kok. Saya malah berterima kasih sekali dengan buntut singkong pemerian bapak……..”
Anak muda itu bercerita, bahwa buntut singkong itu ‘kan yang lancip dibawah. Maka ketika diberi itu buntut singkong, dengan tangan kecilnya, ia balik posisinya. Si bapak member buntut singkong dengan posisi buntut dibawah, tapi ia ubah. Buntutnya ia bikin diatas. Lalu dengan tangan kananya dan kirinya, ditutupi, seakan-akan ia punya jajan satu singkong utuh. Dia lalu lari gembira, karana mau menunjukan segera ke kawan-kawanya bahwa dia punya jajan. Ini demi dia ditemani kembali sama kawan-kawanya.
“Jadi begitu Pak ceritanya….”
Kemudian anak muda itu kembali melanjutkan, bahwa di hari selanjutnya, dia tidak datang lagi. Sebab ibunya ini pindah. Semula ia tidak mau. Ia takut jika di tempat baru tidak ada tukang singkong yang biasa ngasih buntut singkong lagi buatnya, dan karenanya kawan-kawannya tidak mau menemani lagi.
Sejurus kemudian, gantian si anak muda ini berlinang air matanya. “Pak, saya ingin berterima kasih ke Bapak. Saya mau membayar buntut singkong yang Bapak kasihkan ke saya. Pak, bulan depan saya mau berangkat umrah. Insya Allah saya akan berangkatkan Bapak umrah.”
“Umrah?”
“Iya Pak….Umrah.”
Ya….Allah si tukang singkong seperti tidak percaya mendengar ini semua. Bagaimana mungkin ada anak muda yang ia tidak kenal , lalu bicara tentang hadiah umrah? Apalagi katanya ini sebagai bayaran 4 buntut singkong yang ia sendiri sudah lupakan kejadianya?
Allah Maha Besar. Mau tidak percaya, ini sudah di depan mata. Ia hanya mengucap Allahu Akbar, Subhanallah, Walhamdulillah
Apa yang bisa dipetik dari hikmah diatas?
Luar bisa, jangan pernah ragu untuk sadaqah, infak dan zakat…….!

Dikirim pada 25 Agustus 2009 di muhasabah
Profile

Hamba Allah yg berusaha mengapai keridhoan Allah SWT dan bermanfaat tuk keluarga dan ummat ini... More About me

Page
BlogRoll
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 286.657 kali


connect with ABATASA